Kamis, 25 Juni 2020

KITA BUTUH DITAHIRKAN


Mat 8:1-4
Ini pengalaman riil. Adik saya meng-share kisahnya bagaimana ia bisa sembuh dari penyakit bisul yang sangat menyiksa dirinya. Ia menderita sakit ini sejak tahun 2016 yang lalu. Dan selama rentang waktu itu sampai dengan tahun 2020, ia harus rela menahan sakit. Penyakit ini memang sifatnya sporadis. Hilang muncul. Tetapi kehadirannya ibarat sahabat yang menjengkelkan plus menyakitkan. Sudah berbagai metode pengobatan dilakukan; baik dari sisi medis maupun alternatif. Semuanya nihil. Sampai suatu saat, kira-kira sebulan yang lalu (bulan Mei), ibu saya menganjurkan supaya sang adik melakukan novena kepada Bunda Maria selama sembilan hari berturut-turut. Awalnya sang adik merasa ragu. Tetapi saya meyakinkan dia untuk melakukan hal itu. Saya mengatakan kepada dia (adik) bahwa kalau dilakukan dengan penuh keyakinan pasti niatnya akan terkabul. Ia hanya diam. Dalam diam, sang adik ternyata melakukan novena selama sembilan hari dengan intensi khusus mohon penyembuhan dari penyakit bisul. Ternyata doa yang didoakan dengan penuh iman pasti didengar oleh Tuhan. Sang adik merasa ada perubahan dalam dirinya. Memang tidak sekali jadi penyakitnya langsung hilang. Namun perlahan-lahan, ada perubahan yang sungguh nyata. Sang adik telah merasakan kekuatan doa yang sungguh dasyat. Ia telah sembuh berkat permohonannya yang tulus dan total kepada Tuhan.

Hari ini kita membaca salah satu kisah mukjizat yang dilakukan oleh Yesus kepada seorang yang sedang menderita penyakit kusta. Yesus tidak akan tahu tentang keadaan si kusta apabila si kusta tetapi diam. Dan mukjizat penyembuhan itu tidak akan terjadi apabila Yesus berjalan terus dan tidak menghiraukan si kusta. Situasinya menjadi beda karena ada interaksi yang intim antara si kusta dan Yesus. Si kusta menyadari ketidakberdayaannya. Ia tidak mungkin sembuh dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia butuh kekuatan lain di luar dirinya. Dan tentu saja bukan sembarang kekuatan. Kekuatan itu hanya datangnya dari Tuhan sendiri. Maka tanpa sungkan ia sujud di hadapan Yesus sambil berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku (Mat 8:2).” Sebuah ungkapan yang tulus penuh iman. Si kusta sangat berharap pada kemurahan Tuhan untuk dapat menyembuhkan sakit kronisnya. Sikap sembah sujud dari si kusta menggambarkan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Bahwa tanpa Tuhan semua akan sia-sia. Ia tidak akan menjadi sembuh tanpa intervensi dari Tuhan sendiri. Dengan mata kepala-Nya sendiri, Yesus menyaksikan bahwa si kusta betul-betul menaru iman kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Yesus menjawab: “Aku mau, jadilah engkau tahir” (Mat 8:3). Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada kustanya (Mat 8:3). Berkat imannya yang tulus, si kusta menjadi pulih dari penyakitnya.

Pengamalan iman adik saya dan si kusta dalam bacaan Injil mau menggambarkan bahwa “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya” (Mzm 73:1). Karena ketulusan hati dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan, mereka mendapat cipratan kasih-Nya yang sungguh dasyat. Mereka disembuhkan dari sakitnya karena imannya yang kokoh. Sesuatu yang kelihatan tidak masuk akal di mata manusiawi tetapi sungguh diterima dalam Akal Ilahi. Hal yang tidak mungkin bagi manusia menjadi sangat mungkin dalam pandangan ilahi. Lebih dari itu, sebenarnya kasih Allah jauh melampaui semua perbuatan manusia. Entah itu perbuatan yang baik atau jahat. Kasih Allah yang ditumpahkan lewat mukjizat penyembuhan-Nya selalu berseliweran dalam hidup manusia. Yang menjadi pokok persoalan apakah manusia mau menerimanya atau tidak. Kalau manusia menolak kasih-Nya maka penyembuhan itu tidak akan terjadi. Sebalilknya, apabila manusia mau menerima kasih-Nya maka mukjizat penyembuhan itu pasti akan terjadi. Pengalaman si kusta dan adik saya telah membuktikannya. Mereka menerima kasih Allah dengan berserah diri secara total kepada-Nya. Dan Tuhan menjawab iman mereka yang tulus dengan kesembuhan diri dari penyakit yang diderita.

Sebagai orang beragama sekaligus beriman kepada Tuhan, kita mempercayai adanya mukjizat yang terjadi berkat penyelenggaran-Nya. Hanya orang yang sungguh-sungguh beriman yang mampu menangkap setiap mukjizat yang terjadi dalam hidupnya karena ia memang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Sekecil apa pun setiap peristiwa yang dialami, seorang beriman akan selalu menangkap sinyal itu dari Tuhan. Bahkan ketika ia gagal atau mengalami situasi sulit pun, ia tetap berserah diri secara total kepada Tuhan. Karena ia yakin mukjizat Tuhan akan selalu hadir bagi mereka yang percaya. Sikap sabar dan teguh hati membuat orang beriman tidak mudah goyah dan putus asa. Namun kita menyaksikan, ada banyak orang beragama yang tidak sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Mereka memang orang beragama, tetapi kurang beriman kepada Tuhan. Mereka lebih mengandalkan kekuatan sendiri atau kekuatan lain (selain Tuhan) ketika berhadapan dengan aneka persoalan hidup. Tidak heran, kita menyaksikan banyak orang beragama yang cepat mengalami kelesuan dan putus asa dalam hidupnya. Bahkan tidak jarang mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Ini menunjukkan bahwa seringkali orang beragama belum mampu menunjukkan sikap iman yang kokoh kepada Tuhan.

Pengalaman iman si kusta yang ditahirkan oleh Tuhan menjadi pengalaman kita juga sebagai orang beriman di masa ini. Kita harus menyerahkan diri secara total kepada-Nya agar kita juga sungguh-sungguh ditahirkan dalam hidup kita. Ditahirkan tidak hanya dalam konteks sakit secara fisik tetapi seluruh totalitas pribadi. Termasuk pelbagai kelemahan dan kekurangan manusiawi kita seperti sikap egois, arogan, malas, apatis, dan sebagainya. Kita membutuhkan mukjizat Tuhan untuk mentahirkan segala penyakit yang kita derita. Tuhan sudah menebarkan kasih-Nya melalui aliran rahmat yang menyembuhkan penyakit kita. Kita harus menangkap anugerah kasih Tuhan itu dengan berserah diri secara total kepada-Nya. Hanya dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh ditahirkan dalam seluruh hidup kita. Sebuah pengalaman mukjizat yang hanya dialami oleh orang-orang yang sungguh beriman kepada-Nya. Mari kita selalu berserah kepada Tuhan dengan sikap iman yang kokoh. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar