Kamis, 28 Mei 2020

CINTA AGAPE


Kis 25:13-21 & Yoh 21:15-19
Cinta itu sesuatu yang abstrak. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia (cinta) hanya bisa dialami dengan perasaan. Dengan cinta orang bisa mengalami kebahagiaan, sukacita, kegembiraan dan harapan yang pasti. Dengan cinta pula orang bisa mengalami kekecewaan, sakit hati, dukacita dan harapan yang tak pasti. Orang mengklasifikasikan cinta itu dalam tiga cluster atau tingkatan. Tingkat pertama adalah cinta eros. Pada tataran ini orang mengalami cinta hanya berdasarkan penampilan fisik semata. Orang menyamakan jenis cinta ini dengan istilah cinta nafsu. Sifat cinta ini mudah luntur atau hilang ketika orang tidak lagi merasa tertarik secara fisik dengan orang lain. Pada tingkatan kedua ada istilah yang bernama cinta philia. Cinta yang berciri atau berkarakter umum. Mencintai seseorang sebagai sesama saudara. Cinta antara seorang kakak dan adik, sesama rekan kerja, sesama anggota komunitas adalah kategori cinta philia. Pada tataran ketiga, ada cinta agape. Jenis cinta ini yang paling tinggi nilainya. Orang biasa menyamakan cinta agape ini dengan cinta sejati. Cinta tanpa pamrih. Cinta tanpa mengharapkan balasan. Cinta yang penuh ketulusan dan pengorbanan.
           
Dalam bacaan hari ini Yesus berusaha mempertanyakan sekaligus menggali kadar cinta seorang Simon kepada Diri-Nya. Dengan pertanyaan, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, Yesus melemparkan kalimat eksistensial itu sebanyak tiga kali kepada Simon. Simon merasa sedih karena Yesus sepertinya masih meragukan kualitas cintanya. Rupanya ada latar di  balik pertanyaan itu. Bukan sekedar pertanyaan yang disodorkan oleh Yesus. Ada pengalaman pahit yang menunjukkan dengan jelas bagaimana Simon melakukan tindakan pengkhianatan. Simon pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali saat Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar (Yoh 18:12-27). Catatan hitam inilah yang membuat Yesus perlu melakukan shock therapy agar Simon sungguh-sungguh menyadari makna sebuah persahabatan dan kasih yang terjadi antara seorang guru dan murid. Pertanyaan Yesus tidak hanya menandaskan kadar cinta Simon pada tataran cinta philia. Cinta bernuansa persaudaraan seorang guru dan murid. Tetapi lebih dari itu, mau menegaskan level cinta yang lebih luhur yaitu cinta agape antara seorang Guru Ilahi dan murid sejati. Cinta seorang Simon kepada Yesus harus berkarakter cinta sejati. Cinta penuh ketulusan dan pengorbanan.

 Menjadi hal yang wajar ketika Yesus mengajukan pertanyaan khusus itu kepada Simon; bukan kepada para murid yang lain. Simon merupakan murid yang paling menonjol di antara kelompok dua belas rasul. Yesus sudah membaca potensi yang dimilikinya menjadi seorang pemimpin besar. Di pundaknya, Yesus akan menyerahkan tongkat kepemimpinan setelah Ia pergi dari dunia. Simon akan menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya yang lain. Dan kelak, kita mengetahui bahwa Simon sungguh memainkan peran yang sangat besar dalam memimpin kelompok dua belas para rasul (kecuali Yudas Iskariot). Simon sungguh menunjukkan cinta agapenya kepada Yesus dengan bersikap setia dan militan dalam karya pelayanannya. Ia juga mampu memimpin dan menjaga kesatuan kelompok perdana ini agar tidak menjadi cerai berai. Kadar cinta Simon yang luar biasa ini ia tunjukkan sampai kemudian ia harus mati dengan cara disalibkan seperti Sang Guru Ilahi-Nya Yesus Kristus. Bedanya, Yesus disalib dengan kepala ke atas. Sebaliknya, Simon disalibkan dengan kepala ke bawah. Pengalaman cinta atau kasih agape tidak hanya ditunjukkan oleh seorang Simon. Paulus, salah satu murid yang cerdas, juga telah menunjukkan kasihnya yang dasyat kepada Yesus. Ia rela di penjara di Kaisarea demi menunjukkan kemuliaan kasihnya kepada Yesus (Kis 25:19).

Hari ini kita semua sungguh ditantang oleh Yesus. Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan sebanyak tiga kali kepada Simon. Tetapi kepada kita semua. Semua murid Yesus di zaman ini. Apakah kita sungguh mengasihi Yesus? Tentu dengan sangat gampang, seperti jawaban Simon, kita akan mengatakan “Iya Tuhan, aku sungguh mencintai-Mu.” Tetapi apakah semudah itu jawaban tersebut mewakili totalitas pribadi kita. Tentu saja tidak. Kita harus betul-betul terjun dan diuji dalam seluruh pengalaman hidup. Pengalaman menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh menunjukkan cinta sejati kita kepada Tuhan. Ada kisah penyangkalan, pengkhianatan kepada Yesus yang didramatisir secara nyata oleh kita, para murid Yesus era ini. Acapkali kita menunjukkan sikap tidak setia dengan mengangkangi segala ajaran dan kehendak-Nya. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Namun menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dan berjalan lagi. Mari kita berbenah diri untuk merenungkan sejauh mana kadar cinta kita kepada Yesus. Apakah masih sebatas cinta eros, cinta philia atau cinta agape. Semoga kita mampu menempatkan level cinta kita kepada-Nya pada tataran yang paling luhur yakni cinta agape atau cinta sejati. Kita mampu menunjukkan cinta kita dengan sikap setia, tulus dan penuh pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan, terutama pada situasi pandemi Covid-19 yang sementara mendera bangsa tercinta kita ini. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 25 Mei 2020

MENCAPAI GARIS AKHIR


Kis 20:17-27 & Yoh 17:1-11a
Yesus menyelesaikan pekerjaan Bapa-Nya dengan sempurna. Ia mencapai garis akhir pekerjaan-Nya.
Dalam doa yang menandai akhir dari pekerjaan-Nya itu, Yesus menyatakan telah tiba waktunya Dia dipermuliakan oleh Bapa-Nya, agar Bapa-Nya dipermuliakan di dalam Dia,
Waktu  kemuliaan adalah waktu ketika Yesus ditinggikan di atas salib. Dunia yang membenci-Nya memandang peristiwa salib sebagai aib atau momok yang paling memalukan, akan tetapi Allah justru memilih menyatakan kemuliaan-Nya melalui salib. Anak dipermuliakan di atas salib, dan Bapa dimuliakan pula dalam Anak-Nya di atas salib.
Selain itu, dalam doa-Nya, Yesus juga mendoakan orang yang telah mendengarkan dan menerima firman Allah yang telah Bapa sampaikan kepada-Nya. Sekalipun dunia membenci-Nya, akan tetapi ada di antara orang-orang dunia ini telah dipilih Kristus menjadi milik kepunyaan-Nya dan kepunyaan Bapa. Mereka itulah yang telah melakukan pekerjaan utama yang diserahkan Bapa kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya sebagai utusan Allah.

Yesus menyebut alasan Dia mendoakan orang-orang percaya karena Dia tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi orang-orang percaya masih ada di dalam dunia. Yesus tahu, dunia yang telah membenci-Nya akan juga membenci orang-orang yang percaya kepada-Nya. Karena itulah maka milik kepunyaan-Nya, juga kepunyaan Bapa itu, dipandang mutlak untuk dilindungi dan diteguhkan dengan kehadiran Roh Kebenaran.

Kisah hidup Paulus yang ditampilkan dalam Kisah Para Rasul membuktikan bahwa Bapa sungguh menaruh hormat pada Putra-Nya. Ia mendengarkan anak-Nya. Melalui kehadiran Roh yang meneguhkan itu, Paulus dapat melaksanakan tugasnya. Kendatipun banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuhnya, namun ia setia melaksanakan tugasnya dengan rendah hati. Bahkan di dalam Roh,  Paulus memandang “penjarang dan sengsara” adalah bagian dari kesaksian hidup sebagai orang percaya dan rasul Tuhan.

Paulus sebaliknya menyatakan: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24). Dengan itu Paulus memandang bahwa dia tidak memiliki utang lagi karena ia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah. Ia tidak dapat disalahkan karena kebinasaan akibat ketidakpercayaan orang atas firman yang disampaikannya.

Pengalaman “air mata dan pencobaan”  sebagai variasi dari ungkapan “penjarang dan sengsara” adalah gambaran tentang situasi riil dan sejarah yang menyertai kehidupan orang-orang Kristiani. Maka ketika Yesus mendoakan orang-orang percaya yang masih ada di dunia ini, Ia berdoa untuk semua orang dalam segala zaman yang telah menjadi percaya oleh karena firman-Nya.

Kita pun didoakan Kristus agar di dalam kekuatan Roh yang diutus dari Bapa kita mampu mengambil sikap militan seperti Paulus. Air mata dan pencobaan atau penjarang dan sengsara tidak menghalangi kita untuk menunjukkan iman dan kesaksian hidup sebagai orang beriman.

Kita tahu bahwa Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita sebab Dia yang pernah ada bersama-sama dengan manusia di dunia ini kini berada bersama Bapa-Nya. Dia tahu situasi dan kebutuhan hidup kita. Dia meminta Bapa untuk memberikan yang terbaik bagi kita,  sekalipun yang terbaik itu bisa tersembunyi dalam pengalaman air mata dan pencobaan.

Dalam kesadaran iman ini, kita akan memandang penting sebagai suatu panggilan yang mendesak untuk mencapai garis akhir dari perjuangan kita sebagai orang Kristiani.   Air mata dan pencobaan atau penjarang dan sengsara akan menguji kita apakah kita mampu mencapai garis akhir atau berhenti di pertengahan jalan atau menyimpang ke jalan yang lain.

Hanya jika orang mampu bekerja sama dengan Roh Kebenaran hanya dia yang mampu bertekun dalam iman dan memberi kesaksian iman. Maka dibutuhkan keterbukaan terus-menerus kepada kehadiran dan karya Roh Kebenaran dalam diri kita. Kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri yang begitu lemah dan rapuh.

Buah dari perjuangan untuk mencapai garis akhir adalah kemuliaan. Kristus yang telah dimuliakan Bapa di atas salib itu juga akan memuliakan kita karena kita telah dengan rendah hati memilih jalan yang telah dilalui-Nya.

Maka marilah kita bertekun dalam iman dan kesaksian iman karena buah kesaksian kita adalah kemuliaan. Janganlah kita mengejar apa yang menjadi keinginan dunia namun kemudian tercampak dalam penderitaan kekal. Lebih baik menderita sekarang di dunia ini untuk mendapatkan yang kekal dalam surga.

Sebagai orang-orang yang hidup di tengah dunia ini, tugas kita belum selesai. Karena itu, bertekunlah dalam iman dan kesaksian sebab Tuhan berjanji menyertai kita  sampai akhir zaman, saat bagi Dia untuk membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya. ***Apol Wuwur***

Minggu, 24 Mei 2020

DUKACITA MENDAHULUI KEMENANGAN


Yoh 16 : 20-23-a
Dalam keluarga kecilku,  ketika pertama kali mengalami peristiwa kelahiran pertama kami begitu takut dan cemas. Tidak ada keluarga /family dekat namun hanya kami berdua suami istri di sebuah rumah kontrakan kecil di Kampung Tengah Larantuka. Tanda kelahiran sudah nampak namun, karena panik kami dua akhirnya berangkat ke RSUD Larantuka menggunakan sepeda motor.  Sesampainya di rumah sakit perawat dan petugas medis menyalahkan kami berdua karena menggunakan sepeda motor dimana sangat berbahaya akan keselamatan janin.  Namun sebelum peristiwa kelahiran ,  kami berdua Berdoa dan Novena kepada Tuhan lewat Perantaraan Bunda Maria kiranya peristiwa kelahiran ini berjalan dengan baik dan lancar.  Selama dua hari di RSUD Larantuka kami begitu merasakan kecemasan, penderitaan yang di alami istri dimana perjuangan menahan rasa sakit ketika hendak melahirkan. Waktunya pun telah tiba putri kami lahir dengan selamat.  Nampak kebahagiaan terpancar di wajah istri seakan semua penderitaan lenyap seketika.   Sukacita dan rasa bahagia memenuhi hidup kami saat itu dalam menyabut kelahiran putri kami.  

Dengan perkembangan jaman dunia kedokteran berkembang begitu pesatnya. Semua ini tentu membawa dampak yang baik bagi kegunaan manusia. Tetapi ada satu hal yang menurut saya cukup menguras nilai-nilai iman, yakni yang berkaitan dengan keengganan menanggung rasa sakit. Bukan hal yang aneh jika jaman sekarang banyak ibu yang megandung dianjurkan untuk melahirkan anak dengan cara praktis dan tidak menyakitkan, misalnya dengan operasi Caesar. Maka demi alasan mencegah trauma kesakitan, demi keselamatan ibu dan janin serta rupa-rupa alasan lainnya, cara kelahiran alami banyak dihindari.

Seorang artis terkenal beragama lain memutuskan untuk beralih menjadi seorang pengikut Kristus. Salah satu harga yang harus ia bayar ialah ditolak oleh keluarga.  “Berani kamu pulang ke rumah ini akan aku bunuh kamu”, kata ayahnya. Pengalaman ini sempat membuat ia kecewa kepada Tuhan.  Namun ketika ia belajar berserah diri kepada Tuhan, kecemasan lenyap,  diganti dengan sukacita dan harapan. Masalahku memang belum selesai namun  saya menerima  Yesus karena Dia Hidup”, katanya. Sukacita yang menyertai perjuangan telah menjadi ciri kaum beriman. Seperti Yesus telah ditolak dunia, kitapun sering ditolak karena iman kita akan Yesus Kristus.

Ketika Jemaad perdana Kristiani  mulai membentuk diri,  mereka tidak meninggalkan komunitas umat beriman yang hidup dalam tradisi Yahudi. Tugas Jemaad ini, teristimewa para rasul, seperti Paulus, dan penatua-penatua, ialah bersaksi tentang pemenuhan Hukum Taurat dan ramalan-ramalan para nabi di dalam Kristus. Dengan ini , seluruh umat beriman mengalami transformasi bersama, dari iman yang lama ke iman yang baru, atas dasar Kebangkitan Kristus yang telah mengalahkan maut agar semua orang memperoleh pengampunan dosa. Namun perjuangan itu di tantang dengan keras oleh orang-orang Yahudi. Pengalaman Paulus di Korintus menjadi contoh, bagaimana para saksi Kristus dilawan oleh kekuatan dunia yang tidak ingin dibaharui. Namun Yesus sendiri berjanji, bahwa dibalik kepahitan ini ada sukacita, karena kepenuhan keselamatan itu memberi kepastian, mengapa orang harus percaya kepada Yesus.

Injil hari ini mengingatkan kepada kita akan Sabda Yesus tentang penderitaan dan sukacita bagi Para MuridNya.  Kepergian Tuhan dari tengah para murid, dalam situasi ketercerai beraian mereka, memang membawa ketakutan dan dukacita. Kebencian , pengejaran,  penganiayaan dari para pembenci Yesus melingkup mereka namun, sabda penghiburan Tuhan untuk tetap teguh dan berdiri dengan setia juga meneguhkan hati mereka. Yesus mengingatkan suatu nilai kehidupan tentang dukacita yang erat kaitanya dengan sukacita. Perumpamamaan yang yang dipakai Yesus adalah sukacita seperti seorang ibu yang baru melahirkan secara alami. Meskipun proses melahirkan itu menyakitkan dan bahkan bertaruh nyawa, tapi semua itu akan terlupakan karena kegembiraan menerima kelahiran anaknya. Tak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraan sejati yang dimiliki seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya. Kita diingatkan untuk bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi dukacita, kesakitan serta penderitaan sebab semua itu sebagai prasayarat untuk sukacita sejati dari Tuhan. 
Jangan mudah mengeluh dan menghindari salib serta penderitaan, sebab ada sukacita dalam semuanya itu. Kita banyak mengalami kebahagian dan sukacita sebagai murid-murid Tuhan. Pengalaman ini hendaknya mendorong kita untuk tetap kuat tanpa takut mewartakan kebangkitan Tuhan dan karya keselamatan Allah di tengah kehidupan kita saat ini. Kita adalah saksi dan perpanjangan tangan Tuhan.  Kita perlu menderita sebagai wujud solidaritas dengan mereka yang tak dapat menolong diri mereka sendiri. Dukacita yang dibagi-bagi akan menjadi ringan dan berbuah menjadi sukacita.

(Yoh 16 : 20-23a )  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.  Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.  Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.  Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Semoga  **JK Lejab**

Selasa, 19 Mei 2020

YESUS ADALAH HIDUP KITA


Kis 16:22-34 & Yoh 16:5-11

 “Du bist ein Stück von mir” yang berarti  “engkau adalah sepotong diriku”.  Entah makna apa yang paling hakiki yang dimaksudkan pencetus ungkapan ini, namun setidaknya  hal ini menyiratkan satu hal esensial,  bahwa ‘yang lain’ adalah bagian dari diri yang lain. Engkau bukanlah engkau jika tidak ada saya, demikianpun sebaliknya, saya bukanlah saya kalau tidak ada engkau. Engkau dan saya menjadikan kita berada. Engkau hanyalah kata, demikian juga dengan saya. Jika engkau dan saya ada bersama maka kita menjadi kalimat yang menceritakan siapakah diri kita.

Maka bersama yang lain, seorang pribadi membentuk ada bersama. Ada bersama (mitsein)  dalam hal ini bukanlah  soal sekedar berkumpul bersama, melainkan kesatuan hakiki  yang menandai identitas manusia sebagai manusia. Di dalam ada bersama, setiap orang menemukan jati diri dan makna dirinya.

Jelas di sini, pribadi manusia bukanlah suatu entitas yang utuh kalau ia tidak berada di tengah yang lain. Ada hidup dan sukacita apabila pribadi manusia berada bersama dengan yang lain.  Maka terpanggil untuk ada bersama adalah suatu yang niscaya, berasal dari dalam diri manusia, dan bukan suatu yang dipaksakan atau ditempelkan pada keinginan manusia.

Dalam kekristenan, ada bersama sebagai suatu persekutuan orang-orang percaya adalah suatu yang esensial. Yesus mendoakan para murid-Nya agar menjadi satu berarti membentuk suatu persekutuan hidup yang erat di antara mereka. Dan ini pula yang menghadirkan sifat persekutuan yang eklesial. Persektuan orang-orang beriman yang berada di bawah Kristus sebagai kepala. Sedemikian pentingnya persekutuan iman itu, maka orang tidak pernah menemukan makna kekristenannya, demikian pula dengan hidup, sukacita dan keselamatan di luar persekutuan itu.

Kasih adalah dasar dan tali pengikat persekutuan kristiani. Kasih membangun dan menjaga persekutuan. Kasih  memberi hidup dan sukacita. Persekutuan kasih ini sudah ada ketika Yesus memanggil dan mengumpulkan semua murid-Nya dalam persekutuan para murid. Kecuali Yudas yang mengkhianati Yesus,  para murid yang lain hidup dalam persekutan kasih itu. Tantangan dan kesulitan tidak pernah mengaburkan kasih dalam persekutuan mereka. Bahkan mereka semakin bertumbuh dalam kasih persaudaraan dan keintiman hubungan dengan Yesus.

Kasih sedemikian dalam membuat para murid tidak menginginkan adanya perpisahan dengan Yesus. Dukacita para murid timbul karena perpisahan yang tidak dikehendaki itu ternyata harus terjadi. Mereka tidak lagi bersukacita. Sebab ada pengalaman merasa diri tercopot dan menjadi hilang. Ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah mereka dan yang hilang itu begitu esensial.

Yesus yang mengetahui situasi para murid-Nya meneguhkan hati mereka bahwa sekalipun Ia pergi dan meninggalkan mereka, namun Ia tetap ada dan menyertai mereka dengan cara baru, yaitu melalui Roh Penghibur yang diutus kepada mereka. Kasih-Nya tetap ada di antara mereka meski raganya tidak tampak secara kasat mata. Dan itu nyata di dalam kehadiran Roh yang menyertai dan meneguhkan kesaksian mereka.

Roh itulah yang menguatkan mereka untuk bertahan dalam kesusahan, dan bahkan bersukacita di dalam kesusahan seperti yang dialami Paulus dan Silas. Mereka didera dan dilemparkan ke dalam penjara, akan tetapi tetap bersukacita dan berdoa kepada Allah. Peyertaan Yesus dibuktikan dengan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi. Meski dirantai di dalam ruangan penjara, namun Tuhan membuka pintu penjara dengan gempa bumi dan membuka rantai pengikat kaki.

Kepada para murid juga Penghibur akan menyatakan kebenaran kata-kata Yesus bahwa Ia kembali kepada Bapa. Yesus tidak hilang tetapi kembali kepada Bapa dan kehadiran penghibur dan kesaksian-Nya menyatakan kebenaran itu.  Lebih dari itu, Penghibur yang sama juga akan menginsafkan dunia akan dosanya. Dosa dunia adalah tidak mengenal Yesus pada hal Dia sudah menyatakan diri-Nya melalui pengajaran dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan. Dunia membenci dan menolak Dia. Jika dunia tidak insaf,  seperti yang dilakukan oleh kepala penjaga penjara yang bertobat, maka dunia sudah ada di bawah hukuman. Penolakan mendatangkan hukuman secara otomatis. Hukuman bukan berasal dari Tuhan.

Betapa pentingnya kehadiran Roh itu bagi para murid-Nya, maka Yesus berkata: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh 16:7). Para murid merasa kehilangan dan berduka cita, akan tetapi mereka justru mengalami kepenuhan dalam sukacita karena kepergian Yesus dan kedatangan Roh yang diutus Yesus dari Bapa.

Seperti para murid kita mengalami bahwa kasih dalam persekutuan dengan Kristus dan Roh-Nya itulah yang membuat kita hidup dan mengalami sukacita, meskipun kita berada di tengah situasi badai kehidupan. Hanya di dalam kesatuan dengan Dia kita mengalami kepenuhan eksistensi kita. Kita memiliki hidup, bahkan memiliknya dalam kepenuhan dan sukacita ada di dalam kita.

Dan kita percaya bahwa Ia ada selalu dan menyertai kita, sebab Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita.  Maka hendaknya persekutuan itu tidak kita tinggalkan, apapun alasannya. Sebaliknya sebagai murid-Nya yang setia, kita mesti memiliki kerinduan untuk tetap bersatu dengan Dia. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita sebab Roh yang diutus kepada kita berlangsung selamanya.

Perpisahan yang kita kehendaki dengan Dia membuat kita kehilangan diri kita. Kita kehilangan hidup dan sukacita kita. Dan ketika kita tidak insaf akan akan apa yang dinyatakan Roh kepada kita, maka kita pun berada  berada  di bawah hukuman yang kita tentukan sendiri. Kini saatnya kita sadar dan bertobat seperti kepala penjaga penjara. Sadarlah kita akan hal ini, dan marilah kita membangun komitmen iman kita untuk tetap tinggal dalam Yesus dan kasih-Nya. Dia bukan sepotong dari diri kita, melainkan Dia adalah hidup kita dan sukacita kita. Dialah keselamatan kita. ***Apol Wuwur***

Jumat, 15 Mei 2020

SIAP DIBENCI TAPI JANGAN MEMBENCI


Yoh 15:18-21
Teks-teks Injil dalam beberapa hari terakhir berbicara tentang kasih. Namun hari ini Yesus menyinggung satu kata yang hakikatnya berlawanan dengan kasih. Kata itu adalah benci. Kebencian itu bisa muncul karena tidak ada kasih di dalam diri seseorang. Kasih mesti ada, akan tetapi pada kenyataannya tidak ada. Ruang kosong jiwa manusia itu diambil alih dan diisi oleh kebencian. Kebencian itu juga bisa timbul oleh karena kadar kasih sangatlah kecil atau dalam kata kerja “kurang mengasihi”. Kurang mengasihi Allah, kurang mengasihi sesama dan kurang mengasihi diri sendiri menjadi pangkal tindakan menolak atau melawan Allah, sesama dan diri sendiri.

Kebenciaan itu berasal dari dunia padahal dunia itu diciptakan-Nya. Dunia tidak mengenal Dia, Penciptanya (bdk. Yoh 1:10).  Tidak mengenal bukan soal tidak memahami berdasarkan akal budi semata, melainkan lebih terarah kepada sikap menolak. Apabila Kitab Suci berbicara tentang titik tolak atau ukuran pengenalan adalah kasih timbal-balik, maka ketika Yesus mengatakan bahwa dunia tidak mengenal Dia dan Dia yang mengutus-Nya, maka sebenarnya Ia menyatakan bahwa dunia tidak mengasihi-Nya. Sama juga dengan mengatakan dunia membenci, melawan dan menolak Dia.

Oleh karena kasih  mempertautkan semua orang beriman dengan Kristus Yesus yang telah memilih semuanya dari dunia ini maka semua orang yang berada di dalam kasih-Nya diperhadapkan pula dengan dunia.   Maka apabila Dia yang menciptakan dunia ini sudah dibenci atau ditolak, maka tidaklah mengherankan bahwa semua orang yang mengenal, menerima dan mengasihi-Nya pasti akan ditolak atau dibenci oleh dunia.  Jelas Yesus katakan: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”.

Yesus  mengatakan demikian agar semua yang mengenal, menerima dan mengasihi Dia tidak memandang hal kebencian sebagai suatu momok atau aib yang patut dijauhi atau ditolak, melainkan sebagai suatu realitas yang tidak dapat dihindari dari kesejatian murid-murid-Nya. Bukan hanya menerima kebenaran bahwa oleh karena nama Kristus, orang-orang beriman itu dibenci, ditolak, bahkan dianiaya dan dibunuh, tetapi juga kerelaan untuk menghadapi kenyataan itu dengan hati yang teguh.Dimensi pemahaman akal budi dan pengalaman adalah satu kenyataan yang hidup dalam diri orang-orang beriman.

Tidak ada opsi lain yang bermakna bagi umat beriman. Sebagaimana Yesus menerima kenyataan bahwa Dia yang mengasihi itu dibenci, demikian pula semua orang yang yang dipilih dari dunia ini untuk mengenakan kasih-Nya harus siap dan berani menghadapi kebencian yang berasal dari dunia ini. Ada keuletan, ketekunan, ketabahan dan ketangguhan dalam menghadapi kekuatan itu di samping kesanggupan untuk melawan kekuatan itu, bukan atas cara yang sama, melaikan seturut ajaran dan hidup Yesus sendiri, yaitu kasih. Hanya ada satu kekuatan berarti untuk melawan kebencian. Itulah kekuatan kasih.

Inilah prinsip kehidupan kristiani yang diajarkan oleh Kristus sendiri kepada kita. Apabila prinsip inilah yang kita pegang maka bukan mustahil bagi kita bahwa kita akan kenar-benar menunjukkan kasih kita kepada Kristus secara nyata dalam pengalaman hidup kita. Kebencian dunia kita hadapi dengan kasih. Semakin dibenci semakin kita belajar untuk mengasihi, mengampuni dan berdoa bagi dunia.

Namun bukan tidak mungkin bahwa sebagai manusia, kita  bukan saja  tertantang dengan godaan melainkan juga tergoda untuk bertindak lain; kita terpancing untuk melakukan yang sama seperti yang dilakukan dunia. Kita tidak suka dibenci dan mau menghindari kebencian, padahal kenyataannya kita membenci, malahan tinggal dalam kebencian.

Kesadaran menolong kita untuk kembali melakukan seperti yang diajarkan dan dibuat oleh Yesus. Kita bisa saja jatuh dalam tindakan dunia, akan tetapi kesadaran atas pengalaman kejatuhan dan keinginan untuk maju dalam kualitas hidup kristiani membuat kita bangkit kembali, berubah  dan bertumbuh dalam kualitas hidup kristiani.

Apabila kita tergoda untuk terus melakukan yang sama seperti yang dilakukan dunia, maka mungkin baik apabila kita merefleksikan bahwa kadar kasih kita tidak lebih tinggi dan kuat dari kadar kebencian yang menguasai hidup kita. Kurang mengasihi menjatuhkan kita ke dalam perbuatan yang sama seperti yang dilakukan oleh dunia. Kita melawan atau menolak Allah dengan tidak taat dan setia menjalankan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita. Kurang mengasihi  juga membuat kita menolak dan membenci sesama saudara kita, bahkan terhadap diri kita sendiri pun kita tidak mampu menunjukkan kasih yang sepatutnya. Kadarnya mungkin saja berbeda dengan yang dilakukan dunia, tetapi tetap mengacu kepada perbuatan yang sama, yaitu membenci.

Dalam keadaan demikian, kita membutuhkan penebusan Kristus yang memurnikan kita sehingga kita benar-benar memiliki kasih untuk dapat mengasihi seperti Kristus mengashi kita. Dalam kasih itu, kita siap dibenci dunia, namun tidak membenci.

Seperti Kristus datang untuk mengalahkan kekuatan kebencian, demikianlah dalam kasih kita “membenci yang jahat”, tetapi tidak pernah boleh membenci orang yang berdosa atau yang berbuat jahat.  Dengan melakukan demikian berarti pula kita mengambil bagian dalam tindakan Kristus yang datang ke dunia untuk “menghapus dosa-dosa dunia”. Dan itulah jalan yang mau tidak mau harus dilewati oleh orang-orang yang dikasihi dan mengasihi Dia. ***Apol Wuwur***

Minggu, 10 Mei 2020

BUKAN MANUSIA PHP


Yoh 14:21-26
Kasih itu menuntut bukti. Tidak sekedar kata-kata kosong. Orang yang hanya mengucapkan kata-kata kasih tanpa memberi bukti nyata disebut dengan istilah PHP alias pemberi harapan palsu. Seorang pria yang mengasihi seorang perempuan tentu harus membuktikan rasa  kasihnya itu. Bukti kasih bisa diberikan dengan aneka cara. Misalnya dengan memberikan bunga, menghadiahkan barang tertentu, menepati janji untuk melakukan sesuatu dan sebagainya. Seorang anak memberikan bukti kasih kepada orang tuanya dengan selalu patuh atau taat pada perintah orang tua. Dan sebaliknya, orang tua memberikan bukti kasihnya kepada sang anak dengan menjamin kesejahteraan lahir dan batinnya. Orang tua memberikan perhatian dengan pujian apabila anak melakukan sesuatu yang baik. Atau teguran apabila sang anak melakukan kesalahan. Bukti kasih menjadi dasar pijakan bagi orang-orang yang mengecapi cita rasa kasih untuk saling menjaga, memelihara, dan melindungi satu sama lain. Bukti kasih memberi garansi agar orang-orang yang terlibat di dalamnya tidak main-main dengan menyalagunakan rasa kasih itu demi kepentingan atau kepuasan pribadi semata.

Hari ini Yesus menuntut sebuah konsekuensi dari rasa kasih. Apabila para murid mengasihi Dia, maka mereka harus memegang segala perintah-Nya dan melakukannya. Bukti dari kasih yang ditunjukkan oleh para murid menjadi dasar keyakinan bagi Yesus untuk sungguh-sungguh mempercayai mereka. Kalau mereka tidak memegang segala ajaran dan tidak melakukannya, tentu Yesus tidak akan mempercayai dan menaruh kasih-Nya kepada mereka. Apabila mereka tidak memegang segala ajaran apalagi tidak melakukanya, mereka sama saja dengan kelompok PHP (Pemberi Harapan Palsu). Mereka hanya mengasihi Yesus di bibir, tetapi lain dalam aksi nyata. Kasih itu menjadi mekar apabila dihidupi dalam tindakan konkrit. Sudah menjadi jelas bahwa kasih yang ditunjukkan oleh para murid pasti mendapat balasan yang setimpal dari Yesus. Yesus dan Bapa-Nya pasti akan mengasihi juga para murid. Karena apa yang dilakukan oleh para murid tidak saja sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Yesus, tetapi juga sesuai dengan amanat Sang Bapa dalam Diri Putra-Nya.
           
Allah melalui Yesus Putra-Nya juga memberikan jaminan bagi para murid yang telah berlaku setia kepada-Nya. Yesus tidak akan membiarkan para murid-Nya berjalan sendiri. Karena “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu (Yoh. 14: 8a).” Walaupun Yesus telah pergi dari dunia, Ia tidak akan meninggalkan para murid-Nya sendiri. Sebagai bukti kasih-Nya yang paling agung, Ia akan mengutus seorang Penghibur, yaitu Roh Kudus, untuk menemani dan mendampingi para murid. Roh Kudus sebagai bukti kasih Yesus akan selalu membimbing, mengarahkan dan menuntun para murid agar mereka tidak gagap dalam melanjutkan misi keselamatan Allah di tengah dunia. Roh Kudus menjadi garansi kasih Allah dalam diri Yesus. Oleh karena itu, para murid juga harus memberikan bukti kesetiaan dan kasih mereka kepada Allah dengan memegang erat segala ajaran-Nya. Dan kemudian sungguh-sungguh mewujudnyatakannya dalam karya pelayanan mereka.
           
Tidak hanya kepada para murid saja Yesus menuntut bukti kasih itu. “Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu (Ibr 3:7-8a).” Yesus juga berbicara kepada kita semua agar kita mau membuka diri dan mendengar apa yang Ia sampaikan. Kita mau belajar untuk melembutkan hati dan membuka telinga rohani kita untuk mendengar suara-Nya. Ia menuntut kita untuk membuktikan rasa kasih kita kepada-Nya. Apabila kita mengasihi Yesus, apa buktinya. Apa konsekuensinya. Dengan kerendahan hati dan keterbukaan diri, kita mau mewujudkan kasih kita kepada Yesus dengan berlaku setia. Setia kepada ajaran yang telah Ia sampaikan. Dan harus mengimplementasikan dalam hidup kita sehari-hari. Kita tidak perlu takut berjalan sendiri. Ada roh penghibur yang senantiasa mendampingi kita. Roh Kudus akan menggerakkan dan menguatkan agar kita tidak takut dalam berbicara dan membawa wajah kasih Allah di tengah dunia.
           
Melalui permenungan sabda hari ini, kita semua dikuatkan sebagai anggota gereja atau bait Allah yang hidup di tengah umat (masyarakat) yang kita layani. Kita harus sungguh-sungguh menunjukkan bukti kasih kepada Allah dan Yesus melalui kesediaan dan kerelaan untuk menjalankan segala perintah dan ajaran-Nya dalam hidup harian kita. Roh Kudus sebagai penghibur dan pendamping setia, tidak kita lihat secara kasat mata. Namun kita yakin roh itu yang selalu membisikan, menggerakkan, dan menuntun langkah kaki agar kita tidak tersesat dalam kegelapan dosa. Melainkan selalu menemukan terang yang menyelamatkan hidup kita. Mari kita buktikan diri kita bukan sebagai manusia PHP (Pemberi Harapan Palsu) kepada Tuhan. Namun, sebagai orang-orang yang selaras dalam kata-kata dan perbuatan nyata. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Rabu, 06 Mei 2020

MAKAN ROTI BERSAMA TAPI JANGAN ANGKAT TUMIT


Yoh 13:16-20

William Barclay, seorang pendeta dan teolog berkebangsaan Skotlandia pernah menulis tentang makna makan roti bersama yang lazimnya terjadi dalam budaya orang timur. Sebagaimana dikutip Pdt. Budi Asali Mdiv., dalam Eksposisi  Injil Yohanes, ia menulis demikian: “Di timur untuk makan roti dengan siapa pun adalah pertanda persahabatan dan tindakan kesetiaan”.

Kita ingat akan peristiwa perjamuan terakhir  Yesus bersama dengan murid-murid-Nya.  Yesus makan roti bersama murid-murid-Nya, termasuk Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati-Nya. Peristiwa makan roti menandakan persabahatan dan tindakan kesetiaan: Yesus terhadap para murid-Nya dan para murid-Nya terhadap Yesus.

Tidak hanya ketika perjamuan terakhir itu diadakan. Dalam perjalanan hidup dan karya perutusan-Nya, Yesus makan roti bersama para murid-Nya. Ia makan roti bersama Marta, Maria dan Lazarus saudara mereka. Ia juga makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9:10-11).

Dengan melakukan itu, Yesus menunjukkan bahwa Ia mau bersahabat dengan semua orang. Bahkan terhadap para pendosa persahabatan itu menjadi muara tuju karena untuk itulah Ia datang ke dunia.

Dalam Injil hari ini kita membaca atau mendengar Yesus berkata: “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku” (ay 18). Frasa “makan roti-Ku” menurut Kitab Suci berarti orang yang hidup dan bergaul mesra dengan Yesus dan diperlakukan sebagai sahabat yang karib. Namun menurut  tafsiran atas kiasan “mengangkat  tumitnya terhadap Aku” berarti bangkit melawan Yesus, maka sesungguhnya letak makna kata-kata Yesus di atas adalah pengkhianatan yang datang dari sahabat karib-Nya sendiri.   

Apabila pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang tidak akrab dan tidak terlalu dekat maka penderitaan yang diakibatkannya tentu tidak terlalu hebat, akan tetapi justru karena datang dari seorang Yudas  yang adalah bagian dari kelompok para murid-Nya sendiri maka penderitaan yang ditimbulkan itu begitu hebat.

Yesus merasakan apa yang pernah dinyatakan sang pemazmur: “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat  menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku” (Mzm 55:13-14).

Sebegitu dalamnya penderitaan itu dirasakan sehingga Yesus berkeluh: “... celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan" (Mat 26:24, lih Mrk 14:21).

Pengalaman Yesus ini sesungguhnya adalah pengalaman manusia pada umumnya. Orang menderita sakit karena dikhianati, apalagi pengkhianatan itu datang dari orang-orang yang bergitu dekat dan akrab, orang-orang yang dipandang sebagai sahabat, orang-orang yang dipercayai, orang-orang yang dicintai.  Maka tentu penderitaan itu sebegitu hebat dirasakan.  

Orang-orang yang pura-pura dalam “persahabatan dan kesetiaan” bisa keluarga kita, bisa teman kerja kita, bisa bawahan kita, juga bisa atasan kita. Pada kesempatan yang tepat mereka dapat menjual kita untuk kepentingan diri mereka seperti Yudas menjual Yesus untuk kepentingan dirinya sendiri.

Berbeda dengan Yesus yang mengetahui pengkhianatan itu akan terjadi. Terhadap diri kita, aksi pengkhianatan itu hampir tidak terduga. Kita baru mengalami dan merasakan sesudah peristiwa pengkhianatan itu terjadi.

Atas hal demikian, maka adalah wajar bila kita kecewa dan berkeluh-kesah.  Namun kekecewaan dan perasaan penyerta yang ditimbulkan tidak bisa membuat kita tinggal dalam kebencian dan keinginan untuk melakukan yang sama. Sakit yang tetap terpelihara hanya akan membawa kerugian bagi diri kita sendiri.

Karena itu lebih bijaksana bila kita belajar untuk mengampuni sebab pengampunan membebaskan kita dari beban penderitaan yang kita alami. Pengkhianat tidak akan memiliki hidup lebih baik dan berkualitas karena pengkhianatannya. Keuntungan apapun diperolehnya akan segera berlalu dan tidak meninggal sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Akan tetapi kita yang berbesar hati untuk mengampuni akan terbukti memiliki hidup yang jauh lebih bahagia, sebab dengan mengampuni kita memperoleh rahmat kedamaian dalam hati kita.

Bukan hanya bagi diri kita sendiri, pengampunan juga dapat  menurunkan rahmat pertobatan yang membuat orang berbalik dari perilaku hidupnya.  Dalam hal inilah kita menemukan makna hidup kita sebagai orang Kristiani karena kita mengambil bagian dalam tindakan Allah sendiri, yaitu mengampuni.

Akhirnya kita belajar bahwa mengkhianati  adalah tindakan yang jahat karena melukai dan mendatangkan penderitaan yang hebat bagi orang lain. Karena itu, bagi kita adalah lebih berguna bila kita memelihara jiwa “makan roti bersama” daripada makan roti bersama sambil mengangkat tumit kita. Kita hanya punya satu pilihan: “Makan roti bersama”.***Apol Wuwur***




Minggu, 03 Mei 2020

GEMBALA YANG BAIK


Yoh 10:11-18

Selama kurang lebih empat tahun berada dalam komunitas lingkungan yang menjadi tempat tinggal saya sekarang ini, ada satu sosok pemimpin yang membuat saya kagum. Dia adalah sang ketua lingkungan –lingkungan dalam konteks gereja, bukan wilayah pemerintah- dalam wilayah paroki gereja kami (Paroki Kristus Raja Wangatoa, Kab. Lembata). Dia seorang perempuan. Tetapi bukan sekedar perempuan. Dia perempuan hebat. Tipe pemimpin yang memiliki banyak keunggulan. Selain cerdas, dia juga tipikal pemimpin yang rendah hati, berjiwa seorang pelayan, pekerja keras, dan selalu berkorban tanpa memikirkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Dia sungguh mengenal para anggota keluarga dalam komunitas lingkungan yang dia pimpin. Minimal setiap kepala keluarga Katolik. Dia mengetahui nama mereka dan membangun keintiman emosional yang erat. Dia seorang manajer konflik yang sangat diandalkan. Setiap persoalan yang muncul dalam lingkungan, selalu dikendalikan dengan bijaksana. Pasti ada jalan keluar atau solusi yang ditempuh. Bahkan ada persoalan yang sangat privasi dalam keluarga tertentu, beliau bisa menjadi mediator untuk mendinginkan dan mendamaikan. Jarang seorang perempuan apalagi seorang pemimpin seperti beliau yang saya temui.

Hari ini penginjil Yohanes dalam bacaannya (Yoh 10:11-18), berbicara tentang seorang gembala yang baik. Teks bacaan ini secara utuh dapat kita baca dari ayat 1 sampai dengan dengan 21 (Yoh 10:1-21). Bacaan hari ini merupakan kelanjutan dari teks Injil bacaan kemarin (hari Minggu) dengan intisari yang sama mengenai gembala yang baik. Kalau kita perhatikan teks pada bacaan hari ini, ada dua kata kunci yang kita temukan yakni gembala dan domba. Yesus menggunakan kata gembala sebagai ungkapan yang merujuk pada pekerjaan yang umumnya dilakukan orang-orang pada saat itu. Kalau ada gembala pasti ada binatang atau hewan peliharaan yang mestinya dijaga, dibimbing, dan dituntun. Dan jenis hewan yang dipilih oleh Yesus dalam perumpaannya adalah domba. Mengapa hewan domba yang digunakan? Padahal ada begitu banyak binatang yang lain. Domba itu binatang yang setia, penurut dan tidak memberontak. Domba itu simbol dari ketidakberdayaan dan kelemahan. Dia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang. Domba sebagai simbol dari seorang manusia, melambangkan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia itu sendiri. Manusia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang dosa. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seorang gembala yang baik, yakni Tuhan sendiri.

Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus mengkontraskan diri-Nya dengan gembala lain yang hanya sebagai seorang upahan. Gembala yang menjalankan tugasnya karena dibayar. Gembala yang demikian sangat diragukan nilai kesetiaan dan dedikasinya. “Ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Berbeda dengan gembala upahan yang tidak memiliki integritas, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai seorang Gembala Yang Baik. Sebagai seorang gembala yang baik, Dia memiliki beberapa kualifikasi. Pertama, Dia sungguh mengenal para domba-Nya dalam kandang. Kedua, para domba-Nya juga mengenal Dia dan suara-Nya. Ketiga, ada domba lain dari luar kandang yang harus dituntun-Nya. dan mereka pun mendengar suara-Nya. Keempat, sang gembala adalah tipe orang setia dan rela berkorban. Bahkan harus menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan para domba-Nya.
           
Karena kasih Allah yang begitu besar kepada manusia, maka Ia rela menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan tinggal bersama manusia. Ia telah hadir menjadi seorang Gembala Yang Baik dalam sejarah hidup manusia. Dengan sabda dan banyak tanda yang mengagumkan, Yesus sebagai Gembala Yang Baik, berusaha meyakinkan dan menawarkan rahmat keselamatan yang mengalir dari Bapa-Nya. Ia bahkan mengorbankan diri-Nya dengan mati di kayu salib. Sungguh sebuah pengorbanan maha dasyat dari sang gembala demi menyelamatkan manusia dari kesesatannya. Ada banyak orang yang telah menjadi “domba-Nya”. Mereka sungguh percaya dan setia mengikuti Dia. Namun, ada banyak pula orang tidak mau menjadi “domba-Nya”. Mereka lebih suka menjadi “domba tersesat” yang dipimpin oleh para gembala upahan.
           
Ada dua pesan yang bisa kita petik dari teks bacaan hari ini. Pertama, menjadi domba-Nya. Untuk dapat menjadi seorang domba yang baik, kita harus membuka diri dan menyerahkan diri kita sepenuhnya dalam tuntunan Tuhan. Berhadapan dengan Tuhan, kita tidak bisa merasa diri lebih tinggi dan hebat. Karena jika itu yang dilakukan, kita tidak bisa menyelami rahasia Tuhan yang datang dalam hati dan jiwa kita. Untuk dapat bertemu Tuhan, butuh kerendahan hati dan penyerahan diri yang total. Kedua, Menjadi gembala yang baik. Implikasi lanjut dari domba yang baik adalah menjadi seorang gembala yang baik pula. Seorang murid Tuhan tentu tidak hanya cukup beriman. Yang lebih penting adalah bagaimana ia harus menghidupi iman itu dalam tindakan nyata. Ia harus menjadi gembala yang baik di tengah masyarakat dengan menjadi seorang pribadi yang rendah hati dan suka menolong. Pribadi yang suka bekerja keras dan mau berkorban untuk orang lain. Pribadi yang mengedepankan nilai kejujuran, kesetiaan, dan keadilan.
           
Di tengah dunia yang semakin menua ini, ada banyak orang yang sudah menunjukkan diri mereka sebagai seorang gembala yang baik. Seperti pengalaman nyata yang saya gambarkan pada awal renungan ini. Memang cukup gampang untuk menginternalisasikan  kualifikasi sebagai seorang gembala dalam diri. Akan tetapi sangat sulit untuk mentransformasikannya dalam tindakan-tindakan konkrit. Butuh kemauan dan komitmen diri yang kuat. Hari ini, saya dan anda, kita semua mendapat inspirasi yang luar biasa dari penginjil Yohanes untuk tidak saja menjadi domba yang baik, tetapi yang lebih penting adalah menjadi seorang gembala yang baik dalam kehidupan nyata kita setiap hari. Masih dalam situasi pandemi Covic-19 yang mendera bangsa kita, keutamaan-keutamaan sebagai seorang gembala yang baik semakin membuat kita menjadi pribadi yang peka dan tidak pekak dalam mencermati pelbagai realitas sosial yang ada. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***