Mat 5 : 17-19
Bapak Kamilus merupakan anggota di dalam
RT kami di Lamahora. Ia adalah veteran pejuang kemerdekaan, seorang nasionalis tulen yang penuh dengan
idealisme teguh dan tulen dalam membangun Indonesia meredeka. Kendatipun sangat anti kolonialisme, ia
sangat menghargai system pendidikan masa itu yang menghasilkan banyak orang
yang bermutu dalam hal intelek dan akhlak.
Orang-orang itu memang penjajah, tetapi mereka juga menanamkan nilai
yang baik seperti menghargai pekerjaan kasar, disiplin, mencintai ilmu
pengetahuan, organisasi kemasyarakatan dll. Saya ikut berjuang mengusir mereka
dari Indonesia, tetapi saya mengakui, bahwa kesadaran berjuang demi kemerdekaan
itu justru dating dari para pendidik kolonial
tersebut. Bapak Kamilus tahu menhargai sejarah secara obyektif.
Di dalam hidup kita ada titik-titik
penting yang sebagian besarnya diantaranya dicapai melalui dorongan semangat
dari orang lain. Tak peduli seberapa hebat, terkenal, atau suksesnya seseorang,
masing-masing punya kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Untuk mengatasi rintangan berjalanlan di jalan
yang benar denga hati penuh dengan syukur diiringi dengan nyanyian dan segala
sesuatu disekitar akan menjadi indah. Selalu ada jalan keluar dalam setiap aral
dan rintangan yang dihadapi.
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Yesus mendorong orang untuk
menghidupkan ajaran Taurat ? Bukankah Ia selalu melawan ahli Taurat ? Benar demikian. Yang Ia lawan ialah
Interpretasi yang bias dan penerapannya yang membelenggu bagi orang-orang
kecil. Yang memahami makna hakiki Taurat justru menemukan apa kehendak Tuhan.
Yesus tidak dating untuk meniadakan hokum Taurat dan kitab para nabi namun
menggenapinya. Setiap pengalaman hidup,
betapapun pahitnya, senantiasa memiliki nilai positip. Dari kejatuhan orang dapat
belajar untuk menjadi lebih hati-hati, matang. Penghayatan iman pun membutuhkan
perjuangan yang kadang-kadang menyakitkan. Namun kesakitan tidaklah boleh
membuat kita membelokan prinsip iman
agar dipermudah. Hakekat harus tetap dijaga, karena itu selalu menjadi pedoman
dalam menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Yesus Kristus. Pernahkan anda sengaja membelokkan prinsip
iman ? Dan sejaauh mana hal itu mempengaruhi kemurnian penghayatan iman ? Semoga
menjadi refleksi di dalam hati kita untuk melaangkah bersama Yesus.
( Mat 5:17-22
) Dalam khotbah di bukit Yesus berkata
kepada murid-murid-Nya, "Janganlah
kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para
nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena
Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini,
satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum
semuanya terjadi. Karena itu siapa yang meniadakan salah satu
perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian
kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam
Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala
perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam
Kerajaan Sorga.
Maka Aku
berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup
keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan
masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada
nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum. Tetapi
Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus
dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah
Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang
menyala-nyala.
Jk
Lejab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar