Selasa, 30 Juni 2020
Percayalah Kepada Tuhan Dengan Segenap Hatimu
Kamis, 25 Juni 2020
KITA BUTUH DITAHIRKAN
Selasa, 23 Juni 2020
Masuklah Melalui Pintu Yang Sesak Itu
Kamis, 18 Juni 2020
KELEGAAN MENJADI MILIK KITA
1 Yoh 4:7-16 dan Mat 11:25-30
Apakah anda salah satu orang yang percaya akan adanya mukjizat dalam hidup? Banyak orang yang menganggap mukjizat atau peristiwa ajaib sebagai sesuatu yang mustahil. Kalau pun itu ada, banyak orang percaya bahwa mukjizat itu hanya terjadi pada zaman nabi dan Yesus yang kisahnya terpatri ribuan tahun yang lalu. Pada era ini, sangat tidak mungkin mukjizat itu terlaksana dalam hidup manusia. Sikap skeptis tentang adanya mukjizat ini mungkin juga mempengaruhi pola pikir kita. Wajar saja apabila setiap orang bersikap rasional karena orang tidak mau jatuh dalam cara berpikir yang sesat atau takhyul. Ada filsuf yang berani mengatakan bahwa orang-orang yang mengharapkan mukjizat dalam hidupnya adalah kumpulan orang lemah. Orang yang telah mengalami kematian rasionya sehingga mengharapkan kekuatan luar yang bersifat irasional atau supranatural. Termasuk perihal mukjizat dari Tuhan. Mereka (para filsuf) menegasikan mukjizat sekaligus adanya Tuhan di dalamnya (mukjizat). Berbicara tentang Tuhan hampir tidak pernah terlintas dalam pikiran orang-orang yang berpikir rasional. Apalagi berbicara tentang mukjizat. Itu non sense.
Mungkin ibu yang saya kenal
ini adalah pengecualiannya. Ia termasuk segelintir orang yang percaya akan
adanya mukjizat dalam hidup. Ia orang yang cukup religius. Ia rajin beribadah
dan aktif mengikuti segala kegiatan sosial keagamaan di komunitas tempat
tinggalnya . Tidak itu saja. Ia juga mempunyai kematangan emosional dalam
menghadapi setiap persoalan hidupnya. Ia percaya ada semacam invisible hand yang turut memainkan
peran dalam setiap keberhasilan dan kegagalan yang ia alami. Invisible hand itu adalah Tuhan sendiri.
Ada satu pengalaman yang membuat ia yakin bahwa mukjizat itu benar-benar nyata
dalam setiap hidup manusia. Pada suatu saat, salah seorang anaknya yang sedang
mengenyam pendidikan di SMU Seminari Hokeng Larantuka mengalami sakit Typus.
Sang ibu tentu saja merasa sangat sedih. Sang suami yang kelihatan lebih
rasional mengarahkan sang istri supaya pergi menjemput sang anak untuk pulang
ke rumah saja. Dalam situasi yang pelik, sang ibu memasrahkan sakit anaknya
kepada kuasa Tuhan. Semalaman ia berdoa seorang diri mohon petunjuk Tuhan, apa
yang harus ia lakukan. Apakah ia harus berangkat menjemput anaknya atau tidak.
Keesokan harinya, ketika ia dan sang suami sedang mempersiapkan diri untuk
berangkat menemui anaknya, tiba-tiba mereka mendapat telepon dari seorang perfek (pembina) bahwa anak mereka sudah
sembuh dan telah mengikuti kegiatan belajar di kelas. Sang ibu percaya, itu
adalah mukjizat dari Tuhan yang datang pada saat ia mengalami keletihan dan
kesusahan dalam hidupnya.
Tuhan sungguh mengasihi sang ibu sehingga Ia menyelamatkan anaknya yang sementara menderita sakit. Tuhan telah memberi kelegaan kepada sang ibu bukan karena kasih sang ibu kepada-Nya, tetapi karena sesungguhnya Tuhan itu adalah kasih. “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi (1 Yoh 4:10).” Sang ibu hanya berpasrah secara total dan mengaku bahwa Yesus adalah anak Allah yang hidup sehingga “Allah telah berada di dalam dia dan dia di dalam Allah” (1 Yoh 4:15). Tuhan menjawab segala kegelisaan dan kegalauan hatinya dengan menunjukkan kasih-Nya yang maha besar. Sang ibu tidak pernah menuntut atau memaksa Tuhan untuk memberi mukjizat kepadanya. Tetapi Tuhan karena kasih-Nya, telah berlaku adil dengan menyembuhkan anak yang sementara menderita sakit.
Tuhan tidak pernah ingkar janji karena Ia sendiri pernah berujar: “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu (Mat 11:28).” Tuhan tahu apa yang sementara dirasakan oleh orang banyak pada saat itu. Dan pastinya kita semua pada saat ini. Orang yang sementara memikul beban berat karena kemiskinan, penganiayaan dan penindasan. Tuhan tidak sekedar memberi penghiburan dan kekuatan melalui sabda-Nya. Sabda-Nya bukan kata-kata kosong tetapi sabda yang membawa berkat. Sabda yang menghidupkan. Ia mengajak semua orang “pinggir” dan termarginalisasi untuk datang kepada-Nya. Karena dengan demikianlah tujuan utama kedatangan-Nya untuk menyelamatkan mereka yang terpuruk dalam hidupnya. Hanya kepada Dialah, mereka bisa mendapatkan kelegaan dalam hidup. Kelegaan untuk dipuaskan, disembuhkan, diselamatkan dan diangkat menjadi pribadi yang mulia di hadapan-Nya.
Pengalaman sederhana sang ibu di atas, menguatkan saya secara pribadi bahwa hanya dalam terang iman, mukjizat Tuhan dapat dibaca dan diakui kebenarannya. Hanya orang yang mau dengan sungguh-sungguh memasrahkan dirinya secara total kepada Allah akan mendapat berkat kelegaan dalam hidup. Berkat Tuhan itu senantiasa terpancar dalam hidup manusia. Tuhan tidak pernah memaksa manusia untuk mengikuti Dia. Ia hanya memberi tawaran dan manusia berhak memilih untuk bergabung dengan-Nya atau menolak. Untuk manusia yang mau menerima berkat dari-Nya, Ia akan memberi kelegaan kepada mereka. Kelegaan untuk mendapatkan kekuatan, kesehatan, keberhasilan dan keselamatan dalam hidup. Dan itulah mukjizat-mukjizat yang kadang tidak pernah kita sadari dalam hidup. Bagi mereka yang masih “Jauh” dari Tuhan, kasih-Nya tetap terpancar. Tangan-Nya senantiasa terbuka untuk menerima mereka yang menyadari kesesatan dan kembali kepada-Nya. Marilah kita senantiasa menyerahkan diri secara total kepada Tuhan karena Dia akan memberi kelegaan kepada kita. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***