Mrk 12:18-27
Bacaan Injil kemarin mengisahkan orang Farisi dan kelompok Herodian (para
loyalis Herodes) yang datang kepada Yesus untuk bertanya soal pajak (Mrk
12:13-17). Hari ini giliran orang Saduki yang mendatangi Yesus dan
mempertanyakan soal kebangkitan (Mrk 12:18-27). Sebelum kita membahas substansi
kebangkitan yang dipertanyakan orang Saduki, ada baiknya kita mengenal
setidaknya ada empat kelompok Yahudi yang hidup pada zaman Yesus. Pertama,
Golongan Farisi. Golongan ini adalah kelompok pemimpin spiritual Yahudi yang
berkembang pada masa Bait Allah ke-2. Kaum Farisi adalah perkembangan dari
kelompok Hasidim. Kelompok Hasidim adalah kelompok yang menganggap diri mereka
sebagai orang beragama yang saleh. Orang Farisi tidak saja mempercayai taurat
Musa yang menjadi kitab suci mereka, tetapi juga menghidupi berbagai tradisi
yang berkembang di dalam agama Yahudi.
Mereka meyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya
malaikat, dan kedatangan Mesias yang diutus Allah untuk membebaskan mereka dari
bangsa Romawi. Berbeda dengan kelompok Saduki yang tidak mempercayainya.
Dibandingkan dengan golongan Saduki, golongan Farisi lebih dekat dengan
kalangan bawah atau masyarakat akar rumput. Hal ini dimungkinkan karena orang
Farisi lebih banyak memperhatikan dan mengakomodir kepentingan mereka. Kedua,
kelompok Saduki. Kelompok ini adalah kelompok aristokrat atau bangsawan Yahudi
yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M.
Kelompok ini adalah kelompok konservatif, yang hanya mendasarkan kepercayaan
mereka pada Kitab Taurat. Kelompok Saduki menguasai mayoritas dari 70 kursi
anggota majelis yang berkuasa.
Mereka terdiri dari para imam kepala dan imam besar; golongan para elit
agama Yahudi yang sangat disegani. Meskipun demikian mereka tidak cukup dekat
dengan kalangan bawah dari masyarakat Yahudi. Kelompok ini lebih condong
membela kepentingan Romawi. Hal ini sangat masuk akal terjadi karena mereka
ingin mengamankan kepentingan kelompok termasuk jabatan atau kekayaan yang
mereka miliki. Ketiga, kelompok Eseni atau komunitas Qumran. Kelompok ini
adalah kelompok orang yang mengisolasi diri dari hingar bingar kehidupan
duniawi. mereka menganggap bahwa dunia itu kotor, penuh kejahatan dan tipu
muslihat yang membawa kesesatan dosa. Oleh karena itu harus dihindari. Mereka
mendiami wilayah sepanjang tepi laut mati yang dinamakan qumran. Doa dan
meditasi adalah napas hidup keseharian mereka. Keempat, orang Zelot. Kelompok
ini adalah organisasi sosial politik yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan orang
Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi.
Dengan membawa kasus perkawinan Levirat, orang Saduki datang kepada Yesus
untuk bertanya soal kebangkitan. Atau hidup sesudah mati. Perkawinan Levirat
adalah perkawinan yang terjadi antara seorang janda dengan saudara kandung
mantan suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat yang
berlaku dalam masyarakat saat itu. Karena tidak mengakui adanya kebangkitan
orang mati, kemudian mereka bertanya kepada Yesus, siapakah yang akan menjadi
suaminya kelak apabila wanita tersebut juga mati dan mengalami kehidupan
keduanya. Yesus mengkounter pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa pikiran
mereka sesat. Mereka tidak mengerti tentang Kitab Suci dan kuasa Allah. Orang
yang mati dan telah mengalami kebangkitan, tidak mengalami kehidupan seperti di
dunia.
Mereka tidak akan berpikir tentang pasangan hidup. Apalagi memiliki
pasangan hidup sama seperti waktu di dunia. Mereka akan hidup seperti malaikat.
Tubuh mereka bukan lagi tubuh jasmani duniawi tetapi tubuh yang bersifat rohani
surgawi. Mereka telah tinggal dalam kemuliaan Allah dan selalu sibuk hanya demi
melayani Allah. Bukan seperti yang dibayangkan oleh orang Saduki. Pikiran
mereka dangkal karena mereka menyamakan kehidupan setelah kematian sama dengan
kehidupan di dunia. Kuasa Allah itu jauh melebihi pikiran manusia. Allah tidak
bisa digiring dalam pikiran sederhana manusia. Allah itu adalah Allah Abraham,
Allah Ishak, dan Allah Yakub. Abraham, Ishak, dan Yakub pernah mengalami
kehidupan jasmani di dunia. Dan mereka telah mati dan kemudian mengalami
kebangkitan. Dengan mengatakan bahwa Allah itu Allah Abraham, Allah Ishak, dan
Allah Yakub, semakin menegaskan bahwa ketiga bapa bangsa Israel itu telah
menjalani kehidupan spiritual mereka dalam kemuliaan Bapa di sorga.
Jawaban Yesus atas pertanyaan orang Saduki soal kebangkitan orang mati,
membawa refleksi iman yang mendalam dalam kehidupan nyata kita di atas dunia
ini. Pertama, hanya dalam terang iman kita bisa menangkap bahwa kebangkitan itu
adalah sebuah keniscayaan. Bukan sesuatu yang mustahil. Orang yang hanya
mengandalkan pikiran atau rasio dalam hidupnya, akan sulit mengerti adanya
kehidupan kedua yang dialami oleh seorang manusia. Ia akan seperti orang Saduki
yang mengalami kesesatan berpikir. Dan pada akhirnya tidak mengakui adanya
kebangkitan itu. Kedua, kehidupan setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan
pertama di dunia. Ia akan hidup suci, tanpa cela. Tubuhnya bukan tubuh jasmani
lagi. Melainkan tubuh spiritual. Dalam keadaan tubuh yang demikian, tentu ia
tidak sibuk dan disibukkan lagi dengan urusan duniawi. Ia hanya bersekutu dalam
kemuliaan Bapa di sorga. Dalam keterpesonaan dengan cahaya ilahi, seorang
manusia akan sibuk melayani Allah. Bukan dengan yang lain. Ketiga, dengan
mengetahui adanya kebangkitan itu, semakin memotivasi kita, kaum beriman, untuk
memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup kita di dunia ini.
Mari kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan bersikap terbuka dan
menyerahkan diri secara total ke dalam penyelenggaraan ilahi. Hanya dengan
demikian kita akan semakin memahami setiap bisikan ilahi yang kita dengar atau
baca melalui firman-Nya terutama menyangkut kehidupan kedua setiap manusia
setelah lepas dari keterikatan dunia ini. Dengan memahami setiap bisikan ilahi,
kita akan dimampukan untuk berpikir dan berbuat yang benar sesuai dengan
kehendak Allah. Tentu saja hal demikian akan sangat membantu kita membuat
persiapan diri secara matang untuk menyongsong kehidupan kedua setelah kematian
yang penuh nuansa spiritual. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD
Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar