Mat 5:1-12
Ada seorang sahabat saya pernah mensyeringkan pengalamannya bahwa ia pernah
mengalami masa penuh pencarian tentang adanya Tuhan. Ia merasa saat itu adalah
saat dimana ia berada di level kehidupannya yang paling rendah. Karena ia belum
betul-betul mengalami Tuhan dalam hidupnya. maka secara otomatis, agama yang
melekat pada identitas pibadinya hanya berlaku secara formalitas-administratif
saja. Ketika secara tanpa sengaja, telinganya menangkap firman Tuhan yang
dikumandangkan dari tempat ibadah, batinnya memberontak dan rasionya segera
menangkap bahwa itu semua adalah fatamorgana. Hanya ilusi semata. Ia semakin
yakin dengan kata-katanya Karl Marx bahwa agama beserta ajarannya hanyalah
opium yang meninabobokan manusia. Agama dan ajaran tentang Tuhan hanya membuat
manusia terhibur dari segala rasa sakit dan penderitaan yang dialami di atas
dunia. Ajaran agama membuat manusia terlelap untuk tidak bangkit dan berjuang
untuk mengatasi segala kesulitan hidup yang dialaminya. Sebegitu jauhnya
sahabat saya ini terperosok dari kehidupan imannya. Ia mengalami kematian dalam
imannya akan Allah.
Tetapi semua itu berubah ketika ia mengalami sebuah
keajaiban dalam hidupnya. Ia menderita sakit yang cukup parah. Dokter sudah
memvonis bahwa tidak ada kemungkinan dari sisi medis untuk menyembuhkannya. Ia
hanya berdoa dalam hatinya: “Kalau Engkau Tuhan benar-benar ada, tunjukkan
kehebatan-Mu biar aku tidak ragu-ragu lagi dengan imanku.” Anehnya, beberapa
hari kemudian, ia merasakan ada perubahan dalam dirinya. Ia merasa lebih kuat
dan tidak merasa sakit lagi. Dokter yang merawatnya juga merasa heran dan
bingung dengan perubahan yang dialaminya. Sahabat saya tentu merasa senang dan
bahagia. Lebih bahagia lagi karena moment itu adalah moment pertemuannya dengan
Tuhan yang sungguh nyata. Tuhan sungguh ada dan menjawab segala keraguan yang
dimilikinya. Ia semakin yakin bahwa Tuhan
tidak pernah meninggalkan manusia sendiri dalam keterpurukan hidupnya.
Secara kasat mata Ia memang tiada tetapi firman-Nya sungguh-sungguh hidup dan
menyembuhkan.
Ketika melihat banyak orang berkumpul, Yesus segera naik ke atas bukit dan
mulai mengucapkan sabda bahagia-Nya kepada mereka (Mat 5:1-12). Orang-orang
yang mendengarkan sabda-Nya bukan saja para mantan pasien-Nya yang telah sembuh
dari berbagai penyakit. Ada juga banyak orang dari berbagai daerah –Dekapolis,
Yerusalem, Yudea, seberang Yordan- yang punya kerinduan yang mendalam untuk
bertemu dengan sosok Yesus yang luar biasa ini (Mat 4:25). Pada pokoknya, Yesus
mengetahui bahwa kumpulan orang yang ada di hadapan-Nya adalah orang-orang yang
memiliki latar kehidupan yang minus. Mereka datang dari golongan masyarakat
kelas bawah. Ada orang miskin, ada orang yang sementara lapar dan haus, ada
orang yang lagi berdukacita, ada orang yang sementara mengalami penindasan dan
penganiayaan, dan sebagainya. Backround
orang-orang inilah yang mendorong Yesus untuk memberikan penghiburan, kekuatan
dan peneguhan kepada mereka dalam bentuk delapan sabda bahagia.
Pertama, Yesus mengatakan bahwa mereka yang miskin di dunia tentu tidak
miskin di hadapan Allah. Karena mereka yang akan memiliki Kerajaan Sorga. Kata
miskin hendaknya tidak ditafsirkan secara lurus saja bahwa hanya mereka yang
miskin secara ekonomi yang diperhatikan Tuhan. Kata miskin merujuk pada
orang-orang yang miskin secara rohani. Semua orang yang sedang menantikan
berkat yang melimpah dari Tuhan. Kedua, Yesus menyampaikan penghiburan-Nya bagi
mereka yang sementara berdukacita. Dukacita tidak saja karena kemiskinan, rasa
lapar dan penindasan, tetapi dukacita oleh karena dosa-dosa yang telah meliliti
kehidupan mereka. ketiga, Yesus menyampaikan harapan-Nya untuk mereka yang
lemah lembut. Mereka yang memiliki kelembutan dan kerendahan hati, bumi akan menjadi
milik mereka. Keempat, orang yang lapar dan haus bukan hanya karena makanan dan
minuman tetapi lapar dan haus karena kebenaran.
Mereka yang tersisih dan
termarginalisasi dari realitas sosial. Sesungguhnya mereka akan mendapatkan
kebenaran. Kelima, kebahagiaan ditujukan bagi mereka yang murah hati. Mereka
yang bukan saja menunjukkan kepekaan hatinya untuk menolong tetapi juga mereka
yang mempunyai jiwa besar untuk memberi pengampunan kepada orang lain. Keenam,
orang yang suci hatinya akan melihat Allah. Mereka sungguh dekat dengan Allah
karena relasi yang begitu intim terbangun berkat komunikasi suci dengan-Nya.
Mereka juga memelihara pikirannya dalam nama-Nya. Dan mengejawantakannya dalam
perbuatan-perbuatan besar demi memuliakan nama Allah. Ketujuh, mereka yang
berbahagia adalah mereka yang membawa damai. Di tengah konflik dan perpecahan,
orang-orang ini sungguh membawa rasa damai walaupun mungkin dengan mengorbankan
apa yang mereka miliki termasuk nyawa mereka. Mereka layak disebut sebagai
anak-anak Allah. Kedelapan, orang-orang yang berani memperjuangkan kebenaran
dan keadilan dalam bentuk apa saja. Termasuk melawan sistem yang tidak adil
demi memperjuangan hak-hak rakyat kecil. Kemudian mereka dianiaya dan
mengorbankan nyawa mereka demi kebenaran. Merekalah yang empunya Kerajaan
Sorga.
Bagi kita orang Kristen, delapan sabda bahagia ini menjadi sebuah refleksi
yang meneguhkan sekaligus menantang hidup iman kita. Di satu sisi, kita bisa
menjadi orang-orang yang diteguhkan dalam delapan sabda bahagia itu. Mungkin
kita pernah atau sedang mengalami suatu situasi yang tidak mengenakan batin
kita. Situasi kemiskinan, dukacita, penindasan, penganiayaan, dan sebagainya.
Sebagai orang beriman, kita tidak perlu takut karena Tuhan Yesus telah
memberikan respeknya melalui sabda-Nya. Kita adalah orang-orang berbahagia yang
pasti akan mendapatkan ganjaran yang setimpal. Di sisi lain, firman Tuhan itu
menjadi tantangan bagi kita orang Kristen yang belum menunjukkan jati diri kita
sebagai orang Kristen yang sesungguhnya. Bahkan bisa saja kita menjadi para
pelaku yang seringkali tidak membawa rasa damai bagi orang lain. Kehadiran kita
acapkali membawa konflik dan malapetaka bagi situasi di sekitar kita. Kita
masih menjadi pribadi yang congkak dan individualistik yang mengorbankan orang
lain demi memuaskan kepentingan pribadi kita. Melalui sabda-Nya, Yesus
mengharapkan kita menjadi orang yang memiliki kelembutan hati, sikap murah
hati, dan sikap pembawa damai. Karena dengan itu kita akan menjadi orang-orang
suci. Orang-orang yang mampu melihat Allah dalam seluruh realitas hidup yang
kita jalani.
Pengalaman iman dari sang sahabat turut pula meneguhkan saya secara
pribadi. Dan tentu kita semua yang membaca refleksi ini. Bahwa firman Tuhan itu
tidak sekedar kata-kata yang menghibur dan menguatkan ziarah hidup kita. Ia
sungguh-sungguh hidup dan nyata dalam seluruh firman-Nya. Ia telah
memperhatikan keadaan orang yang selalu berseru kepada-Nya. Saya meyakini, kita
semua mempunyai pengalaman rohani masing-masing yang membuat kita semakin teguh
beriman kepada-Nya. Dengan pengalaman demikian, semakin menantang kita untuk
terus berjalan dan menghidupi firman itu dalam hidup kita sehari-hari. Semoga.
Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar