Minggu, 07 Juni 2020

SABDA TUHAN YANG MENEGUHKAN DAN MENANTANG


Mat 5:1-12
Ada seorang sahabat saya pernah mensyeringkan pengalamannya bahwa ia pernah mengalami masa penuh pencarian tentang adanya Tuhan. Ia merasa saat itu adalah saat dimana ia berada di level kehidupannya yang paling rendah. Karena ia belum betul-betul mengalami Tuhan dalam hidupnya. maka secara otomatis, agama yang melekat pada identitas pibadinya hanya berlaku secara formalitas-administratif saja. Ketika secara tanpa sengaja, telinganya menangkap firman Tuhan yang dikumandangkan dari tempat ibadah, batinnya memberontak dan rasionya segera menangkap bahwa itu semua adalah fatamorgana. Hanya ilusi semata. Ia semakin yakin dengan kata-katanya Karl Marx bahwa agama beserta ajarannya hanyalah opium yang meninabobokan manusia. Agama dan ajaran tentang Tuhan hanya membuat manusia terhibur dari segala rasa sakit dan penderitaan yang dialami di atas dunia. Ajaran agama membuat manusia terlelap untuk tidak bangkit dan berjuang untuk mengatasi segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sebegitu jauhnya sahabat saya ini terperosok dari kehidupan imannya. Ia mengalami kematian dalam imannya akan Allah. 
Tetapi semua itu berubah ketika ia mengalami sebuah keajaiban dalam hidupnya. Ia menderita sakit yang cukup parah. Dokter sudah memvonis bahwa tidak ada kemungkinan dari sisi medis untuk menyembuhkannya. Ia hanya berdoa dalam hatinya: “Kalau Engkau Tuhan benar-benar ada, tunjukkan kehebatan-Mu biar aku tidak ragu-ragu lagi dengan imanku.” Anehnya, beberapa hari kemudian, ia merasakan ada perubahan dalam dirinya. Ia merasa lebih kuat dan tidak merasa sakit lagi. Dokter yang merawatnya juga merasa heran dan bingung dengan perubahan yang dialaminya. Sahabat saya tentu merasa senang dan bahagia. Lebih bahagia lagi karena moment itu adalah moment pertemuannya dengan Tuhan yang sungguh nyata. Tuhan sungguh ada dan menjawab segala keraguan yang dimilikinya. Ia semakin yakin bahwa Tuhan  tidak pernah meninggalkan manusia sendiri dalam keterpurukan hidupnya. Secara kasat mata Ia memang tiada tetapi firman-Nya sungguh-sungguh hidup dan menyembuhkan.

Ketika melihat banyak orang berkumpul, Yesus segera naik ke atas bukit dan mulai mengucapkan sabda bahagia-Nya kepada mereka (Mat 5:1-12). Orang-orang yang mendengarkan sabda-Nya bukan saja para mantan pasien-Nya yang telah sembuh dari berbagai penyakit. Ada juga banyak orang dari berbagai daerah –Dekapolis, Yerusalem, Yudea, seberang Yordan- yang punya kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan sosok Yesus yang luar biasa ini (Mat 4:25). Pada pokoknya, Yesus mengetahui bahwa kumpulan orang yang ada di hadapan-Nya adalah orang-orang yang memiliki latar kehidupan yang minus. Mereka datang dari golongan masyarakat kelas bawah. Ada orang miskin, ada orang yang sementara lapar dan haus, ada orang yang lagi berdukacita, ada orang yang sementara mengalami penindasan dan penganiayaan, dan sebagainya. Backround orang-orang inilah yang mendorong Yesus untuk memberikan penghiburan, kekuatan dan peneguhan kepada mereka dalam bentuk delapan sabda bahagia.

Pertama, Yesus mengatakan bahwa mereka yang miskin di dunia tentu tidak miskin di hadapan Allah. Karena mereka yang akan memiliki Kerajaan Sorga. Kata miskin hendaknya tidak ditafsirkan secara lurus saja bahwa hanya mereka yang miskin secara ekonomi yang diperhatikan Tuhan. Kata miskin merujuk pada orang-orang yang miskin secara rohani. Semua orang yang sedang menantikan berkat yang melimpah dari Tuhan. Kedua, Yesus menyampaikan penghiburan-Nya bagi mereka yang sementara berdukacita. Dukacita tidak saja karena kemiskinan, rasa lapar dan penindasan, tetapi dukacita oleh karena dosa-dosa yang telah meliliti kehidupan mereka. ketiga, Yesus menyampaikan harapan-Nya untuk mereka yang lemah lembut. Mereka yang memiliki kelembutan dan kerendahan hati, bumi akan menjadi milik mereka. Keempat, orang yang lapar dan haus bukan hanya karena makanan dan minuman tetapi lapar dan haus karena kebenaran. 
Mereka yang tersisih dan termarginalisasi dari realitas sosial. Sesungguhnya mereka akan mendapatkan kebenaran. Kelima, kebahagiaan ditujukan bagi mereka yang murah hati. Mereka yang bukan saja menunjukkan kepekaan hatinya untuk menolong tetapi juga mereka yang mempunyai jiwa besar untuk memberi pengampunan kepada orang lain. Keenam, orang yang suci hatinya akan melihat Allah. Mereka sungguh dekat dengan Allah karena relasi yang begitu intim terbangun berkat komunikasi suci dengan-Nya. Mereka juga memelihara pikirannya dalam nama-Nya. Dan mengejawantakannya dalam perbuatan-perbuatan besar demi memuliakan nama Allah. Ketujuh, mereka yang berbahagia adalah mereka yang membawa damai. Di tengah konflik dan perpecahan, orang-orang ini sungguh membawa rasa damai walaupun mungkin dengan mengorbankan apa yang mereka miliki termasuk nyawa mereka. Mereka layak disebut sebagai anak-anak Allah. Kedelapan, orang-orang yang berani memperjuangkan kebenaran dan keadilan dalam bentuk apa saja. Termasuk melawan sistem yang tidak adil demi memperjuangan hak-hak rakyat kecil. Kemudian mereka dianiaya dan mengorbankan nyawa mereka demi kebenaran. Merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.

Bagi kita orang Kristen, delapan sabda bahagia ini menjadi sebuah refleksi yang meneguhkan sekaligus menantang hidup iman kita. Di satu sisi, kita bisa menjadi orang-orang yang diteguhkan dalam delapan sabda bahagia itu. Mungkin kita pernah atau sedang mengalami suatu situasi yang tidak mengenakan batin kita. Situasi kemiskinan, dukacita, penindasan, penganiayaan, dan sebagainya. Sebagai orang beriman, kita tidak perlu takut karena Tuhan Yesus telah memberikan respeknya melalui sabda-Nya. Kita adalah orang-orang berbahagia yang pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Di sisi lain, firman Tuhan itu menjadi tantangan bagi kita orang Kristen yang belum menunjukkan jati diri kita sebagai orang Kristen yang sesungguhnya. Bahkan bisa saja kita menjadi para pelaku yang seringkali tidak membawa rasa damai bagi orang lain. Kehadiran kita acapkali membawa konflik dan malapetaka bagi situasi di sekitar kita. Kita masih menjadi pribadi yang congkak dan individualistik yang mengorbankan orang lain demi memuaskan kepentingan pribadi kita. Melalui sabda-Nya, Yesus mengharapkan kita menjadi orang yang memiliki kelembutan hati, sikap murah hati, dan sikap pembawa damai. Karena dengan itu kita akan menjadi orang-orang suci. Orang-orang yang mampu melihat Allah dalam seluruh realitas hidup yang kita jalani.

Pengalaman iman dari sang sahabat turut pula meneguhkan saya secara pribadi. Dan tentu kita semua yang membaca refleksi ini. Bahwa firman Tuhan itu tidak sekedar kata-kata yang menghibur dan menguatkan ziarah hidup kita. Ia sungguh-sungguh hidup dan nyata dalam seluruh firman-Nya. Ia telah memperhatikan keadaan orang yang selalu berseru kepada-Nya. Saya meyakini, kita semua mempunyai pengalaman rohani masing-masing yang membuat kita semakin teguh beriman kepada-Nya. Dengan pengalaman demikian, semakin menantang kita untuk terus berjalan dan menghidupi firman itu dalam hidup kita sehari-hari. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar