Am 3:1-8 & Mat 8:23-27
Beriman kepada
Tuhan tidak serta-merta membebaskan orang dari segala pergumulan hidup: tidak
ada penderitaan, kesusahan dan kesulitan dalam hidup ini. Pengalaman pergumulan
itu tetap ada sebagai suatu yang terberi, tidak dapat dihindari. Malahan dengan
beriman orang semakin diperhadapkan dengan pergumulan hidup yang semakin berat
dan sulit.
Iman tidak menghapus
ataupun mengingkari tantangan, kesulitan dan penderitaan sebagai suatu fakta,
sebaliknya iman itu hidup dan bertahan di dalam pengalaman itu. Bak lahan
tempat bertumbuhnya benih-benih, pengalaman penderitaan dan pergumulan hidup
menjadi medan di mana benih iman bertumbuh dan berkembang. Menolak pengalaman
penderitaan dan pergumulan hidup, dengan cara apapun, berarti orang kehilangan
kesempatan terbaik untuk bertumbuh dan berkembang dalam iman.
Orang yang
memandang bahwa iman membebaskannya dari pergumulan, sementara kenyataan yang
ditemukan tidaklah demikian, akan berhadapan dengan kekecewaan yang meracuni
hatinya. Ada penolakan hati, akan tetapi orang tidak dapat berbuat apa-apa di
hadapan fakta itu. Tidak jarang orang menunjukkan kompensasinya dengan
berpaling dari jalan iman atau setidak-tidaknya orang kehilangan semangat iman
untuk hidup berdasarkan tuntutan-tuntutan iman.
Tetapi orang yang
sungguh beriman akan memandang bahwa pergumulan hidup adalah bagian yang tidak
terhindarkan dari perjalanan menuju garis akhir perjuangan hidup di dunia ini. Pergumulan
itu ibarat sebuah pertandingan. Pertandingan itu harus diakhiri dengan baik,
dan iman berhasil diperlihara. Sebagai hasilnya, yang setia berjuang dan mempertahankan
iman dalam pergumulan di dunia ini akan dianugerahi mahkhota kebenaran (2 Tim
4:6-8).
Ini menjadi
alasan mengapa kepada kita diminta: “Percayalah kepada TUHAN dengan segenap
hatimu” (Am 3:5). Tuhan tidak pernah merancangkan suatu yang tidak baik, tidak
luhur dan tidak mulia bagi orang yang diciptakan seturut gambar-Nya. Jika Ia
membiarkan setiap kita mengalami pergumulan hidup dan terus menguji kita dalam
berbagai pengalaman penderitaan dan kemalangan, maka Ia tidak memiliki suatu
rencana yang buruk, melainkan suatu yang terbaik, bernilai dan luhur. Ada yang
begitu indah Tuhan inginkan untuk kita.
Seperti dalam
Injil hari ini, kita mendengar bagaimana Yesus tertidur sementara badai dan
gelombang menerpa perahu yang mereka tumpangi dan mereka hampir tenggelam. Ia
tidak bermaksud untuk membinasakan para murid dengan tidur-Nya. Namun situasi
demikian dibiarkan terjadi dan dialami para murid supaya mereka belajar untuk
menunjukkan iman dan kepercayaan mereka penuh kepada-Nya.
Benarlah bahwa
para murid tidaklah mencari pertolongan lain, selain membangunkan Dia yang
tertidur. "Tuhan, tolonglah, kita binasa”. Dan tindakan para murid itu
tepat sebagai tanda bahwa mereka percaya kepada Yesus, meskipun dikatakan-Nya,
mereka kurang percaya oleh karena dibayang-bayangi oleh ketakutan.
Maka pertanyaan
Yesus: “Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” dilontarkan kepada
mereka sebagai suatu daya pemurniaan terhadap iman mereka. Tujuannya adalah
agar mereka percaya dengan segenap hati kepada-Nya. Ketakutan membuat mereka
memandang kebinasaan yang ada di depan mereka, tetapi kepada mereka Yesus
mengatakan bahwa kepercayaan menyelamatkan mereka. Karena itu, mereka diminta
untuk tidak takut, melainkan percaya.
Seperti
pengalaman para murid di atas danau itu, Yesus menunjukkan kepada semua kita
yang mengikuti Dia bahwa berjalan bersama Dia akan diperhadapkan dengan
berbagai pengalaman yang sulit dan menantang. Tidak ada jalan tanpa onak dan
duri.
Maka yang diminta
dari kita adalah sikap iman seperti kata-kata Amsal: “Percayalah kepada TUHAN
dengan segenap hatimu” (Am 3:5). Iman membuat kita mampu menghadapi tantangan
dan kesulitan dan di akhir pergumulan kita memperoleh kemenangan. Hanya jika kita
takut dan kurang percaya maka kita bisa terjatuh ke dalam kebinasaan.
Kita menyadari
bahwa acapkali kita seperti para murid Tuhan yang ada bersama dengan Tuhan,
akan tetapi ketakutan masih mendominasi hidup kita. Maka seperti para murid
ditantang Yesus dengan pertanyaan pemurniaan iman di atas kita pun menggunakan
pertanyaan yang sama untuk tujuan yang sama pula. Iman kita harus dimurnikan
agar bertumbuh menjadi kekuatan yang menopang kita untuk menghadapi dan
menggumuli pengalaman hidup ini.
Di samping itu,
kita juga belajar untuk memandang pengalaman penderitaan dan kesulitan sebagai
wahana pendidikan iman bagi kita. Kita tidak lari dari pengalaman hidup yang
menantang, melainkan dengan jiwa kesatria kita masuk ke dalam pengalaman
tersebut dan menjumpai Dia yang ada di dalam pengalam itu. Dia ada bersama kita
justru ketika kita merasakan hidup kita ini paling menantang dan ketika kita
bergumul untuk menemui Dia, maka betapa kita merasa berbangga bahwa kita telah
bergumul dan menemukan Dia.
Marilah kita
belajar dalam pengalaman hidup kita untuk semakin bertumbuh dalam iman dan
gunakanlah iman kita untuk tetap menggumuli pengalaman hidup kita. Dan kita
akan benar-benar menjadi orang yang percaya dengan segenap hati kepada Tuhan.***Apol
Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar