Kamis, 28 Mei 2020

CINTA AGAPE


Kis 25:13-21 & Yoh 21:15-19
Cinta itu sesuatu yang abstrak. Sulit dijelaskan dengan kata-kata. Ia (cinta) hanya bisa dialami dengan perasaan. Dengan cinta orang bisa mengalami kebahagiaan, sukacita, kegembiraan dan harapan yang pasti. Dengan cinta pula orang bisa mengalami kekecewaan, sakit hati, dukacita dan harapan yang tak pasti. Orang mengklasifikasikan cinta itu dalam tiga cluster atau tingkatan. Tingkat pertama adalah cinta eros. Pada tataran ini orang mengalami cinta hanya berdasarkan penampilan fisik semata. Orang menyamakan jenis cinta ini dengan istilah cinta nafsu. Sifat cinta ini mudah luntur atau hilang ketika orang tidak lagi merasa tertarik secara fisik dengan orang lain. Pada tingkatan kedua ada istilah yang bernama cinta philia. Cinta yang berciri atau berkarakter umum. Mencintai seseorang sebagai sesama saudara. Cinta antara seorang kakak dan adik, sesama rekan kerja, sesama anggota komunitas adalah kategori cinta philia. Pada tataran ketiga, ada cinta agape. Jenis cinta ini yang paling tinggi nilainya. Orang biasa menyamakan cinta agape ini dengan cinta sejati. Cinta tanpa pamrih. Cinta tanpa mengharapkan balasan. Cinta yang penuh ketulusan dan pengorbanan.
           
Dalam bacaan hari ini Yesus berusaha mempertanyakan sekaligus menggali kadar cinta seorang Simon kepada Diri-Nya. Dengan pertanyaan, “Apakah engkau mengasihi Aku?”, Yesus melemparkan kalimat eksistensial itu sebanyak tiga kali kepada Simon. Simon merasa sedih karena Yesus sepertinya masih meragukan kualitas cintanya. Rupanya ada latar di  balik pertanyaan itu. Bukan sekedar pertanyaan yang disodorkan oleh Yesus. Ada pengalaman pahit yang menunjukkan dengan jelas bagaimana Simon melakukan tindakan pengkhianatan. Simon pernah menyangkal Yesus sebanyak tiga kali saat Yesus ditangkap dan dibawa ke hadapan imam besar (Yoh 18:12-27). Catatan hitam inilah yang membuat Yesus perlu melakukan shock therapy agar Simon sungguh-sungguh menyadari makna sebuah persahabatan dan kasih yang terjadi antara seorang guru dan murid. Pertanyaan Yesus tidak hanya menandaskan kadar cinta Simon pada tataran cinta philia. Cinta bernuansa persaudaraan seorang guru dan murid. Tetapi lebih dari itu, mau menegaskan level cinta yang lebih luhur yaitu cinta agape antara seorang Guru Ilahi dan murid sejati. Cinta seorang Simon kepada Yesus harus berkarakter cinta sejati. Cinta penuh ketulusan dan pengorbanan.

 Menjadi hal yang wajar ketika Yesus mengajukan pertanyaan khusus itu kepada Simon; bukan kepada para murid yang lain. Simon merupakan murid yang paling menonjol di antara kelompok dua belas rasul. Yesus sudah membaca potensi yang dimilikinya menjadi seorang pemimpin besar. Di pundaknya, Yesus akan menyerahkan tongkat kepemimpinan setelah Ia pergi dari dunia. Simon akan menjadi pemimpin bagi rekan-rekannya yang lain. Dan kelak, kita mengetahui bahwa Simon sungguh memainkan peran yang sangat besar dalam memimpin kelompok dua belas para rasul (kecuali Yudas Iskariot). Simon sungguh menunjukkan cinta agapenya kepada Yesus dengan bersikap setia dan militan dalam karya pelayanannya. Ia juga mampu memimpin dan menjaga kesatuan kelompok perdana ini agar tidak menjadi cerai berai. Kadar cinta Simon yang luar biasa ini ia tunjukkan sampai kemudian ia harus mati dengan cara disalibkan seperti Sang Guru Ilahi-Nya Yesus Kristus. Bedanya, Yesus disalib dengan kepala ke atas. Sebaliknya, Simon disalibkan dengan kepala ke bawah. Pengalaman cinta atau kasih agape tidak hanya ditunjukkan oleh seorang Simon. Paulus, salah satu murid yang cerdas, juga telah menunjukkan kasihnya yang dasyat kepada Yesus. Ia rela di penjara di Kaisarea demi menunjukkan kemuliaan kasihnya kepada Yesus (Kis 25:19).

Hari ini kita semua sungguh ditantang oleh Yesus. Yesus tidak hanya mengajukan pertanyaan sebanyak tiga kali kepada Simon. Tetapi kepada kita semua. Semua murid Yesus di zaman ini. Apakah kita sungguh mengasihi Yesus? Tentu dengan sangat gampang, seperti jawaban Simon, kita akan mengatakan “Iya Tuhan, aku sungguh mencintai-Mu.” Tetapi apakah semudah itu jawaban tersebut mewakili totalitas pribadi kita. Tentu saja tidak. Kita harus betul-betul terjun dan diuji dalam seluruh pengalaman hidup. Pengalaman menunjukkan bahwa kita belum sungguh-sungguh menunjukkan cinta sejati kita kepada Tuhan. Ada kisah penyangkalan, pengkhianatan kepada Yesus yang didramatisir secara nyata oleh kita, para murid Yesus era ini. Acapkali kita menunjukkan sikap tidak setia dengan mengangkangi segala ajaran dan kehendak-Nya. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Namun menjadi luar biasa ketika kita bisa bangkit dan berjalan lagi. Mari kita berbenah diri untuk merenungkan sejauh mana kadar cinta kita kepada Yesus. Apakah masih sebatas cinta eros, cinta philia atau cinta agape. Semoga kita mampu menempatkan level cinta kita kepada-Nya pada tataran yang paling luhur yakni cinta agape atau cinta sejati. Kita mampu menunjukkan cinta kita dengan sikap setia, tulus dan penuh pengorbanan tanpa mengharapkan imbalan, terutama pada situasi pandemi Covid-19 yang sementara mendera bangsa tercinta kita ini. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar