Kis 16:22-34 & Yoh 16:5-11
“Du bist ein Stück von mir” yang berarti “engkau adalah sepotong diriku”. Entah makna apa yang paling hakiki yang
dimaksudkan pencetus ungkapan ini, namun setidaknya hal ini menyiratkan satu hal esensial, bahwa ‘yang lain’ adalah bagian dari diri yang
lain. Engkau bukanlah engkau jika tidak ada saya, demikianpun sebaliknya, saya
bukanlah saya kalau tidak ada engkau. Engkau dan saya menjadikan kita berada. Engkau
hanyalah kata, demikian juga dengan saya. Jika engkau dan saya ada bersama maka
kita menjadi kalimat yang menceritakan siapakah diri kita.
Maka bersama yang
lain, seorang pribadi membentuk ada bersama. Ada bersama (mitsein) dalam hal ini bukanlah
soal sekedar berkumpul bersama,
melainkan kesatuan hakiki yang menandai
identitas manusia sebagai manusia. Di dalam ada bersama, setiap orang menemukan
jati diri dan makna dirinya.
Jelas di sini, pribadi
manusia bukanlah suatu entitas yang utuh kalau ia tidak berada di tengah yang
lain. Ada hidup dan sukacita apabila pribadi manusia berada bersama dengan yang
lain. Maka terpanggil untuk ada bersama
adalah suatu yang niscaya, berasal dari dalam diri manusia, dan bukan suatu
yang dipaksakan atau ditempelkan pada keinginan manusia.
Dalam
kekristenan, ada bersama sebagai suatu persekutuan orang-orang percaya adalah
suatu yang esensial. Yesus mendoakan para murid-Nya agar menjadi satu berarti
membentuk suatu persekutuan hidup yang erat di antara mereka. Dan ini pula yang
menghadirkan sifat persekutuan yang eklesial. Persektuan orang-orang beriman
yang berada di bawah Kristus sebagai kepala. Sedemikian pentingnya persekutuan
iman itu, maka orang tidak pernah menemukan makna kekristenannya, demikian pula
dengan hidup, sukacita dan keselamatan di luar persekutuan itu.
Kasih adalah
dasar dan tali pengikat persekutuan kristiani. Kasih membangun dan menjaga
persekutuan. Kasih memberi hidup dan
sukacita. Persekutuan kasih ini sudah ada ketika Yesus memanggil dan
mengumpulkan semua murid-Nya dalam persekutuan para murid. Kecuali Yudas yang
mengkhianati Yesus, para murid yang lain
hidup dalam persekutan kasih itu. Tantangan dan kesulitan tidak pernah
mengaburkan kasih dalam persekutuan mereka. Bahkan mereka semakin bertumbuh
dalam kasih persaudaraan dan keintiman hubungan dengan Yesus.
Kasih sedemikian
dalam membuat para murid tidak menginginkan adanya perpisahan dengan Yesus.
Dukacita para murid timbul karena perpisahan yang tidak dikehendaki itu
ternyata harus terjadi. Mereka tidak lagi bersukacita. Sebab ada pengalaman
merasa diri tercopot dan menjadi hilang. Ada sesuatu yang hilang dari
tengah-tengah mereka dan yang hilang itu begitu esensial.
Yesus yang
mengetahui situasi para murid-Nya meneguhkan hati mereka bahwa sekalipun Ia
pergi dan meninggalkan mereka, namun Ia tetap ada dan menyertai mereka dengan
cara baru, yaitu melalui Roh Penghibur yang diutus kepada mereka. Kasih-Nya
tetap ada di antara mereka meski raganya tidak tampak secara kasat mata. Dan
itu nyata di dalam kehadiran Roh yang menyertai dan meneguhkan kesaksian
mereka.
Roh itulah yang
menguatkan mereka untuk bertahan dalam kesusahan, dan bahkan bersukacita di
dalam kesusahan seperti yang dialami Paulus dan Silas. Mereka didera dan
dilemparkan ke dalam penjara, akan tetapi tetap bersukacita dan berdoa kepada
Allah. Peyertaan Yesus dibuktikan dengan kejadian-kejadian ajaib yang terjadi.
Meski dirantai di dalam ruangan penjara, namun Tuhan membuka pintu penjara
dengan gempa bumi dan membuka rantai pengikat kaki.
Kepada para murid
juga Penghibur akan menyatakan kebenaran kata-kata Yesus bahwa Ia kembali
kepada Bapa. Yesus tidak hilang tetapi kembali kepada Bapa dan kehadiran
penghibur dan kesaksian-Nya menyatakan kebenaran itu. Lebih dari itu, Penghibur yang sama juga akan
menginsafkan dunia akan dosanya. Dosa dunia adalah tidak mengenal Yesus pada
hal Dia sudah menyatakan diri-Nya melalui pengajaran dan perbuatan-perbuatan
ajaib yang dilakukan. Dunia membenci dan menolak Dia. Jika dunia tidak insaf, seperti yang dilakukan oleh kepala penjaga
penjara yang bertobat, maka dunia sudah ada di bawah hukuman. Penolakan
mendatangkan hukuman secara otomatis. Hukuman bukan berasal dari Tuhan.
Betapa pentingnya
kehadiran Roh itu bagi para murid-Nya, maka Yesus berkata: “Adalah lebih
berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu
tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia
kepadamu” (Yoh 16:7). Para murid merasa kehilangan dan berduka cita, akan
tetapi mereka justru mengalami kepenuhan dalam sukacita karena kepergian Yesus
dan kedatangan Roh yang diutus Yesus dari Bapa.
Seperti para
murid kita mengalami bahwa kasih dalam persekutuan dengan Kristus dan Roh-Nya
itulah yang membuat kita hidup dan mengalami sukacita, meskipun kita berada di
tengah situasi badai kehidupan. Hanya di dalam kesatuan dengan Dia kita
mengalami kepenuhan eksistensi kita. Kita memiliki hidup, bahkan memiliknya
dalam kepenuhan dan sukacita ada di dalam kita.
Dan kita percaya
bahwa Ia ada selalu dan menyertai kita, sebab Dia adalah Imanuel, Allah beserta
kita. Maka hendaknya persekutuan itu
tidak kita tinggalkan, apapun alasannya. Sebaliknya sebagai murid-Nya yang
setia, kita mesti memiliki kerinduan untuk tetap bersatu dengan Dia. Dia tidak
akan pernah meninggalkan kita sebab Roh yang diutus kepada kita berlangsung
selamanya.
Perpisahan yang
kita kehendaki dengan Dia membuat kita kehilangan diri kita. Kita kehilangan
hidup dan sukacita kita. Dan ketika kita tidak insaf akan akan apa yang
dinyatakan Roh kepada kita, maka kita pun berada berada
di bawah hukuman yang kita tentukan sendiri. Kini saatnya kita sadar dan
bertobat seperti kepala penjaga penjara. Sadarlah kita akan hal ini, dan
marilah kita membangun komitmen iman kita untuk tetap tinggal dalam Yesus dan
kasih-Nya. Dia bukan sepotong dari diri kita, melainkan Dia adalah hidup kita
dan sukacita kita. Dialah keselamatan kita. ***Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar