Mat 8:1-4
Ini pengalaman riil. Adik saya meng-share
kisahnya bagaimana ia bisa sembuh dari penyakit bisul yang sangat menyiksa
dirinya. Ia menderita sakit ini sejak tahun 2016 yang lalu. Dan selama rentang
waktu itu sampai dengan tahun 2020, ia harus rela menahan sakit. Penyakit ini
memang sifatnya sporadis. Hilang muncul. Tetapi kehadirannya ibarat sahabat
yang menjengkelkan plus menyakitkan. Sudah berbagai metode pengobatan
dilakukan; baik dari sisi medis maupun alternatif. Semuanya nihil. Sampai suatu
saat, kira-kira sebulan yang lalu (bulan Mei), ibu saya menganjurkan supaya
sang adik melakukan novena kepada Bunda Maria selama sembilan hari
berturut-turut. Awalnya sang adik merasa ragu. Tetapi saya meyakinkan dia untuk
melakukan hal itu. Saya mengatakan kepada dia (adik) bahwa kalau dilakukan
dengan penuh keyakinan pasti niatnya akan terkabul. Ia hanya diam. Dalam diam,
sang adik ternyata melakukan novena selama sembilan hari dengan intensi khusus
mohon penyembuhan dari penyakit bisul. Ternyata doa yang didoakan dengan penuh
iman pasti didengar oleh Tuhan. Sang adik merasa ada perubahan dalam dirinya.
Memang tidak sekali jadi penyakitnya langsung hilang. Namun perlahan-lahan, ada
perubahan yang sungguh nyata. Sang adik telah merasakan kekuatan doa yang
sungguh dasyat. Ia telah sembuh berkat permohonannya yang tulus dan total
kepada Tuhan.
Hari ini kita membaca salah satu kisah mukjizat yang dilakukan oleh Yesus
kepada seorang yang sedang menderita penyakit kusta. Yesus tidak akan tahu
tentang keadaan si kusta apabila si kusta tetapi diam. Dan mukjizat penyembuhan
itu tidak akan terjadi apabila Yesus berjalan terus dan tidak menghiraukan si
kusta. Situasinya menjadi beda karena ada interaksi yang intim antara si kusta
dan Yesus. Si kusta menyadari ketidakberdayaannya. Ia tidak mungkin sembuh
dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia butuh kekuatan lain di luar
dirinya. Dan tentu saja bukan sembarang kekuatan. Kekuatan itu hanya datangnya
dari Tuhan sendiri. Maka tanpa sungkan ia sujud di hadapan Yesus sambil
berkata: “Tuan, jika Tuan mau, Tuan dapat mentahirkan aku (Mat 8:2).” Sebuah
ungkapan yang tulus penuh iman. Si kusta sangat berharap pada kemurahan Tuhan
untuk dapat menyembuhkan sakit kronisnya. Sikap sembah sujud dari si kusta
menggambarkan penyerahan diri yang total kepada Tuhan. Bahwa tanpa Tuhan semua
akan sia-sia. Ia tidak akan menjadi sembuh tanpa intervensi dari Tuhan sendiri.
Dengan mata kepala-Nya sendiri, Yesus menyaksikan bahwa si kusta betul-betul
menaru iman kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu lagi Yesus menjawab: “Aku mau,
jadilah engkau tahir” (Mat 8:3). Seketika itu juga tahirlah orang itu dari pada
kustanya (Mat 8:3). Berkat imannya yang tulus, si kusta menjadi pulih dari
penyakitnya.
Pengamalan iman adik saya dan si kusta dalam bacaan Injil mau menggambarkan
bahwa “Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka
yang bersih hatinya” (Mzm 73:1). Karena ketulusan hati dan penyerahan diri yang
total kepada Tuhan, mereka mendapat cipratan kasih-Nya yang sungguh dasyat.
Mereka disembuhkan dari sakitnya karena imannya yang kokoh. Sesuatu yang
kelihatan tidak masuk akal di mata manusiawi tetapi sungguh diterima dalam Akal
Ilahi. Hal yang tidak mungkin bagi manusia menjadi sangat mungkin dalam
pandangan ilahi. Lebih dari itu, sebenarnya kasih Allah jauh melampaui semua perbuatan
manusia. Entah itu perbuatan yang baik atau jahat. Kasih Allah yang ditumpahkan
lewat mukjizat penyembuhan-Nya selalu berseliweran dalam hidup manusia. Yang
menjadi pokok persoalan apakah manusia mau menerimanya atau tidak. Kalau
manusia menolak kasih-Nya maka penyembuhan itu tidak akan terjadi. Sebalilknya,
apabila manusia mau menerima kasih-Nya maka mukjizat penyembuhan itu pasti akan
terjadi. Pengalaman si kusta dan adik saya telah membuktikannya. Mereka
menerima kasih Allah dengan berserah diri secara total kepada-Nya. Dan Tuhan
menjawab iman mereka yang tulus dengan kesembuhan diri dari penyakit yang
diderita.
Sebagai orang beragama sekaligus beriman kepada Tuhan, kita mempercayai
adanya mukjizat yang terjadi berkat penyelenggaran-Nya. Hanya orang yang
sungguh-sungguh beriman yang mampu menangkap setiap mukjizat yang terjadi dalam
hidupnya karena ia memang sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Sekecil apa pun
setiap peristiwa yang dialami, seorang beriman akan selalu menangkap sinyal itu
dari Tuhan. Bahkan ketika ia gagal atau mengalami situasi sulit pun, ia tetap
berserah diri secara total kepada Tuhan. Karena ia yakin mukjizat Tuhan akan
selalu hadir bagi mereka yang percaya. Sikap sabar dan teguh hati membuat orang
beriman tidak mudah goyah dan putus asa. Namun kita menyaksikan, ada banyak
orang beragama yang tidak sungguh-sungguh beriman kepada Tuhan. Mereka memang
orang beragama, tetapi kurang beriman kepada Tuhan. Mereka lebih mengandalkan
kekuatan sendiri atau kekuatan lain (selain Tuhan) ketika berhadapan dengan
aneka persoalan hidup. Tidak heran, kita menyaksikan banyak orang beragama yang
cepat mengalami kelesuan dan putus asa dalam hidupnya. Bahkan tidak jarang
mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis. Ini menunjukkan bahwa seringkali orang
beragama belum mampu menunjukkan sikap iman yang kokoh kepada Tuhan.
Pengalaman iman si kusta yang ditahirkan oleh Tuhan menjadi pengalaman kita
juga sebagai orang beriman di masa ini. Kita harus menyerahkan diri secara
total kepada-Nya agar kita juga sungguh-sungguh ditahirkan dalam hidup kita.
Ditahirkan tidak hanya dalam konteks sakit secara fisik tetapi seluruh
totalitas pribadi. Termasuk pelbagai kelemahan dan kekurangan manusiawi kita
seperti sikap egois, arogan, malas, apatis, dan sebagainya. Kita membutuhkan
mukjizat Tuhan untuk mentahirkan segala penyakit yang kita derita. Tuhan sudah
menebarkan kasih-Nya melalui aliran rahmat yang menyembuhkan penyakit kita.
Kita harus menangkap anugerah kasih Tuhan itu dengan berserah diri secara total
kepada-Nya. Hanya dengan demikian, kita akan sungguh-sungguh ditahirkan dalam
seluruh hidup kita. Sebuah pengalaman mukjizat yang hanya dialami oleh
orang-orang yang sungguh beriman kepada-Nya. Mari kita selalu berserah kepada
Tuhan dengan sikap iman yang kokoh. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar