Minggu, 29 Maret 2020

SIAPA YANG MELAKUKAN PERINTAH TAURAT IA AKAN MENDUDUKI JABATAN TINGGI.


Mat 5 : 17-19
Bapak Kamilus merupakan anggota di dalam RT kami di Lamahora. Ia adalah veteran pejuang kemerdekaan,  seorang nasionalis tulen yang penuh dengan idealisme teguh dan tulen dalam membangun Indonesia meredeka.  Kendatipun sangat anti kolonialisme, ia sangat menghargai system pendidikan masa itu yang menghasilkan banyak orang yang bermutu dalam hal intelek dan akhlak.  Orang-orang itu memang penjajah, tetapi mereka juga menanamkan nilai yang baik seperti menghargai pekerjaan kasar, disiplin, mencintai ilmu pengetahuan, organisasi kemasyarakatan dll. Saya ikut berjuang mengusir mereka dari Indonesia, tetapi saya mengakui, bahwa kesadaran berjuang demi kemerdekaan itu justru dating dari para pendidik  kolonial tersebut. Bapak Kamilus tahu menhargai sejarah secara obyektif.

Di dalam hidup kita ada titik-titik penting yang sebagian besarnya diantaranya dicapai melalui dorongan semangat dari orang lain. Tak peduli seberapa hebat, terkenal, atau suksesnya seseorang, masing-masing punya kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dari orang lain.  Untuk mengatasi rintangan berjalanlan di jalan yang benar denga hati penuh dengan syukur diiringi dengan nyanyian dan segala sesuatu disekitar akan menjadi indah. Selalu ada jalan keluar dalam setiap aral dan rintangan yang dihadapi.

Mungkin ada yang bertanya,  mengapa Yesus mendorong orang untuk menghidupkan ajaran Taurat ? Bukankah Ia selalu melawan ahli Taurat ?  Benar demikian. Yang Ia lawan ialah Interpretasi yang bias dan penerapannya yang membelenggu bagi orang-orang kecil. Yang memahami makna hakiki Taurat justru menemukan apa kehendak Tuhan. Yesus tidak dating untuk meniadakan hokum Taurat dan kitab para nabi namun menggenapinya. Setiap  pengalaman hidup, betapapun pahitnya, senantiasa memiliki nilai positip. Dari kejatuhan orang dapat belajar untuk menjadi lebih hati-hati, matang. Penghayatan iman pun membutuhkan perjuangan yang kadang-kadang menyakitkan. Namun kesakitan tidaklah boleh membuat kita  membelokan prinsip iman agar dipermudah. Hakekat harus tetap dijaga, karena itu selalu menjadi pedoman dalam menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Yesus Kristus.  Pernahkan anda sengaja membelokkan prinsip iman ? Dan sejaauh mana hal itu mempengaruhi kemurnian penghayatan iman ? Semoga menjadi refleksi di dalam hati kita untuk melaangkah bersama Yesus.

( Mat 5:17-22 )  Dalam khotbah di bukit Yesus berkata kepada murid-murid-Nya,  "Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya. Karena Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi.   Karena itu siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat sekalipun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia akan menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Sorga; tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan menduduki tempat yang tinggi di dalam Kerajaan Sorga.   

Maka Aku berkata kepadamu: Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan membunuh; siapa yang membunuh harus dihukum.   Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum; siapa yang berkata kepada saudaranya: Kafir! harus dihadapkan ke Mahkamah Agama dan siapa yang berkata: Jahil! harus diserahkan ke dalam neraka yang menyala-nyala.

Jk Lejab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar