Mat 7:6.12-14
Tidak
terhindarkan, perkembangan dunia yang sedemikian pesat ternyata secara negatif memiliki
efek juga terhadap pembentukan mentalitas instan pada manusia. Orang diformat ke dalam mentalitas mau mencari
yang mudah, gampang dan tidak membutuhkan perjuangan yang ekstra serta kerja
keras. Orang cenderung menjadi malas dan
menghindari diri dari kerja keras.
Mentalitas
demikian memerosotkan kualitas hidup orang dalam segala dimensinya. Daya juang
manusia yang diberikan Tuhan untuk membangun dan mengembangkan hidup ke arah
kebaikan dan kesempurnaan menjadi merosot, bahkan dibiarkan mati begitu saja
dengan memupuk kemalasan, saudara dari mentalitas instan. Keinginan memenuhi
hati orang yang bermental instan dan malas, akan tetapi sia-sia (Am 13:4) sebab
mereka tidak berusaha memperolehnya dengan kerja yang keras.
Perilaku hidup
demikian merusak citra kehidupan orang yang telah dianugerahi berbagai
kemampuan untuk berjuang di dalam hidup ini. Tuhan tidak salah menciptakan
manusia dengan segenap kemampuan yang ditempatkan di dalamnya. Hanya ketika
kemampuan-kemampuan itu dimandulkan oleh mentalitas instan yang terus dipelihara
dan cinta yang teramat dalam pada kemalasan, maka orang akan mengalami alienasi
dengan dirinya sendiri dan terjerumus dalam kehilangan makna hidup.
Dalam kesatuan
hidup dengan orang lain, orang yang bermental instan dan malas hadir bagi yang lain sebagai orang yang
berjiwa perusak (bdk.Am 18:9). Setelah merusak dirnya sendiri, orang lain dirusakkan
dengan pengaruh-pengaruh yang buruk.
Tuhan tidak
menghendaki manusia yang memiliki mentalitas hidup demikian. Ia menghendaki
agar manusia mencintai perjuangan hidup untuk mencapai yang terbaik di dalam
hidupnya. Ia mengingatkan, tidak ada sesuatu yang baik, luhur, mulia dan
bernilai diperoleh tanpa perjuangan dan kerja ekstra. DemikianlahTuhan katakan:
“... orang rajin akan memperoleh harta yang berharga” (Am 12:27). Sebaliknya
yang tidak suka berjuang dan bekerja, melainkan bermalas-malasan dan ingin cari
gampang tidak diberikan yang bernilai dalam hidupnya: “Orang malas tidak akan
menangkap buruannya” (Am 12:27; 13:4).
Keselamatan
adalah nilai yang teramat mahal yang hanya dapat diperoleh dengan perjuangan
yang ekstra keras. Yesus mengingatkan semua murid-Nya dan para pendengar-Nya
tentang hal demikian di dalam pengajaran-Nya tentang masuk melalui pintu yang
sempit. Setiap orang yang masuk melalui pintu ini akan berjuang dan bekerja
dengan keras.
Itulah jalan
sulit yang penuh dengan tantangan, kesulitan dan penderitaan, akan tetapi hanya
jalan itulah yang membawa orang kepada kehidupan dan kebahagiaan. Orang bilang,
manisnya kehidupan ini tidak akan pernah dialami jika orang melewatkan
perjuangan penuh kepahitan hidup. Demikianlah pula keselamatan itu.
Ada jalan
lain yang sangat mudah di mana orang dengan gampang dan begitu mudah
melewatinya, akan tetapi itulah jalan menuju kebinasaan. Banyak orang ingin
masuk ke dalam kehidupan dan menikmati kebahagiaan, akan tetapi jalan yang
dipilih salah. Dikira yang mudah, gampang dan enak itulah yang menyelamatkan,
ternyata itulah jalan menunju kebinasaan.
Sekalipun
Yesus menghendaki agar orang masuk melalui pintu yang sempit, dan mengingatkan
akan bahaya pintu yang lebar, akan tetapi pilihan bebas tetap dihargai. Setiap
kitalah yang menentukan pilihan entah masuk melalui pintu sempit atau pintu
lebar.
Yang
diajarkan Yesus ini bukanlah melulu suatu proyeksi masa depan, melainkan suatu
yang sudah mulai nyata dalam hidup kita sekarang. Maka pilihan itu sudah harus
kita tentukan dan praktikkan dalam hidup kita sekarang. Keselamatan nanti
ditentukan oleh pilihan kita sekarang.
Pada
kesempatan kita merefleksikan sabda-Nya ini, kita sekalian diajak untuk melihat
bagaimana kita menentukan pilihan kita dan berjuang menghayati sabda-Nya ini
dalam hidup kita. Jika ternyata kita hidup jauh dari kehendak-Nya, maka baiklah
kita mendengarkan Dia dengan saksama, menghayati dan melaksanakan apa yang
diajarka-Nya. Mumpung kita masih punya waktu untuk membangun pembaruan hidup,
baiklah kita gunakan waktu ini sebaik mungkin.
Apabila kita
menemukan diri sudah baik dalam menentukan pilihan sesuai kehendak-Nya maka
baiklah kesempatan ini kita gunakan untuk mepertajam komitmen kita untuk
bertekun dalam perjuangan kita menggapai keselamatan yang dijanjikan-Nya. Tuhan
pasti tahu kesulitan kita, dan Dia yang melihat kesetiaan kita berjuang di
jalan sempit akan memberikan kita keberhasilan dengan hidup dan kegembiraan.
Janganlah berhanti berjuang masuk melalui pintu yang sempit. ***Apol Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar