Selasa, 19 Mei 2020

YESUS ADALAH HIDUP KITA


Kis 16:22-34 & Yoh 16:5-11

 “Du bist ein Stück von mir” yang berarti  “engkau adalah sepotong diriku”.  Entah makna apa yang paling hakiki yang dimaksudkan pencetus ungkapan ini, namun setidaknya  hal ini menyiratkan satu hal esensial,  bahwa ‘yang lain’ adalah bagian dari diri yang lain. Engkau bukanlah engkau jika tidak ada saya, demikianpun sebaliknya, saya bukanlah saya kalau tidak ada engkau. Engkau dan saya menjadikan kita berada. Engkau hanyalah kata, demikian juga dengan saya. Jika engkau dan saya ada bersama maka kita menjadi kalimat yang menceritakan siapakah diri kita.

Maka bersama yang lain, seorang pribadi membentuk ada bersama. Ada bersama (mitsein)  dalam hal ini bukanlah  soal sekedar berkumpul bersama, melainkan kesatuan hakiki  yang menandai identitas manusia sebagai manusia. Di dalam ada bersama, setiap orang menemukan jati diri dan makna dirinya.

Jelas di sini, pribadi manusia bukanlah suatu entitas yang utuh kalau ia tidak berada di tengah yang lain. Ada hidup dan sukacita apabila pribadi manusia berada bersama dengan yang lain.  Maka terpanggil untuk ada bersama adalah suatu yang niscaya, berasal dari dalam diri manusia, dan bukan suatu yang dipaksakan atau ditempelkan pada keinginan manusia.

Dalam kekristenan, ada bersama sebagai suatu persekutuan orang-orang percaya adalah suatu yang esensial. Yesus mendoakan para murid-Nya agar menjadi satu berarti membentuk suatu persekutuan hidup yang erat di antara mereka. Dan ini pula yang menghadirkan sifat persekutuan yang eklesial. Persektuan orang-orang beriman yang berada di bawah Kristus sebagai kepala. Sedemikian pentingnya persekutuan iman itu, maka orang tidak pernah menemukan makna kekristenannya, demikian pula dengan hidup, sukacita dan keselamatan di luar persekutuan itu.

Kasih adalah dasar dan tali pengikat persekutuan kristiani. Kasih membangun dan menjaga persekutuan. Kasih  memberi hidup dan sukacita. Persekutuan kasih ini sudah ada ketika Yesus memanggil dan mengumpulkan semua murid-Nya dalam persekutuan para murid. Kecuali Yudas yang mengkhianati Yesus,  para murid yang lain hidup dalam persekutan kasih itu. Tantangan dan kesulitan tidak pernah mengaburkan kasih dalam persekutuan mereka. Bahkan mereka semakin bertumbuh dalam kasih persaudaraan dan keintiman hubungan dengan Yesus.

Kasih sedemikian dalam membuat para murid tidak menginginkan adanya perpisahan dengan Yesus. Dukacita para murid timbul karena perpisahan yang tidak dikehendaki itu ternyata harus terjadi. Mereka tidak lagi bersukacita. Sebab ada pengalaman merasa diri tercopot dan menjadi hilang. Ada sesuatu yang hilang dari tengah-tengah mereka dan yang hilang itu begitu esensial.

Yesus yang mengetahui situasi para murid-Nya meneguhkan hati mereka bahwa sekalipun Ia pergi dan meninggalkan mereka, namun Ia tetap ada dan menyertai mereka dengan cara baru, yaitu melalui Roh Penghibur yang diutus kepada mereka. Kasih-Nya tetap ada di antara mereka meski raganya tidak tampak secara kasat mata. Dan itu nyata di dalam kehadiran Roh yang menyertai dan meneguhkan kesaksian mereka.

Roh itulah yang menguatkan mereka untuk bertahan dalam kesusahan, dan bahkan bersukacita di dalam kesusahan seperti yang dialami Paulus dan Silas. Mereka didera dan dilemparkan ke dalam penjara, akan tetapi tetap bersukacita dan berdoa kepada Allah. Peyertaan Yesus dibuktikan dengan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi. Meski dirantai di dalam ruangan penjara, namun Tuhan membuka pintu penjara dengan gempa bumi dan membuka rantai pengikat kaki.

Kepada para murid juga Penghibur akan menyatakan kebenaran kata-kata Yesus bahwa Ia kembali kepada Bapa. Yesus tidak hilang tetapi kembali kepada Bapa dan kehadiran penghibur dan kesaksian-Nya menyatakan kebenaran itu.  Lebih dari itu, Penghibur yang sama juga akan menginsafkan dunia akan dosanya. Dosa dunia adalah tidak mengenal Yesus pada hal Dia sudah menyatakan diri-Nya melalui pengajaran dan perbuatan-perbuatan ajaib yang dilakukan. Dunia membenci dan menolak Dia. Jika dunia tidak insaf,  seperti yang dilakukan oleh kepala penjaga penjara yang bertobat, maka dunia sudah ada di bawah hukuman. Penolakan mendatangkan hukuman secara otomatis. Hukuman bukan berasal dari Tuhan.

Betapa pentingnya kehadiran Roh itu bagi para murid-Nya, maka Yesus berkata: “Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yoh 16:7). Para murid merasa kehilangan dan berduka cita, akan tetapi mereka justru mengalami kepenuhan dalam sukacita karena kepergian Yesus dan kedatangan Roh yang diutus Yesus dari Bapa.

Seperti para murid kita mengalami bahwa kasih dalam persekutuan dengan Kristus dan Roh-Nya itulah yang membuat kita hidup dan mengalami sukacita, meskipun kita berada di tengah situasi badai kehidupan. Hanya di dalam kesatuan dengan Dia kita mengalami kepenuhan eksistensi kita. Kita memiliki hidup, bahkan memiliknya dalam kepenuhan dan sukacita ada di dalam kita.

Dan kita percaya bahwa Ia ada selalu dan menyertai kita, sebab Dia adalah Imanuel, Allah beserta kita.  Maka hendaknya persekutuan itu tidak kita tinggalkan, apapun alasannya. Sebaliknya sebagai murid-Nya yang setia, kita mesti memiliki kerinduan untuk tetap bersatu dengan Dia. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita sebab Roh yang diutus kepada kita berlangsung selamanya.

Perpisahan yang kita kehendaki dengan Dia membuat kita kehilangan diri kita. Kita kehilangan hidup dan sukacita kita. Dan ketika kita tidak insaf akan akan apa yang dinyatakan Roh kepada kita, maka kita pun berada  berada  di bawah hukuman yang kita tentukan sendiri. Kini saatnya kita sadar dan bertobat seperti kepala penjaga penjara. Sadarlah kita akan hal ini, dan marilah kita membangun komitmen iman kita untuk tetap tinggal dalam Yesus dan kasih-Nya. Dia bukan sepotong dari diri kita, melainkan Dia adalah hidup kita dan sukacita kita. Dialah keselamatan kita. ***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar