Jumat, 15 Mei 2020

SIAP DIBENCI TAPI JANGAN MEMBENCI


Yoh 15:18-21
Teks-teks Injil dalam beberapa hari terakhir berbicara tentang kasih. Namun hari ini Yesus menyinggung satu kata yang hakikatnya berlawanan dengan kasih. Kata itu adalah benci. Kebencian itu bisa muncul karena tidak ada kasih di dalam diri seseorang. Kasih mesti ada, akan tetapi pada kenyataannya tidak ada. Ruang kosong jiwa manusia itu diambil alih dan diisi oleh kebencian. Kebencian itu juga bisa timbul oleh karena kadar kasih sangatlah kecil atau dalam kata kerja “kurang mengasihi”. Kurang mengasihi Allah, kurang mengasihi sesama dan kurang mengasihi diri sendiri menjadi pangkal tindakan menolak atau melawan Allah, sesama dan diri sendiri.

Kebenciaan itu berasal dari dunia padahal dunia itu diciptakan-Nya. Dunia tidak mengenal Dia, Penciptanya (bdk. Yoh 1:10).  Tidak mengenal bukan soal tidak memahami berdasarkan akal budi semata, melainkan lebih terarah kepada sikap menolak. Apabila Kitab Suci berbicara tentang titik tolak atau ukuran pengenalan adalah kasih timbal-balik, maka ketika Yesus mengatakan bahwa dunia tidak mengenal Dia dan Dia yang mengutus-Nya, maka sebenarnya Ia menyatakan bahwa dunia tidak mengasihi-Nya. Sama juga dengan mengatakan dunia membenci, melawan dan menolak Dia.

Oleh karena kasih  mempertautkan semua orang beriman dengan Kristus Yesus yang telah memilih semuanya dari dunia ini maka semua orang yang berada di dalam kasih-Nya diperhadapkan pula dengan dunia.   Maka apabila Dia yang menciptakan dunia ini sudah dibenci atau ditolak, maka tidaklah mengherankan bahwa semua orang yang mengenal, menerima dan mengasihi-Nya pasti akan ditolak atau dibenci oleh dunia.  Jelas Yesus katakan: “Jikalau dunia membenci kamu, ingatlah bahwa ia telah lebih dahulu membenci Aku dari pada kamu”.

Yesus  mengatakan demikian agar semua yang mengenal, menerima dan mengasihi Dia tidak memandang hal kebencian sebagai suatu momok atau aib yang patut dijauhi atau ditolak, melainkan sebagai suatu realitas yang tidak dapat dihindari dari kesejatian murid-murid-Nya. Bukan hanya menerima kebenaran bahwa oleh karena nama Kristus, orang-orang beriman itu dibenci, ditolak, bahkan dianiaya dan dibunuh, tetapi juga kerelaan untuk menghadapi kenyataan itu dengan hati yang teguh.Dimensi pemahaman akal budi dan pengalaman adalah satu kenyataan yang hidup dalam diri orang-orang beriman.

Tidak ada opsi lain yang bermakna bagi umat beriman. Sebagaimana Yesus menerima kenyataan bahwa Dia yang mengasihi itu dibenci, demikian pula semua orang yang yang dipilih dari dunia ini untuk mengenakan kasih-Nya harus siap dan berani menghadapi kebencian yang berasal dari dunia ini. Ada keuletan, ketekunan, ketabahan dan ketangguhan dalam menghadapi kekuatan itu di samping kesanggupan untuk melawan kekuatan itu, bukan atas cara yang sama, melaikan seturut ajaran dan hidup Yesus sendiri, yaitu kasih. Hanya ada satu kekuatan berarti untuk melawan kebencian. Itulah kekuatan kasih.

Inilah prinsip kehidupan kristiani yang diajarkan oleh Kristus sendiri kepada kita. Apabila prinsip inilah yang kita pegang maka bukan mustahil bagi kita bahwa kita akan kenar-benar menunjukkan kasih kita kepada Kristus secara nyata dalam pengalaman hidup kita. Kebencian dunia kita hadapi dengan kasih. Semakin dibenci semakin kita belajar untuk mengasihi, mengampuni dan berdoa bagi dunia.

Namun bukan tidak mungkin bahwa sebagai manusia, kita  bukan saja  tertantang dengan godaan melainkan juga tergoda untuk bertindak lain; kita terpancing untuk melakukan yang sama seperti yang dilakukan dunia. Kita tidak suka dibenci dan mau menghindari kebencian, padahal kenyataannya kita membenci, malahan tinggal dalam kebencian.

Kesadaran menolong kita untuk kembali melakukan seperti yang diajarkan dan dibuat oleh Yesus. Kita bisa saja jatuh dalam tindakan dunia, akan tetapi kesadaran atas pengalaman kejatuhan dan keinginan untuk maju dalam kualitas hidup kristiani membuat kita bangkit kembali, berubah  dan bertumbuh dalam kualitas hidup kristiani.

Apabila kita tergoda untuk terus melakukan yang sama seperti yang dilakukan dunia, maka mungkin baik apabila kita merefleksikan bahwa kadar kasih kita tidak lebih tinggi dan kuat dari kadar kebencian yang menguasai hidup kita. Kurang mengasihi menjatuhkan kita ke dalam perbuatan yang sama seperti yang dilakukan oleh dunia. Kita melawan atau menolak Allah dengan tidak taat dan setia menjalankan apa yang diperintahkan-Nya kepada kita. Kurang mengasihi  juga membuat kita menolak dan membenci sesama saudara kita, bahkan terhadap diri kita sendiri pun kita tidak mampu menunjukkan kasih yang sepatutnya. Kadarnya mungkin saja berbeda dengan yang dilakukan dunia, tetapi tetap mengacu kepada perbuatan yang sama, yaitu membenci.

Dalam keadaan demikian, kita membutuhkan penebusan Kristus yang memurnikan kita sehingga kita benar-benar memiliki kasih untuk dapat mengasihi seperti Kristus mengashi kita. Dalam kasih itu, kita siap dibenci dunia, namun tidak membenci.

Seperti Kristus datang untuk mengalahkan kekuatan kebencian, demikianlah dalam kasih kita “membenci yang jahat”, tetapi tidak pernah boleh membenci orang yang berdosa atau yang berbuat jahat.  Dengan melakukan demikian berarti pula kita mengambil bagian dalam tindakan Kristus yang datang ke dunia untuk “menghapus dosa-dosa dunia”. Dan itulah jalan yang mau tidak mau harus dilewati oleh orang-orang yang dikasihi dan mengasihi Dia. ***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar