Yoh 13:16-20
William Barclay, seorang pendeta dan teolog
berkebangsaan Skotlandia pernah menulis tentang makna makan roti bersama yang
lazimnya terjadi dalam budaya orang timur. Sebagaimana dikutip Pdt. Budi Asali
Mdiv., dalam Eksposisi Injil Yohanes, ia menulis demikian: “Di
timur untuk makan roti dengan siapa pun adalah pertanda persahabatan dan
tindakan kesetiaan”.
Kita ingat akan peristiwa perjamuan terakhir Yesus bersama dengan murid-murid-Nya. Yesus makan roti bersama murid-murid-Nya,
termasuk Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati-Nya. Peristiwa makan roti menandakan
persabahatan dan tindakan kesetiaan: Yesus terhadap para murid-Nya dan para
murid-Nya terhadap Yesus.
Tidak hanya ketika perjamuan terakhir itu
diadakan. Dalam perjalanan hidup dan karya perutusan-Nya, Yesus makan roti
bersama para murid-Nya. Ia makan roti bersama Marta, Maria dan Lazarus saudara
mereka. Ia juga makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa (Mat
9:10-11).
Dengan melakukan itu, Yesus menunjukkan bahwa
Ia mau bersahabat dengan semua orang. Bahkan terhadap para pendosa persahabatan
itu menjadi muara tuju karena untuk itulah Ia datang ke dunia.
Dalam Injil hari ini kita membaca atau
mendengar Yesus berkata: “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya
terhadap Aku” (ay 18). Frasa “makan roti-Ku” menurut Kitab Suci berarti orang
yang hidup dan bergaul mesra dengan Yesus dan diperlakukan sebagai sahabat yang
karib. Namun menurut tafsiran atas
kiasan “mengangkat tumitnya terhadap Aku”
berarti bangkit melawan Yesus, maka sesungguhnya letak makna kata-kata Yesus di
atas adalah pengkhianatan yang datang dari sahabat karib-Nya sendiri.
Apabila pengkhianatan itu dilakukan oleh orang
yang tidak akrab dan tidak terlalu dekat maka penderitaan yang diakibatkannya
tentu tidak terlalu hebat, akan tetapi justru karena datang dari seorang Yudas yang adalah bagian dari kelompok para
murid-Nya sendiri maka penderitaan yang ditimbulkan itu begitu hebat.
Yesus merasakan apa yang pernah dinyatakan
sang pemazmur: “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya;
kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi
engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku” (Mzm
55:13-14).
Sebegitu dalamnya penderitaan itu dirasakan
sehingga Yesus berkeluh: “... celakalah
orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang
itu sekiranya ia tidak dilahirkan" (Mat 26:24, lih Mrk 14:21).
Pengalaman Yesus
ini sesungguhnya adalah pengalaman manusia pada umumnya. Orang menderita sakit
karena dikhianati, apalagi pengkhianatan itu datang dari orang-orang yang
bergitu dekat dan akrab, orang-orang yang dipandang sebagai sahabat,
orang-orang yang dipercayai, orang-orang yang dicintai. Maka tentu penderitaan itu sebegitu hebat
dirasakan.
Orang-orang yang
pura-pura dalam “persahabatan dan kesetiaan” bisa keluarga kita, bisa teman
kerja kita, bisa bawahan kita, juga bisa atasan kita. Pada kesempatan yang
tepat mereka dapat menjual kita untuk kepentingan diri mereka seperti Yudas
menjual Yesus untuk kepentingan dirinya sendiri.
Berbeda dengan
Yesus yang mengetahui pengkhianatan itu akan terjadi. Terhadap diri kita, aksi
pengkhianatan itu hampir tidak terduga. Kita baru mengalami dan merasakan
sesudah peristiwa pengkhianatan itu terjadi.
Atas hal
demikian, maka adalah wajar bila kita kecewa dan berkeluh-kesah. Namun kekecewaan dan perasaan penyerta yang
ditimbulkan tidak bisa membuat kita tinggal dalam kebencian dan keinginan untuk
melakukan yang sama. Sakit yang tetap terpelihara hanya akan membawa kerugian
bagi diri kita sendiri.
Karena itu lebih
bijaksana bila kita belajar untuk mengampuni sebab pengampunan membebaskan kita
dari beban penderitaan yang kita alami. Pengkhianat tidak akan memiliki hidup
lebih baik dan berkualitas karena pengkhianatannya. Keuntungan apapun
diperolehnya akan segera berlalu dan tidak meninggal sesuatu yang berarti dalam
hidupnya. Akan tetapi kita yang berbesar hati untuk mengampuni akan terbukti
memiliki hidup yang jauh lebih bahagia, sebab dengan mengampuni kita memperoleh
rahmat kedamaian dalam hati kita.
Bukan hanya bagi
diri kita sendiri, pengampunan juga dapat
menurunkan rahmat pertobatan yang membuat orang berbalik dari perilaku
hidupnya. Dalam hal inilah kita menemukan
makna hidup kita sebagai orang Kristiani karena kita mengambil bagian dalam
tindakan Allah sendiri, yaitu mengampuni.
Akhirnya kita
belajar bahwa mengkhianati adalah
tindakan yang jahat karena melukai dan mendatangkan penderitaan yang hebat bagi
orang lain. Karena itu, bagi kita adalah lebih berguna bila kita memelihara
jiwa “makan roti bersama” daripada makan roti bersama sambil mengangkat tumit
kita. Kita hanya punya satu pilihan: “Makan roti bersama”.***Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar