Selasa, 30 Juni 2020

Percayalah Kepada Tuhan Dengan Segenap Hatimu


Am 3:1-8 & Mat 8:23-27

Beriman kepada Tuhan tidak serta-merta membebaskan orang dari segala pergumulan hidup: tidak ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini. Pengalaman pergumulan itu tetap ada sebagai suatu yang terberi, tidak dapat dihindari. Malahan dengan beriman orang semakin diperhadapkan dengan pergumulan hidup yang semakin berat dan sulit. 

Iman tidak menghapus ataupun mengingkari tantangan, kesulitan dan penderitaan sebagai suatu fakta, sebaliknya iman itu hidup dan bertahan di dalam pengalaman itu. Bak lahan tempat bertumbuhnya benih-benih, pengalaman penderitaan dan pergumulan hidup menjadi medan di mana benih iman bertumbuh dan berkembang. Menolak pengalaman penderitaan dan pergumulan hidup, dengan cara apapun, berarti orang kehilangan kesempatan terbaik untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman.

Orang yang memandang bahwa iman membebaskannya dari pergumulan, sementara kenyataan yang ditemukan tidaklah demikian, akan berhadapan dengan kekecewaan yang meracuni hatinya. Ada penolakan hati, akan tetapi orang tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan fakta itu. Tidak jarang orang menunjukkan kompensasinya dengan berpaling dari jalan iman atau setidak-tidaknya orang kehilangan semangat iman untuk hidup berdasarkan tuntutan-tuntutan iman.  

Tetapi orang yang sungguh beriman akan memandang bahwa pergumulan hidup adalah bagian yang tidak terhindarkan dari perjalanan menuju garis akhir perjuangan hidup di dunia ini. Pergumulan itu ibarat sebuah pertandingan. Pertandingan itu harus diakhiri dengan baik, dan iman berhasil diperlihara. Sebagai hasilnya, yang setia berjuang dan mempertahankan iman dalam pergumulan di dunia ini akan dianugerahi mahkhota kebenaran (2 Tim 4:6-8).

Ini menjadi alasan mengapa kepada kita diminta: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (Am 3:5). Tuhan tidak pernah merancangkan suatu yang tidak baik, tidak luhur dan tidak mulia bagi orang yang diciptakan seturut gambar-Nya. Jika Ia membiarkan setiap kita mengalami pergumulan hidup dan terus menguji kita dalam berbagai pengalaman penderitaan dan kemalangan, maka Ia tidak memiliki suatu rencana yang buruk, melainkan suatu yang terbaik, bernilai dan luhur. Ada yang begitu indah Tuhan inginkan untuk kita.

Seperti dalam Injil hari ini, kita mendengar bagaimana Yesus tertidur sementara badai dan gelombang menerpa perahu yang mereka tumpangi dan mereka hampir tenggelam. Ia tidak bermaksud untuk membinasakan para murid dengan tidur-Nya. Namun situasi demikian dibiarkan terjadi dan dialami para murid supaya mereka belajar untuk menunjukkan iman dan kepercayaan mereka penuh kepada-Nya.

Benarlah bahwa para murid tidaklah mencari pertolongan lain, selain membangunkan Dia yang tertidur. "Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Dan tindakan para murid itu tepat sebagai tanda bahwa mereka percaya kepada Yesus, meskipun dikatakan-Nya, mereka kurang percaya oleh karena dibayang-bayangi oleh ketakutan.

Maka pertanyaan Yesus: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” dilontarkan kepada mereka sebagai suatu daya pemurniaan terhadap iman mereka. Tujuannya adalah agar mereka percaya dengan segenap hati kepada-Nya. Ketakutan membuat mereka memandang kebinasaan yang ada di depan mereka, tetapi kepada mereka Yesus mengatakan bahwa kepercayaan menyelamatkan mereka. Karena itu, mereka diminta untuk tidak takut, melainkan percaya.

Seperti pengalaman para murid di atas danau itu, Yesus menunjukkan kepada semua kita yang mengikuti Dia bahwa berjalan bersama Dia akan diperhadapkan dengan berbagai pengalaman yang sulit dan menantang. Tidak ada jalan tanpa onak dan duri.

Maka yang diminta dari kita adalah sikap iman seperti kata-kata Amsal: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (Am 3:5). Iman membuat kita mampu menghadapi tantangan dan kesulitan dan di akhir pergumulan kita memperoleh kemenangan. Hanya jika kita takut dan kurang percaya maka kita bisa terjatuh ke dalam kebinasaan.

Kita menyadari bahwa acapkali kita seperti para murid Tuhan yang ada bersama dengan Tuhan, akan tetapi ketakutan masih mendominasi hidup kita. Maka seperti para murid ditantang Yesus dengan pertanyaan pemurniaan iman di atas kita pun menggunakan pertanyaan yang sama untuk tujuan yang sama pula. Iman kita harus dimurnikan agar bertumbuh menjadi kekuatan yang menopang kita untuk menghadapi dan menggumuli pengalaman hidup ini.

Di samping itu, kita juga belajar untuk memandang pengalaman penderitaan dan kesulitan sebagai wahana pendidikan iman bagi kita. Kita tidak lari dari pengalaman hidup yang menantang, melainkan dengan jiwa kesatria kita masuk ke dalam pengalaman tersebut dan menjumpai Dia yang ada di dalam pengalam itu. Dia ada bersama kita justru ketika kita merasakan hidup kita ini paling menantang dan ketika kita bergumul untuk menemui Dia, maka betapa kita merasa berbangga bahwa kita telah bergumul dan menemukan Dia.

Marilah kita belajar dalam pengalaman hidup kita untuk semakin bertumbuh dalam iman dan gunakanlah iman kita untuk tetap menggumuli pengalaman hidup kita. Dan kita akan benar-benar menjadi orang yang percaya dengan segenap hati kepada Tuhan.***Apol Wuwur***

Kamis, 25 Juni 2020

KITA BUTUH DITAHIRKAN


Mat 8:1-4
Ini pengalaman riil. Adik saya meng-share kisahnya bagaimana ia bisa sembuh dari penyakit bisul yang sangat menyiksa dirinya. Ia menderita sakit ini sejak tahun 2016 yang lalu. Dan selama rentang waktu itu sampai dengan tahun 2020, ia harus rela menahan sakit. Penyakit ini memang sifatnya sporadis. Hilang muncul. Tetapi kehadirannya ibarat sahabat yang menjengkelkan plus menyakitkan. Sudah berbagai metode pengobatan dilakukan; baik dari sisi medis maupun alternatif. Semuanya nihil. Sampai suatu saat, kira-kira sebulan yang lalu (bulan Mei), ibu saya menganjurkan supaya sang adik melakukan novena kepada Bunda Maria selama sembilan hari berturut-turut. Awalnya sang adik merasa ragu. Tetapi saya meyakinkan dia untuk melakukan hal itu. Saya mengatakan kepada dia (adik) bahwa kalau dilakukan dengan penuh keyakinan pasti niatnya akan terkabul. Ia hanya diam. Dalam diam, sang adik ternyata melakukan novena selama sembilan hari dengan intensi khusus mohon penyembuhan dari penyakit bisul. Ternyata doa yang didoakan dengan penuh iman pasti didengar oleh Tuhan. Sang adik merasa ada perubahan dalam dirinya. Memang tidak sekali jadi penyakitnya langsung hilang. Namun perlahan-lahan, ada perubahan yang sungguh nyata. Sang adik telah merasakan kekuatan doa yang sungguh dasyat. Ia telah sembuh berkat permohonannya yang tulus dan total kepada Tuhan.

Hari ini kita membaca salah satu kisah mukjizat yang dilakukan oleh Yesus kepada seorang yang sedang menderita penyakit kusta. Yesus tidak akan tahu tentang keadaan si kusta apabila si kusta tetapi diam. Dan mukjizat penyembuhan itu tidak akan terjadi apabila Yesus berjalan terus dan tidak menghiraukan si kusta. Situasinya menjadi beda karena ada interaksi yang intim antara si kusta dan Yesus. Si kusta menyadari ketidakberdayaannya. Ia tidak mungkin sembuh dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia butuh kekuatan lain di luar dirinya. Dan tentu saja bukan sembarang kekuatan. Kekuatan itu hanya datangnya dari Tuhan sendiri. Maka tanpa sungkan ia sujud di hadapan Yesus sambil berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku (Mat 8:2).” Sebuah ungkapan yang tulus penuh iman. Si kusta sangat berharap pada kemurahan Tuhan untuk dapat menyembuhkan sakit kronisnya. Sikap sembah sujud dari si kusta menggambarkan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Bahwa tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Ia tidak akan menjadi sembuh tanpa intervensi dari Tuhan sendiri. Dengan mata kepala-Nya sendiri, Yesus menyaksikan bahwa si kusta betul-betul menaru iman kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Yesus menjawab: “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat 8:3). Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Berkat imannya yang tulus, si kusta menjadi pulih dari penyakitnya.

Pengamalan iman adik saya dan si kusta dalam bacaan Injil mau menggambarkan bahwa “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (Mzm 73:1). Karena ketulusan hati dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, mereka mendapat cipratan kasih-Nya yang sungguh dasyat. Mereka disembuhkan dari sakitnya karena imannya yang kokoh. Sesuatu yang kelihatan tidak masuk akal di mata manusiawi tetapi sungguh diterima dalam Akal Ilahi. Hal yang tidak mungkin bagi manusia menjadi sangat mungkin dalam pandangan ilahi. Lebih dari itu, sebenarnya kasih Allah jauh melampaui semua perbuatan manusia. Entah itu perbuatan yang baik atau jahat. Kasih Allah yang ditumpahkan lewat mukjizat penyembuhan-Nya selalu berseliweran dalam hidup manusia. Yang menjadi pokok persoalan apakah manusia mau menerimanya atau tidak. Kalau manusia menolak kasih-Nya maka penyembuhan itu tidak akan terjadi. Sebalilknya, apabila manusia mau menerima kasih-Nya maka mukjizat penyembuhan itu pasti akan terjadi. Pengalaman si kusta dan adik saya telah membuktikannya. Mereka menerima kasih Allah dengan berserah diri secara total kepada-Nya. Dan Tuhan menjawab iman mereka yang tulus dengan kesembuhan diri dari penyakit yang diderita.

Sebagai orang beragama sekaligus beriman kepada Tuhan, kita mempercayai adanya mukjizat yang terjadi berkat penyelenggaran-Nya. Hanya orang yang sungguh-sungguh beriman yang mampu menangkap setiap mukjizat yang terjadi dalam hidupnya karena ia memang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Sekecil apa pun setiap peristiwa yang dialami, seorang beriman akan selalu menangkap sinyal itu dari Tuhan. Bahkan ketika ia gagal atau mengalami situasi sulit pun, ia tetap berserah diri secara total kepada Tuhan. Karena ia yakin mukjizat Tuhan akan selalu hadir bagi mereka yang percaya. Sikap sabar dan teguh hati membuat orang beriman tidak mudah goyah dan putus asa. Namun kita menyaksikan, ada banyak orang beragama yang tidak sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Mereka memang orang beragama, tetapi kurang beriman kepada Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kekuatan sendiri atau kekuatan lain (selain Tuhan) ketika berhadapan dengan aneka persoalan hidup. Tidak heran, kita menyaksikan banyak orang beragama yang cepat mengalami kelesuan dan putus asa dalam hidupnya. Bahkan tidak jarang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Ini menunjukkan bahwa seringkali orang beragama belum mampu menunjukkan sikap iman yang kokoh kepada Tuhan.

Pengalaman iman si kusta yang ditahirkan oleh Tuhan menjadi pengalaman kita juga sebagai orang beriman di masa ini. Kita harus menyerahkan diri secara total kepada-Nya agar kita juga sungguh-sungguh ditahirkan dalam hidup kita. Ditahirkan tidak hanya dalam konteks sakit secara fisik tetapi seluruh totalitas pribadi. Termasuk pelbagai kelemahan dan kekurangan manusiawi kita seperti sikap egois, arogan, malas, apatis, dan sebagainya. Kita membutuhkan mukjizat Tuhan untuk mentahirkan segala penyakit yang kita derita. Tuhan sudah menebarkan kasih-Nya melalui aliran rahmat yang menyembuhkan penyakit kita. Kita harus menangkap anugerah kasih Tuhan itu dengan berserah diri secara total kepada-Nya. Hanya dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh ditahirkan dalam seluruh hidup kita. Sebuah pengalaman mukjizat yang hanya dialami oleh orang-orang yang sungguh beriman kepada-Nya. Mari kita selalu berserah kepada Tuhan dengan sikap iman yang kokoh. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 23 Juni 2020

Masuklah Melalui Pintu Yang Sesak Itu


Mat 7:6.12-14

Tidak terhindarkan, perkembangan dunia yang sedemikian pesat ternyata secara negatif memiliki efek juga terhadap pembentukan mentalitas instan pada manusia.  Orang diformat ke dalam mentalitas mau mencari yang mudah, gampang dan tidak membutuhkan perjuangan yang ekstra serta kerja keras. Orang cenderung  menjadi malas dan menghindari diri dari kerja keras.
Mentalitas demikian memerosotkan kualitas hidup orang dalam segala dimensinya. Daya juang manusia yang diberikan Tuhan untuk membangun dan mengembangkan hidup ke arah kebaikan dan kesempurnaan menjadi merosot, bahkan dibiarkan mati begitu saja dengan memupuk kemalasan, saudara dari mentalitas instan. Keinginan memenuhi hati orang yang bermental instan dan malas, akan tetapi sia-sia (Am 13:4) sebab mereka tidak berusaha memperolehnya dengan kerja yang keras.  
Perilaku hidup demikian merusak citra kehidupan orang yang telah dianugerahi berbagai kemampuan untuk berjuang di dalam hidup ini. Tuhan tidak salah menciptakan manusia dengan segenap kemampuan yang ditempatkan di dalamnya. Hanya ketika kemampuan-kemampuan itu dimandulkan oleh mentalitas instan yang terus dipelihara dan cinta yang teramat dalam pada kemalasan, maka orang akan mengalami alienasi dengan dirinya sendiri dan terjerumus dalam kehilangan makna hidup.  

Dalam kesatuan hidup dengan orang lain, orang yang bermental instan dan malas  hadir bagi yang lain sebagai orang yang berjiwa perusak (bdk.Am 18:9). Setelah merusak dirnya sendiri, orang lain dirusakkan dengan pengaruh-pengaruh yang buruk.
Tuhan tidak menghendaki manusia yang memiliki mentalitas hidup demikian. Ia menghendaki agar manusia mencintai perjuangan hidup untuk mencapai yang terbaik di dalam hidupnya. Ia mengingatkan, tidak ada sesuatu yang baik, luhur, mulia dan bernilai diperoleh tanpa perjuangan dan kerja ekstra. DemikianlahTuhan katakan: “... orang rajin akan memperoleh harta yang berharga” (Am 12:27). Sebaliknya yang tidak suka berjuang dan bekerja, melainkan bermalas-malasan dan ingin cari gampang tidak diberikan yang bernilai dalam hidupnya: “Orang malas tidak akan menangkap buruannya” (Am 12:27; 13:4). 
Keselamatan adalah nilai yang teramat mahal yang hanya dapat diperoleh dengan perjuangan yang ekstra keras. Yesus mengingatkan semua murid-Nya dan para pendengar-Nya tentang hal demikian di dalam pengajaran-Nya tentang masuk melalui pintu yang sempit. Setiap orang yang masuk melalui pintu ini akan berjuang dan bekerja dengan keras.
Itulah jalan sulit yang penuh dengan tantangan, kesulitan dan penderitaan, akan tetapi hanya jalan itulah yang membawa orang kepada kehidupan dan kebahagiaan. Orang bilang, manisnya kehidupan ini tidak akan pernah dialami jika orang melewatkan perjuangan penuh kepahitan hidup. Demikianlah pula keselamatan itu.
Ada jalan lain yang sangat mudah di mana orang dengan gampang dan begitu mudah melewatinya, akan tetapi itulah jalan menuju kebinasaan. Banyak orang ingin masuk ke dalam kehidupan dan menikmati kebahagiaan, akan tetapi jalan yang dipilih salah. Dikira yang mudah, gampang dan enak itulah yang menyelamatkan, ternyata itulah jalan menunju kebinasaan.
Sekalipun Yesus menghendaki agar orang masuk melalui pintu yang sempit, dan mengingatkan akan bahaya pintu yang lebar, akan tetapi pilihan bebas tetap dihargai. Setiap kitalah yang menentukan pilihan entah masuk melalui pintu sempit atau pintu lebar.
Yang diajarkan Yesus ini bukanlah melulu suatu proyeksi masa depan, melainkan suatu yang sudah mulai nyata dalam hidup kita sekarang. Maka pilihan itu sudah harus kita tentukan dan praktikkan dalam hidup kita sekarang. Keselamatan nanti ditentukan oleh pilihan kita sekarang.
Pada kesempatan kita merefleksikan sabda-Nya ini, kita sekalian diajak untuk melihat bagaimana kita menentukan pilihan kita dan berjuang menghayati sabda-Nya ini dalam hidup kita. Jika ternyata kita hidup jauh dari kehendak-Nya, maka baiklah kita mendengarkan Dia dengan saksama, menghayati dan melaksanakan apa yang diajarka-Nya. Mumpung kita masih punya waktu untuk membangun pembaruan hidup, baiklah kita gunakan waktu ini sebaik mungkin.
Apabila kita menemukan diri sudah baik dalam menentukan pilihan sesuai kehendak-Nya maka baiklah kesempatan ini kita gunakan untuk mepertajam komitmen kita untuk bertekun dalam perjuangan kita menggapai keselamatan yang dijanjikan-Nya. Tuhan pasti tahu kesulitan kita, dan Dia yang melihat kesetiaan kita berjuang di jalan sempit akan memberikan kita keberhasilan dengan hidup dan kegembiraan. Janganlah berhanti berjuang masuk melalui pintu yang sempit. ***Apol Wuwur***



Kamis, 18 Juni 2020

KELEGAAN MENJADI MILIK KITA

1 Yoh 4:7-16 dan Mat 11:25-30

Apakah anda salah satu orang yang percaya akan adanya mukjizat dalam hidup? Banyak orang yang menganggap mukjizat atau peristiwa ajaib sebagai sesuatu yang mustahil. Kalau pun itu ada, banyak orang percaya bahwa mukjizat itu hanya terjadi pada zaman nabi dan Yesus yang kisahnya terpatri ribuan tahun yang lalu. Pada era ini, sangat tidak mungkin mukjizat itu terlaksana dalam hidup manusia. Sikap skeptis tentang adanya mukjizat ini mungkin juga mempengaruhi pola pikir kita. Wajar saja apabila setiap orang bersikap rasional karena orang tidak mau jatuh dalam cara berpikir yang sesat atau takhyul. Ada filsuf yang berani mengatakan bahwa orang-orang yang mengharapkan mukjizat dalam hidupnya adalah kumpulan orang  lemah. Orang yang telah mengalami kematian rasionya sehingga mengharapkan kekuatan luar yang bersifat irasional atau supranatural. Termasuk perihal mukjizat dari Tuhan. Mereka (para filsuf) menegasikan mukjizat sekaligus adanya Tuhan di dalamnya (mukjizat). Berbicara tentang Tuhan hampir tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang yang berpikir rasional. Apalagi berbicara tentang mukjizat. Itu non sense. 

Mungkin ibu yang saya kenal ini adalah pengecualiannya. Ia termasuk segelintir orang yang percaya akan adanya mukjizat dalam hidup. Ia orang yang cukup religius. Ia rajin beribadah dan aktif mengikuti segala kegiatan sosial keagamaan di komunitas tempat tinggalnya . Tidak itu saja. Ia juga mempunyai kematangan emosional dalam menghadapi setiap persoalan hidupnya. Ia percaya ada semacam invisible hand yang turut memainkan peran dalam setiap keberhasilan dan kegagalan yang ia alami. Invisible hand itu adalah Tuhan sendiri. Ada satu pengalaman yang membuat ia yakin bahwa mukjizat itu benar-benar nyata dalam setiap hidup manusia. Pada suatu saat, salah seorang anaknya yang sedang mengenyam pendidikan di SMU Seminari Hokeng Larantuka mengalami sakit Typus. Sang ibu tentu saja merasa sangat sedih. Sang suami yang kelihatan lebih rasional mengarahkan sang istri supaya pergi menjemput sang anak untuk pulang ke rumah saja. Dalam situasi yang pelik, sang ibu memasrahkan sakit anaknya kepada kuasa Tuhan. Semalaman ia berdoa seorang diri mohon petunjuk Tuhan, apa yang harus ia lakukan. Apakah ia harus berangkat menjemput anaknya atau tidak. Keesokan harinya, ketika ia dan sang suami sedang mempersiapkan diri untuk berangkat menemui anaknya, tiba-tiba mereka mendapat telepon dari seorang perfek (pembina) bahwa anak mereka sudah sembuh dan telah mengikuti kegiatan belajar di kelas. Sang ibu percaya, itu adalah mukjizat dari Tuhan yang datang pada saat ia mengalami keletihan dan kesusahan dalam hidupnya.

Tuhan sungguh mengasihi sang ibu sehingga Ia menyelamatkan anaknya yang sementara menderita sakit. Tuhan telah memberi kelegaan kepada sang ibu bukan karena kasih sang ibu kepada-Nya, tetapi karena sesungguhnya Tuhan itu adalah kasih. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi (1 Yoh 4:10).” Sang ibu hanya berpasrah secara total dan mengaku bahwa Yesus adalah anak Allah yang hidup sehingga “Allah telah berada di dalam dia dan dia di dalam Allah” (1 Yoh 4:15). Tuhan menjawab segala kegelisaan dan kegalauan hatinya dengan menunjukkan kasih-Nya yang maha besar. Sang ibu tidak pernah menuntut atau memaksa Tuhan untuk memberi mukjizat kepadanya. Tetapi Tuhan karena kasih-Nya, telah berlaku adil dengan menyembuhkan anak yang sementara menderita sakit. 

Tuhan tidak pernah ingkar janji karena Ia sendiri pernah berujar: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat 11:28).” Tuhan tahu apa yang sementara dirasakan oleh orang banyak pada saat itu. Dan pastinya kita semua pada saat ini. Orang yang sementara memikul beban berat karena kemiskinan, penganiayaan dan penindasan. Tuhan tidak sekedar memberi penghiburan dan kekuatan melalui sabda-Nya. Sabda-Nya bukan kata-kata kosong tetapi sabda yang membawa berkat. Sabda yang menghidupkan. Ia mengajak semua orang “pinggir” dan termarginalisasi untuk datang kepada-Nya. Karena dengan demikianlah tujuan utama kedatangan-Nya untuk menyelamatkan mereka yang terpuruk dalam hidupnya. Hanya kepada Dialah, mereka bisa mendapatkan kelegaan dalam hidup. Kelegaan untuk dipuaskan, disembuhkan, diselamatkan dan diangkat menjadi pribadi yang mulia di hadapan-Nya.

Pengalaman sederhana sang ibu di atas, menguatkan saya secara pribadi bahwa hanya dalam terang iman, mukjizat Tuhan dapat dibaca dan diakui kebenarannya. Hanya orang yang mau dengan sungguh-sungguh memasrahkan dirinya secara total kepada Allah akan mendapat berkat kelegaan dalam hidup. Berkat Tuhan itu senantiasa terpancar dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah memaksa manusia untuk mengikuti Dia. Ia hanya memberi tawaran dan manusia berhak memilih untuk bergabung dengan-Nya  atau menolak. Untuk manusia yang mau menerima berkat dari-Nya, Ia akan memberi kelegaan kepada mereka. Kelegaan untuk mendapatkan kekuatan, kesehatan, keberhasilan dan keselamatan dalam hidup. Dan itulah mukjizat-mukjizat yang kadang tidak pernah kita sadari dalam hidup. Bagi mereka yang masih “Jauh” dari Tuhan, kasih-Nya tetap terpancar. Tangan-Nya senantiasa terbuka untuk menerima mereka yang menyadari kesesatan dan kembali kepada-Nya. Marilah kita senantiasa menyerahkan diri secara total kepada Tuhan karena Dia akan memberi kelegaan kepada kita. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Selasa, 16 Juni 2020

Kasih Menjiwai Kita Melakukan Yang Lebih

Mat 5:38-42
Kejahatan dilakukan oleh orang yang kekuranagan atau kehampaan kasih. Kasih menggerakkan orang untuk berbuat baik, namun ketika ruang untuk kasih itu menjadi kosong maka akan diisi oleh kekuatan lain, termasuk keinginan-keinginan buruk yang menggerakkan orang untuk melakukan yang tidak baik. Nafsu secara tidak teratur adalah pangkal dari segala kelakuan buruk dan perbuatan yang berlawanan dengan kasih.
Ahab, raja Israel, adalah seorang yang membiarkan dirinya dirasuki oleh keinginan-keinginan yang tidak teratur sehingga oleh kekuatan itu ia tidak memandang lagi baik atau buruk perbuatannya. Dengan kematian Nabot yang penuh dengan rekayasa, Ahab mengambil hak milik Nabot menjadi miliknya. Tidak dikira bahwa itulah kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan.
Sebagai akibat dari perbuatannya, Ahab menanggung hukuman sebagaimana ia menghukum Nabot yang tidak bersalah. Kepadanya, melalui Elia, Tuhan menyatakan pembalasan atas perbuatannya. “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel” (1 Raj 21:21).

Tuhan membalaskan perbuatan jahat yang dilakukan Ahab karena Ia adalah Raja yang adil yang mengadili orang dengan benar dan adil. Tidak ada kompromi atas pengadilan Tuhan. Apa yang dilakukan itu pula hasil yang dituai. Sekalipun Tuhan tidak mendatangkan balasan itu pada zamannya, akan tetapi hukuman itu tetap berlaku dan terlaksana pada masa anaknya. Dan itulah keadilan yang Tuhan nyatakan menurut ukuran-Nya yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Rahasia keadilan Tuhan adalah rahasia-Nya sendiri.
Ketika Tuhan membalas kejahatan Ahab, hal ini tidak dapat kita pertentangkan dengan apa yang diajarkan Yesus dalam Injil hari ini: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Tuhan yang mahakasih tidak akan melakukan yang tidak baik juga ketika Ia membalas kejahatan yang dilakukan oleh Ahab. Ia melakukan yang adil karena Ia adalah adil.
Namun kepada kita Tuhan yang satu dan sama itu menghendaki agar kita umat-Nya tidak melakukan pembalasan atas kejahatan yang diperbuat kepada kita. Sebaliknya yang diminta adalah mengasihi dan berdoa bagi mereka yang berbuat jahat.
Kasih berlawanan dengan kejahatan. Orang yang hidup di dalam kasih tidak akan pernah melakukan yang jahat juga demi alasan mendapatkan keadilan akibat kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan. Kasih mengajarkan pengampunan dan belas kasihan.
Sulit melakukan hal ini ketika kita berada dalam situasi penderitaan dan kerugian akibat kejahatan. Rasa manusiawi itu wajar dan tidak dapat dielak, akan tetapi ketika kita mengalami hal demikian Tuhan sedang bekerja untuk kita. Ia mengubah keadaan kebencian, amarah dan keinginan untuk membalas dendam dengan kasih penuh kerahiman. Bukan hanya menangggung dengan rela segala akibat dan kerugian yang ditimbulkan, melainkan lebih dari itu memberi pengampunan dan berdoa bagi mereka. Itulah kasih kita yang dikerjakan Tuhan dalam diri kita.

Tuhan yang memerintahkan kita melakukan demikian memberikan garansi kepada kita pula untuk memperoleh hidup dalam kesempurnaan. Pengampunan dan doa yang kita lakukan dengan tulus demi musuh-musuh kita adalah wujud dari kasih kita. Dan itulah jalan bagi kita untuk mengejar kesempurnaan yang Tuhan kehendaki bagi kita: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

Marilah kita menyadari hidup kita sebagai murid-murid Tuhan yang dipanggil kepada kesempurnaan. 

Kamis, 11 Juni 2020

PANGGILAN MENUJU KEMURNIAN TUBUH


Mat 5:27-32
Menurut Gereja Katolik, manusia adalah makhluk seksual yang identitas seksualnya harus diterima dalam kesatuan tubuh dan jiwanya. Perbedaan jenis kelamin dimaksudkan seturut rancangan ilahi untuk saling melengkapi, masing-masing memiliki martabat yang sama dan diciptakan sesuai citra Allah. Tindakan seksual (persetubuhan) adalah suci di dalam konteks hubungan suami istri, mencerminkan suatu anugerah bersama seumur hidup dan lengkap antara seorang pria dan seorang wanita. Karenanya dosa-dosa seksual bukan hanya merupakan pelanggaran terhadap tubuh tetapi terhadap seluruh keberadaan pribadi pelakunya (https://id.m.wikipedia.org). Dosa-dosa seksual itulah yang masuk dalam kategori perbuatan zinah. Sebuah tindakan kedosaan yang melanggar norma keenam dari sepuluh perintah Allah “jangan berzinah”. Melakukan tindakan zinah sama dengan mengingkari kesucian tubuh yang dianugerahkan oleh Allah dan telah dimiliki oleh masing-masing individu.

Menurut Yesus tindakan zinah itu terlaksana bukan hanya pada saat terjadi kontak fisik secara langsung antara seorang pria dan wanita tetapi dapat terjadi juga melalui kontak fisik secara tidak langsung. Melalui pandangan mata. Melihat lawan jenis itu tidak bermasalah. Yang menimbulkan persoalan adalah ketika pandangan itu disertai oleh niat atau keinginan tertentu. Ada nafsu seksual yang timbul untuk “bercampur” dengan tubuh lawan jenis. “Setiap orang yang memandang perempuan serta meinginginkannya, sudah berzinah di dalam hatinya” (Mat 5:28). Hal ini tentu tidak hanya berlaku saja bagi seorang pria, tetapi juga bagi seorang wanita ketika memandang lawan jenisnya. Kita perlu mencermati konteks perkataan Yesus yang diucapkan-Nya pada saat itu. Yesus secara tidak langsung mengkritik budaya patriarkat Yahudi kuno yang memandang perempuan sebagai manusia kelas dua. Menjadi hal biasa pada saat itu ketika seorang laki-laki memperlakukan seorang perempuan hanya sebagai obyek seksualnya. Perempuan disamakan dengan harta atau barang duniawi lainnya. Kehadiran Yesus di hadapan publik memberi harapan baru bagi kaum tertindas, terutama subordinasi kaum perempuan terhadap otoritas laki-laki. Yesus mengkritik budaya patriarkat yang merendahkan kaum wanita dan mengangkat derajat mereka untuk dapat berdiri sejajar dengan kaum pria.

Bahwa perempuan tidak seharusnya dijadikan sebagai obyek seksual para pria atau sebaliknya kaum perempuan melihat para laki-laki sebagai obyek seksual semata menjadikan kritik terhadap perilaku zinah menemui titik terangnya. Perilaku zinah adalah sebuah tindakan kedosaan yang melanggar kemurnian tubuh  manusia. Tubuh yang digambarkan Kitab Suci sebagai Bait Allah hendaknya selalu menyiratkan misteri Allah yang selalu bernaung di dalamnya. Tubuh menjadi sarana yang kudus bagi Allah untuk mewujudkan eksistansi Diri-Nya secara nyata di tengah dunia. Setiap manusia seturut ajaran ilahi, memperlakukan tubuhnya demi memuliakan nama-Nya dan mengajarkan cinta kasih secara total kepada sesamanya. Cinta kasih antara suami dan istri menjadi bukti implementasi kemurnian tubuh manusia sebagai tubuh Allah sendiri. Karena hanya dalam perkawinan, tindakan seksualitas itu mendapat tempat karena sudah dimeteraikan oleh Allah sendiri. Kesatuan suami istri bukan hanya luhur dan mulia tetapi bersifat ilahi, karena dihendaki oleh Allah dan menunjuk pada kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya (Iman Katolik, hal.437). Di luar perkawinan yang sah, segala bentuk tindakan seksual adalah tindakan zinah yang menodai kemurnian tubuh manusia. 

Ajaran Gereja mengenai perintah keenam “jangan berzinah”, menggambarkan aspek kemurnian yang harus dimiliki oleh setiap manusia. Katekismus Gereja Katolik mendeskripsikan kemurnian sebagai suatu kebajikan moral. Suatu anugerah dari Allah. Suatu rahmat atau suatu buah dari upaya rohaniah. Gereja memandang seksualitas lebih dari sekedar tindakan fisik. Seksualitas berdampak pada seluruh tubuh dan jiwa sehingga gereja mengajarkan bahwa kemurnian merupakan suatu kebajikan dan semua orang dipanggil untuk meraihnya. Kemurnian didefinisikan sebagai kesatuan batin seseorang dalam “keberadaanya sebagai makhluk jasmani dan rohani”, yang berhasil mengintegrasikan seksualitasnya dengan “seluruh sifat manusianya “ (https://id.m.wikipedia.org).

Panggilan untuk menjaga kemurnian tubuh adalah sebuah tuntutan moral yang harus dilaksanakan oleh setiap makhluk beriman. Dengan menyadari makna tubuh sebagai sebuah entitas ilahi, kita semua akan lebih berhati-hati dan bijaksana dalam memperlakukan tubuh kita. Kita tidak akan mudah terjebak untuk melakukan tindakan zinah. Kita akan lebih peka untuk menghargai diri kita dan orang lain. Terutama mereka yang menjadi lawan jenis kita. Kesadaran akan tubuh sebagai bait kudus Allah juga menghantar kita untuk semakin mengakui dan menguduskan lembaga perkawinan yang menyatukan tubuh seorang laki-laki dan tubuh seorang perempuan. Bagi mereka yang telah diikat dalam institusi perkawinan, panggilan menuju kemurnian tubuh memberi batas yang jelas agar seseorang yang telah terikat di dalamnya tidak boleh melakukan tindakan zinah dan menodai lembaga perkawinan. Hanya dalam perkawinan, tindakan seksual adalah tindakan suci yang menyingkapkan misteri Allah yang kudus. Mari kita menjunjung kemurnian tubuh kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dari seluruh totalitas pribadi kita. Dengan demikian, kita semakin menunjukkan jati diri kita sebagai tubuh mistik Allah. Tubuh yang senantiasa memuji keagungan nama Tuhan dalam setiap perkataan dan perbuatan yang baik. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 09 Juni 2020

SPIRIT KASIH DARI HUKUM


Mat 5:17-19
Ada pepatah latin yang mengatakan serva ordinem et ordo servabit te (peliharalah aturan maka aturan akan memelihara engkau). Memang benar, kedudukan hukum yang berisi sejumlah perangkat norma dan aturan dalam kehidupan masyarakat itu amat dibutuhkan. Hukum menjadi pedoman atau kompas agar hidup masyarakat menjadi terarah dan seimbang. Hukum memberi jaminan terlaksananya segala kewajiban dan hak yang diterima oleh seorang warga (masyarakat). Esensi  hukum itu menjamin segala ketertiban, keteraturan, keamanan dan kenyamanan dalam hidup. Karena itu hukum dan segala peraturannya bersifat memaksa. Tidak ada kompromi di dalamnya. Ada sanksi tegas yang diterima bagi para pelanggarnya. Sanksi hukum yang diterima disesuaikan dengan kategori pelanggaran yang dibuat. Demikian pula dengan keberadaan hukum taurat yang menjadi napas kehidupan dari umat Yahudi sendiri. Hukum taurat terdapat dalam sebuah kitab suci yang bernama kitab taurat. Kitab ini merupakan kitab suci agama Yahudi. Di dalam kitab ini berisi banyak sekalih peraturan yang memuat berbagai perintah dan larangan yang harus ditaati oleh segenap umat Yahudi. Peraturan-peraturan keras ditetapkan untuk menjamin agar orang-orang Yahudi yang wajib menjalankan hukum taurat tetap terpisah dari bangsa-bangsa lain. Kawin campur dilarang. Bangsa Yahudi diharuskan menjauhkan diri dari pergaulan dengan orang-orang asing. Hari-hari raya dan kebiasaan-kebiasaan saleh harus dilakukan dengan seksama. Justru dalam kesungguhan untuk menjalankan hukum taurat Musa dengan seksama, muncul suatu kesesatan baru. Umat Allah melarikan diri dari Allah yang hidup. Seluruh perhatian diarahkan pada perbuatan-perbuatan manusia dan mereka mengabaikan perbuatan-perbuatan luhur Allah (Allah Menggugat, hal.376). Para pemuka agama Yahudi menjadi lokomotif (memegang peranan utama) dari seluruh pola hidup umat yang berada di bawahnya. Mulai dari dalam rumah ibadah sampai di luar rumah ibadah. Mereka sendiri yang menentukan mana perbuatan yang sesuai dengan hukum taurat atau tidak. Otorisasi peran ini yang dalam banyak hal menimbulkan ketidakadilan dan penindasan di tengah umat Yahudi.

Kenyataan hidup umat Yahudi yang sangat legalistik formal tersebut, menjadi sasaran kritik dari Yesus sendiri. Yesus tidak mempersoalkan produk hukum taurat. Hukum taurat secara in se adalah hukum Allah yang suci. Yang menjadi soal adalah hukum taurat tidak lagi dihidupi sesuai dengan spirit atau semangat dari Allah sendiri. Hukum Taurat yang dikembangkan oleh para pemimpin Yahudi telah dikeluarkan dari konteks rahmat Allah yang mendahuluinya. Taurat tidak lagi dilihat sebagai jawaban terhadap belas kasih dan perbuatan baik Allah, melainkan sebagai syarat yang harus dipenuhi, agar Allah berbelas kasih (Allah Menggugat, hal. 376). Padahal Allah tidak perlu “disogok” untuk mendapatkan kasih dari-Nya. Kasih Allah melampaui segala aturan dan norma yang dibuat oleh manusia. Hukum taurat telah berubah menjadi seperangkat peraturan dan norma yang kaku. Demi mendapatkan belas kasih Allah, Para pemimpin Yahudi mewajibkan dengan keras agar umatnya sungguh-sungguh melaksanakannya segala kewajiban dan menjauhi segala larangan yang tertuang di dalam kitab taurat. Walaupun ditindas dan terzolimi, umat tetap melaksanakannya dengan terpaksa karena takut dengan para pemimpinnya. Kehadiran Yesus yang melawan penerapan segala aturan agama Yahudi yang kaku tersebut mendapat resistensi atau perlawanan dari pemimpin agama Yahudi sendiri. Mereka merasa Yesus sebagai batu sandungan yang menghalangi segala aktivitas keagamaan umat Yahudi. Yesus dicap sebagai pembangkang dan pembelot yang ingin merubah segala aturan dan ketentuan yang sudah tertulis rapi dalam kitab taurat. Tentu saja Yesus menolak semua klaim yang dinyatakan oleh para elit agama. Yesus mengatakan: “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya “(Mat 5:17). Yesus tidak bermaksud sedikit pun untuk menambah atau mengurangi eksistensi dari hukum taurat. Yesus justru mau memberi makna baru dari keberadaan hukum taurat itu sendiri.

Hukum Taurat sebenarnya mengungkapkan kasih Allah kepada umat Israel. Dan sebaliknya, hukum taurat menjadi penuntun bagi para penganut agama Yahudi untuk mengekspresikan kasihnya kepada Allah. Oleh karena itu, prinsip dasar dari pelaksanaan hukum taurat itu harus datang dari ketulusan dan kesadaran umat sendiri. Umat Yahudi tidak boleh merasa beban apalagi merasa takut dengan para pemimpinnya. Hukum taurat harus membebaskan manusia dari segala beban dan menyelamatkan manusia dari segala keterpurukan hidupnya. Karena spirit dari hukum taurat itu adalah spirit kasih. Kasih yang sungguh menyembuhkan dan menyelamatkan jiwa dan raga manusia. Hukum taurat tidak boleh jatuh ke dalam perangkat hukum yang membatasi hak asasi dan menghalangi keselamatan jiwa manusia. Konsep inilah yang menjadi dasar dari penggenapan sekaligus pembaruan hukum taurat yang dibawa oleh Yesus.

Spirit kasih yang dibawa Yesus dalam hukum taurat menyadarkan kita juga tentang segala aturan dan norma yang berlaku dalam hidup kita di tengah masyarakat. Khususnya, dalam kehidupan di komunitas Rumah Sakit Bukit Lewoleba yang kita cintai ini. Kita menyadari ada seperangkat norma dan aturan yang menjadi panduan atau kompas dalam menjalankan tugas dan rutinitas sesuai dengan tupoksi kita masing-masing. Dan aturan itu bersifat wajib, harus kita taati. Walaupun bersifat wajib, hendaknya aturan itu tidak membelenggu dan menjadi beban dalam tugas dan pekerjaan kita. Hukum itu boleh berdiri sebagai perangkat hukum yang tegas tetapi kehadirannya tidak boleh membelenggu dan membatasi martabat pribadi kita sebagai manusia. Hukum dan segala perangkatnya di komunitas ini, harus mengakomodir segala kepentingan dan membawa keamanan dan kenyamanan dalam bekerja bagi seluruh warganya. Orang harus dengan bebas dan sukarela menjalaninya. Bukan karena terpaksa. Kita dilatih tidak sekedar untuk berdisiplin dalam waktu. Kita dilatih juga untuk menjadi pribadi yang jujur, loyal, setia, tanggungjawab, dan militan dalam bekerja. Dan di atas semua itu, spirit kasih menjadi payung yang sungguh-sungguh menghargai harkat dan martabat kita sebagai manusia yang merdeka. Keberadaan hukum dalam wujud norma dan aturan di tempat ini, hendaknya semakin menguatkan identitas dan integitas pribadi kita sebagai makhluk yang selalu terarah pada hukum kasih Allah. Kita menjadi pribadi yang lebih matang dalam menghayati semangat kasih yang terkandung dalam norma dan aturan yang berlaku di tempat kerja ini. Mari kita selalu menjunjung segala aturan dan norma berdasarkan spirit kasih demi memberikan pelayanan yang prima bagi sesama saudara kita yang sementara membutuhkan uluran tangan kita. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 07 Juni 2020

SABDA TUHAN YANG MENEGUHKAN DAN MENANTANG


Mat 5:1-12
Ada seorang sahabat saya pernah mensyeringkan pengalamannya bahwa ia pernah mengalami masa penuh pencarian tentang adanya Tuhan. Ia merasa saat itu adalah saat dimana ia berada di level kehidupannya yang paling rendah. Karena ia belum betul-betul mengalami Tuhan dalam hidupnya. maka secara otomatis, agama yang melekat pada identitas pibadinya hanya berlaku secara formalitas-administratif saja. Ketika secara tanpa sengaja, telinganya menangkap firman Tuhan yang dikumandangkan dari tempat ibadah, batinnya memberontak dan rasionya segera menangkap bahwa itu semua adalah fatamorgana. Hanya ilusi semata. Ia semakin yakin dengan kata-katanya Karl Marx bahwa agama beserta ajarannya hanyalah opium yang meninabobokan manusia. Agama dan ajaran tentang Tuhan hanya membuat manusia terhibur dari segala rasa sakit dan penderitaan yang dialami di atas dunia. Ajaran agama membuat manusia terlelap untuk tidak bangkit dan berjuang untuk mengatasi segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sebegitu jauhnya sahabat saya ini terperosok dari kehidupan imannya. Ia mengalami kematian dalam imannya akan Allah. 
Tetapi semua itu berubah ketika ia mengalami sebuah keajaiban dalam hidupnya. Ia menderita sakit yang cukup parah. Dokter sudah memvonis bahwa tidak ada kemungkinan dari sisi medis untuk menyembuhkannya. Ia hanya berdoa dalam hatinya: “Kalau Engkau Tuhan benar-benar ada, tunjukkan kehebatan-Mu biar aku tidak ragu-ragu lagi dengan imanku.” Anehnya, beberapa hari kemudian, ia merasakan ada perubahan dalam dirinya. Ia merasa lebih kuat dan tidak merasa sakit lagi. Dokter yang merawatnya juga merasa heran dan bingung dengan perubahan yang dialaminya. Sahabat saya tentu merasa senang dan bahagia. Lebih bahagia lagi karena moment itu adalah moment pertemuannya dengan Tuhan yang sungguh nyata. Tuhan sungguh ada dan menjawab segala keraguan yang dimilikinya. Ia semakin yakin bahwa Tuhan  tidak pernah meninggalkan manusia sendiri dalam keterpurukan hidupnya. Secara kasat mata Ia memang tiada tetapi firman-Nya sungguh-sungguh hidup dan menyembuhkan.

Ketika melihat banyak orang berkumpul, Yesus segera naik ke atas bukit dan mulai mengucapkan sabda bahagia-Nya kepada mereka (Mat 5:1-12). Orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya bukan saja para mantan pasien-Nya yang telah sembuh dari berbagai penyakit. Ada juga banyak orang dari berbagai daerah –Dekapolis, Yerusalem, Yudea, seberang Yordan- yang punya kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan sosok Yesus yang luar biasa ini (Mat 4:25). Pada pokoknya, Yesus mengetahui bahwa kumpulan orang yang ada di hadapan-Nya adalah orang-orang yang memiliki latar kehidupan yang minus. Mereka datang dari golongan masyarakat kelas bawah. Ada orang miskin, ada orang yang sementara lapar dan haus, ada orang yang lagi berdukacita, ada orang yang sementara mengalami penindasan dan penganiayaan, dan sebagainya. Backround orang-orang inilah yang mendorong Yesus untuk memberikan penghiburan, kekuatan dan peneguhan kepada mereka dalam bentuk delapan sabda bahagia.

Pertama, Yesus mengatakan bahwa mereka yang miskin di dunia tentu tidak miskin di hadapan Allah. Karena mereka yang akan memiliki Kerajaan Sorga. Kata miskin hendaknya tidak ditafsirkan secara lurus saja bahwa hanya mereka yang miskin secara ekonomi yang diperhatikan Tuhan. Kata miskin merujuk pada orang-orang yang miskin secara rohani. Semua orang yang sedang menantikan berkat yang melimpah dari Tuhan. Kedua, Yesus menyampaikan penghiburan-Nya bagi mereka yang sementara berdukacita. Dukacita tidak saja karena kemiskinan, rasa lapar dan penindasan, tetapi dukacita oleh karena dosa-dosa yang telah meliliti kehidupan mereka. ketiga, Yesus menyampaikan harapan-Nya untuk mereka yang lemah lembut. Mereka yang memiliki kelembutan dan kerendahan hati, bumi akan menjadi milik mereka. Keempat, orang yang lapar dan haus bukan hanya karena makanan dan minuman tetapi lapar dan haus karena kebenaran. 
Mereka yang tersisih dan termarginalisasi dari realitas sosial. Sesungguhnya mereka akan mendapatkan kebenaran. Kelima, kebahagiaan ditujukan bagi mereka yang murah hati. Mereka yang bukan saja menunjukkan kepekaan hatinya untuk menolong tetapi juga mereka yang mempunyai jiwa besar untuk memberi pengampunan kepada orang lain. Keenam, orang yang suci hatinya akan melihat Allah. Mereka sungguh dekat dengan Allah karena relasi yang begitu intim terbangun berkat komunikasi suci dengan-Nya. Mereka juga memelihara pikirannya dalam nama-Nya. Dan mengejawantakannya dalam perbuatan-perbuatan besar demi memuliakan nama Allah. Ketujuh, mereka yang berbahagia adalah mereka yang membawa damai. Di tengah konflik dan perpecahan, orang-orang ini sungguh membawa rasa damai walaupun mungkin dengan mengorbankan apa yang mereka miliki termasuk nyawa mereka. Mereka layak disebut sebagai anak-anak Allah. Kedelapan, orang-orang yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam bentuk apa saja. Termasuk melawan sistem yang tidak adil demi memperjuangan hak-hak rakyat kecil. Kemudian mereka dianiaya dan mengorbankan nyawa mereka demi kebenaran. Merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Bagi kita orang Kristen, delapan sabda bahagia ini menjadi sebuah refleksi yang meneguhkan sekaligus menantang hidup iman kita. Di satu sisi, kita bisa menjadi orang-orang yang diteguhkan dalam delapan sabda bahagia itu. Mungkin kita pernah atau sedang mengalami suatu situasi yang tidak mengenakan batin kita. Situasi kemiskinan, dukacita, penindasan, penganiayaan, dan sebagainya. Sebagai orang beriman, kita tidak perlu takut karena Tuhan Yesus telah memberikan respeknya melalui sabda-Nya. Kita adalah orang-orang berbahagia yang pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Di sisi lain, firman Tuhan itu menjadi tantangan bagi kita orang Kristen yang belum menunjukkan jati diri kita sebagai orang Kristen yang sesungguhnya. Bahkan bisa saja kita menjadi para pelaku yang seringkali tidak membawa rasa damai bagi orang lain. Kehadiran kita acapkali membawa konflik dan malapetaka bagi situasi di sekitar kita. Kita masih menjadi pribadi yang congkak dan individualistik yang mengorbankan orang lain demi memuaskan kepentingan pribadi kita. Melalui sabda-Nya, Yesus mengharapkan kita menjadi orang yang memiliki kelembutan hati, sikap murah hati, dan sikap pembawa damai. Karena dengan itu kita akan menjadi orang-orang suci. Orang-orang yang mampu melihat Allah dalam seluruh realitas hidup yang kita jalani.

Pengalaman iman dari sang sahabat turut pula meneguhkan saya secara pribadi. Dan tentu kita semua yang membaca refleksi ini. Bahwa firman Tuhan itu tidak sekedar kata-kata yang menghibur dan menguatkan ziarah hidup kita. Ia sungguh-sungguh hidup dan nyata dalam seluruh firman-Nya. Ia telah memperhatikan keadaan orang yang selalu berseru kepada-Nya. Saya meyakini, kita semua mempunyai pengalaman rohani masing-masing yang membuat kita semakin teguh beriman kepada-Nya. Dengan pengalaman demikian, semakin menantang kita untuk terus berjalan dan menghidupi firman itu dalam hidup kita sehari-hari. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 02 Juni 2020

HAL KEHIDUPAN KEDUA


Mrk 12:18-27
Bacaan Injil kemarin mengisahkan orang Farisi dan kelompok Herodian (para loyalis Herodes) yang datang kepada Yesus untuk bertanya soal pajak (Mrk 12:13-17). Hari ini giliran orang Saduki yang mendatangi Yesus dan mempertanyakan soal kebangkitan (Mrk 12:18-27). Sebelum kita membahas substansi kebangkitan yang dipertanyakan orang Saduki, ada baiknya kita mengenal setidaknya ada empat kelompok Yahudi yang hidup pada zaman Yesus. Pertama, Golongan Farisi. Golongan ini adalah kelompok pemimpin spiritual Yahudi yang berkembang pada masa Bait Allah ke-2. Kaum Farisi adalah perkembangan dari kelompok Hasidim. Kelompok Hasidim adalah kelompok yang menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh. Orang Farisi tidak saja mempercayai taurat Musa yang menjadi kitab suci mereka, tetapi juga menghidupi berbagai tradisi yang berkembang di dalam agama Yahudi.
Mereka meyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya malaikat, dan kedatangan Mesias yang diutus Allah untuk membebaskan mereka dari bangsa Romawi. Berbeda dengan kelompok Saduki yang tidak mempercayainya. Dibandingkan dengan golongan Saduki, golongan Farisi lebih dekat dengan kalangan bawah atau masyarakat akar rumput. Hal ini dimungkinkan karena orang Farisi lebih banyak memperhatikan dan mengakomodir kepentingan mereka. Kedua, kelompok Saduki. Kelompok ini adalah kelompok aristokrat atau bangsawan Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Kelompok ini adalah kelompok konservatif, yang hanya mendasarkan kepercayaan mereka pada Kitab Taurat. Kelompok Saduki menguasai mayoritas dari 70 kursi anggota majelis yang berkuasa.
Mereka terdiri dari para imam kepala dan imam besar; golongan para elit agama Yahudi yang sangat disegani. Meskipun demikian mereka tidak cukup dekat dengan kalangan bawah dari masyarakat Yahudi. Kelompok ini lebih condong membela kepentingan Romawi. Hal ini sangat masuk akal terjadi karena mereka ingin mengamankan kepentingan kelompok termasuk jabatan atau kekayaan yang mereka miliki. Ketiga, kelompok Eseni atau komunitas Qumran. Kelompok ini adalah kelompok orang yang mengisolasi diri dari hingar bingar kehidupan duniawi. mereka menganggap bahwa dunia itu kotor, penuh kejahatan dan tipu muslihat yang membawa kesesatan dosa. Oleh karena itu harus dihindari. Mereka mendiami wilayah sepanjang tepi laut mati yang dinamakan qumran. Doa dan meditasi adalah napas hidup keseharian mereka. Keempat, orang Zelot. Kelompok ini adalah organisasi sosial politik yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan orang Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi.

Dengan membawa kasus perkawinan Levirat, orang Saduki datang kepada Yesus untuk bertanya soal kebangkitan. Atau hidup sesudah mati. Perkawinan Levirat adalah perkawinan yang terjadi antara seorang janda dengan saudara kandung mantan suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat saat itu. Karena tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati, kemudian mereka bertanya kepada Yesus, siapakah yang akan menjadi suaminya kelak apabila wanita tersebut juga mati dan mengalami kehidupan keduanya. Yesus mengkounter pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa pikiran mereka sesat. Mereka tidak mengerti tentang Kitab Suci dan kuasa Allah. Orang yang mati dan telah mengalami kebangkitan, tidak mengalami kehidupan seperti di dunia.
Mereka tidak akan berpikir tentang pasangan hidup. Apalagi memiliki pasangan hidup sama seperti waktu di dunia. Mereka akan hidup seperti malaikat. Tubuh mereka bukan lagi tubuh jasmani duniawi tetapi tubuh yang bersifat rohani surgawi. Mereka telah tinggal dalam kemuliaan Allah dan selalu sibuk hanya demi melayani Allah. Bukan seperti yang dibayangkan oleh orang Saduki. Pikiran mereka dangkal karena mereka menyamakan kehidupan setelah kematian sama dengan kehidupan di dunia. Kuasa Allah itu jauh melebihi pikiran manusia. Allah tidak bisa digiring dalam pikiran sederhana manusia. Allah itu adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Abraham, Ishak, dan Yakub pernah mengalami kehidupan jasmani di dunia. Dan mereka telah mati dan kemudian mengalami kebangkitan. Dengan mengatakan bahwa Allah itu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, semakin menegaskan bahwa ketiga bapa bangsa Israel itu telah menjalani kehidupan spiritual mereka dalam kemuliaan Bapa di sorga.

Jawaban Yesus atas pertanyaan orang Saduki soal kebangkitan orang mati, membawa refleksi iman yang mendalam dalam kehidupan nyata kita di atas dunia ini. Pertama, hanya dalam terang iman kita bisa menangkap bahwa kebangkitan itu adalah sebuah keniscayaan. Bukan sesuatu yang mustahil. Orang yang hanya mengandalkan pikiran atau rasio dalam hidupnya, akan sulit mengerti adanya kehidupan kedua yang dialami oleh seorang manusia. Ia akan seperti orang Saduki yang mengalami kesesatan berpikir. Dan pada akhirnya tidak mengakui adanya kebangkitan itu. Kedua, kehidupan setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan pertama di dunia. Ia akan hidup suci, tanpa cela. Tubuhnya bukan tubuh jasmani lagi. Melainkan tubuh spiritual. Dalam keadaan tubuh yang demikian, tentu ia tidak sibuk dan disibukkan lagi dengan urusan duniawi. Ia hanya bersekutu dalam kemuliaan Bapa di sorga. Dalam keterpesonaan dengan cahaya ilahi, seorang manusia akan sibuk melayani Allah. Bukan dengan yang lain. Ketiga, dengan mengetahui adanya kebangkitan itu, semakin memotivasi kita, kaum beriman, untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup kita di dunia ini.

Mari kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan bersikap terbuka dan menyerahkan diri secara total ke dalam penyelenggaraan ilahi. Hanya dengan demikian kita akan semakin memahami setiap bisikan ilahi yang kita dengar atau baca melalui firman-Nya terutama menyangkut kehidupan kedua setiap manusia setelah lepas dari keterikatan dunia ini. Dengan memahami setiap bisikan ilahi, kita akan dimampukan untuk berpikir dan berbuat yang benar sesuai dengan kehendak Allah. Tentu saja hal demikian akan sangat membantu kita membuat persiapan diri secara matang untuk menyongsong kehidupan kedua setelah kematian yang penuh nuansa spiritual. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***