Yoh 15:18-21
Teks-teks Injil
dalam beberapa hari terakhir berbicara tentang kasih. Namun hari ini Yesus
menyinggung satu kata yang hakikatnya berlawanan dengan kasih. Kata itu adalah
benci. Kebencian itu bisa muncul karena tidak ada kasih di dalam diri seseorang.
Kasih mesti ada, akan tetapi pada kenyataannya tidak ada. Ruang kosong jiwa
manusia itu diambil alih dan diisi oleh kebencian. Kebencian itu juga bisa
timbul oleh karena kadar kasih sangatlah kecil atau dalam kata kerja “kurang
mengasihi”. Kurang mengasihi Allah, kurang mengasihi sesama dan kurang
mengasihi diri sendiri menjadi pangkal tindakan menolak atau melawan Allah,
sesama dan diri sendiri.
Kebenciaan itu
berasal dari dunia padahal dunia itu diciptakan-Nya. Dunia tidak mengenal Dia,
Penciptanya (bdk. Yoh 1:10). Tidak
mengenal bukan soal tidak memahami berdasarkan akal budi semata, melainkan
lebih terarah kepada sikap menolak. Apabila Kitab Suci berbicara tentang titik
tolak atau ukuran pengenalan adalah kasih timbal-balik, maka ketika Yesus
mengatakan bahwa dunia tidak mengenal Dia dan Dia yang mengutus-Nya, maka
sebenarnya Ia menyatakan bahwa dunia tidak mengasihi-Nya. Sama juga dengan
mengatakan dunia membenci, melawan dan menolak Dia.
Oleh karena kasih mempertautkan semua orang beriman dengan
Kristus Yesus yang telah memilih semuanya dari dunia ini maka semua orang yang
berada di dalam kasih-Nya diperhadapkan pula dengan dunia. Maka apabila Dia yang menciptakan dunia ini
sudah dibenci atau ditolak, maka tidaklah mengherankan bahwa semua orang yang mengenal,
menerima dan mengasihi-Nya pasti akan ditolak atau dibenci oleh dunia. Jelas Yesus katakan: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia
telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”.
Yesus mengatakan demikian agar semua yang mengenal,
menerima dan mengasihi Dia tidak memandang hal kebencian sebagai suatu momok
atau aib yang patut dijauhi atau ditolak, melainkan sebagai suatu realitas yang
tidak dapat dihindari dari kesejatian murid-murid-Nya. Bukan hanya menerima
kebenaran bahwa oleh karena nama Kristus, orang-orang beriman itu dibenci, ditolak,
bahkan dianiaya dan dibunuh, tetapi juga kerelaan untuk menghadapi kenyataan
itu dengan hati yang teguh.Dimensi pemahaman akal budi dan pengalaman adalah
satu kenyataan yang hidup dalam diri orang-orang beriman.
Tidak ada opsi
lain yang bermakna bagi umat beriman. Sebagaimana Yesus menerima kenyataan
bahwa Dia yang mengasihi itu dibenci, demikian pula semua orang yang yang
dipilih dari dunia ini untuk mengenakan kasih-Nya harus siap dan berani
menghadapi kebencian yang berasal dari dunia ini. Ada keuletan, ketekunan,
ketabahan dan ketangguhan dalam menghadapi kekuatan itu di samping kesanggupan
untuk melawan kekuatan itu, bukan atas cara yang sama, melaikan seturut ajaran
dan hidup Yesus sendiri, yaitu kasih. Hanya ada satu kekuatan berarti untuk
melawan kebencian. Itulah kekuatan kasih.
Inilah prinsip
kehidupan kristiani yang diajarkan oleh Kristus sendiri kepada kita. Apabila
prinsip inilah yang kita pegang maka bukan mustahil bagi kita bahwa kita akan kenar-benar
menunjukkan kasih kita kepada Kristus secara nyata dalam pengalaman hidup kita.
Kebencian dunia kita hadapi dengan kasih. Semakin dibenci semakin kita belajar
untuk mengasihi, mengampuni dan berdoa bagi dunia.
Namun bukan tidak
mungkin bahwa sebagai manusia, kita bukan saja tertantang dengan godaan melainkan juga
tergoda untuk bertindak lain; kita terpancing untuk melakukan yang sama seperti
yang dilakukan dunia. Kita tidak suka dibenci dan mau menghindari kebencian,
padahal kenyataannya kita membenci, malahan tinggal dalam kebencian.
Kesadaran
menolong kita untuk kembali melakukan seperti yang diajarkan dan dibuat oleh
Yesus. Kita bisa saja jatuh dalam tindakan dunia, akan tetapi kesadaran atas
pengalaman kejatuhan dan keinginan untuk maju dalam kualitas hidup kristiani
membuat kita bangkit kembali, berubah dan bertumbuh dalam kualitas hidup kristiani.
Apabila kita
tergoda untuk terus melakukan yang sama seperti yang dilakukan dunia, maka
mungkin baik apabila kita merefleksikan bahwa kadar kasih kita tidak lebih
tinggi dan kuat dari kadar kebencian yang menguasai hidup kita. Kurang mengasihi
menjatuhkan kita ke dalam perbuatan yang sama seperti yang dilakukan oleh dunia.
Kita melawan atau menolak Allah dengan tidak taat dan setia menjalankan apa
yang diperintahkan-Nya kepada kita. Kurang mengasihi juga membuat kita menolak dan membenci sesama
saudara kita, bahkan terhadap diri kita sendiri pun kita tidak mampu
menunjukkan kasih yang sepatutnya. Kadarnya mungkin saja berbeda dengan yang
dilakukan dunia, tetapi tetap mengacu kepada perbuatan yang sama, yaitu
membenci.
Dalam keadaan
demikian, kita membutuhkan penebusan Kristus yang memurnikan kita sehingga kita
benar-benar memiliki kasih untuk dapat mengasihi seperti Kristus mengashi kita.
Dalam kasih itu, kita siap dibenci dunia, namun tidak membenci.
Seperti Kristus
datang untuk mengalahkan kekuatan kebencian, demikianlah dalam kasih kita
“membenci yang jahat”, tetapi tidak pernah boleh membenci orang yang berdosa
atau yang berbuat jahat. Dengan
melakukan demikian berarti pula kita mengambil bagian dalam tindakan Kristus
yang datang ke dunia untuk “menghapus dosa-dosa dunia”. Dan itulah jalan yang
mau tidak mau harus dilewati oleh orang-orang yang dikasihi dan mengasihi Dia. ***Apol
Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar