Yoh 14:21-26
Kasih itu menuntut bukti. Tidak sekedar kata-kata kosong. Orang yang hanya
mengucapkan kata-kata kasih tanpa memberi bukti nyata disebut dengan istilah
PHP alias pemberi harapan palsu. Seorang pria yang mengasihi seorang perempuan
tentu harus membuktikan rasa kasihnya
itu. Bukti kasih bisa diberikan dengan aneka cara. Misalnya dengan memberikan
bunga, menghadiahkan barang tertentu, menepati janji untuk melakukan sesuatu
dan sebagainya. Seorang anak memberikan bukti kasih kepada orang tuanya dengan
selalu patuh atau taat pada perintah orang tua. Dan sebaliknya, orang tua
memberikan bukti kasihnya kepada sang anak dengan menjamin kesejahteraan lahir
dan batinnya. Orang tua memberikan perhatian dengan pujian apabila anak
melakukan sesuatu yang baik. Atau teguran apabila sang anak melakukan
kesalahan. Bukti kasih menjadi dasar pijakan bagi orang-orang yang mengecapi
cita rasa kasih untuk saling menjaga, memelihara, dan melindungi satu sama
lain. Bukti kasih memberi garansi agar orang-orang yang terlibat di dalamnya
tidak main-main dengan menyalagunakan rasa kasih itu demi kepentingan atau
kepuasan pribadi semata.
Hari ini Yesus menuntut sebuah konsekuensi dari rasa kasih. Apabila para
murid mengasihi Dia, maka mereka harus memegang segala perintah-Nya dan
melakukannya. Bukti dari kasih yang ditunjukkan oleh para murid menjadi dasar
keyakinan bagi Yesus untuk sungguh-sungguh mempercayai mereka. Kalau mereka
tidak memegang segala ajaran dan tidak melakukannya, tentu Yesus tidak akan
mempercayai dan menaruh kasih-Nya kepada mereka. Apabila mereka tidak memegang
segala ajaran apalagi tidak melakukanya, mereka sama saja dengan kelompok PHP
(Pemberi Harapan Palsu). Mereka hanya mengasihi Yesus di bibir, tetapi lain dalam
aksi nyata. Kasih itu menjadi mekar apabila dihidupi dalam tindakan konkrit.
Sudah menjadi jelas bahwa kasih yang ditunjukkan oleh para murid pasti mendapat
balasan yang setimpal dari Yesus. Yesus dan Bapa-Nya pasti akan mengasihi juga
para murid. Karena apa yang dilakukan oleh para murid tidak saja sesuai dengan
apa yang dikatakan oleh Yesus, tetapi juga sesuai dengan amanat Sang Bapa dalam
Diri Putra-Nya.
Allah melalui Yesus Putra-Nya juga memberikan jaminan bagi para murid yang
telah berlaku setia kepada-Nya. Yesus tidak akan membiarkan para murid-Nya
berjalan sendiri. Karena “Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu
(Yoh. 14: 8a).” Walaupun Yesus telah pergi dari dunia, Ia tidak akan
meninggalkan para murid-Nya sendiri. Sebagai bukti kasih-Nya yang paling agung,
Ia akan mengutus seorang Penghibur, yaitu Roh Kudus, untuk menemani dan
mendampingi para murid. Roh Kudus sebagai bukti kasih Yesus akan selalu
membimbing, mengarahkan dan menuntun para murid agar mereka tidak gagap dalam
melanjutkan misi keselamatan Allah di tengah dunia. Roh Kudus menjadi garansi
kasih Allah dalam diri Yesus. Oleh karena itu, para murid juga harus memberikan
bukti kesetiaan dan kasih mereka kepada Allah dengan memegang erat segala
ajaran-Nya. Dan kemudian sungguh-sungguh mewujudnyatakannya dalam karya
pelayanan mereka.
Tidak hanya kepada para murid saja Yesus menuntut bukti kasih itu. “Pada
hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu (Ibr
3:7-8a).” Yesus juga berbicara kepada kita semua agar kita mau membuka diri dan
mendengar apa yang Ia sampaikan. Kita mau belajar untuk melembutkan hati dan
membuka telinga rohani kita untuk mendengar suara-Nya. Ia menuntut kita untuk
membuktikan rasa kasih kita kepada-Nya. Apabila kita mengasihi Yesus, apa
buktinya. Apa konsekuensinya. Dengan kerendahan hati dan keterbukaan diri, kita
mau mewujudkan kasih kita kepada Yesus dengan berlaku setia. Setia kepada
ajaran yang telah Ia sampaikan. Dan harus mengimplementasikan dalam hidup kita
sehari-hari. Kita tidak perlu takut berjalan sendiri. Ada roh penghibur yang
senantiasa mendampingi kita. Roh Kudus akan menggerakkan dan menguatkan agar
kita tidak takut dalam berbicara dan membawa wajah kasih Allah di tengah dunia.
Melalui permenungan sabda hari ini, kita semua dikuatkan sebagai anggota
gereja atau bait Allah yang hidup di tengah umat (masyarakat) yang kita layani.
Kita harus sungguh-sungguh menunjukkan bukti kasih kepada Allah dan Yesus
melalui kesediaan dan kerelaan untuk menjalankan segala perintah dan ajaran-Nya
dalam hidup harian kita. Roh Kudus sebagai penghibur dan pendamping setia,
tidak kita lihat secara kasat mata. Namun kita yakin roh itu yang selalu
membisikan, menggerakkan, dan menuntun langkah kaki agar kita tidak tersesat
dalam kegelapan dosa. Melainkan selalu menemukan terang yang menyelamatkan
hidup kita. Mari kita buktikan diri kita bukan sebagai manusia PHP (Pemberi
Harapan Palsu) kepada Tuhan. Namun, sebagai orang-orang yang selaras dalam
kata-kata dan perbuatan nyata. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar