Senin, 25 Mei 2020

MENCAPAI GARIS AKHIR


Kis 20:17-27 & Yoh 17:1-11a
Yesus menyelesaikan pekerjaan Bapa-Nya dengan sempurna. Ia mencapai garis akhir pekerjaan-Nya.
Dalam doa yang menandai akhir dari pekerjaan-Nya itu, Yesus menyatakan telah tiba waktunya Dia dipermuliakan oleh Bapa-Nya, agar Bapa-Nya dipermuliakan di dalam Dia,
Waktu  kemuliaan adalah waktu ketika Yesus ditinggikan di atas salib. Dunia yang membenci-Nya memandang peristiwa salib sebagai aib atau momok yang paling memalukan, akan tetapi Allah justru memilih menyatakan kemuliaan-Nya melalui salib. Anak dipermuliakan di atas salib, dan Bapa dimuliakan pula dalam Anak-Nya di atas salib.
Selain itu, dalam doa-Nya, Yesus juga mendoakan orang yang telah mendengarkan dan menerima firman Allah yang telah Bapa sampaikan kepada-Nya. Sekalipun dunia membenci-Nya, akan tetapi ada di antara orang-orang dunia ini telah dipilih Kristus menjadi milik kepunyaan-Nya dan kepunyaan Bapa. Mereka itulah yang telah melakukan pekerjaan utama yang diserahkan Bapa kepada Yesus, yaitu percaya kepada-Nya sebagai utusan Allah.

Yesus menyebut alasan Dia mendoakan orang-orang percaya karena Dia tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi orang-orang percaya masih ada di dalam dunia. Yesus tahu, dunia yang telah membenci-Nya akan juga membenci orang-orang yang percaya kepada-Nya. Karena itulah maka milik kepunyaan-Nya, juga kepunyaan Bapa itu, dipandang mutlak untuk dilindungi dan diteguhkan dengan kehadiran Roh Kebenaran.

Kisah hidup Paulus yang ditampilkan dalam Kisah Para Rasul membuktikan bahwa Bapa sungguh menaruh hormat pada Putra-Nya. Ia mendengarkan anak-Nya. Melalui kehadiran Roh yang meneguhkan itu, Paulus dapat melaksanakan tugasnya. Kendatipun banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuhnya, namun ia setia melaksanakan tugasnya dengan rendah hati. Bahkan di dalam Roh,  Paulus memandang “penjarang dan sengsara” adalah bagian dari kesaksian hidup sebagai orang percaya dan rasul Tuhan.

Paulus sebaliknya menyatakan: “Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah” (Kis 20:24). Dengan itu Paulus memandang bahwa dia tidak memiliki utang lagi karena ia tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah. Ia tidak dapat disalahkan karena kebinasaan akibat ketidakpercayaan orang atas firman yang disampaikannya.

Pengalaman “air mata dan pencobaan”  sebagai variasi dari ungkapan “penjarang dan sengsara” adalah gambaran tentang situasi riil dan sejarah yang menyertai kehidupan orang-orang Kristiani. Maka ketika Yesus mendoakan orang-orang percaya yang masih ada di dunia ini, Ia berdoa untuk semua orang dalam segala zaman yang telah menjadi percaya oleh karena firman-Nya.

Kita pun didoakan Kristus agar di dalam kekuatan Roh yang diutus dari Bapa kita mampu mengambil sikap militan seperti Paulus. Air mata dan pencobaan atau penjarang dan sengsara tidak menghalangi kita untuk menunjukkan iman dan kesaksian hidup sebagai orang beriman.

Kita tahu bahwa Yesus tidak akan pernah meninggalkan kita sebab Dia yang pernah ada bersama-sama dengan manusia di dunia ini kini berada bersama Bapa-Nya. Dia tahu situasi dan kebutuhan hidup kita. Dia meminta Bapa untuk memberikan yang terbaik bagi kita,  sekalipun yang terbaik itu bisa tersembunyi dalam pengalaman air mata dan pencobaan.

Dalam kesadaran iman ini, kita akan memandang penting sebagai suatu panggilan yang mendesak untuk mencapai garis akhir dari perjuangan kita sebagai orang Kristiani.   Air mata dan pencobaan atau penjarang dan sengsara akan menguji kita apakah kita mampu mencapai garis akhir atau berhenti di pertengahan jalan atau menyimpang ke jalan yang lain.

Hanya jika orang mampu bekerja sama dengan Roh Kebenaran hanya dia yang mampu bertekun dalam iman dan memberi kesaksian iman. Maka dibutuhkan keterbukaan terus-menerus kepada kehadiran dan karya Roh Kebenaran dalam diri kita. Kita tidak dapat mengandalkan diri sendiri yang begitu lemah dan rapuh.

Buah dari perjuangan untuk mencapai garis akhir adalah kemuliaan. Kristus yang telah dimuliakan Bapa di atas salib itu juga akan memuliakan kita karena kita telah dengan rendah hati memilih jalan yang telah dilalui-Nya.

Maka marilah kita bertekun dalam iman dan kesaksian iman karena buah kesaksian kita adalah kemuliaan. Janganlah kita mengejar apa yang menjadi keinginan dunia namun kemudian tercampak dalam penderitaan kekal. Lebih baik menderita sekarang di dunia ini untuk mendapatkan yang kekal dalam surga.

Sebagai orang-orang yang hidup di tengah dunia ini, tugas kita belum selesai. Karena itu, bertekunlah dalam iman dan kesaksian sebab Tuhan berjanji menyertai kita  sampai akhir zaman, saat bagi Dia untuk membawa kita ke dalam kemuliaan-Nya. ***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar