Yoh 10:11-18
Selama kurang lebih empat tahun berada dalam komunitas lingkungan yang
menjadi tempat tinggal saya sekarang ini, ada satu sosok pemimpin yang membuat
saya kagum. Dia adalah sang ketua lingkungan –lingkungan dalam konteks gereja,
bukan wilayah pemerintah- dalam wilayah paroki gereja kami (Paroki Kristus Raja
Wangatoa, Kab. Lembata). Dia seorang perempuan. Tetapi bukan sekedar perempuan.
Dia perempuan hebat. Tipe pemimpin yang memiliki banyak keunggulan. Selain
cerdas, dia juga tipikal pemimpin yang rendah hati, berjiwa seorang pelayan,
pekerja keras, dan selalu berkorban tanpa memikirkan kepentingan pribadi dan
keluarganya. Dia sungguh mengenal para anggota keluarga dalam komunitas
lingkungan yang dia pimpin. Minimal setiap kepala keluarga Katolik. Dia mengetahui
nama mereka dan membangun keintiman emosional yang erat. Dia seorang manajer
konflik yang sangat diandalkan. Setiap persoalan yang muncul dalam lingkungan,
selalu dikendalikan dengan bijaksana. Pasti ada jalan keluar atau solusi yang
ditempuh. Bahkan ada persoalan yang sangat privasi dalam keluarga tertentu,
beliau bisa menjadi mediator untuk mendinginkan dan mendamaikan. Jarang seorang
perempuan apalagi seorang pemimpin seperti beliau yang saya temui.
Hari ini penginjil Yohanes dalam bacaannya (Yoh 10:11-18), berbicara
tentang seorang gembala yang baik. Teks bacaan ini secara utuh dapat kita baca
dari ayat 1 sampai dengan dengan 21 (Yoh 10:1-21). Bacaan hari ini merupakan
kelanjutan dari teks Injil bacaan kemarin (hari Minggu) dengan intisari yang sama
mengenai gembala yang baik. Kalau kita perhatikan teks pada bacaan hari ini,
ada dua kata kunci yang kita temukan yakni gembala dan domba. Yesus menggunakan
kata gembala sebagai ungkapan yang merujuk pada pekerjaan yang umumnya
dilakukan orang-orang pada saat itu. Kalau ada gembala pasti ada binatang atau
hewan peliharaan yang mestinya dijaga, dibimbing, dan dituntun. Dan jenis hewan
yang dipilih oleh Yesus dalam perumpaannya adalah domba. Mengapa hewan domba
yang digunakan? Padahal ada begitu banyak binatang yang lain. Domba itu
binatang yang setia, penurut dan tidak memberontak. Domba itu simbol dari
ketidakberdayaan dan kelemahan. Dia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang.
Domba sebagai simbol dari seorang manusia, melambangkan kelemahan dan ketidakberdayaan
manusia itu sendiri. Manusia mudah tersesat dan jatuh dalam jurang dosa. Oleh
karena itu, manusia membutuhkan seorang gembala yang baik, yakni Tuhan sendiri.
Sebagai seorang gembala yang baik, Yesus mengkontraskan diri-Nya dengan
gembala lain yang hanya sebagai seorang upahan. Gembala yang menjalankan
tugasnya karena dibayar. Gembala yang demikian sangat diragukan nilai kesetiaan
dan dedikasinya. “Ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu
lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba
itu.” Berbeda dengan gembala upahan yang tidak memiliki integritas, Yesus
menegaskan diri-Nya sebagai seorang Gembala Yang Baik. Sebagai seorang gembala
yang baik, Dia memiliki beberapa kualifikasi. Pertama, Dia sungguh mengenal
para domba-Nya dalam kandang. Kedua, para domba-Nya juga mengenal Dia dan
suara-Nya. Ketiga, ada domba lain dari luar kandang yang harus dituntun-Nya.
dan mereka pun mendengar suara-Nya. Keempat, sang gembala adalah tipe orang
setia dan rela berkorban. Bahkan harus menyerahkan nyawa-Nya demi keselamatan
para domba-Nya.
Karena kasih Allah yang begitu besar kepada manusia, maka Ia rela
menganugerahkan Anak-Nya yang tunggal untuk menjadi manusia dan tinggal bersama
manusia. Ia telah hadir menjadi seorang Gembala Yang Baik dalam sejarah hidup
manusia. Dengan sabda dan banyak tanda yang mengagumkan, Yesus sebagai Gembala
Yang Baik, berusaha meyakinkan dan menawarkan rahmat keselamatan yang mengalir
dari Bapa-Nya. Ia bahkan mengorbankan diri-Nya dengan mati di kayu salib.
Sungguh sebuah pengorbanan maha dasyat dari sang gembala demi menyelamatkan
manusia dari kesesatannya. Ada banyak orang yang telah menjadi “domba-Nya”.
Mereka sungguh percaya dan setia mengikuti Dia. Namun, ada banyak pula orang
tidak mau menjadi “domba-Nya”. Mereka lebih suka menjadi “domba tersesat” yang
dipimpin oleh para gembala upahan.
Ada dua pesan yang bisa kita petik dari teks bacaan hari ini. Pertama,
menjadi domba-Nya. Untuk dapat menjadi seorang domba yang baik, kita harus membuka
diri dan menyerahkan diri kita sepenuhnya dalam tuntunan Tuhan. Berhadapan
dengan Tuhan, kita tidak bisa merasa diri lebih tinggi dan hebat. Karena jika
itu yang dilakukan, kita tidak bisa menyelami rahasia Tuhan yang datang dalam
hati dan jiwa kita. Untuk dapat bertemu Tuhan, butuh kerendahan hati dan
penyerahan diri yang total. Kedua, Menjadi gembala yang baik. Implikasi lanjut
dari domba yang baik adalah menjadi seorang gembala yang baik pula. Seorang
murid Tuhan tentu tidak hanya cukup beriman. Yang lebih penting adalah
bagaimana ia harus menghidupi iman itu dalam tindakan nyata. Ia harus menjadi
gembala yang baik di tengah masyarakat dengan menjadi seorang pribadi yang
rendah hati dan suka menolong. Pribadi yang suka bekerja keras dan mau berkorban
untuk orang lain. Pribadi yang mengedepankan nilai kejujuran, kesetiaan, dan
keadilan.
Di tengah dunia yang semakin menua ini, ada banyak orang yang sudah
menunjukkan diri mereka sebagai seorang gembala yang baik. Seperti pengalaman
nyata yang saya gambarkan pada awal renungan ini. Memang cukup gampang untuk
menginternalisasikan kualifikasi sebagai
seorang gembala dalam diri. Akan tetapi sangat sulit untuk
mentransformasikannya dalam tindakan-tindakan konkrit. Butuh kemauan dan
komitmen diri yang kuat. Hari ini, saya dan anda, kita semua mendapat inspirasi
yang luar biasa dari penginjil Yohanes untuk tidak saja menjadi domba yang
baik, tetapi yang lebih penting adalah menjadi seorang gembala yang baik dalam
kehidupan nyata kita setiap hari. Masih dalam situasi pandemi Covic-19 yang
mendera bangsa kita, keutamaan-keutamaan sebagai seorang gembala yang baik
semakin membuat kita menjadi pribadi yang peka dan tidak pekak dalam mencermati
pelbagai realitas sosial yang ada. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD
Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar