Selasa, 02 Juni 2020

HAL KEHIDUPAN KEDUA


Mrk 12:18-27
Bacaan Injil kemarin mengisahkan orang Farisi dan kelompok Herodian (para loyalis Herodes) yang datang kepada Yesus untuk bertanya soal pajak (Mrk 12:13-17). Hari ini giliran orang Saduki yang mendatangi Yesus dan mempertanyakan soal kebangkitan (Mrk 12:18-27). Sebelum kita membahas substansi kebangkitan yang dipertanyakan orang Saduki, ada baiknya kita mengenal setidaknya ada empat kelompok Yahudi yang hidup pada zaman Yesus. Pertama, Golongan Farisi. Golongan ini adalah kelompok pemimpin spiritual Yahudi yang berkembang pada masa Bait Allah ke-2. Kaum Farisi adalah perkembangan dari kelompok Hasidim. Kelompok Hasidim adalah kelompok yang menganggap diri mereka sebagai orang beragama yang saleh. Orang Farisi tidak saja mempercayai taurat Musa yang menjadi kitab suci mereka, tetapi juga menghidupi berbagai tradisi yang berkembang di dalam agama Yahudi.
Mereka meyakini adanya jiwa yang kekal, kebangkitan dari kematian, adanya malaikat, dan kedatangan Mesias yang diutus Allah untuk membebaskan mereka dari bangsa Romawi. Berbeda dengan kelompok Saduki yang tidak mempercayainya. Dibandingkan dengan golongan Saduki, golongan Farisi lebih dekat dengan kalangan bawah atau masyarakat akar rumput. Hal ini dimungkinkan karena orang Farisi lebih banyak memperhatikan dan mengakomodir kepentingan mereka. Kedua, kelompok Saduki. Kelompok ini adalah kelompok aristokrat atau bangsawan Yahudi yang berkuasa di Yerusalem hingga Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M. Kelompok ini adalah kelompok konservatif, yang hanya mendasarkan kepercayaan mereka pada Kitab Taurat. Kelompok Saduki menguasai mayoritas dari 70 kursi anggota majelis yang berkuasa.
Mereka terdiri dari para imam kepala dan imam besar; golongan para elit agama Yahudi yang sangat disegani. Meskipun demikian mereka tidak cukup dekat dengan kalangan bawah dari masyarakat Yahudi. Kelompok ini lebih condong membela kepentingan Romawi. Hal ini sangat masuk akal terjadi karena mereka ingin mengamankan kepentingan kelompok termasuk jabatan atau kekayaan yang mereka miliki. Ketiga, kelompok Eseni atau komunitas Qumran. Kelompok ini adalah kelompok orang yang mengisolasi diri dari hingar bingar kehidupan duniawi. mereka menganggap bahwa dunia itu kotor, penuh kejahatan dan tipu muslihat yang membawa kesesatan dosa. Oleh karena itu harus dihindari. Mereka mendiami wilayah sepanjang tepi laut mati yang dinamakan qumran. Doa dan meditasi adalah napas hidup keseharian mereka. Keempat, orang Zelot. Kelompok ini adalah organisasi sosial politik yang berusaha memperjuangkan kemerdekaan orang Yahudi dari penjajahan bangsa Romawi.

Dengan membawa kasus perkawinan Levirat, orang Saduki datang kepada Yesus untuk bertanya soal kebangkitan. Atau hidup sesudah mati. Perkawinan Levirat adalah perkawinan yang terjadi antara seorang janda dengan saudara kandung mantan suaminya yang sudah meninggal dunia berdasarkan adat istiadat yang berlaku dalam masyarakat saat itu. Karena tidak mengakui adanya kebangkitan orang mati, kemudian mereka bertanya kepada Yesus, siapakah yang akan menjadi suaminya kelak apabila wanita tersebut juga mati dan mengalami kehidupan keduanya. Yesus mengkounter pertanyaan mereka dengan mengatakan bahwa pikiran mereka sesat. Mereka tidak mengerti tentang Kitab Suci dan kuasa Allah. Orang yang mati dan telah mengalami kebangkitan, tidak mengalami kehidupan seperti di dunia.
Mereka tidak akan berpikir tentang pasangan hidup. Apalagi memiliki pasangan hidup sama seperti waktu di dunia. Mereka akan hidup seperti malaikat. Tubuh mereka bukan lagi tubuh jasmani duniawi tetapi tubuh yang bersifat rohani surgawi. Mereka telah tinggal dalam kemuliaan Allah dan selalu sibuk hanya demi melayani Allah. Bukan seperti yang dibayangkan oleh orang Saduki. Pikiran mereka dangkal karena mereka menyamakan kehidupan setelah kematian sama dengan kehidupan di dunia. Kuasa Allah itu jauh melebihi pikiran manusia. Allah tidak bisa digiring dalam pikiran sederhana manusia. Allah itu adalah Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub. Abraham, Ishak, dan Yakub pernah mengalami kehidupan jasmani di dunia. Dan mereka telah mati dan kemudian mengalami kebangkitan. Dengan mengatakan bahwa Allah itu Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, semakin menegaskan bahwa ketiga bapa bangsa Israel itu telah menjalani kehidupan spiritual mereka dalam kemuliaan Bapa di sorga.

Jawaban Yesus atas pertanyaan orang Saduki soal kebangkitan orang mati, membawa refleksi iman yang mendalam dalam kehidupan nyata kita di atas dunia ini. Pertama, hanya dalam terang iman kita bisa menangkap bahwa kebangkitan itu adalah sebuah keniscayaan. Bukan sesuatu yang mustahil. Orang yang hanya mengandalkan pikiran atau rasio dalam hidupnya, akan sulit mengerti adanya kehidupan kedua yang dialami oleh seorang manusia. Ia akan seperti orang Saduki yang mengalami kesesatan berpikir. Dan pada akhirnya tidak mengakui adanya kebangkitan itu. Kedua, kehidupan setelah kematian itu berbeda dengan kehidupan pertama di dunia. Ia akan hidup suci, tanpa cela. Tubuhnya bukan tubuh jasmani lagi. Melainkan tubuh spiritual. Dalam keadaan tubuh yang demikian, tentu ia tidak sibuk dan disibukkan lagi dengan urusan duniawi. Ia hanya bersekutu dalam kemuliaan Bapa di sorga. Dalam keterpesonaan dengan cahaya ilahi, seorang manusia akan sibuk melayani Allah. Bukan dengan yang lain. Ketiga, dengan mengetahui adanya kebangkitan itu, semakin memotivasi kita, kaum beriman, untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup kita di dunia ini.

Mari kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan bersikap terbuka dan menyerahkan diri secara total ke dalam penyelenggaraan ilahi. Hanya dengan demikian kita akan semakin memahami setiap bisikan ilahi yang kita dengar atau baca melalui firman-Nya terutama menyangkut kehidupan kedua setiap manusia setelah lepas dari keterikatan dunia ini. Dengan memahami setiap bisikan ilahi, kita akan dimampukan untuk berpikir dan berbuat yang benar sesuai dengan kehendak Allah. Tentu saja hal demikian akan sangat membantu kita membuat persiapan diri secara matang untuk menyongsong kehidupan kedua setelah kematian yang penuh nuansa spiritual. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar