Selasa, 30 Juni 2020

Percayalah Kepada Tuhan Dengan Segenap Hatimu


Am 3:1-8 & Mat 8:23-27

Beriman kepada Tuhan tidak serta-merta membebaskan orang dari segala pergumulan hidup: tidak ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini. Pengalaman pergumulan itu tetap ada sebagai suatu yang terberi, tidak dapat dihindari. Malahan dengan beriman orang semakin diperhadapkan dengan pergumulan hidup yang semakin berat dan sulit. 

Iman tidak menghapus ataupun mengingkari tantangan, kesulitan dan penderitaan sebagai suatu fakta, sebaliknya iman itu hidup dan bertahan di dalam pengalaman itu. Bak lahan tempat bertumbuhnya benih-benih, pengalaman penderitaan dan pergumulan hidup menjadi medan di mana benih iman bertumbuh dan berkembang. Menolak pengalaman penderitaan dan pergumulan hidup, dengan cara apapun, berarti orang kehilangan kesempatan terbaik untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman.

Orang yang memandang bahwa iman membebaskannya dari pergumulan, sementara kenyataan yang ditemukan tidaklah demikian, akan berhadapan dengan kekecewaan yang meracuni hatinya. Ada penolakan hati, akan tetapi orang tidak dapat berbuat apa-apa di hadapan fakta itu. Tidak jarang orang menunjukkan kompensasinya dengan berpaling dari jalan iman atau setidak-tidaknya orang kehilangan semangat iman untuk hidup berdasarkan tuntutan-tuntutan iman.  

Tetapi orang yang sungguh beriman akan memandang bahwa pergumulan hidup adalah bagian yang tidak terhindarkan dari perjalanan menuju garis akhir perjuangan hidup di dunia ini. Pergumulan itu ibarat sebuah pertandingan. Pertandingan itu harus diakhiri dengan baik, dan iman berhasil diperlihara. Sebagai hasilnya, yang setia berjuang dan mempertahankan iman dalam pergumulan di dunia ini akan dianugerahi mahkhota kebenaran (2 Tim 4:6-8).

Ini menjadi alasan mengapa kepada kita diminta: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (Am 3:5). Tuhan tidak pernah merancangkan suatu yang tidak baik, tidak luhur dan tidak mulia bagi orang yang diciptakan seturut gambar-Nya. Jika Ia membiarkan setiap kita mengalami pergumulan hidup dan terus menguji kita dalam berbagai pengalaman penderitaan dan kemalangan, maka Ia tidak memiliki suatu rencana yang buruk, melainkan suatu yang terbaik, bernilai dan luhur. Ada yang begitu indah Tuhan inginkan untuk kita.

Seperti dalam Injil hari ini, kita mendengar bagaimana Yesus tertidur sementara badai dan gelombang menerpa perahu yang mereka tumpangi dan mereka hampir tenggelam. Ia tidak bermaksud untuk membinasakan para murid dengan tidur-Nya. Namun situasi demikian dibiarkan terjadi dan dialami para murid supaya mereka belajar untuk menunjukkan iman dan kepercayaan mereka penuh kepada-Nya.

Benarlah bahwa para murid tidaklah mencari pertolongan lain, selain membangunkan Dia yang tertidur. "Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Dan tindakan para murid itu tepat sebagai tanda bahwa mereka percaya kepada Yesus, meskipun dikatakan-Nya, mereka kurang percaya oleh karena dibayang-bayangi oleh ketakutan.

Maka pertanyaan Yesus: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” dilontarkan kepada mereka sebagai suatu daya pemurniaan terhadap iman mereka. Tujuannya adalah agar mereka percaya dengan segenap hati kepada-Nya. Ketakutan membuat mereka memandang kebinasaan yang ada di depan mereka, tetapi kepada mereka Yesus mengatakan bahwa kepercayaan menyelamatkan mereka. Karena itu, mereka diminta untuk tidak takut, melainkan percaya.

Seperti pengalaman para murid di atas danau itu, Yesus menunjukkan kepada semua kita yang mengikuti Dia bahwa berjalan bersama Dia akan diperhadapkan dengan berbagai pengalaman yang sulit dan menantang. Tidak ada jalan tanpa onak dan duri.

Maka yang diminta dari kita adalah sikap iman seperti kata-kata Amsal: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu” (Am 3:5). Iman membuat kita mampu menghadapi tantangan dan kesulitan dan di akhir pergumulan kita memperoleh kemenangan. Hanya jika kita takut dan kurang percaya maka kita bisa terjatuh ke dalam kebinasaan.

Kita menyadari bahwa acapkali kita seperti para murid Tuhan yang ada bersama dengan Tuhan, akan tetapi ketakutan masih mendominasi hidup kita. Maka seperti para murid ditantang Yesus dengan pertanyaan pemurniaan iman di atas kita pun menggunakan pertanyaan yang sama untuk tujuan yang sama pula. Iman kita harus dimurnikan agar bertumbuh menjadi kekuatan yang menopang kita untuk menghadapi dan menggumuli pengalaman hidup ini.

Di samping itu, kita juga belajar untuk memandang pengalaman penderitaan dan kesulitan sebagai wahana pendidikan iman bagi kita. Kita tidak lari dari pengalaman hidup yang menantang, melainkan dengan jiwa kesatria kita masuk ke dalam pengalaman tersebut dan menjumpai Dia yang ada di dalam pengalam itu. Dia ada bersama kita justru ketika kita merasakan hidup kita ini paling menantang dan ketika kita bergumul untuk menemui Dia, maka betapa kita merasa berbangga bahwa kita telah bergumul dan menemukan Dia.

Marilah kita belajar dalam pengalaman hidup kita untuk semakin bertumbuh dalam iman dan gunakanlah iman kita untuk tetap menggumuli pengalaman hidup kita. Dan kita akan benar-benar menjadi orang yang percaya dengan segenap hati kepada Tuhan.***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar