Minggu, 24 Mei 2020

DUKACITA MENDAHULUI KEMENANGAN


Yoh 16 : 20-23-a
Dalam keluarga kecilku,  ketika pertama kali mengalami peristiwa kelahiran pertama kami begitu takut dan cemas. Tidak ada keluarga /family dekat namun hanya kami berdua suami istri di sebuah rumah kontrakan kecil di Kampung Tengah Larantuka. Tanda kelahiran sudah nampak namun, karena panik kami dua akhirnya berangkat ke RSUD Larantuka menggunakan sepeda motor.  Sesampainya di rumah sakit perawat dan petugas medis menyalahkan kami berdua karena menggunakan sepeda motor dimana sangat berbahaya akan keselamatan janin.  Namun sebelum peristiwa kelahiran ,  kami berdua Berdoa dan Novena kepada Tuhan lewat Perantaraan Bunda Maria kiranya peristiwa kelahiran ini berjalan dengan baik dan lancar.  Selama dua hari di RSUD Larantuka kami begitu merasakan kecemasan, penderitaan yang di alami istri dimana perjuangan menahan rasa sakit ketika hendak melahirkan. Waktunya pun telah tiba putri kami lahir dengan selamat.  Nampak kebahagiaan terpancar di wajah istri seakan semua penderitaan lenyap seketika.   Sukacita dan rasa bahagia memenuhi hidup kami saat itu dalam menyabut kelahiran putri kami.  

Dengan perkembangan jaman dunia kedokteran berkembang begitu pesatnya. Semua ini tentu membawa dampak yang baik bagi kegunaan manusia. Tetapi ada satu hal yang menurut saya cukup menguras nilai-nilai iman, yakni yang berkaitan dengan keengganan menanggung rasa sakit. Bukan hal yang aneh jika jaman sekarang banyak ibu yang megandung dianjurkan untuk melahirkan anak dengan cara praktis dan tidak menyakitkan, misalnya dengan operasi Caesar. Maka demi alasan mencegah trauma kesakitan, demi keselamatan ibu dan janin serta rupa-rupa alasan lainnya, cara kelahiran alami banyak dihindari.

Seorang artis terkenal beragama lain memutuskan untuk beralih menjadi seorang pengikut Kristus. Salah satu harga yang harus ia bayar ialah ditolak oleh keluarga.  “Berani kamu pulang ke rumah ini akan aku bunuh kamu”, kata ayahnya. Pengalaman ini sempat membuat ia kecewa kepada Tuhan.  Namun ketika ia belajar berserah diri kepada Tuhan, kecemasan lenyap,  diganti dengan sukacita dan harapan. Masalahku memang belum selesai namun  saya menerima  Yesus karena Dia Hidup”, katanya. Sukacita yang menyertai perjuangan telah menjadi ciri kaum beriman. Seperti Yesus telah ditolak dunia, kitapun sering ditolak karena iman kita akan Yesus Kristus.

Ketika Jemaad perdana Kristiani  mulai membentuk diri,  mereka tidak meninggalkan komunitas umat beriman yang hidup dalam tradisi Yahudi. Tugas Jemaad ini, teristimewa para rasul, seperti Paulus, dan penatua-penatua, ialah bersaksi tentang pemenuhan Hukum Taurat dan ramalan-ramalan para nabi di dalam Kristus. Dengan ini , seluruh umat beriman mengalami transformasi bersama, dari iman yang lama ke iman yang baru, atas dasar Kebangkitan Kristus yang telah mengalahkan maut agar semua orang memperoleh pengampunan dosa. Namun perjuangan itu di tantang dengan keras oleh orang-orang Yahudi. Pengalaman Paulus di Korintus menjadi contoh, bagaimana para saksi Kristus dilawan oleh kekuatan dunia yang tidak ingin dibaharui. Namun Yesus sendiri berjanji, bahwa dibalik kepahitan ini ada sukacita, karena kepenuhan keselamatan itu memberi kepastian, mengapa orang harus percaya kepada Yesus.

Injil hari ini mengingatkan kepada kita akan Sabda Yesus tentang penderitaan dan sukacita bagi Para MuridNya.  Kepergian Tuhan dari tengah para murid, dalam situasi ketercerai beraian mereka, memang membawa ketakutan dan dukacita. Kebencian , pengejaran,  penganiayaan dari para pembenci Yesus melingkup mereka namun, sabda penghiburan Tuhan untuk tetap teguh dan berdiri dengan setia juga meneguhkan hati mereka. Yesus mengingatkan suatu nilai kehidupan tentang dukacita yang erat kaitanya dengan sukacita. Perumpamamaan yang yang dipakai Yesus adalah sukacita seperti seorang ibu yang baru melahirkan secara alami. Meskipun proses melahirkan itu menyakitkan dan bahkan bertaruh nyawa, tapi semua itu akan terlupakan karena kegembiraan menerima kelahiran anaknya. Tak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraan sejati yang dimiliki seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya. Kita diingatkan untuk bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi dukacita, kesakitan serta penderitaan sebab semua itu sebagai prasayarat untuk sukacita sejati dari Tuhan. 
Jangan mudah mengeluh dan menghindari salib serta penderitaan, sebab ada sukacita dalam semuanya itu. Kita banyak mengalami kebahagian dan sukacita sebagai murid-murid Tuhan. Pengalaman ini hendaknya mendorong kita untuk tetap kuat tanpa takut mewartakan kebangkitan Tuhan dan karya keselamatan Allah di tengah kehidupan kita saat ini. Kita adalah saksi dan perpanjangan tangan Tuhan.  Kita perlu menderita sebagai wujud solidaritas dengan mereka yang tak dapat menolong diri mereka sendiri. Dukacita yang dibagi-bagi akan menjadi ringan dan berbuah menjadi sukacita.

(Yoh 16 : 20-23a )  Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita.  Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.  Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu.  Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku. Semoga  **JK Lejab**

Tidak ada komentar:

Posting Komentar