Yoh 16 : 20-23-a
Dalam
keluarga kecilku, ketika pertama kali mengalami
peristiwa kelahiran pertama kami begitu takut dan cemas. Tidak ada keluarga /family
dekat namun hanya kami berdua suami istri di sebuah rumah kontrakan kecil di
Kampung Tengah Larantuka. Tanda kelahiran sudah nampak namun, karena panik kami
dua akhirnya berangkat ke RSUD Larantuka menggunakan sepeda motor. Sesampainya di rumah sakit perawat dan petugas
medis menyalahkan kami berdua karena menggunakan sepeda motor dimana sangat
berbahaya akan keselamatan janin. Namun
sebelum peristiwa kelahiran , kami
berdua Berdoa dan Novena kepada Tuhan lewat Perantaraan Bunda Maria kiranya
peristiwa kelahiran ini berjalan dengan baik dan lancar. Selama dua hari di RSUD Larantuka kami begitu
merasakan kecemasan, penderitaan yang di alami istri dimana perjuangan menahan
rasa sakit ketika hendak melahirkan. Waktunya pun telah tiba putri kami lahir
dengan selamat. Nampak kebahagiaan terpancar
di wajah istri seakan semua penderitaan lenyap seketika. Sukacita
dan rasa bahagia memenuhi hidup kami saat itu dalam menyabut kelahiran putri
kami.
Dengan
perkembangan jaman dunia kedokteran berkembang begitu pesatnya. Semua ini tentu
membawa dampak yang baik bagi kegunaan manusia. Tetapi ada satu hal yang
menurut saya cukup menguras nilai-nilai iman, yakni yang berkaitan dengan
keengganan menanggung rasa sakit. Bukan hal yang aneh jika jaman sekarang
banyak ibu yang megandung dianjurkan untuk melahirkan anak dengan cara praktis
dan tidak menyakitkan, misalnya dengan operasi Caesar. Maka demi alasan mencegah
trauma kesakitan, demi keselamatan ibu dan janin serta rupa-rupa alasan lainnya,
cara kelahiran alami banyak dihindari.
Seorang
artis terkenal beragama lain memutuskan untuk beralih menjadi seorang pengikut
Kristus. Salah satu harga yang harus ia bayar ialah ditolak oleh keluarga. “Berani kamu pulang ke rumah ini akan aku
bunuh kamu”, kata ayahnya. Pengalaman ini sempat membuat ia kecewa kepada
Tuhan. Namun ketika ia belajar berserah
diri kepada Tuhan, kecemasan lenyap,
diganti dengan sukacita dan harapan. Masalahku memang belum selesai
namun saya menerima Yesus karena Dia Hidup”, katanya. Sukacita
yang menyertai perjuangan telah menjadi ciri kaum beriman. Seperti Yesus telah
ditolak dunia, kitapun sering ditolak karena iman kita akan Yesus Kristus.
Ketika
Jemaad perdana Kristiani mulai membentuk
diri, mereka tidak meninggalkan
komunitas umat beriman yang hidup dalam tradisi Yahudi. Tugas Jemaad ini,
teristimewa para rasul, seperti Paulus, dan penatua-penatua, ialah bersaksi
tentang pemenuhan Hukum Taurat dan ramalan-ramalan para nabi di dalam Kristus.
Dengan ini , seluruh umat beriman mengalami transformasi bersama, dari iman
yang lama ke iman yang baru, atas dasar Kebangkitan Kristus yang telah
mengalahkan maut agar semua orang memperoleh pengampunan dosa. Namun perjuangan
itu di tantang dengan keras oleh orang-orang Yahudi. Pengalaman Paulus di
Korintus menjadi contoh, bagaimana para saksi Kristus dilawan oleh kekuatan
dunia yang tidak ingin dibaharui. Namun Yesus sendiri berjanji, bahwa dibalik
kepahitan ini ada sukacita, karena kepenuhan keselamatan itu memberi kepastian,
mengapa orang harus percaya kepada Yesus.
Injil
hari ini mengingatkan kepada kita akan Sabda Yesus tentang penderitaan dan sukacita
bagi Para MuridNya. Kepergian Tuhan dari
tengah para murid, dalam situasi ketercerai beraian mereka, memang membawa
ketakutan dan dukacita. Kebencian , pengejaran, penganiayaan dari para pembenci Yesus
melingkup mereka namun, sabda penghiburan Tuhan untuk tetap teguh dan berdiri
dengan setia juga meneguhkan hati mereka. Yesus mengingatkan suatu nilai
kehidupan tentang dukacita yang erat kaitanya dengan sukacita. Perumpamamaan
yang yang dipakai Yesus adalah sukacita seperti seorang ibu yang baru
melahirkan secara alami. Meskipun proses melahirkan itu menyakitkan dan bahkan
bertaruh nyawa, tapi semua itu akan terlupakan karena kegembiraan menerima
kelahiran anaknya. Tak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraan sejati
yang dimiliki seorang ibu yang baru saja melahirkan anaknya. Kita diingatkan
untuk bersikap bijak dan proporsional dalam menghadapi dukacita, kesakitan
serta penderitaan sebab semua itu sebagai prasayarat untuk sukacita sejati dari
Tuhan.
Jangan mudah mengeluh dan menghindari salib serta penderitaan, sebab ada
sukacita dalam semuanya itu. Kita banyak mengalami kebahagian dan sukacita
sebagai murid-murid Tuhan. Pengalaman ini hendaknya mendorong kita untuk tetap
kuat tanpa takut mewartakan kebangkitan Tuhan dan karya keselamatan Allah di
tengah kehidupan kita saat ini. Kita adalah saksi dan perpanjangan tangan
Tuhan. Kita perlu menderita sebagai
wujud solidaritas dengan mereka yang tak dapat menolong diri mereka sendiri.
Dukacita yang dibagi-bagi akan menjadi ringan dan berbuah menjadi sukacita.
(Yoh 16 : 20-23a
) Aku
berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia
akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi
sukacita. Seorang perempuan berdukacita
pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat
lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah
dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu
sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan
bergembira dan tidak ada seorang pun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari
padamu. Dan pada hari itu kamu tidak
akan menanyakan apa-apa kepada-Ku. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya segala sesuatu
yang kamu minta kepada Bapa, akan diberikan-Nya kepadamu dalam nama-Ku.
Semoga **JK Lejab**
Tidak ada komentar:
Posting Komentar