Rabu, 06 Mei 2020

MAKAN ROTI BERSAMA TAPI JANGAN ANGKAT TUMIT


Yoh 13:16-20

William Barclay, seorang pendeta dan teolog berkebangsaan Skotlandia pernah menulis tentang makna makan roti bersama yang lazimnya terjadi dalam budaya orang timur. Sebagaimana dikutip Pdt. Budi Asali Mdiv., dalam Eksposisi  Injil Yohanes, ia menulis demikian: “Di timur untuk makan roti dengan siapa pun adalah pertanda persahabatan dan tindakan kesetiaan”.

Kita ingat akan peristiwa perjamuan terakhir  Yesus bersama dengan murid-murid-Nya.  Yesus makan roti bersama murid-murid-Nya, termasuk Yudas Iskariot yang kemudian mengkhianati-Nya. Peristiwa makan roti menandakan persabahatan dan tindakan kesetiaan: Yesus terhadap para murid-Nya dan para murid-Nya terhadap Yesus.

Tidak hanya ketika perjamuan terakhir itu diadakan. Dalam perjalanan hidup dan karya perutusan-Nya, Yesus makan roti bersama para murid-Nya. Ia makan roti bersama Marta, Maria dan Lazarus saudara mereka. Ia juga makan bersama dengan para pemungut cukai dan orang berdosa (Mat 9:10-11).

Dengan melakukan itu, Yesus menunjukkan bahwa Ia mau bersahabat dengan semua orang. Bahkan terhadap para pendosa persahabatan itu menjadi muara tuju karena untuk itulah Ia datang ke dunia.

Dalam Injil hari ini kita membaca atau mendengar Yesus berkata: “Orang yang makan roti-Ku, telah mengangkat tumitnya terhadap Aku” (ay 18). Frasa “makan roti-Ku” menurut Kitab Suci berarti orang yang hidup dan bergaul mesra dengan Yesus dan diperlakukan sebagai sahabat yang karib. Namun menurut  tafsiran atas kiasan “mengangkat  tumitnya terhadap Aku” berarti bangkit melawan Yesus, maka sesungguhnya letak makna kata-kata Yesus di atas adalah pengkhianatan yang datang dari sahabat karib-Nya sendiri.   

Apabila pengkhianatan itu dilakukan oleh orang yang tidak akrab dan tidak terlalu dekat maka penderitaan yang diakibatkannya tentu tidak terlalu hebat, akan tetapi justru karena datang dari seorang Yudas  yang adalah bagian dari kelompok para murid-Nya sendiri maka penderitaan yang ditimbulkan itu begitu hebat.

Yesus merasakan apa yang pernah dinyatakan sang pemazmur: “Kalau musuhku yang mencela aku, aku masih dapat menanggungnya; kalau pembenciku yang membesarkan diri terhadap aku, aku masih dapat  menyembunyikan diri terhadap dia. Tetapi engkau orang yang dekat dengan aku, temanku dan orang kepercayaanku” (Mzm 55:13-14).

Sebegitu dalamnya penderitaan itu dirasakan sehingga Yesus berkeluh: “... celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan" (Mat 26:24, lih Mrk 14:21).

Pengalaman Yesus ini sesungguhnya adalah pengalaman manusia pada umumnya. Orang menderita sakit karena dikhianati, apalagi pengkhianatan itu datang dari orang-orang yang bergitu dekat dan akrab, orang-orang yang dipandang sebagai sahabat, orang-orang yang dipercayai, orang-orang yang dicintai.  Maka tentu penderitaan itu sebegitu hebat dirasakan.  

Orang-orang yang pura-pura dalam “persahabatan dan kesetiaan” bisa keluarga kita, bisa teman kerja kita, bisa bawahan kita, juga bisa atasan kita. Pada kesempatan yang tepat mereka dapat menjual kita untuk kepentingan diri mereka seperti Yudas menjual Yesus untuk kepentingan dirinya sendiri.

Berbeda dengan Yesus yang mengetahui pengkhianatan itu akan terjadi. Terhadap diri kita, aksi pengkhianatan itu hampir tidak terduga. Kita baru mengalami dan merasakan sesudah peristiwa pengkhianatan itu terjadi.

Atas hal demikian, maka adalah wajar bila kita kecewa dan berkeluh-kesah.  Namun kekecewaan dan perasaan penyerta yang ditimbulkan tidak bisa membuat kita tinggal dalam kebencian dan keinginan untuk melakukan yang sama. Sakit yang tetap terpelihara hanya akan membawa kerugian bagi diri kita sendiri.

Karena itu lebih bijaksana bila kita belajar untuk mengampuni sebab pengampunan membebaskan kita dari beban penderitaan yang kita alami. Pengkhianat tidak akan memiliki hidup lebih baik dan berkualitas karena pengkhianatannya. Keuntungan apapun diperolehnya akan segera berlalu dan tidak meninggal sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Akan tetapi kita yang berbesar hati untuk mengampuni akan terbukti memiliki hidup yang jauh lebih bahagia, sebab dengan mengampuni kita memperoleh rahmat kedamaian dalam hati kita.

Bukan hanya bagi diri kita sendiri, pengampunan juga dapat  menurunkan rahmat pertobatan yang membuat orang berbalik dari perilaku hidupnya.  Dalam hal inilah kita menemukan makna hidup kita sebagai orang Kristiani karena kita mengambil bagian dalam tindakan Allah sendiri, yaitu mengampuni.

Akhirnya kita belajar bahwa mengkhianati  adalah tindakan yang jahat karena melukai dan mendatangkan penderitaan yang hebat bagi orang lain. Karena itu, bagi kita adalah lebih berguna bila kita memelihara jiwa “makan roti bersama” daripada makan roti bersama sambil mengangkat tumit kita. Kita hanya punya satu pilihan: “Makan roti bersama”.***Apol Wuwur***




Tidak ada komentar:

Posting Komentar