Yoh 6:52-59
Seorang ibu mengisahkan hal ihwal kesuksesannya mengongkosi keempat anaknya
hingga mencapai gelar sarjana. Suami sang ibu adalah seorang guru PNS. Tetapi,
telah meninggal dunia sewaktu anak-anaknya masih mengencam dunia pendidikan.
Praktis, dengan gaji yang kurang dari cukup, sang ibu harus memutar otak
bagaimana memback up anak-anaknya
agar tetap eksis di bangku sekolah. Anak pertama tinggal menunggu ujian skripsi
di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Anak kedua baru masuk semester empat di
sebuah sekolah tinggi keperawatan di kota Makassar. Anak ketiga sementara
menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Menengah Atas kelas tiga di kota
Lewoleba Kab. Lembata. Sementara si bungsu, masih tertatih-tatih dengan kenakalannya
sebagai anak remaja di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di kota yang sama.
Berbagai upaya dilakukan oleh sang ibu agar anak-anaknya tetap bersekolah.
Mulai dari memanfaatkan sedikit pohon kemiri warisan sang suami di kampung,
memelihara ternak dan menjualnya, hingga harus pontang panting meminjam uang di
para tengkulak dengan bunga yang mencekik leher. Sang ibu ini mempunyai jiwa
seorang fighter (pejuang). Tidak pernah mengenal kata menyerah. Pantang
mundur. Walau mendapat begitu banyak tantangan. Tidak hanya tekanan soal
keuangan. Tetapi yang paling berat adalah tekanan psikis (mental). Ia harus
rela menerima hinaan, cemoohan, dan caci maki dari orang-orang yang tidak
menyukai perjuangannya. Bahkan dari kaum keluarganya sendiri. Namun Ia menerimanya
dengan sabar. Yang membuat saya kagum adalah kadar religiositasnya sangat
tinggi. Mungkin juga karena terlalu banyak menghadapi beban penderitaan dalam
hidup jadi satu-satunya sandaran dalam situasi batas tersebut hanyalah Tuhan.
Ia menyerahkan seluruh beban hidupnya dalam penyelenggaraan Tuhan. Ia percaya
bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Salib hidup itu harus ia pikul menuju
“puncak golgota”. Ia harus rela “makan daging dan minum darah Tuhan” agar
kemenangan dan keselamatan bisa ia peroleh. Berkat kesabaran dan ketabahan
dalam penderitaan, ia kini boleh berbangga karena keempat anaknya telah selesai
mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana.
Hari ini Yesus berhasil membuat kebingungan di antara para orang Yahudi.
Orang Yahudi menjadi kesal, marah, dan merasa dilecehkan karena Yesus
mengungkapkan suatu hal yang tidak masuk akal. Yesus mengatakan bahwa supaya
mereka memperoleh hidup yang kekal, mereka harus makan daging dan minum
darah-Nya. Tidak hanya hidup yang kekal, tetapi Yesus akan membangkitkan mereka
pada akhir zaman. Kejengkelan dan kemarahan orang Yahudi semakin berlipat ganda
ketika Yesus menegaskan bahwa Ia adalah roti kehidupan yang telah turun dari
sorga. Ia datang ke dunia karena diutus oleh Bapa-Nya sendiri. Ia bukan
“manna”, roti yang telah dimakan oleh nenek moyang orang Israel. Ia adalah roti
kehidupan yang membawa kehidupan kekal. Bagi siapa yang memakannya tidak akan
merasa lapar dan haus lagi. Klaim-klaim Yesus ini yang semakin membakar kemarahan
dan kejengkelan di antara orang Yahudi. Mereka menunjukkan sikap demikian
karena mereka tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka menafsir
secara lurus menurut pemahaman dangkal mereka. Padahal kata-kata Yesus adalah
ungkapan penuh simbolik. Perlu kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk bisa
menangkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh Yesus. Orang-orang Yahudi sudah
“membuat portal” bagi diri mereka dengan sikap angkuh dan tertutup.
Makan daging dan minum darah Yesus adalah sebuah metafor kehidupan. Sebuah
ungkapan yang harus digali dan dicerna secara lebih mendalam. Makan daging dan
minum darah Yesus berarti sikap percaya dan penyerahan diri secara total kepada
Allah. Hanya orang yang mempunyai sikap terbuka dan memiliki kerendahan hati yang
mampu mengalami rahasia Allah ini. Melalui peristiwa ekaristi kudus, setiap
orang yang percaya dihantar untuk mengalami transubtansi. Suatu keadaan dimana
subtansi roti dan anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. secara
riil roti itu tetap roti dan anggur tetaplah anggur. Namun oleh sabda yang
suci, dua entitas itu kini telah sungguh-sungguh menjadi makanan jasmani dan
rohani yang memberi kekuatan dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang
menyambutnya.
Dengan makan daging dan minum darah Yesus, setiap orang Katolik juga
dihantar dan dibimbing untuk mengalami tantangan dan penderitaan yang dialami
oleh Yesus. Tantangan dan masalah itu bukan membuat manusia semakin kendor,
layu dan mati. Sebaliknya, membuat orang Katolik semakin dikuatkan dan
diteguhkan. Bahwa hanya dengan salib itulah, kemenangan dan keselamatan bisa
diraih. Hanya dengan mengalami penderitaan bersama Kristus, setiap orang dapat
meraih kebangkitan dalam hidupnya. Oleh karena itu, setiap tantangan, masalah,
atau derita dalam kehidupan, haruslah dilihat dalam terang iman bahwa tidak
membuat manusia mati binasa. Tetapi ia akan diangkat dan diselamatkan oleh
Tuhan oleh kasih-Nya yang tiada batas. Kita pasti akan mendapat keselamatan di
akhir nanti. Entah di dunia atau pun di akhirat. Ada rencana besar yang
sementara disiapkan oleh Tuhan sendiri bagi setiap orang yang tetap percaya dan
setia kepada-Nya.
Hari ini kita memperingati St. Yusuf Pekerja. Seorang ayah, suami yang
memiliki spirit hidup yang mumpuni. Terutama dalam mendampingi istrinya, Maria.
Ia seorang pria sejati yang setia, pekerja keras, berjiwa tangguh dan tahan
banting dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan. Semoga teladan hidup St.
Yusuf pekerja, memberi inspirasi bagi kita agar kita tidak takut dengan segala
tantangan, cobaan dan penderitaan yang kita alami dalam hidup ini. Sebagai
orang Katolik sejati, kita harus benar-benar makan daging dan minum darah
Yesus. Kita harus terjun dalam kerasnya dunia ini untuk boleh meraih kesuksesan
dan kemenangan dalam hidup. Mari kita semakin teguh dan percaya kepada Yesus,
yang telah memberi kita daging dan darahnya untuk kita santap. Semoga. Tuhan
memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar