Mat 5:38-42
Kejahatan
dilakukan oleh orang yang kekuranagan atau kehampaan kasih. Kasih menggerakkan
orang untuk berbuat baik, namun ketika ruang untuk kasih itu menjadi kosong
maka akan diisi oleh kekuatan lain, termasuk keinginan-keinginan buruk yang
menggerakkan orang untuk melakukan yang tidak baik. Nafsu secara tidak teratur
adalah pangkal dari segala kelakuan buruk dan perbuatan yang berlawanan dengan
kasih.
Ahab, raja
Israel, adalah seorang yang membiarkan dirinya dirasuki oleh
keinginan-keinginan yang tidak teratur sehingga oleh kekuatan itu ia tidak
memandang lagi baik atau buruk perbuatannya. Dengan kematian Nabot yang penuh
dengan rekayasa, Ahab mengambil hak milik Nabot menjadi miliknya. Tidak dikira
bahwa itulah kejahatan yang dilakukannya di hadapan Tuhan.
Sebagai akibat
dari perbuatannya, Ahab menanggung hukuman sebagaimana ia menghukum Nabot yang
tidak bersalah. Kepadanya, melalui Elia, Tuhan menyatakan pembalasan atas
perbuatannya. “Sesungguhnya, Aku akan mendatangkan malapetaka kepadamu, Aku
akan menyapu engkau dan melenyapkan setiap orang laki-laki dari keluarga Ahab,
baik yang tinggi maupun yang rendah kedudukannya di Israel” (1 Raj 21:21).
Tuhan membalaskan
perbuatan jahat yang dilakukan Ahab karena Ia adalah Raja yang adil yang
mengadili orang dengan benar dan adil. Tidak ada kompromi atas pengadilan
Tuhan. Apa yang dilakukan itu pula hasil yang dituai. Sekalipun Tuhan tidak
mendatangkan balasan itu pada zamannya, akan tetapi hukuman itu tetap berlaku
dan terlaksana pada masa anaknya. Dan itulah keadilan yang Tuhan nyatakan
menurut ukuran-Nya yang tidak dapat diketahui oleh manusia. Rahasia keadilan
Tuhan adalah rahasia-Nya sendiri.
Ketika Tuhan
membalas kejahatan Ahab, hal ini tidak dapat kita pertentangkan dengan apa yang
diajarkan Yesus dalam Injil hari ini: “Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi
mereka yang menganiaya kamu”. Tuhan yang mahakasih tidak akan melakukan yang
tidak baik juga ketika Ia membalas kejahatan yang dilakukan oleh Ahab. Ia melakukan
yang adil karena Ia adalah adil.
Namun kepada
kita Tuhan yang satu dan sama itu menghendaki agar kita umat-Nya tidak
melakukan pembalasan atas kejahatan yang diperbuat kepada kita. Sebaliknya yang
diminta adalah mengasihi dan berdoa bagi mereka yang berbuat jahat.
Kasih
berlawanan dengan kejahatan. Orang yang hidup di dalam kasih tidak akan pernah
melakukan yang jahat juga demi alasan mendapatkan keadilan akibat kerugian yang
ditimbulkan oleh kejahatan. Kasih mengajarkan pengampunan dan belas kasihan.
Sulit
melakukan hal ini ketika kita berada dalam situasi penderitaan dan kerugian
akibat kejahatan. Rasa manusiawi itu wajar dan tidak dapat dielak, akan tetapi
ketika kita mengalami hal demikian Tuhan sedang bekerja untuk kita. Ia mengubah
keadaan kebencian, amarah dan keinginan untuk membalas dendam dengan kasih
penuh kerahiman. Bukan hanya menangggung dengan rela segala akibat dan kerugian
yang ditimbulkan, melainkan lebih dari itu memberi pengampunan dan berdoa bagi
mereka. Itulah kasih kita yang dikerjakan Tuhan dalam diri kita.
Tuhan
yang memerintahkan kita melakukan demikian memberikan garansi kepada kita pula
untuk memperoleh hidup dalam kesempurnaan. Pengampunan dan doa yang kita
lakukan dengan tulus demi musuh-musuh kita adalah wujud dari kasih kita. Dan
itulah jalan bagi kita untuk mengejar kesempurnaan yang Tuhan kehendaki bagi
kita: Karena itu haruslah kamu sempurna,
sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar