( Yoh 8: 31-42 )
Pandemi Corona atau covid 19
menunjukkan batas-batas diri kita sebagai manusia modern. Ketika semua
kesibukan dipaksa berhenti, mobilitas yang tinggi dipaksa untuk diam,
kebisingan dan hiruk pikuk dipaksa senyap, segala rutinitas keseharian diputus
mata rantainya, pusat-pusat keramaian, gedung-gedung dan ruang publik jadi
sepi, kerumunan bubar karena orang-orang membatasi persentuhan dengan orang
lain (social distancing/phisycal
distancing), kita masyarakat modern sedang terlempar ke dalam keterasingan
yang mengerikan. Harus diakui, masyarakat modern adalah masyarakat yang
tenggelam dalam rutinitas keseharian yang padat, masyarakat yang selalu
bergerak, tak kenal diam. Setiap orang dikejar untuk terus menghasilkan barang
dan jasa. Deadline menjadi santapan sehari-hari.
Orang hidup dalam tekanan baik
fisik maupun mental. Tingkat stress, kesepian, dan bunuh diri meningkat.
Ketimpangan sosial, ekonomi dan politik tak terbendung karena keinginan untuk
menguasai segala sesuatu (Pos Kupang, Hal. 4). Manusia tidak lagi menjadi
makhluk sosial bagi sesamanya, tetapi menjadi musuh bagi orang lain. Eksistensi
manusia perlahan-lahan pun bergeser. Manusia menjadi banal (kejam) yang
mementingkan ego dan kepentingan pribadinya. Dalam kaca mata iman, manusia
modern dikategorikan menjadi hamba dari dosa. Manusia yang tenggelam dalam dosa
keangkuhan, hawa nafsu dan rasa individualistik yang kental.
Dalam
bacaan Injil yang barusan kita dengar, Yesus menawarkan kasih-Nya kepada
orang-orang Yahudi dan mengundang mereka untuk menerima-Nya sebagai ‘kebenaran
yang memerdekakan.’ Yesus berkata: “Jikalau kamu tetap dalam Firman-Ku, maka
kamu benar-benar murid-Ku, dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran
itu akan memerdekakan kamu.” Yesus mau menegaskan bahwa Ia datang dari Bapa dan
Bapa telah mengutus-Nya untuk membawa warta keselamatan dan kemerdekaan dalam
iman kepada mereka. Asalkan mereka percaya dan menjadi murid Yesus.
Tetapi
orang Yahudi menunjukkan kepongahan atau kesombongan pribadi mereka dengan
mengatakan bahwa mereka adalah keturunan Abraham dan mereka tidak pernah
menjadi hamba siapa pun. Mereka mengakui diri sebagai keturunan Abraham tetapi
tindak tanduk mereka berbanding terbalik dengan Abraham. Perilaku mereka sangat
jauh dengan citra Abraham yang selalu dekat dan mengikuti kehendak Allah.
Mereka tidak mau mengikuti Yesus karena mereka merasa Yesus bukan siapa-siapa
bagi mereka. Hati mereka telah tertutup
untuk melihat kehadiran Allah dalam diri Yesus. Dengan menolak Yesus, mereka
menyia-nyiakan berkat istimewa yang ditawarkan Tuhan. Orang-orang Yahudi yang
menolak kehadiran Yesus tetap berada dalam kegelapan dosa. Mereka tetap menjadi
hamba dosa. Karena merasa diri paling hebat dan tidak mau menerima warta
keselamatan yang ditawarkan oleh Yesus.
Menjadi
hamba dosa adalah pribadi yang masih terikat dengan segala keterikatan duniawi
dan tetap konsisten untuk menutup diri dari keselamatan yang ditawarkan oleh
Yesus. Sadar atau tidak, kita juga mungkin masih berada dalam lingkaran para
hamba yang mengagungkan dosa. Di satu sisi, kita acapkali lebih sibuk dengan
rutinitas kita. kita lebih peduli dengan segala target. Kita begitu ambisi
mengejar prestasi dan prestise. Tetapi di sisi lain, kita melupakan eksistensi
kita sebagai makluk kodrati yang selalu terbuka kepada Allah Sang Adikodrati.
Kita lupa dengan status kita sebagai makluk Tuhan yang sebenarnya harus selalu
terarah kepada Tuhan. Kita cenderung bersikap pongah, membanggakan apa yang
kita miliki dan apa yang telah kita raih. Dan kita lupa bahwa sebenarnya Tuhanlah
yang telah menjadikan dan memberikannya kepada kita. Kita pun lebih sibuk
dengan diri kita dan tidak peduli dengan orang lain. Bahkan sikap apatis atau
cuek seakan tidak beranjak di saat yang paling kritis ketika orang lain
membutuhkan uluran tangan kita. kita seakan tenggelam dalam segala kemewahan
dan hingar bingar dunia. Kita tidak saja melupakan Tuhan tetapi telah menolak
kehadiran-Nya dalam hidup kita. Kita masih terpaku menjadi seorang hamba dosa.
Namun,
hari-hari ini, ketika Covid 19 memutuskan semua mata rantai rutinitas, kita
seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar kepada
kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan
eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah
dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid 19. Tetapi manusia yang
otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial.
Suatu keadaan dimana kita menjadi sadar karena ketidakberdayaan dan kerapuhan
diri kita. Dalam situasi demikian, kita diajak untuk mempertanyakan jati diri
kita masing-masing. Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Mengapa saya
ada? Dan untuk apa saya hidup? (Pos Kupang, Hal. 4).
Sebagai
seorang makhluk beriman, inilah saat yang cocok, dimasa prapaskah ini, kita
kembali kepada eksistensi kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan untuk selalu
mendengarkan firman Tuhan dan tetap percaya kepada-Nya. Karena kebenaran firman
itu akan memerdekakan dan membebaskan kita dari hamba dosa. Semoga kita semakin
dikuatkan dalam badai corona ini untuk menjadi pribadi yang semakin berkualitas
di hadapan Tuhan dan sesama. Amin. Tuhan memberkati.
Oleh
Atanasius KD Labaona
Tidak ada komentar:
Posting Komentar