Kamis, 30 April 2020

MAKAN DAGING DAN MINUM DARAH YESUS


Yoh 6:52-59
Seorang ibu mengisahkan hal ihwal kesuksesannya mengongkosi keempat anaknya hingga mencapai gelar sarjana. Suami sang ibu adalah seorang guru PNS. Tetapi, telah meninggal dunia sewaktu anak-anaknya masih mengencam dunia pendidikan. Praktis, dengan gaji yang kurang dari cukup, sang ibu harus memutar otak bagaimana memback up anak-anaknya agar tetap eksis di bangku sekolah. Anak pertama tinggal menunggu ujian skripsi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Anak kedua baru masuk semester empat di sebuah sekolah tinggi keperawatan di kota Makassar. Anak ketiga sementara menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Menengah Atas kelas tiga di kota Lewoleba Kab. Lembata. Sementara si bungsu, masih tertatih-tatih dengan kenakalannya sebagai anak remaja di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di kota yang sama. Berbagai upaya dilakukan oleh sang ibu agar anak-anaknya tetap bersekolah. Mulai dari memanfaatkan sedikit pohon kemiri warisan sang suami di kampung, memelihara ternak dan menjualnya, hingga harus pontang panting meminjam uang di para tengkulak dengan bunga yang mencekik leher. Sang ibu ini mempunyai jiwa seorang fighter (pejuang). Tidak pernah mengenal kata menyerah. Pantang mundur. Walau mendapat begitu banyak tantangan. Tidak hanya tekanan soal keuangan. Tetapi yang paling berat adalah tekanan psikis (mental). Ia harus rela menerima hinaan, cemoohan, dan caci maki dari orang-orang yang tidak menyukai perjuangannya. Bahkan dari kaum keluarganya sendiri. Namun Ia menerimanya dengan sabar. Yang membuat saya kagum adalah kadar religiositasnya sangat tinggi. Mungkin juga karena terlalu banyak menghadapi beban penderitaan dalam hidup jadi satu-satunya sandaran dalam situasi batas tersebut hanyalah Tuhan. Ia menyerahkan seluruh beban hidupnya dalam penyelenggaraan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Salib hidup itu harus ia pikul menuju “puncak golgota”. Ia harus rela “makan daging dan minum darah Tuhan” agar kemenangan dan keselamatan bisa ia peroleh. Berkat kesabaran dan ketabahan dalam penderitaan, ia kini boleh berbangga karena keempat anaknya telah selesai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana.

Hari ini Yesus berhasil membuat kebingungan di antara para orang Yahudi. Orang Yahudi menjadi kesal, marah, dan merasa dilecehkan karena Yesus mengungkapkan suatu hal yang tidak masuk akal. Yesus mengatakan bahwa supaya mereka memperoleh hidup yang kekal, mereka harus makan daging dan minum darah-Nya. Tidak hanya hidup yang kekal, tetapi Yesus akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Kejengkelan dan kemarahan orang Yahudi semakin berlipat ganda ketika Yesus menegaskan bahwa Ia adalah roti kehidupan yang telah turun dari sorga. Ia datang ke dunia karena diutus oleh Bapa-Nya sendiri. Ia bukan “manna”, roti yang telah dimakan oleh nenek moyang orang Israel. Ia adalah roti kehidupan yang membawa kehidupan kekal. Bagi siapa yang memakannya tidak akan merasa lapar dan haus lagi. Klaim-klaim Yesus ini yang semakin membakar kemarahan dan kejengkelan di antara orang Yahudi. Mereka menunjukkan sikap demikian karena mereka tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka menafsir secara lurus menurut pemahaman dangkal mereka. Padahal kata-kata Yesus adalah ungkapan penuh simbolik. Perlu kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk bisa menangkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh Yesus. Orang-orang Yahudi sudah “membuat portal” bagi diri mereka dengan sikap angkuh dan tertutup.

Makan daging dan minum darah Yesus adalah sebuah metafor kehidupan. Sebuah ungkapan yang harus digali dan dicerna secara lebih mendalam. Makan daging dan minum darah Yesus berarti sikap percaya dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Hanya orang yang mempunyai sikap terbuka dan memiliki kerendahan hati yang mampu mengalami rahasia Allah ini. Melalui peristiwa ekaristi kudus, setiap orang yang percaya dihantar untuk mengalami transubtansi. Suatu keadaan dimana subtansi roti dan anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. secara riil roti itu tetap roti dan anggur tetaplah anggur. Namun oleh sabda yang suci, dua entitas itu kini telah sungguh-sungguh menjadi makanan jasmani dan rohani yang memberi kekuatan dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang menyambutnya.

Dengan makan daging dan minum darah Yesus, setiap orang Katolik juga dihantar dan dibimbing untuk mengalami tantangan dan penderitaan yang dialami oleh Yesus. Tantangan dan masalah itu bukan membuat manusia semakin kendor, layu dan mati. Sebaliknya, membuat orang Katolik semakin dikuatkan dan diteguhkan. Bahwa hanya dengan salib itulah, kemenangan dan keselamatan bisa diraih. Hanya dengan mengalami penderitaan bersama Kristus, setiap orang dapat meraih kebangkitan dalam hidupnya. Oleh karena itu, setiap tantangan, masalah, atau derita dalam kehidupan, haruslah dilihat dalam terang iman bahwa tidak membuat manusia mati binasa. Tetapi ia akan diangkat dan diselamatkan oleh Tuhan oleh kasih-Nya yang tiada batas. Kita pasti akan mendapat keselamatan di akhir nanti. Entah di dunia atau pun di akhirat. Ada rencana besar yang sementara disiapkan oleh Tuhan sendiri bagi setiap orang yang tetap percaya dan setia kepada-Nya.

Hari ini kita memperingati St. Yusuf Pekerja. Seorang ayah, suami yang memiliki spirit hidup yang mumpuni. Terutama dalam mendampingi istrinya, Maria. Ia seorang pria sejati yang setia, pekerja keras, berjiwa tangguh dan tahan banting dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan. Semoga teladan hidup St. Yusuf pekerja, memberi inspirasi bagi kita agar kita tidak takut dengan segala tantangan, cobaan dan penderitaan yang kita alami dalam hidup ini. Sebagai orang Katolik sejati, kita harus benar-benar makan daging dan minum darah Yesus. Kita harus terjun dalam kerasnya dunia ini untuk boleh meraih kesuksesan dan kemenangan dalam hidup. Mari kita semakin teguh dan percaya kepada Yesus, yang telah memberi kita daging dan darahnya untuk kita santap. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar