Minggu, 03 Mei 2020

GEMBALA YANG BAIK


Yoh 10:11-18

Selama kurang lebih empat tahun berada dalam komunitas lingkungan yang menjadi tempat tinggal saya sekarang ini, ada satu sosok pemimpin yang membuat saya kagum. Dia adalah sang ketua lingkungan –lingkungan dalam konteks gereja, bukan wilayah pemerintah- dalam wilayah paroki gereja kami (Paroki Kristus Raja Wangatoa, Kab. Lembata). Dia seorang perempuan. Tetapi bukan sekedar perempuan. Dia perempuan hebat. Tipe pemimpin yang memiliki banyak keunggulan. Selain cerdas, dia juga tipikal pemimpin yang rendah hati, berjiwa seorang pelayan, pekerja keras, dan selalu berkorban tanpa memikirkan kepentingan pribadi dan keluarganya. Dia sungguh mengenal para anggota keluarga dalam komunitas lingkungan yang dia pimpin. Minimal setiap kepala keluarga Katolik. Dia mengetahui nama mereka dan membangun keintiman emosional yang erat. Dia seorang manajer konflik yang sangat diandalkan. Setiap persoalan yang muncul dalam lingkungan, selalu dikendalikan dengan bijaksana. Pasti ada jalan keluar atau solusi yang ditempuh. Bahkan ada persoalan yang sangat privasi dalam keluarga tertentu, beliau bisa menjadi mediator untuk mendinginkan dan mendamaikan. Jarang seorang perempuan apalagi seorang pemimpin seperti beliau yang saya temui.

Hari ini penginjil Yohanes dalam bacaannya (Yoh 10:11-18), berbicara tentang seorang gembala yang baik. Teks bacaan ini secara utuh dapat kita baca dari ayat 1 sampai dengan dengan 21 (Yoh 10:1-21). Bacaan hari ini merupakan kelanjutan dari teks Injil bacaan kemarin (hari Minggu) dengan intisari yang sama mengenai gembala yang baik. Kalau kita perhatikan teks pada bacaan hari ini, ada dua kata kunci yang kita temukan yakni gembala dan domba. Yesus menggunakan kata gembala sebagai ungkapan yang merujuk pada pekerjaan yang umumnya dilakukan orang-orang pada saat itu. Kalau ada gembala pasti ada binatang atau hewan peliharaan yang mestinya dijaga, dibimbing, dan dituntun. Dan jenis hewan yang dipilih oleh Yesus dalam perumpaannya adalah domba. Mengapa hewan domba yang digunakan? Padahal ada begitu banyak binatang yang lain. Domba itu binatang yang setia, penurut dan tidak memberontak. Domba itu simbol dari ketidakberdayaan dan kelemahan. Dia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang. Domba sebagai simbol dari seorang manusia, melambangkan kelemahan dan ketidakberdayaan manusia itu sendiri. Manusia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang dosa. Oleh karena itu, manusia membutuhkan seorang gembala yang baik, yakni Tuhan sendiri.

Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus mengkontraskan diri-Nya dengan gembala lain yang hanya sebagai seorang upahan. Gembala yang menjalankan tugasnya karena dibayar. Gembala yang demikian sangat diragukan nilai kesetiaan dan dedikasinya. “Ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” Berbeda dengan gembala upahan yang tidak memiliki integritas, Yesus menegaskan diri-Nya sebagai seorang Gembala Yang Baik. Sebagai seorang gembala yang baik, Dia memiliki beberapa kualifikasi. Pertama, Dia sungguh mengenal para domba-Nya dalam kandang. Kedua, para domba-Nya juga mengenal Dia dan suara-Nya. Ketiga, ada domba lain dari luar kandang yang harus dituntun-Nya. dan mereka pun mendengar suara-Nya. Keempat, sang gembala adalah tipe orang setia dan rela berkorban. Bahkan harus menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan para domba-Nya.
           
Karena kasih Allah yang begitu besar kepada manusia, maka Ia rela menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan tinggal bersama manusia. Ia telah hadir menjadi seorang Gembala Yang Baik dalam sejarah hidup manusia. Dengan sabda dan banyak tanda yang mengagumkan, Yesus sebagai Gembala Yang Baik, berusaha meyakinkan dan menawarkan rahmat keselamatan yang mengalir dari Bapa-Nya. Ia bahkan mengorbankan diri-Nya dengan mati di kayu salib. Sungguh sebuah pengorbanan maha dasyat dari sang gembala demi menyelamatkan manusia dari kesesatannya. Ada banyak orang yang telah menjadi “domba-Nya”. Mereka sungguh percaya dan setia mengikuti Dia. Namun, ada banyak pula orang tidak mau menjadi “domba-Nya”. Mereka lebih suka menjadi “domba tersesat” yang dipimpin oleh para gembala upahan.
           
Ada dua pesan yang bisa kita petik dari teks bacaan hari ini. Pertama, menjadi domba-Nya. Untuk dapat menjadi seorang domba yang baik, kita harus membuka diri dan menyerahkan diri kita sepenuhnya dalam tuntunan Tuhan. Berhadapan dengan Tuhan, kita tidak bisa merasa diri lebih tinggi dan hebat. Karena jika itu yang dilakukan, kita tidak bisa menyelami rahasia Tuhan yang datang dalam hati dan jiwa kita. Untuk dapat bertemu Tuhan, butuh kerendahan hati dan penyerahan diri yang total. Kedua, Menjadi gembala yang baik. Implikasi lanjut dari domba yang baik adalah menjadi seorang gembala yang baik pula. Seorang murid Tuhan tentu tidak hanya cukup beriman. Yang lebih penting adalah bagaimana ia harus menghidupi iman itu dalam tindakan nyata. Ia harus menjadi gembala yang baik di tengah masyarakat dengan menjadi seorang pribadi yang rendah hati dan suka menolong. Pribadi yang suka bekerja keras dan mau berkorban untuk orang lain. Pribadi yang mengedepankan nilai kejujuran, kesetiaan, dan keadilan.
           
Di tengah dunia yang semakin menua ini, ada banyak orang yang sudah menunjukkan diri mereka sebagai seorang gembala yang baik. Seperti pengalaman nyata yang saya gambarkan pada awal renungan ini. Memang cukup gampang untuk menginternalisasikan  kualifikasi sebagai seorang gembala dalam diri. Akan tetapi sangat sulit untuk mentransformasikannya dalam tindakan-tindakan konkrit. Butuh kemauan dan komitmen diri yang kuat. Hari ini, saya dan anda, kita semua mendapat inspirasi yang luar biasa dari penginjil Yohanes untuk tidak saja menjadi domba yang baik, tetapi yang lebih penting adalah menjadi seorang gembala yang baik dalam kehidupan nyata kita setiap hari. Masih dalam situasi pandemi Covic-19 yang mendera bangsa kita, keutamaan-keutamaan sebagai seorang gembala yang baik semakin membuat kita menjadi pribadi yang peka dan tidak pekak dalam mencermati pelbagai realitas sosial yang ada. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar