Kis 25:13-21 & Yoh 21:15-19
Cinta itu sesuatu yang abstrak. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia
(cinta) hanya bisa dialami dengan perasaan. Dengan cinta orang bisa mengalami
kebahagiaan, sukacita, kegembiraan dan harapan yang pasti. Dengan cinta pula
orang bisa mengalami kekecewaan, sakit hati, dukacita dan harapan yang tak
pasti. Orang mengklasifikasikan cinta itu dalam tiga cluster atau tingkatan. Tingkat pertama adalah cinta eros. Pada
tataran ini orang mengalami cinta hanya berdasarkan penampilan fisik semata.
Orang menyamakan jenis cinta ini dengan istilah cinta nafsu. Sifat cinta ini
mudah luntur atau hilang ketika orang tidak lagi merasa tertarik secara fisik
dengan orang lain. Pada tingkatan kedua ada istilah yang bernama cinta philia.
Cinta yang berciri atau berkarakter umum. Mencintai seseorang sebagai sesama
saudara. Cinta antara seorang kakak dan adik, sesama rekan kerja, sesama
anggota komunitas adalah kategori cinta philia. Pada tataran ketiga, ada cinta
agape. Jenis cinta ini yang paling tinggi nilainya. Orang biasa menyamakan
cinta agape ini dengan cinta sejati. Cinta tanpa pamrih. Cinta tanpa
mengharapkan balasan. Cinta yang penuh ketulusan dan pengorbanan.
Dalam bacaan hari ini Yesus berusaha mempertanyakan sekaligus menggali
kadar cinta seorang Simon kepada Diri-Nya. Dengan pertanyaan, “Apakah engkau
mengasihi Aku?”, Yesus melemparkan kalimat eksistensial itu sebanyak tiga kali
kepada Simon. Simon merasa sedih karena Yesus sepertinya masih meragukan
kualitas cintanya. Rupanya ada latar di
balik pertanyaan itu. Bukan sekedar pertanyaan yang disodorkan oleh
Yesus. Ada pengalaman pahit yang menunjukkan dengan jelas bagaimana Simon
melakukan tindakan pengkhianatan. Simon pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga
kali saat Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar (Yoh 18:12-27).
Catatan hitam inilah yang membuat Yesus perlu melakukan shock therapy agar
Simon sungguh-sungguh menyadari makna sebuah persahabatan dan kasih yang
terjadi antara seorang guru dan murid. Pertanyaan Yesus tidak hanya menandaskan
kadar cinta Simon pada tataran cinta philia. Cinta bernuansa persaudaraan
seorang guru dan murid. Tetapi lebih dari itu, mau menegaskan level cinta yang
lebih luhur yaitu cinta agape antara seorang Guru Ilahi dan murid sejati. Cinta
seorang Simon kepada Yesus harus berkarakter cinta sejati. Cinta penuh
ketulusan dan pengorbanan.
Menjadi hal yang wajar ketika Yesus
mengajukan pertanyaan khusus itu kepada Simon; bukan kepada para murid yang
lain. Simon merupakan murid yang paling menonjol di antara kelompok dua belas
rasul. Yesus sudah membaca potensi yang dimilikinya menjadi seorang pemimpin
besar. Di pundaknya, Yesus akan menyerahkan tongkat kepemimpinan setelah Ia
pergi dari dunia. Simon akan menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya yang lain.
Dan kelak, kita mengetahui bahwa Simon sungguh memainkan peran yang sangat
besar dalam memimpin kelompok dua belas para rasul (kecuali Yudas Iskariot).
Simon sungguh menunjukkan cinta agapenya kepada Yesus dengan bersikap setia dan
militan dalam karya pelayanannya. Ia juga mampu memimpin dan menjaga kesatuan
kelompok perdana ini agar tidak menjadi cerai berai. Kadar cinta Simon yang
luar biasa ini ia tunjukkan sampai kemudian ia harus mati dengan cara
disalibkan seperti Sang Guru Ilahi-Nya Yesus Kristus. Bedanya, Yesus disalib
dengan kepala ke atas. Sebaliknya, Simon disalibkan dengan kepala ke bawah.
Pengalaman cinta atau kasih agape tidak hanya ditunjukkan oleh seorang Simon.
Paulus, salah satu murid yang cerdas, juga telah menunjukkan kasihnya yang
dasyat kepada Yesus. Ia rela di penjara di Kaisarea demi menunjukkan kemuliaan
kasihnya kepada Yesus (Kis 25:19).
Hari ini kita semua sungguh ditantang oleh Yesus. Yesus tidak hanya
mengajukan pertanyaan sebanyak tiga kali kepada Simon. Tetapi kepada kita
semua. Semua murid Yesus di zaman ini. Apakah kita sungguh mengasihi Yesus?
Tentu dengan sangat gampang, seperti jawaban Simon, kita akan mengatakan “Iya
Tuhan, aku sungguh mencintai-Mu.” Tetapi apakah semudah itu jawaban tersebut
mewakili totalitas pribadi kita. Tentu saja tidak. Kita harus betul-betul
terjun dan diuji dalam seluruh pengalaman hidup. Pengalaman menunjukkan bahwa
kita belum sungguh-sungguh menunjukkan cinta sejati kita kepada Tuhan. Ada
kisah penyangkalan, pengkhianatan kepada Yesus yang didramatisir secara nyata
oleh kita, para murid Yesus era ini. Acapkali kita menunjukkan sikap tidak
setia dengan mengangkangi segala ajaran dan kehendak-Nya. Jatuh itu pengalaman
yang biasa. Namun menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dan berjalan
lagi. Mari kita berbenah diri untuk merenungkan sejauh mana kadar cinta kita
kepada Yesus. Apakah masih sebatas cinta eros, cinta philia atau cinta agape.
Semoga kita mampu menempatkan level cinta kita kepada-Nya pada tataran yang
paling luhur yakni cinta agape atau cinta sejati. Kita mampu menunjukkan cinta
kita dengan sikap setia, tulus dan penuh pengorbanan tanpa mengharapkan
imbalan, terutama pada situasi pandemi Covid-19 yang sementara mendera bangsa
tercinta kita ini. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***