Kis 20:17-27 & Yoh 17:1-11a
Yesus
menyelesaikan pekerjaan Bapa-Nya dengan sempurna. Ia mencapai garis akhir
pekerjaan-Nya.
Dalam doa yang
menandai akhir dari pekerjaan-Nya itu, Yesus menyatakan telah tiba waktunya Dia
dipermuliakan oleh Bapa-Nya, agar Bapa-Nya dipermuliakan di dalam Dia,
Waktu kemuliaan adalah waktu ketika Yesus
ditinggikan di atas salib. Dunia yang membenci-Nya memandang peristiwa salib
sebagai aib atau momok yang paling memalukan, akan tetapi Allah justru memilih
menyatakan kemuliaan-Nya melalui salib. Anak dipermuliakan di atas salib, dan
Bapa dimuliakan pula dalam Anak-Nya di atas salib.
Selain itu, dalam
doa-Nya, Yesus juga mendoakan orang yang telah mendengarkan dan menerima firman
Allah yang telah Bapa sampaikan kepada-Nya. Sekalipun dunia membenci-Nya, akan
tetapi ada di antara orang-orang dunia ini telah dipilih Kristus menjadi milik
kepunyaan-Nya dan kepunyaan Bapa. Mereka itulah yang telah melakukan pekerjaan
utama yang diserahkan Bapa kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya sebagai
utusan Allah.
Yesus menyebut
alasan Dia mendoakan orang-orang percaya karena Dia tidak ada lagi di dalam
dunia, tetapi orang-orang percaya masih ada di dalam dunia. Yesus tahu, dunia
yang telah membenci-Nya akan juga membenci orang-orang yang percaya kepada-Nya.
Karena itulah maka milik kepunyaan-Nya, juga kepunyaan Bapa itu, dipandang
mutlak untuk dilindungi dan diteguhkan dengan kehadiran Roh Kebenaran.
Kisah hidup
Paulus yang ditampilkan dalam Kisah Para Rasul membuktikan bahwa Bapa sungguh
menaruh hormat pada Putra-Nya. Ia mendengarkan anak-Nya. Melalui kehadiran Roh
yang meneguhkan itu, Paulus dapat melaksanakan tugasnya. Kendatipun banyak
mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi
yang mau membunuhnya, namun ia setia melaksanakan tugasnya dengan rendah hati.
Bahkan di dalam Roh, Paulus memandang
“penjarang dan sengsara” adalah bagian dari kesaksian hidup sebagai orang
percaya dan rasul Tuhan.
Paulus sebaliknya
menyatakan: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku
dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh
Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah”
(Kis 20:24). Dengan itu Paulus memandang bahwa dia tidak memiliki utang lagi
karena ia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah. Ia tidak dapat
disalahkan karena kebinasaan akibat ketidakpercayaan orang atas firman yang
disampaikannya.
Pengalaman “air
mata dan pencobaan” sebagai variasi dari
ungkapan “penjarang dan sengsara” adalah gambaran tentang situasi riil dan
sejarah yang menyertai kehidupan orang-orang Kristiani. Maka ketika Yesus
mendoakan orang-orang percaya yang masih ada di dunia ini, Ia berdoa untuk
semua orang dalam segala zaman yang telah menjadi percaya oleh karena
firman-Nya.
Kita pun didoakan
Kristus agar di dalam kekuatan Roh yang diutus dari Bapa kita mampu mengambil
sikap militan seperti Paulus. Air mata dan pencobaan atau penjarang dan
sengsara tidak menghalangi kita untuk menunjukkan iman dan kesaksian hidup
sebagai orang beriman.
Kita tahu bahwa
Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita sebab Dia yang pernah ada
bersama-sama dengan manusia di dunia ini kini berada bersama Bapa-Nya. Dia tahu
situasi dan kebutuhan hidup kita. Dia meminta Bapa untuk memberikan yang
terbaik bagi kita, sekalipun yang
terbaik itu bisa tersembunyi dalam pengalaman air mata dan pencobaan.
Dalam kesadaran
iman ini, kita akan memandang penting sebagai suatu panggilan yang mendesak
untuk mencapai garis akhir dari perjuangan kita sebagai orang Kristiani. Air
mata dan pencobaan atau penjarang dan sengsara akan menguji kita apakah kita
mampu mencapai garis akhir atau berhenti di pertengahan jalan atau menyimpang
ke jalan yang lain.
Hanya jika orang
mampu bekerja sama dengan Roh Kebenaran hanya dia yang mampu bertekun dalam
iman dan memberi kesaksian iman. Maka dibutuhkan keterbukaan terus-menerus
kepada kehadiran dan karya Roh Kebenaran dalam diri kita. Kita tidak dapat
mengandalkan diri sendiri yang begitu lemah dan rapuh.
Buah dari
perjuangan untuk mencapai garis akhir adalah kemuliaan. Kristus yang telah
dimuliakan Bapa di atas salib itu juga akan memuliakan kita karena kita telah
dengan rendah hati memilih jalan yang telah dilalui-Nya.
Maka marilah kita
bertekun dalam iman dan kesaksian iman karena buah kesaksian kita adalah
kemuliaan. Janganlah kita mengejar apa yang menjadi keinginan dunia namun
kemudian tercampak dalam penderitaan kekal. Lebih baik menderita sekarang di
dunia ini untuk mendapatkan yang kekal dalam surga.
Sebagai
orang-orang yang hidup di tengah dunia ini, tugas kita belum selesai. Karena
itu, bertekunlah dalam iman dan kesaksian sebab Tuhan berjanji menyertai kita sampai akhir zaman, saat bagi Dia untuk
membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya. ***Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar