Rabu, 18 Maret 2020

MENGHINDARI PRASANGKA



 ( Mat 5: 17-19 )


Hari kita merayakan pesta St Sirilus dari Yerusalem. Sirilus dilahirkan sekitar tahun 315 pada saat dimulainya suatu masa baru bagi umat Kristiani. Sebelum masa itu, Gereja mengalami penganiayaan hebat oleh para kaisar. Ribuan umat Kristiani wafat sebagai martir. Pada tahun 315, kaisar Konstantin mengakui agama Kristen sebagai agama resmi. Hal tersebut memang mengagumkan,  tetapi bukanlah akhir dari segala masalah. Sesungguhnya, tahun-tahun setelah Dekrit 315 di Milan itu, umat Kristiani menghadapi suatu kesulitan baru. 
Terjadi kebimbangan tentang apa yang dipercayai serta tidak dipercayai umat Kristiani. Muncul berbagai aliran ajaran sesat yang disebut “bidaah”. Banyak imam serta uskup menjadi pembela ajaran-ajaran Gereja yang gagah berani. Salah seorang di antara mereka adalah Uskup Sirilus dari Yerusalem. St Sirilus wafat pada tahun 386 ketika usianya sekitar 70 tahun. Uskup yang lemah lembut serta baik hati ini harus mengalami masa-masa penuh pergolakan serta penderitaan selama hidupnya. Tetapi ia tidak pernah kehilangan semangat. Semua itu karena Yesus yang menjadi sumber kekuatannya. Ia senantiasa setia kepada Kristus sepanjang hidupnya. Sirilus seorang yang gagah berani dalam mengajarkan kebenaran tentang Yesus dan Gereja-Nya.


Prasangka selalu mengandung daya mengadili. Ketika orang menaruh prasangka, ia secara langsung memandang bahwa orang lain mempunyai sederetan kesalahan atau perbuatan yang merugikan sesama. Dalam kamus besar bahasa indonesia, prasangka diartikan sebagai sebuah pendapat atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui, menyaksikan atau menyelidiki sendiri kebenarannya. Jadi sikap prasangka itu sebenarnya sebuah sikap negatif. Sebuah sikap mencurigai orang lain secara subyektif tanpa melihat dan memverifikasi data-data obyektif empiris dibaliknya. Tetapi prasangka biasanya timbul karena iri, benci dan dendam. Karena itu, menaruh prasangka sebetulnya merupakan suatu sikap yang harus dihindari oleh setiap orang yang mempunyai cara berpikir positif.


            Dalam bacaan yang kita dengar pada hari ini, kita mendengar Yesus mengantisipasi prasangka orang Yahudi terhadap diri-Nya. Yahudi menyangka menyangka bahwa Yesus datang untuk meniadakan hukum taurat. Jelas orang yang meniadakan hukum taurat patut dihukum atau dirajam. Yesus tentu tidak mau menjadi korban prasangka orang Yahudi. Maka kepada mereka Yesus menegaskan: “Jangan kamu menyangka bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya...” Penegasan Yesus sesungguhnya mengandung kebenaran bahwa diri-Nya merupakan penggenapan atas apa yang diramalkan oleh para nabi dahulu tentang “Datangnya Sang Imanuel melalui kandungan seorang perempuan muda.” Dan juga masih ada sederetan ramalan lain tentang diri-Nya sebagai Sang Juruselamat yang akan datang. Walaupun orang Yahudi tetap ragu atas perkataan Yesus ini, namun kebenaran atas ramalan para nabi tidak bisa dibantah.


Yesus datang untuk menggenapi bukan berarti Yesus sekedar melengkapi atau menyempurnakan hukum taurat dan kitab para nabi. Yesus justru memberi makna baru yang terdalam dari hukum taurat dan kitab para nabi dengan hukum kasih. Kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan totalitas hidup kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri. mengapa? Karena Allah adalah kasih. Dengan menghadirkan Kerajaan Allah, Yesus sebenarnya menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih, Allah yanga maharahim kepada semua orang, melengkapi proyek keselamatan yang juga merupakan kehendak Bapa di sorga. Yesus menggenapi hukum taurat dan kitab para nabi maka Ia juga menghendaki agar kita semua juga menyerupai-Nya. Artinya, kita semua juga dipanggil untuk ikut serta menggenapi dengan mentaati kehendak Allah. Hukum taurat adalah kehendak Allah untuk mengasihi maka kita juga diingatkan Yesus untuk mampu mengasihi. 


            Sadar atau tidak sebenarnya hidup kita juga dikelilingi oleh banyak prasangka. Kita gampang menaruh prasangka terhadap sesuatu atau orang lain sebelum memverifikasi nilai kebenarannya. Kita mudah mencurigai dan memberi cap negatif pada orang lain. Apalagi kalau pada dasarnya, sudah ada sikap iri hati, marah dan dendam. Sebaik apapun yang dilakukan oleh orang lain selalu tidak baik di mata kita. Begitu pun juga misalnya kalau ada sederet peraturan yang diperbarui dan ditetapkan dalam roda organisasi atau tempat kerja kita. Kita cenderung memberikan tanggapan negatif atau sikap distrust (tidak percaya) terhadap segala perubahan tersebut. Kita melakukan demikian karena kita sudah berada di zona zaman dan tidak menginginkan adanya terobosan atau perubahan yang lebih baik. Sekali lagi prasangka. Prasangka memproduksi pikiran negatif. Dan pada akhirnya melahirkan sikap destruktif yang mengancam hidup persaudaraan dan kekeluargaan kita.

 
            Tidak hanya dalam rana profan. Dalam kehidupan rohani, sikap prasangka terhadap iman kekatolikan kita juga masih kental terasa. Masih banyak orang Katolik yang meragukan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dalam hidupnya. Banyak orang Katolik yang tidak peduli lagi dengan kehidupan rohaninya. Hal ini ditandai dengan sikap malas, masa bodoh, tidak peduli dengan pelbagai kegiatan rohani. Dalam kehidupan sosial, nilai kasih sudah menjadi barang langka untuk diterapkan. Banyak orang Katolik yang tidak peduli lagi dengan orang lain. Mereka sibuk dengan urusan pribadi. Orang lain dianggap sebagai ancaman atau musuh yang mengganggu kemapanan hidup mereka. Hidup dalam suasana persaudaraan dan kekeluargaan dipandang tidak penting karena orang merasa orang lain sebagai beban dan tidak membawa manfaat berarti. Inilah sebagian kecil hidup dalam prasangka yang kita rasakan sebagai orang Katolik di era ini.


            Bagi kita yang percaya kepada Yesus, kita menerima bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini merupakan penggenapan atas semua ramalan para nabi. Firman-Nya mengandung kebenaran yang menuntun kita untuk menikmati dan menghayati hidup ini dengan baik dan benar. Karena itu, kita tidak mempunyai alasan untuk menaru prasangka bahwa ajaran Yesus adalah ajaran yanga “tidak berdaya guna” bagi hidup kita. Justru ajaran Yesus mengandung daya yang menghidupkan dan memberi kekuatan untuk melangkah dalam kebenaran menuju keselamatan.
Sikap percaya yang total kepada Yesus tidak hanya menghindarkan diri kita terhadap sikap prasangka terhadap segala ajaran-Nya, tetapi juga membangun sikap positif kita terhadap orang lain yang ada di sekitar kita. Kita lebih peka untuk memahami dan menghargai orang lain sebagai sesama ciptaan Tuhan yang memiliki harkat dan martabat yang sama. Mari di pekan ketiga masa Pra paskah ini, bersama St Sirilus dari Yerusalem, kita belajar untuk tetap setia kepada Yesus Sang Guru Ilahi dan semakin berani dalam mewartakan kasih-Nya dalam tugas dan pelayanan kita. Semoga. Tuhan memberkati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar