( Mat 5: 17-19 )
Hari kita merayakan pesta St Sirilus dari Yerusalem.
Sirilus dilahirkan sekitar tahun 315 pada saat dimulainya suatu masa baru bagi
umat Kristiani. Sebelum masa itu, Gereja mengalami penganiayaan hebat oleh para
kaisar. Ribuan umat Kristiani wafat sebagai martir. Pada tahun 315, kaisar
Konstantin mengakui agama Kristen sebagai agama resmi. Hal tersebut memang
mengagumkan, tetapi bukanlah akhir dari
segala masalah. Sesungguhnya, tahun-tahun setelah Dekrit 315 di Milan itu, umat
Kristiani menghadapi suatu kesulitan baru.
Terjadi kebimbangan tentang apa yang
dipercayai serta tidak dipercayai umat Kristiani. Muncul berbagai aliran ajaran
sesat yang disebut “bidaah”. Banyak imam serta uskup menjadi pembela
ajaran-ajaran Gereja yang gagah berani. Salah seorang di antara mereka adalah
Uskup Sirilus dari Yerusalem. St Sirilus wafat pada tahun 386 ketika usianya
sekitar 70 tahun. Uskup yang lemah lembut serta baik hati ini harus mengalami
masa-masa penuh pergolakan serta penderitaan selama hidupnya. Tetapi ia tidak
pernah kehilangan semangat. Semua itu karena Yesus yang menjadi sumber
kekuatannya. Ia senantiasa setia kepada Kristus sepanjang hidupnya. Sirilus
seorang yang gagah berani dalam mengajarkan kebenaran tentang Yesus dan
Gereja-Nya.
Prasangka selalu mengandung daya
mengadili. Ketika orang menaruh prasangka, ia secara langsung memandang bahwa
orang lain mempunyai sederetan kesalahan atau perbuatan yang merugikan sesama.
Dalam kamus besar bahasa indonesia, prasangka diartikan sebagai sebuah pendapat
atau anggapan yang kurang baik mengenai sesuatu sebelum mengetahui, menyaksikan
atau menyelidiki sendiri kebenarannya. Jadi sikap prasangka itu sebenarnya
sebuah sikap negatif. Sebuah sikap mencurigai orang lain secara subyektif tanpa
melihat dan memverifikasi data-data obyektif empiris dibaliknya. Tetapi
prasangka biasanya timbul karena iri, benci dan dendam. Karena itu, menaruh
prasangka sebetulnya merupakan suatu sikap yang harus dihindari oleh setiap
orang yang mempunyai cara berpikir positif.
Dalam bacaan
yang kita dengar pada hari ini, kita mendengar Yesus mengantisipasi prasangka
orang Yahudi terhadap diri-Nya. Yahudi menyangka menyangka bahwa Yesus datang
untuk meniadakan hukum taurat. Jelas orang yang meniadakan hukum taurat patut
dihukum atau dirajam. Yesus tentu tidak mau menjadi korban prasangka orang
Yahudi. Maka kepada mereka Yesus menegaskan: “Jangan kamu menyangka bahwa Aku
datang untuk meniadakan hukum taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan
untuk meniadakannya melainkan untuk menggenapinya...” Penegasan Yesus
sesungguhnya mengandung kebenaran bahwa diri-Nya merupakan penggenapan atas apa
yang diramalkan oleh para nabi dahulu tentang “Datangnya Sang Imanuel melalui
kandungan seorang perempuan muda.” Dan juga masih ada sederetan ramalan lain
tentang diri-Nya sebagai Sang Juruselamat yang akan datang. Walaupun orang
Yahudi tetap ragu atas perkataan Yesus ini, namun kebenaran atas ramalan para
nabi tidak bisa dibantah.
Yesus datang untuk menggenapi bukan
berarti Yesus sekedar melengkapi atau menyempurnakan hukum taurat dan kitab
para nabi. Yesus justru memberi makna baru yang terdalam dari hukum taurat dan
kitab para nabi dengan hukum kasih. Kita dipanggil untuk mengasihi Tuhan dengan
totalitas hidup kita dan mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita
sendiri. mengapa? Karena Allah adalah kasih. Dengan menghadirkan Kerajaan
Allah, Yesus sebenarnya menghadirkan wajah Allah yang berbelas kasih, Allah
yanga maharahim kepada semua orang, melengkapi proyek keselamatan yang juga
merupakan kehendak Bapa di sorga. Yesus menggenapi hukum taurat dan kitab para
nabi maka Ia juga menghendaki agar kita semua juga menyerupai-Nya. Artinya,
kita semua juga dipanggil untuk ikut serta menggenapi dengan mentaati kehendak
Allah. Hukum taurat adalah kehendak Allah untuk mengasihi maka kita juga
diingatkan Yesus untuk mampu mengasihi.
Sadar
atau tidak sebenarnya hidup kita juga dikelilingi oleh banyak prasangka. Kita
gampang menaruh prasangka terhadap sesuatu atau orang lain sebelum
memverifikasi nilai kebenarannya. Kita mudah mencurigai dan memberi cap negatif
pada orang lain. Apalagi kalau pada dasarnya, sudah ada sikap iri hati, marah
dan dendam. Sebaik apapun yang dilakukan oleh orang lain selalu tidak baik di
mata kita. Begitu pun juga misalnya kalau ada sederet peraturan yang diperbarui
dan ditetapkan dalam roda organisasi atau tempat kerja kita. Kita cenderung
memberikan tanggapan negatif atau sikap distrust
(tidak percaya) terhadap segala perubahan tersebut. Kita melakukan demikian
karena kita sudah berada di zona zaman dan tidak menginginkan adanya terobosan
atau perubahan yang lebih baik. Sekali lagi prasangka. Prasangka memproduksi
pikiran negatif. Dan pada akhirnya melahirkan sikap destruktif yang mengancam
hidup persaudaraan dan kekeluargaan kita.
Tidak
hanya dalam rana profan. Dalam kehidupan rohani, sikap prasangka terhadap iman
kekatolikan kita juga masih kental terasa. Masih banyak orang Katolik yang
meragukan Yesus sebagai satu-satunya Juruselamat dalam hidupnya. Banyak orang
Katolik yang tidak peduli lagi dengan kehidupan rohaninya. Hal ini ditandai
dengan sikap malas, masa bodoh, tidak peduli dengan pelbagai kegiatan rohani.
Dalam kehidupan sosial, nilai kasih sudah menjadi barang langka untuk
diterapkan. Banyak orang Katolik yang tidak peduli lagi dengan orang lain.
Mereka sibuk dengan urusan pribadi. Orang lain dianggap sebagai ancaman atau
musuh yang mengganggu kemapanan hidup mereka. Hidup dalam suasana persaudaraan
dan kekeluargaan dipandang tidak penting karena orang merasa orang lain sebagai
beban dan tidak membawa manfaat berarti. Inilah sebagian kecil hidup dalam
prasangka yang kita rasakan sebagai orang Katolik di era ini.
Bagi
kita yang percaya kepada Yesus, kita menerima bahwa kedatangan-Nya ke dunia ini
merupakan penggenapan atas semua ramalan para nabi. Firman-Nya mengandung
kebenaran yang menuntun kita untuk menikmati dan menghayati hidup ini dengan
baik dan benar. Karena itu, kita tidak mempunyai alasan untuk menaru prasangka
bahwa ajaran Yesus adalah ajaran yanga “tidak berdaya guna” bagi hidup kita.
Justru ajaran Yesus mengandung daya yang menghidupkan dan memberi kekuatan
untuk melangkah dalam kebenaran menuju keselamatan.
Sikap percaya yang total kepada
Yesus tidak hanya menghindarkan diri kita terhadap sikap prasangka terhadap
segala ajaran-Nya, tetapi juga membangun sikap positif kita terhadap orang lain
yang ada di sekitar kita. Kita lebih peka untuk memahami dan menghargai orang
lain sebagai sesama ciptaan Tuhan yang memiliki harkat dan martabat yang sama.
Mari di pekan ketiga masa Pra paskah ini, bersama St Sirilus dari Yerusalem,
kita belajar untuk tetap setia kepada Yesus Sang Guru Ilahi dan semakin berani
dalam mewartakan kasih-Nya dalam tugas dan pelayanan kita. Semoga. Tuhan
memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar