Selasa, 16 Juni 2020

Kasih Menjiwai Kita Melakukan Yang Lebih

Mat 5:38-42
Kejahatan dilakukan oleh orang yang kekuranagan atau kehampaan kasih. Kasih menggerakkan orang untuk berbuat baik, namun ketika ruang untuk kasih itu menjadi kosong maka akan diisi oleh kekuatan lain, termasuk keinginan-keinginan buruk yang menggerakkan orang untuk melakukan yang tidak baik. Nafsu secara tidak teratur adalah pangkal dari segala kelakuan buruk dan perbuatan yang berlawanan dengan kasih.
Ahab, raja Israel, adalah seorang yang membiarkan dirinya dirasuki oleh keinginan-keinginan yang tidak teratur sehingga oleh kekuatan itu ia tidak memandang lagi baik atau buruk perbuatannya. Dengan kematian Nabot yang penuh dengan rekayasa, Ahab mengambil hak milik Nabot menjadi miliknya. Tidak dikira bahwa itulah kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan.
Sebagai akibat dari perbuatannya, Ahab menanggung hukuman sebagaimana ia menghukum Nabot yang tidak bersalah. Kepadanya, melalui Elia, Tuhan menyatakan pembalasan atas perbuatannya. “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab, baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel” (1 Raj 21:21).

Tuhan membalaskan perbuatan jahat yang dilakukan Ahab karena Ia adalah Raja yang adil yang mengadili orang dengan benar dan adil. Tidak ada kompromi atas pengadilan Tuhan. Apa yang dilakukan itu pula hasil yang dituai. Sekalipun Tuhan tidak mendatangkan balasan itu pada zamannya, akan tetapi hukuman itu tetap berlaku dan terlaksana pada masa anaknya. Dan itulah keadilan yang Tuhan nyatakan menurut ukuran-Nya yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Rahasia keadilan Tuhan adalah rahasia-Nya sendiri.
Ketika Tuhan membalas kejahatan Ahab, hal ini tidak dapat kita pertentangkan dengan apa yang diajarkan Yesus dalam Injil hari ini: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu”. Tuhan yang mahakasih tidak akan melakukan yang tidak baik juga ketika Ia membalas kejahatan yang dilakukan oleh Ahab. Ia melakukan yang adil karena Ia adalah adil.
Namun kepada kita Tuhan yang satu dan sama itu menghendaki agar kita umat-Nya tidak melakukan pembalasan atas kejahatan yang diperbuat kepada kita. Sebaliknya yang diminta adalah mengasihi dan berdoa bagi mereka yang berbuat jahat.
Kasih berlawanan dengan kejahatan. Orang yang hidup di dalam kasih tidak akan pernah melakukan yang jahat juga demi alasan mendapatkan keadilan akibat kerugian yang ditimbulkan oleh kejahatan. Kasih mengajarkan pengampunan dan belas kasihan.
Sulit melakukan hal ini ketika kita berada dalam situasi penderitaan dan kerugian akibat kejahatan. Rasa manusiawi itu wajar dan tidak dapat dielak, akan tetapi ketika kita mengalami hal demikian Tuhan sedang bekerja untuk kita. Ia mengubah keadaan kebencian, amarah dan keinginan untuk membalas dendam dengan kasih penuh kerahiman. Bukan hanya menangggung dengan rela segala akibat dan kerugian yang ditimbulkan, melainkan lebih dari itu memberi pengampunan dan berdoa bagi mereka. Itulah kasih kita yang dikerjakan Tuhan dalam diri kita.

Tuhan yang memerintahkan kita melakukan demikian memberikan garansi kepada kita pula untuk memperoleh hidup dalam kesempurnaan. Pengampunan dan doa yang kita lakukan dengan tulus demi musuh-musuh kita adalah wujud dari kasih kita. Dan itulah jalan bagi kita untuk mengejar kesempurnaan yang Tuhan kehendaki bagi kita: Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.

Marilah kita menyadari hidup kita sebagai murid-murid Tuhan yang dipanggil kepada kesempurnaan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar