Selasa, 14 Desember 2021

Semakin Percaya Kepada Tuhan

Luk 7:19-23

 

Esensi pertanyaan dalam konteks meminta klarifikasi atau konfirmasi pada hakikatnya memiliki tujuan utama agar sebuah hal atau persoalan yang pada mulanya belum jelas, masih kabur pada akhirnya dapat secara terang, utuh dan jernih dijelaskan. Orang yang meminta klarifikasi atau konfirmasi atas sesuatu hal biasanya dilatari oleh sikap ragu-ragu. Atau bisa juga ia tidak tahu sehingga ia meminta klarifikasi atau konfirmasi.

 

Ketika mendengar segala sesuatu tentang Yesus dan sepak terjang-Nya, timbul sikap ragu-ragu dalam diri Yohanes Pembaptis tentang Yesus. Yang ia pahami tentang Yesus adalah sosok “Daud baru” yang akan membawa perubahan secara politik dalam negeri di tanah Israel. Yesus disejajarkan sebagai seorang raja duniawi yang besar dan agung. Karena ia akan memiliki kerajaannya sendiri, terlepas dari intervensi bangsa asing. Dia akan memimpin bangsanya dengan gagah berani untuk membebaskan bangsa Israel keluar dari penjajahan dan penindasan bangsa asing. Konsep pemikiran dan pemahaman Yohanes Pembaptis ini tidak sesuai dengan apa yang ia dengar dan ketahui secara riil tentang Yesus.

 

Ada hal kontras yang menciptakan sikap ragu-ragu dalam dirinya. Mana mungkin Mesias yang digambarkan sebagai sosok yang garang untuk berkonfrontasi dengan bangsa penjajah bisa menyata dalam diri Yesus. Sementara Yesus yang ia dengar tidaklah demikian. Yesus sebagai Sang Mesias ini sungguh jauh dari kesan raja duniawi. Ia pergi dari satu kampung ke kampung yang lain membawa warta kasih Allah dengan sabda dan aksi mukjizat-Nya. Ia menawarkan keselamatan kepada semua orang sembari mengajak mereka untuk berjalan di jalan yang benar. Jalan yang sejatinya telah disabdakan oleh Allah sendiri dalam firman-Nya. Bahkan Yesus juga mengajarkan spirit pengampunan. Setiap orang tidak boleh melakukan balas dendam kepada sesamanya. Mereka tidak boleh membenci musuhnya. Mereka harus mengasihi musuhnya.

 

Ini hal yang aneh dan janggal menurut Yohanes Pembaptis. Oleh karena itu, dia meminta para muridnya untuk meminta informasi secara langsung kepada Yesus. Boleh dikatakan dalam hal ini. Yohanes Pembaptis meminta klarifikasi dan konfirmasi mengenai siapa Yesus melalui para muridnya. “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan seorang yang lain?” (Luk 7:19). Yesus menjawab pertanyaan Yohanes dengan menafsirkan perbuatan-Nya melalui teks dari Yesaya, yang menggambarkan hari pembebasan Mesias. Orang buta melihat dan orang lumpuh berjalan (Yes 29:18-19;35:5-6). “Pergilah, dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu lihat dan kamu dengar: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik” (Luk 7:22). Sekali lagi, dengan menghidupkan kata-kata Yesaya dalam perbuatan-Nya, Yesus menegaskan Diri-Nya dan meyakinkan Yohanes untuk tidak ragu-ragu terhadap Diri-Nya.

 

Bahwa sesungguhnya, Yesus adalah Mesias yang sementara dinanti-nantikan itu. Ia adalah Daud baru dengan membawa kerajaan yang baru pula. Ia bukan raja duniawi tetapi raja ilahi yang menyata dalam kerajaan duniawi. Ia datang bukan untuk menegakkan kerajaan duniawi. Melainkan kerajaan Allah yang terwujud dalam dunia nyata. Ia datang membawa pesan keselamatan bagi seluruh umat manusia. Tidak saja dengan kata-kata yang meneguhkan dan menguatkan. Melalui perbuatan ajaib atau aksi mukjizat, Yesus sungguh menyatakan dan menegaskan kasih Allah untuk membawa kebaikan dan keselamatan bagi seluruh umat manusia.

 

Sukacita Injil itu sebenarnya telah hadir bersama-sama dengan kita pada hari ini. Di pekan ketiga masa Adven. Tuhan hendak menyatakan dan menegaskan kepada kita semua bahwa Ia adalah Mesias. Anak Allah yang hidup. Dia datang sendiri ke tengah-tengah kita untuk membawa pembebasan atas dosa-dosa. Dan kita semua akan masuk dalam lingkaran orang-orang yang diselamatkan. Namun apakah kita sungguh percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah yang hidup atau tidak. Dalam kehidupan riil, kita seringkali berlaku seperti Yohanes Pembaptis yang masih bersikap ragu-ragu atau tidak percaya kepada Yesus sebagai Sang Mesias.

Melalui pikiran dan kata-kata, acapkali kita masih mempertanyakan arti sebuah kebenaran dan keselamatan. Apakah Yesus dan Allah itu sungguh ada? Apakah Yesus yang menyejarah itu adalah Allah yang hidup? Apakah setiap manusia dapat diselamatkan melalui jalan Allah dan Yesus? Apakah sesudah kematian ada kebangkitan untuk menyongsong hidup yang baru? Apakah sorga dan neraka itu sungguh-sungguh ada? Bagaimana garansi atau jaminan yang saya dapat ketika dibaptis menjadi orang Katolik? Dan masih banyak lagi litani keragu-raguan kita akan Yesus sebagai Mesias. Anak Allah yang membawa sukacita dan keselamatan dalam hidup orang beriman.

 

Keragu-raguan terhadap Yesus dan Allah yang menggumpal dalam pikiran dan kata-kata membentuk pribadi kita menjadi pribadi yang apatis, tidak mau tahu dan permisif. Kita tidak peduli lagi dengan kehidupan iman kristiani. Kita tidak lagi bergairah untuk berdoa. Baik secara pribadi maupun dalam kelompok. Atau secara berjamaah di gereja. Kita juga tidak peduli untuk terlibat dalam kegiatan sosial keagamaan baik di basis, lingkungan, maupun secara paroki. Secara sosial kita juga mengalami kematian, Walaupun masih hidup secara fisik. Kita tidak mau tahu dengan pelbagai keprihatinan sosial yang ada di sekitar. Karena kita hanya peduli dengan diri sendiri.

 

Hari ini kita semua diajak untuk sungguh yakin kepada Yesus, sebagai Sang Mesias, Anak Allah yang hidup. Kita semua diarahkan untuk mau membangun religiositas yang bersifat interpersonal. Kita dengar sadar, tulus, dan rendah hati mau membangun relasi yang lebih intim dengan Dia yang kita imani. Dalam percakapan-percakapan rohani yang bersifat pribadi dan kolektif, baiklah kita semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, Yesus dan Allah, agar kita tidak bersikap ragu-ragu dan tidak percaya kepada-Nya. Marilah kita mendekatkan diri kepada Tuhan di masa Adven ini dengan membawa sukacita Injil. Semangat mendengarkan Sabda Tuhan, semangat dalam doa dan semangat pelayanan kepada sesama adalah hal-hal konkrit dari sukacita Injil yang bisa kita lakukan. Semoga. ***AKD***

Kamis, 09 Desember 2021

Membangun Iman Komuniter

 

Luk 5:17-26

           

Mengunjungi beberapa keluarga - baik keluarga Katolik maupun non Katolik – memiliki pengalaman dan makna tersendiri dalam hidup saya secara pribadi. Saya menjalaninya bukan sekedar tugas pokok sebagai seorang penyuluh agama Katolik pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lembata. Lebih dari itu, saya memahaminya sebagai sebuah panggilan jiwa untuk membawa kasih dan pelayanan kepada orang lain. Datang, duduk, dengar, dan berbagi kisah dengan keluarga-keluarga yang saya kunjungi menjadi aktualisasi atau wujud nyata iman saya akan Tuhan. Kehadiran saya setidak-tidaknya membawa penghiburan, kekuatan, dan peneguhan bagi mereka untuk tetap bertahan dalam mengarungi kerasnya kehidupan. Walaupun memang, saya bukan seorang superman yang bisa membawa solusi atas pelbagai persoalan yang mereka hadapi. Dalam kebersamaan dan percakapan sederhana yang kami bangun, iman komuniter sangat kental terasa. Ada timbal balik “keselamatan” yang sama-sama kami alami. Mereka sungguh diteguhkan dan dikuatkan. Begitu juga sebaliknya, saya mengalami hal yang sama.

 

Pengalaman iman komuniter ternyata kita temukan juga dalam bacaan Injil hari ini. Beberapa orang dengan tulus sekaligus berani mengusung saudara mereka yang lumpuh kepada Yesus. Niatnya cuma satu. Supaya saudara yang lumpuh itu dapat sembuh dan berjalan. Karena tidak menemui celah untuk menerobos kerumusan banyak orang, mereka nekat memutuskan untuk memasukkan si lumpuh lewat atap rumah yang dibongkar. Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Yesus kagum dengan sikap iman yang telah mereka tunjukkan kepada-Nya. Maka tanpa ragu-ragu Ia memberi pengampunan atas dosa-dosa mereka. Dan kepada si lumpuh, Yesus juga menyembuhkan penyakitnya. Tidak hanya si lumpuh, namun semua orang yang menyaksikan secara langsung peristiwa fenomenal itu, mengucap syukur dan memuliakan nama Allah.

 

Ada dua catatan penting yang bisa dipetik dari kisah Injil hari ini. Pertama, karena memiliki kuasa ilahi, maka Yesus memiliki legitimasi untuk mengampuni dosa dan menyembuhkan orang yang lumpuh. Jikalau ia tidak memiliki kuasa demikian, tentu ia tidak bisa mengampuni, apalagi menyembuhkan orang sakit. Para pemimpin Yahudi (ahli-ahli taurat dan orang Farisi) sangat gusar dengan apa yang dilakukan oleh Yesus. Mereka terkejut dan mengira Yesus menghujat nama Allah. Kita bisa memaklumi hal ini karena pikiran dan hati mereka belum terbuka untuk mengenal siapa sosok Yesus sebenarnya. Afirmasi Yesus jelas terbaca dalam sabda-Nya. “Tetapi supaya kamu tahu bahwa di dunia ini Anak Manusia berkuasa mengampuni dosa” (Luk 5:24). Anak Manusia menunjuk diri jati diri Yesus. Karena datang dan diutus oleh Allah, maka Yesus memiliki kuasa ilahi untuk mengampuni dan menyelamatkan semua orang.

Kedua, sikap kerjasama yang ditunjukkan oleh orang-orang yang membantu si lumpuh. Si lumpuh bisa dipastikan tidak akan selamat apabila tidak dibantu oleh sesama saudaranya. Ia tetap akan tinggal dalam kesendirian dan ketidakselamatan karena tidak ditolong oleh orang lain. Berkat rasa simpati, empati, dan perhatian dari orang lain, si lumpuh akhirnya dapat berjumpah dengan Yesus. Dan ia pun – bersama dengan para pengusungnya – mendapatkan keselamatan. Sikap kerjasama dan mau membantu inilah yang menjadi ciri khas kehidupan iman komuniter. Ciri khas iman yang komuniter menjadi lebih hidup dan bermakna karena orang sungguh percaya akan karya Allah yang turut ikut campur dalam kehidupan manusia. Tanpa percaya kepada Allah, iman komuniter itu tidak akan tumbuh. Ia hanya akan menjadi sebuah komunitas biasa. Komunitas tanpa spiritualitas Allah.

 

Orang-orang yang datang kepada Yesus membawa si lumpuh adalah karakteristik orang-orang yang sementara membangun iman yang komuniter. Mereka sungguh percaya kepada Yesus. Melalui penyerahan diri yang total kepada Yesus, mereka percaya hidupnya akan diselamatkan. Tidak hanya si lumpuh. Namun mereka semua yang hidup dan tumbuh dalam komunitas iman itu. Mereka juga menyadari bahwa tanpa kepercayaan kepada Yesus, keselamatan itu tetap tinggal dalam sebuah harapan kosong.

 

Sebagai pengikut Kristus, acapkali kita juga kurang atau tidak menghidupi ciri iman komuniter dalam kehidupan. Lebih banyak kita berjuang sendiri mencari keselamatan. Kita bersikap tidak peduli dan tidak mau tahu dengan situasi yang dialami oleh orang lain. Kita memiliki prinsip untuk mendahulukan kepentingan diri sendiri. Hari ini kita diteguhkan untuk lebih bersikap terbuka dalam membangun iman komuniter bersama orang-orang yang ada dan hidup bersama kita. Keselamatan itu semestinya tidak bersifat personal. Tidak diperjuangkan secara pribadi. Namun sejatinya dibangun dan diperjuangkan bersama-sama dengan orang lain.

 

Kini kita telah memasuki masa Adven yang kedua. Sebuah pekan dimana kita menghayati nilai kesetiaan untuk mempersiapkan jalan kedatangan bagi Tuhan. Dalam makna kesetiaan itu, mari kita membangun sikap iman yang komuniter. Semoga mata hati kita lebih terbuka untuk melihat pelbagai keprihatinan sosial yang ada di sekitar kita. Sehingga tanpa ragu, kita datang “menyembuhkan” mereka walaupun dengan hal-hal yang kecil dan sederhana. Semoga. ***AKD***

Minggu, 21 November 2021

MEMBERI DENGAN TULUS

Luk 21:1-4

 

Dalam moment persiapan suksesi acara syukuran imam baru yang sudah berlangsung sekitar tiga pekan yang lalu, saya membawa sumbangan atau kontribusi dari instansi tempat saya bernaung (Kementerian Agama Kab. Lembata). Jumlah nominalnya tidak seberapa. Namun dalam lingkup acara keluarga yang sederhana, nominal sumbangan itu dilihat sebagai angka yang cukup besar. Ada beberapa orang yang berseloroh bahwa kantor agama itu urusannya soal agama jadi pantas kalau mereka menyumbang demikian untuk sebuah pesta iman (syukuran imam baru). Saya hanya tersenyum. Mencoba mengamini saja apa yang mereka sampaikan. Sebenarnya terbersit dalam hati dan pikiran alasan yang lebih rasional dan mulia, daripada sekedar alasan di atas.

 

Para sahabat saya di instansi Kementerian Agama memberi kontribusi karena dilatari oleh beberapa alasan. Pertama, sudah ada semacam kesepakatan lisan di antara kami untuk turut bersolider satu sama lain dalam pelbagai urusan yang penting. Kedua, ada filosofi do ut des. Saya memberi supaya kamu juga memberi. Memang prinsip dengan pamrih itu harus kita hindari dalam memberi sesuatu. Namun, dalam realitas tidak bisa dipungkiri bahwa semangat solidaritas dan tolong menolong itu harus mendapat tempat pertama dan utama. Walaupun tidak bersifat memaksa, namun tentu ada kepekaan dan kepedulian yang mendorong orang untuk saling berpartisipasi. Ketiga, spirit memberi sudah menjadi bagian dari tradisi kehidupan instansi kementerian agama. Ini bukan suatu yang berlebihan. Atau bukan juga ada kehendak ingin mengagungkan instansi yang bersangkutan. Ada spirit tertentu yang sudah, sedang, dan akan terus dihidupi. Spirit itu adalah spirit ikhlas beramal. Segala hal yang hendak diberikan, entah sedikit atau banyak, tetap menjadi bagian yang tulus dan tidak terpisahkan dalam nuansa kebersamaan.

 

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus mengkontraskan tindakan memberi persembahan yang dilakukan oleh dua kelompok sosial yang berbeda. Kelompok yang  pertama adalah orang kaya. Sedangkan kelompok yang kedua adalah orang miskin, yang diwakili oleh seorang janda miskin. Bagi Yesus, menjadi hal yang lazim ketika orang kaya menyumbang. Dia menyumbang karena tentu memiliki kelebihan. Yang menjadi tidak biasa dan menggugah nurani adalah ketika melihat seorang janda miskin turut menyumbang. Si janda adalah perempuan yang hidup sendirian karena sudah ditinggal mati atau cerai oleh suaminya. Stereotip atau cap yang disematkan bagi seorang janda cenderung negatif. Karena sudah dtinggal oleh suaminya, praktis ia tidak lagi memiliki sandaran dalam kehidupannya. Termasuk dalam sisi ekonomi. Pasti seorang janda tidak lagi memiliki apa-apa. Ia tidak hanya menjadi janda. Namun janda yang miskin. Walaupun realitas tidak selalu menyatakan demikian. Karena ada banyak juga janda-janda yang hidupnya berkecukupan dan bahkan bergelimang harta.

Namun yang dilihat oleh Yesus pasti sungguh-sungguh seorang janda miskin. Dalam kesulitan dan kemiskinannya, ia masih mampu berpikir untuk berderma dari kekurangannya. Berbeda dengan orang-orang kaya yang dilihat oleh Yesus. Rupanya Yesus sudah mengetahui latar atau rekam jejak dari para penyumbang elitis tersebut. Mereka menyumbang karena pertama mereka memiliki kelebihan. Kedua, mereka menyumbang dengan motivasi yang tidak murni. Mereka ingin dilihat dan diakui oleh banyak orang. mereka mau mencari hormat dan sembah sujud dari orang yang melihatnya. Sebesar apa pun sumbangan yang mereka berikan, tentu berbeda nilainya dengan sumbangan si janda miskin. Si janda miskin memberi dari kekurangannya dengan ihklas. Sedangkan orang-orang kaya memberi dari kelimpahan, tetapi tidak memiliki niat dan motivasi yang tulus. “Sebab mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya” (Mrk 21:4).

 

Bagi saya, dan saya kira kita semua sepakat, tolok ukur dalam memberi atau berderma tidak bisa dilihat dari besar kecilnya jumlah atau nilai yang terkandung di dalam pemberian itu. Yang paling penting dan mengatasi semua entitas pemberian itu adalah spirit ketulusan dan keikhlasan. Orang harus melepaskan segala keterikatan manusiawinya ketika hendak memberikan sesuatu. Orang harus dibebaskan dari sikap ego, angkuh, dan kepentingan untuk mencari pamor atau popularitas diri. Sikap tulus atau ikhlas mendorong kita untuk tidak jumawa atau merasa diri paling hebat atau berjasa. Sikap tulus atau ikhlas menghalangi kepentingan ego untuk berpikir tentang pamrih atau balas jasa. Dan sikap tulus membebaskan ambisi pribadi untuk mencari prestise dan rasa gengsi.

 

Paus Fransiskus pernah berkata: “Hidup itu baik ketika anda berbahagia. Namun alangkah lebih baik apabila, orang merasa berbahagia karena kebaikan yang anda lakukan”. Salah satu kebaikan yang kita lakukan adalah memberi dengan sikap yang tulus. Tanpa ada kepentingan menyimpang yang bermain di dalamnya. Saya memberi atau menyumbang karena dilandasi oleh sikap moral mau berbela rasa atau peduli dengan orang lain yang sementara menderita atau sakit. Dan yang lebih utama adalah saya memberi karena diajarkan oleh Tuhan yang saya imani dalam hidup. “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Mat 25:40).

 

Hari ini kita memperingati Santa Sesilia yang membaktikan kemurnian seluruh diri dan hidupnya demi Tuhan. Karena ketulusan dan kesalehan hidupnya yang mempesona, Sesilia berhasil membawa suaminya Valerianus dan Tiburtius saudara suaminya, menjadi seorang pengikut dan martir Tuhan yang sejati. Pada akhirnya juga, Santa Sesilia harus mempertaruhkan nyawanya sebagai seorang martir demi mempertahankan iman dan ketulusan hidupnya bagi Tuhan. Bersama Santa Sesilia, mari kita mempersembahkan seluruh diri dan hidup demi kemuliaan nama Allah di atas bumi dan di dalam Sorga. Tentu tidak harus sebanding seperti apa yang sudah dilakukan oleh Sesilia. Dengan hal-hal kecil yang bisa membuat orang lain tersenyum, dikuatkan dan diteguhkan, sebenarnya kita sementara memberi diri dengan baik dan tulus bagi Tuhan. Amin. ***AKD***


Minggu, 17 Oktober 2021

Setia Dalam Jalan Tuhan

 

Luk 10:1-9

           

Hari ini kita merayakan pesta Santo Lukas, sang penulis Injil Lukas dan Kisah Para Rasul. Santo Lukas berasal dari kota Antokhia. Antokhia modern dikenal dengan nama Antakhya. Sebuah kota di negara Turki yang terletak di daerah perbatasan antara negara Turki dan Suria. Di tempat inilah, untuk pertama kalinya para pengikut Yesus dikenal dengan nama Kristen. Antokhia juga menjadi titik awal penyebaran ajaran Kristus oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai jemaat Kristen. Gerakan kristenisasi yang terbuka dan massif di kota Antokhia ternyata tidak sekedar mengundang simpati. Karena terbukti begitu banyak orang yang menyatakan diri untuk bergabung menjadi jemaat Kristen (sebutan untuk para pengikut Kristus). Salah satu di antara orang tersebut adalah Lukanoz, atau lazim dikenal dengan Lukas.

 

Lukas adalah seorang tabib yang terkenal di kota Antokhia. Setelah menjadi Kristen, ia bergabung dengan Paulus. Lukas menjadi kawan seperjalanan Paulus untuk bermisi ke daerah Makedonia, Yerusalem dan Roma. Di kota Yerusalem, Paulus sempat ditahan oleh otoritas setempat selama dua tahun. Dan Lukas dengan setia mengunjungi Paulus yang berada di dalam penjara. Tentu saja bukan sekedar kunjungan biasa. Melainkan kunjungan yang melahirkan banyak inspirasi bagi Lukas untuk menulis teks Injil dan Kisah Para Rasul. Lukas banyak mendengar informasi, syering, pengetahuan, dan banyak kisah lainnya dari Paulus. Ia dengan rajin dan teliti mengumpulkan banyak bahan sebagai rujukan yang sangat penting untuk menulis dua kitabnya.

 

Lukas adalah seorang intelektual yang cerdas. Hal ini terbukti dari caranya meramu bahasa tulisan yang yang halus dan sangat menyentuh. Pandangannya sangat dipengaruhi oleh ajaran Paulus. Sebagaimana Paulus, ia juga menekankan bahwa keselamatan Allah ditujukan kepada semua bangsa. Tidak hanya kepada umat Israel saja. ia menaruh perhatian khusus kepada orang-orang miskin dan hina dina. Ia suka menunjukkan sikap belaskasih dan pengampunan dari Allah kepada manusia. Injil Lukas disebut juga dengan Injil Kerahiman Allah atau Injil Cinta Allah. Gelar itu disematkan dengan pendasaran bahwa fokus Injil Lukas ditujukan kepada orang-orang miskin, kaum yang dimarginalisasi dalam masyarakat, serta para pendosa. Penginjil Lukas dilambangkan dengan binatang lembu. Karena ia memulai kisah Injilnya dengan menulis kisah tentang imam Zakharia yang membawa persembahan dalam Bait Allah. Lukas meninggal dalam usia 84 tahun sebagai seorang martir.

 

Lukas merupakan satu-satunya penginjil yang menulis tentang kisah perutusan kedua Yesus atas tujuh puluh murid. Misi ini merupakan misi lanjutan. Setelah misi perutusan pertama yang dilakukan oleh dua belas murid. Sepertinya Lukas ingin memberikan makna khusus atas kegiatan missioner Gereja sesudah kenaikan Yesus. Menurut ajaran para rabi, ada tujuh puluh bangsa di dunia. Para murid harus mendahului Dia (Yesus). Mereka tidak mewartakan diri atau ajaran mereka sendiri, melainkan harus mempersiapkan jalan bagi Yesus. Ini adalah tugas terus-menerus dari para pewarta Kristen. Para misionaris diutus berdua-berdua supaya dapat memberikan kesaksian, yang dapat dianggap sebagai kesaksian resmi mengenai Yesus dan Kerajaan Allah. Yesus mendesak untuk berdoa agar lebih banyak pekerja dalam panenan. Tuhan panenan memperhatikan perkembangannya. Ia telah menjawab kebutuhan yang sedikit tergantung pada keterlibatan aktif dari mereka yang diutus dalam misi ini.

 

Yang menarik dari kisah Injil Lukas hari ini adalah gambaran situasi sulit yang akan dialami para murid. Dengan gambling, Yesus mengatakan bahwa para murid diutus seperti anak domba yang datang ke tengah-tengah serigala. Para murid akan mengalami hambatan dan tantangan yang tidak kecil. Kemungkinan mereka akan ditolak, dihina, atau dicemooh. Bahkan bisa saja nyawa mereka menjadi taruhan. Tantangan yang akan dihadapi oleh para murid di daerah misi seakan berlipat ganda dengan adanya ultimatum dari Yesus. Yesus mengingatkan mereka agar tidak membawa pundi-pundi, bekal, atau kasut. Mereka juga dilarang memberi salam kepada orang yang ditemui dalam perjalanan. Ini sangat aneh dan tidak masuk akal. Namun jika kita merefleksikannya lebih dalam, tentu ada makna atau pesan di baliknya.

 

Yesus menghendaki agar para murid tetap fokus pada misi mulia yang sementara diemban. Mereka tidak boleh memikirkan dan menjadi terikat dengan segala kebutuhan, fasilitas atau pun keperluan selama bermisi. Mereka hanya fokus mewartakan kabar gembira. Selebihnya, Tuhan yang akan mengurusnya. Melalui kedermawanan orang-orang yang mereka singgahi, Tuhan akan melakukan intervensi-Nya. Mereka akan mendapatkan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan fasilitas lainnya, dari kebaikan orang-orang yang percaya akan Yesus Kristus. Sekali lagi, poin penting yang ditekankan Yesus adalah tetap fokus dalam jalan misi pewartaan kabar gembira. Para murid tidak boleh merasa terbebani atau terikat dengan barang-barang duniawi. Mereka juga tidak boleh takut dengan tantangan yang mengancam keselamatan pribadi. Karena Tuhan pasti akan bekerja dengan cara-Nya untuk melindungi mereka.

 

Situasi sulit yang digambarkan oleh Yesus tidak saja dialami oleh para murid kala itu. Sebenarnya kita juga sebagai para murid di zaman ini, sementara dihadapkan dengan pelbagai tantangan dan hambatan. Entah itu hambatan atau tantangan dari luar, maupun tantangan yang datang dari dalam diri kita sendiri. Hambatan dari luar bisa saja ada tekanan, intimidasi atau pressure untuk meninggalkan keyakinan iman. Bisa juga berupa tawaran ekonomi, pekerjaan, kekayaan, kuasa dan jabatan. Hambatan dari dalam terkait dengan integritas pribadi. Misalnya kita mulai bersikap tidak setia dan mementingkan ego pribadi. Oleh karena itu, Yesus mengingatkan agar kita tetap fokus dan setia pada jalan-Nya. Harta, kekayaan, jabatan, dan kuasa itu memang penting dalam situasi riil kehidupan. Namun kita tidak boleh menjadikannya sebagai fokus dan tujuan dalam kehidupan. Kita harus fokus dalam jalan Tuhan dengan tetap bersikap setia kepada Diri-Nya. Setia tidak hanya dalam mempertahankan identitas keyakinan. Atau berani melawan segala kesesatan dan kelaliman. Namun yang tidak kalah penting adalah kita tetap mewartakan kabar gembira melalui panggilan tugas, pekerjaan, kapasitas, kapabilitas dan karya kita di dunia. Semoga. ***AKD***

Senin, 27 September 2021

BERI KESEMPATAN UNTUK BERUBAH

Luk 9:51-56

            Ketika kita ingin melakukan suatu kegiatan di tengah-tengah komunitas masyarakat meskipun memberi bermanfaat bagi kehidupan mereka namun terkadang maksud dan tujuan baik kita ditolak oleh komunitas itu tanpa suatu alasan mendasar. Secara manusiawi akan muncul kemarahan dan kejengkelan dalam hati meski kita berjuang untuk tampil tenang. Fenomena ini secara tegas mau menunjukkan bahwa manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan pada dirinya dan pada tahap tertentu kemarahan dan kebencian itu dapat meledak di luar kontrol. Pengolahan dan penguasaan emosi menjadi penting agar tidak meningkat menjadi permusuhan yang tidak perlu. Usaha pengendalian diri ini harus diikuti oleh komitmen yang kuat untuk mau berubah dan tidak tergantung dari orang lain.

           

Injil hari ini memberi kita suatu pelajaran berarti bagaimana Yesus menegur Yakobus dan Yohanes agar tidak bertindak gegaba mengutuk orang-orang Samaria yang menolak kehadiran dan rencana kedatangan Yesus dan murid-muridNya di Samaria. Yesus melihat masih ada peluang pertobatan bagi orang-orang Samaria, karena itu mereka harus diberi kesempatan untuk berubah. Cara pandang dan cara melihat Yesus berbeda degan cara pandang dan cara melihat manusia. Penolakan orang Samaria terhadap kehadiran Yesus sontak membuat kedua murid utusan Yesus marah besar bahkan mereka berkata: “Tuhan, apakah Engkau mau, supaya kami menyuruh api turun dari langit untuk membinasakan mereka?”. Yesus mengarahkan pandangan dan menegur mereka untuk tidak melakukan hal konyol itu. Yesus seakan mau mengatakan: berilah mereka waktu dan kesempatan untuk berubah (bertobat) dan jangan membuang-buang kesempatan untuk memaksa orang yang tegar hati untuk mendadak bertobat seperti membalikan telapak tangan. Yesus mau mengajari para murid untuk bersikap tenang dan mampu mengendalikan diri ketika berhadapan dengan masalah, dan cara yang diambil Yesus untuk menenangkan hati para murid dengan menyuruh mereka berpindah ke desa yang lain, mungkin di sana mereka dapat menerima Juru selamat dan warta pertobatanNya. Pilihan untuk membinasakan orang-orang Samaria bukanlah solusi terbaik untuk mengatasi masalah, setiap masalah harus diselesaikan dengan cara dan pendekatan bijak yang dikuatkan oleh doa. Doa menjadikan orang berhati batu menjadi lembut dan mampu menerima Tuhan dalam hidupnya. Yesus tidak saja mendidik para murid untuk matang secara Rohani tetapi juga harus matang secara psikologis agar terjadi keseimbangan yang ideal atasnya. Para murid tidak saja cakap dalam mengajar tetapi aspek kepribadian dan mental juga harus matang agar tidak mengambil tindakan yang kontras dengan misi kehadiran Yesus untuk menyelamatkan semua umat manusia.

           

Yakobus dan Yohanes sepertinya belum terbiasa menghadapi masalah dan penolakan dalam misi pewartaan mereka, sehingga kelihatan sekali ketika mereka mengalami penolakan dari orang Samaria mereka terkesan putus asa dan ingin mengambil langkah pintas untuk membumihanguskan desa Samaria. Pilihan tindakan mereka mencerminkan kualitas hidup rohani yang mereka miliki, karena orang yang memiliki hidup rohani yang matang selalu memiliki seribu satu pertimbangan dengan skala prioritas tinggi agar tidak mengaburkan dan menggagalkan misi utama pelayanan mereka. Dalam karya kerasulan dan pelayanan di tengah-tengah umat, kita tidak bisa mengharapkan pertobatan instan kepada mereka, ada proses yang harus dilalui untuk mencapai kematangan iman. Ada banyak tantangan dan kesulitan yang akan kita hadapai berhadapan dengan kelompok yang suka mencari pembenaran diri. Untuk menghadapi kelompok orang semacam itu dibutuhkan kerendahan hati dan pengorbanan untuk memenangkan hati mereka. 

           

Rasul Yakobus dan Yohanes adalah contoh nyata yang mengungkapkan perangai dan sifat dasar manusia dewasa ini. Kita seakan kurang dewasa menghadapi setiap masalah yang muncul, kita mengandalkan kekuatan dan emosi untuk menyelesaikan setiap masalah dan kita berpikir orang akan berubah kalau kekerasan kita gunakan untuk menjinakan mereka. Kenyataan menunjukkan bahwa setiap masalah yang diselesaikan dengan jalan kekerasan sama sekali tidak memberi solusi bahkan menciptakan masalah baru. Dalam konteks hidup beragama, Yesus datang membawa ajaran baru yaitu cinta kasih yang sama sekali berbeda dari ajaran apa pun, bahkan militansi dari ajaran baru ini mendorong kita untuk bersikap lemah lembut, sabar, pemaaf dan mendoakan musuh yang memusuhi kita. Ajaran baru ini hanya bisa dilaksanakan bila kita mengadopsi kerendahan hati Tuhan Yesus yang mendoakan musuh-musuNya dan rela berkorban bagi keselamatan umat manusia. Yakobus dan Yohanes berpikir mereka telah lama hidup bersama Yesus maka mereka berhak menggunakan rahmat dan kuasa yang mengalir dalam diri mereka untuk membinasakan orang lain. Teguran Yesus sebagai suatu peringatan agar mereka tidak menjadi sombong, harus lebih mawas diri dan bertanggungjawab menggunakan kuasa dan rahmat yang diberikan kepada mereka. Rahmat dan kuasa tidak boleh dipakai sewenang-wenang untuk mengutuk dan membinasakan orang tetapi hendaknya dipakai untuk membantu orang bertobat dan menghantar mereka kepada keselamatan.

           

Terkadang kita juga berlaku seperti Yakobus dan Yohanes, kita sering menggunakan kuasa dan jabatan kita untuk menekan orang lain/bawaan kita. Ketika mereka tidak lagi setia dan mau diajak bekerja sama, kita berjuang melengserkan mereka atau mengganti posisi mereka dari ruangan agar posisi itu bisa ditempati oleh orang-orang yang tidak berkualitas dan memiliki kualifikasi pada bidangnya, yang penting rajin manggut dan OBS (asal bapa senang). Strategi yang kita bangun ini sama sekali tidak mendidik, tidak membangun kesadaran dan kesetiaan orang, yang ada hanyalah kemunafikan yang dipertontonkan tanpa kualitas kerja yang memadai. Yesus menginginkan dari kita adalah pendekatan personal yang humanis agar dapat memenangkan hati orang yang keras, dengan begitu berangsur-angsur orang dapat kembali bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan.

           

Injil yang kita renungkan hari ini menginspirasi dan memotivasi kita untuk mengutamakan kualitas pelayanan kepada sesama. Sikap dasar yang dibutuhkan dalam pendekatan pelayanan adalah kesabaran, kerendahan hati dan keteladanan yang memungkinkan orang dapat membaharui diri menuju pertobatan dan memperoleh keselamatan dari Allah. Kita  diminta oleh Yesus untuk melayani dengan hati dan menghindari kekerasan dan pemaksaan kepada sesama. Hendaknya kita mendedikasikan diri secara total dan mengarahkan mereka dengan kasih sayang agar kita dapat memenangkan hati dan jiwa mereka untuk hidup sesuai dengan Kehendak Allah. Semoga teladan kerendahan hati Yesus membaharui hati kita agar sikap dan tindakan kita kepada sesama mencerminkan kasih Yesus.

Minggu, 19 September 2021

Menjadi Pelita

Luk 8:16-18

 

Pada zaman dahulu, sebelum ada dan berkembangnya listrik seperti sekarang ini, pelita menjadi sumber utama penerangan di malam hari. Komponen pelita sangat sederhana. Ada kaleng bekas yang berfungsi sebagai rumah pelita. Dalam rumah pelita ini ada bahan bakar minyak dan sumbu yang dimasukkan dalam sepotong pipa. Kaleng bekas, minyak, dan sumbu adalah tiga komponen penting yang menjadikan pelita bisa bekerja dengan baik. Minyak yang cukup dan sumbu yang baik akan menciptakan nyala pelita yang baik pula.

 

Dalam perumpamaan tentang pelita, Yesus menandaskan bahwa pelita yang baik akan berfungsi dengan baik apabila di letakkan di atas kaki dian supaya semua orang yang masuk ke dalam rumah dapat melihat cahayanya. Tentu saja, dengan ditaru di atas kaki dian, cahaya pelita tersebut dapat menerangi keadaan sekitar sehingga orang tidak merasa kegelapan. Pelita akan kehilangan fungsinya apabila orang menutupinya dengan tempayan atau menempatkannya di bawah tempat tidur.

 

Pelita di atas kaki dian adalah bahasa simbolik. Yesus menggunakan simbol pelita untuk menunjuk pada misi perutusan yang akan dikerjakan oleh para murid. Para murid harus menjadi seperti pelita yang membawa warta kebaikan bagi semua orang. Peran para murid yang sentral ini tentu tidak mudah. Mereka harus memompa diri dengan kekuatan dari Yesus sendiri. Mereka harus serius belajar dan terus melatih diri untuk menjadi seorang pewarta yang mumpuni. Dalam bahasa simbolnya, mereka harus memiliki sumbu yang baik dan minyak yang cukup agar tetap bernyala dalam misi perutusan.

 

Untuk menjadi pelita yang baik, ada beberapa kualifikasi yang harus dimiliki oleh para murid. Pertama, mereka harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang baik akan warta atau sabda Allah. Dan dalam masa kebersamaan bersama Yesus, secara tidak langsung mereka sementara belajar sekaligus melatih diri. Ada banyak content atau isi sabda Yesus yang mereka dengar dan secara otomatis terinternalisasi dalam diri. Dalam diskusi dan dialog bersama Yesus, content tentang sabda Allah terus didalami dan dimatangkan. Ada banyak hal yang pasti belum dipahami para murid karena dibentangkan oleh Yesus dalam bahasa perumpamaan atau alegori.

 

Kedua, para murid harus memiliki kompetensi untuk melakukan tindakan mukjizat. Untuk memperoleh kompetensi unik ini, para murid harus sungguh percaya kepada Yesus. Dengan kepercayaan yang total, kompetensi ini pasti akan mengalir dalam diri. Berkat khusus ini dengan sendirinya akan diberikan Yesus kepada para murid sebagai mitra kerja-Nya. Kuncinya, mereka harus sungguh percaya. Tanpa kepercayaan, mereka tidak akan bisa berbuat apa-apa untuk meyakinkan para pendengarnya. Tindakan mukjizat menjadi unsur penting bagi para murid dalam menjalankan fungsi sebagai pelita. Orang-orang yang mendengar sabda Allah, akan semakin diyakinkan dengan tindakan mukjizat. Orang-orang tidak akan ragu untuk mengikuti Allah, karena sabda-Nya begitu nyata dinyatakan dengan aksil fenomenal yang menggugah.

 

Ketiga, para murid harus menjaga integritas diri. Apa yang mereka katakan harus sejalan dengan tampilan pribadi secara konkrit di tengah umat. Ketika berbicara tentang kejujuran, para murid harus benar-benar mewujudkan kejujuran itu dalam tindakan. Mereka tidak boleh mengambil untung dengan melakukan kebohongan atau ketidakjujuran. Ketika berbicara tentang keberpihakan kepada orang kecil, mereka harus sungguh melakukannnya. Para murid tidak boleh menunjukkan tindakan yang apatis atau masa bodoh ketika menghadapi realitas demikian. Ketika berbicara tentang kebenaran, para murid harus memperjuangkan kebenaran itu dalam aksi nyata. Mereka tidak boleh mempermainkan kebenaran demi mendapatkan keuntungan secara pribadi atau kelompok. Ketika berbicara tentang kesederhanaan dan kelembutan hati, para murid harus sungguh menunjukkan pribadi yang sederhana dan lembut. Mereka tidak boleh menjadi pribadi yang mencari kemewahan. Apalagi bersikap arogan dan tidak menganggap orang lain.

 

Menjadi pelita yang baik, tidak saja dimiliki oleh para murid yang pertama. Melalui sakramen pembaptisan. kita tidak saja dilegalkan menjadi anggota Gereja. Kita juga telah disahkan untuk menjadi seorang pewarta Sabda Allah. Dalam bahasa Injil hari ini, kita memiliki kewajiban dan hak untuk menjadi pelita yang baik. Tentu untuk menjadi pelita yang baik tidak harus memiliki kualifikasi sempurna yang dimiliki oleh para murid. Kita tidak perlu harus memiliki wawasan atau pengetahuan yang mumpuni. Kita juga tidak perlu belajar membuat tanda-tanda heran untuk meyakinkan orang lain. Yang paling mendasar dari kualifikasi pelita yang baik adalah menjaga integritas diri. Segala hal baik yang kita ucapkan, harus sungguh-sungguh diwujudnyatakan dalam perbuatan atau tindakan nyata.

 

Saya merasa tergugah sekaligus tergugat dengan syering seorang warga binaan Lapas terkait dengan bacaan Injil hari ini (Luk 8:16-18). Dalam syeringnya, ia mengatakan bahwa ia tidak bisa menjaga integritas diri. Walaupun ia berasal dari kalangan intelektual yang berbicara banyak tentang nilai-nilai kebaikan, namun sesungguhnya ia tidak mampu menjaga integritas diri. Ia berlaku berlawanan dengan nilai-nilai moral dan ajaran kristiani. Ia sebetulnya sudah mendapat peringatan. Tetapi ia tidak mengindahkan peringatan tersebut. Ia tetap melakukan perbuatan yang jahat sehingga pada akhirnya ia digiring ke dalam lembaga pemasyarakatan. Dalam refleksinya, sang warga binaan tersebut membenarkan kata-kata yang telah disampaikan oleh Yesus. “Tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ia anggap ada padanya” (Luk 2:18). Semua kekayaan, prestise dan prestasi dirinya telah hilang karena ia tidak mampu membawa nyala pelita yang baik bagi orang lain.

 

Hari ini, kita mendapat pengajaran dari Yesus untuk menjadi pelita yang baik bagi orang lain. Menjadi pelita yang baik berarti kita harus menjadi pewarta yang membawa kebaikan dan keselamatan bagi sesama. Dalam tugas dan pengabdian kita yang beraneka ragam, melekat tugas seorang murid Kristus untuk menjadi pelita yang baik. Point paling penting untuk mengimplementasikannya adalah menjaga integritas diri. Tentu hal ini tidak mudah. Ada banyak tantangan atau halangan yang seringkali membuat nyala pelita kita menjadi suram atau padam. Namun, tidak seharusnya kita bersikap pasrah dan putus asa. Kita harus bangkit untuk menyalakan kembali pelita dalam diri kita masing-masing. Kita harus kembali memasrahkan diri kepada kehendak Tuhan dan tetap menjalin hubungan yang akrab dengan diri-Nya. Mari kita menjadikan diri sebagai pelita yang baik bagi orang-orang yang sementara kita layani dalam tugas dan pengabdian kita di tengah dunia. Amin. ***AKD***

Rabu, 15 September 2021

Dukacita Maria Menjadi Penuh Sukacita

Luk 2:33-35; Yoh 19;25-27

Hari ini tanggal 15 September, Gereja Katolik memperingati Hari Raya Santa Perawan Maria Berdukacita. Perayaan ini sudah dimulai sejak abad kedua belas. Pada tahun 1814, untuk menghormati tujuh Dukacita Maria, Paus Pius X menetapkan tanggal 15 September sebagai hari bagi umat beriman merayakan pesta Santa Perawan Maria Berdukacita. Pesta santa Perawan Maria Berdukacita merupakan penghormatan terhadap kemartiran rohani Bunda Maria serta kebersamaan dalam penderitaannya bersama Putranya, Yesus Kristus. Maria menjadi Co-Redemptrix atau penebus penyerta karena berperan penting dalam membantu sejarah keselamatan bersama Yesus. Peran Maria sebagai penebus penyerta tentu tidak menggantikan peran Yesus sebagai Sang Penebus utama. Maria hadir sebagai mitra Allah untuk turut mengalami penderitaan yang dialami Yesus. Maria yang berdukacita sungguh menggambarkan dirinya sebagai seorang murid yang setia dan penuh keteladanan. Seorang murid yang tidak saja taat, tetapi secara total memasrahkan dirinya dalam penderitaan untuk mensukseskan warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus.

 

Simeon melukiskan dukacita Maria dengan kata-kata: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan. Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Maria tentu saja bingung dan tidak mengerti apa maksud dari perkataan Simeon. Namun dalam ketidakpahamannya, Maria tetap bersikap setia dan taat pada segala rencana Allah. “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk 1:38). Sejalan dengan tradisi gereja, ada tujuh dukacita yang telah dialami Maria. Pertama, Pengungsian keluarga kudus ke Mesir. Kedua, Kanak-Kanak Yesus yang hilang dan ditemukan di Bait Allah. Ketiga, nubuat Simeon. Keempat, Bunda Maria berjumpa dengan Yesus dalam perjalanan-Nya ke bukit Kalvari. Kelima, Bunda Maria berdiri di dekat kayu Salib ketika Yesus disalibkan. Keenam, Bunda Maria memangku jenazah Yesus setelah diturunkan dari Salib. Dan ketujuh, Yesus dimakamkan. Tujuh dukacita Maria ini menegaskan ramalan Simeon tentang sebuah pedang yang menembus jiwa Maria.

 

Tujuh dukacita Bunda Maria erat terkait dengan Paskah Yesus Kristus sendiri. Semua dukacita Bunda Maria dilakukan karena ketaatannya kepada kehendak Tuhan. Bunda Maria menggambarkan dirinya sebagai abdi Tuhan. Seorang abdi yang memberikan dirinya secara total kepada Allah dengan menyertai Yesus Putera Allah. Bunda Maria senantiasa hadir sepanjang hidup Yesus. Sejak pertama kali menerima kabar sukacita hingga hari raya pentekosta, Bunda Maria selalu hadir. Hingga saat ini, Gereja sungguh merasakan kehadiran Bunda Maria. Kita semua selalu berdoa: “Santa Maria Bunda Allah, doakanlah kami yang berdosa ini, sekarang dan pada waktu kami mati”. Ketidaktaatan manusia kepada kehendak Allah,”ditebus”melalui ketaatan Maria kepada rencana Allah. Karena itu, para Bapa Gereja menyebut Maria sebagai Hawa baru. St. Hieronimus (347-420) mengatakan “Per Evam mors, per Maria vita”. Maut datang melalui Hawa, kehidupan datang melalui Maria. 

 

Keterlibatan Bunda Maria di dalam Gereja merupakan perintah dari Yesus Putranya. Penginjil Yohanes melaporkan bahwa ketika Yesus sedang bergantung di salib, berdirilah ibu Yesus, saudara ibu Yesus, Maria, istri Kleopas dan Maria Magdalena. Pada saat menderita seperti ini Yesus memandang ibu-Nya dan menyerahkan murid yang dikasihi-Nya. Ia berkata: “Ibu, inilah anakmu!” Ia juga berkata kepada murid yang dikasihi-Nya: “Inilah ibumu!” Dan dikatakan bahwa sejak saat itu, murid yang dikasihi Yesus menerima Maria di rumahnya. Kisah ini sangat  indah. Tuhan Yesus dalam suasana penderitaan sekalipun masih mempunyai kesempatan untuk menyerahkan Gereja-Nya kepada Maria ibu-Nya. Maria menerimanya dan menyertainya selama-lamanya. Dan Gereja menerima Maria sebagai ibu selama-lamanya. Maria hadir dan mendoakannya supaya selalu dekat dengan Puteranya. Bunda Maria Berdukacita, tetapi dukacitanya menjadi sukacita di dalam Gereja. Gereja tetap hidup karena Maria hadir sebagai ibu. Ibu yang menderita supaya Gereja bertahan dalam penderitaannya. Konsili Vatikan kedua dalam Konstitusi Dogmatis Gereja menulis: “Ia sesuai dengan rencana Allah berdiri di dekatnya. Di situlah ia menanggung penderitaan yang dasyat bersama dengan Putranya yang tunggal. Dengan hati keibuannya, ia menggabungkan diri dengan korban-Nya, yang penuh kasih menyetujui persembahan korban yang dilahirkannya”.

 

Semangat ketaatan dan kepasrahan Bunda Maria kepada kehendak Allah menginspirasi dan menjadi sumber keteladanan bagi kita umat beriman. Dalam setiap situasi, dimana dan kapan saja, hendaknya ketaatan kita kepada Allah tidak pernah luntur. Terutama dalam menghadapi setiap pengalaman penderitaan yang menguji iman kepada-Nya. Kita sebenarnya tidak mengharapkan adanya tantangan yang membawa keterpurukan dan penderitaan. Namun, tentu kita tidak akan pernah menolak apabila tantangan dan penderitaan itu datang menghampiri hidup kita. Sebenarnya tantangan dan penderitaan itu juga memiliki peran penting untuk semakin mengembangkan kepribadian dan mendewasakan hidup iman kita. Kita menjadi lebih kuat, lebih sabar, dan matang. Di atas semua itu, kita semakin menyadari peran Tuhan dalam setiap pengalaman penderitaan. Tuhan sementara merancang sesuatu yang baik dan indah dalam hidup di balik setiap pengalaman penderitaan yang kita alami.

 

Peringatan Pesta Santa Perawan Maria Berdukacita sebenarnya mau mengingatkan pengalaman dukacita Bunda Maria yang membawa sukacita. Sukacita akan kebaikan dan keselamatan yang diterima oleh seluruh umat manusia. Oleh karena itu, marilah kita sungguh-sungguh memaknai setiap pengalaman kehidupan dalam terang iman agar kita dapat menjadi seorang murid yang setia dan dapat membawa keteladanan bagi setiap orang yang ada di sekitar kita. Semoga. ***AKD***

Rabu, 08 September 2021

Belajar Dari Maria Dan Yusuf

Mat 1 :18-23

 

Hari ini Gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Figur seorang perempuan yang turut mengambil bagian aktif dalam proyek keselamatan Allah di muka bumi. Maria adalah mitra Allah yang menunjukkan perannya dengan mengandung dan melahirkan sang Juruselamat Yesus Kristus. Tidak hanya sampai di situ, Maria juga senantiasa menjaga dan mendampingi Yesus hingga kematian-Nya di kayu salib. Fokus peringatan hari kelahiran Santa Perawan Maria bukan soal angka sejarah. Karena memang secara faktual, tidak ditemukan secara pasti dan akurat mengenai waktu kelahiran dari Santa Perawan Maria. Tradisi peringatan pesta kelahiran Santa Perawan Maria sebelumnya sudah dilakukan oleh gereja dengan tradisi timur. Kemudian, gereja Katolik Roma (tradisi barat), mulai mengikuti tradisi demikan sampai dengan saat ini. Sehingga, yang mau ditonjolkan dari peringatan Pesta Kelahiran Santa Maria adalah soal peran pribadi Maria yang begitu vital dalam karya keselamatan Allah. Maria mau menyediakan tubuh biologisnya sebagai tempat bersemayam Sang Putera Fajar, Yesus Kristus.

 

Maria sedari awal memang sudah ditentukan oleh Allah sebagai sosok yang akan memainkan peran penting sebagai mitra Allah. Berawal dari kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah telah menentukan Maria sebagai sosok Hawa baru yang akan menggantikan peran manusia hawa lama yang sudah tercemar oleh dosa. Karena Hawa, sang manusia pertama tidak mampu menjaga marwah atau martabat luhurnya sebagai makluk ciptaan Tuhan, maka Allah perlu mencari dan menentukan figur Hawa baru. Hawa baru inilah yang akan membantu Allah mempurifikasi atau menyucikan tubuh manusia dari dosa yang ditinggalkan oleh hawa lama. Hawa baru akan membantu umat manusia menemukan jalan kembali menuju keselamatan kepada Allah Bapa di Sorga. Dan sosok Hawa baru itu adalah Santa Perawan Maria.

 

Santa Maria memiliki pribadi yang sangat tulus. Sehingga ketika Allah datang mengampirinya melalui malaikat Gabriel, ia langsung menyatakan kesediaannya untuk menjadi ibu Yesus, walaupun dengan risiko yang besar bahwa nanti ia akan diadili dan dikucilkan oleh masyarakat. Maria sudah memikirkan risiko besar yang akan menimpa dirinya. Apalagi ia sudah memiliki sang kekasih bernama Yusuf. Tentu, risiko yang akan ditimbulkan menjadi berlipat karena ia diketahui mengandung di luar pernikahan yang sah. Namun, kasihnya kepada Allah sungguh dasyat. Ia rela mempertaruhkan hidupnya demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Di lain tempat, Yusuf, sang kekasih Maria, sudah mengetahui apa yang terjadi dalam diri Maria. Ternyata, ia juga memiliki hati yang tulus. Ia tidak mau mencemarkan nama baik Maria. Sehingga timbul niat dalam hatinya untuk menceraikan Maria secara diam-diam. Sebelum niatnya tercapai, malaikat Tuhan datang menghalanginya dengan berkata: “Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai istrimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus. Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamai Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Mat 1:20-21). Mendengar hal demikian, Yusuf langsung berubah pikiran untuk tidak mau menceraikan Maria. Yusuf semakin menguatkan hatinya untuk menjaga Maria. Terutama menjaga Sang Juru Selamat, yang akan segera lahir demi menyelamatkan umat manusia dari keterpurukan dosa.

 

Pada peringatan pesta Santa Perawan Maria hari ini, tidak hanya figur Maria yang menjadi pusat refleksi. Suaminya, Yusuf, ternyata juga memainkan peran yang tidak kalah pentingnya. Keduanya, bahu membahu dan sehati sejiwa mau bekerja sama dengan Allah mewujudkan karya keselamatan manusia melalui diri Yesus. Maria dan Yusuf adalah dua tokoh penting dalam gereja Katolik yang mengajarkan nilai ketulusan, ketaatan dan tanggung jawab. Tanpa peran keduanya, mungkin misi keselamatan itu tetap akan terlaksana karena Allah dengan otoritas ilahi-Nya bisa melakukan pelbagai cara. Namun kita tidak akan pernah belajar untuk mendapatkan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh Maria dan Yusuf.

 

Maria dan Yusuf adalah simbol ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab. Di tengah dunia yang sementara mengalami banyak pergeseran, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab menjadi nilai langka yang sulit ditemukan dalam kehidupan riil umat manusia. Yang jamak terjadi adalah sikap kemunafikan, ketidaktaatan dan lemahnya integritas pribadi. Dalam pelbagai ranah kehidupan, sering gampang terjadi gesekan dan konflik karena orang tidak lagi memedulikan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Masing-masing orang atau pihak lebih mempertahankan ego dan gengsi pribadi atau kelompok.

 

Dalam lingkup kerja, nilai ketulusan, ketaatan, dan tanggung jawab bisa menampilkan wajah ganda. Orang bisa berpura-pura tulus, taat, dan tanggung jawab hanya karena mengejar kepentingan tertentu. Misalnya jabatan, kuasa, dan harta. Orang tidak mau sungguh-sungguh bersikap tulus, taat, dan tanggung jawab apabila tidak ada kepentingan tertentu yang ada di dalamnya. Dalam lingkup keluarga, lingkungan, dan basis, ketidaktulusan, ketidaktaatan, dan keroposnya sikap tanggung jawab menjadi pemandangan yang biasa-biasa saja. Nilai-nilai atau keutamaan hidup menjadi relatif. Masing-masing orang atau pihak dapat menciptakan nilai-nilainya sendiri, tanpa peduli lagi pada standar nilai yang menjadi patokan kebenaran universal.

 

Hari ini Maria dan Yusuf mengajarkan kepada kita tentang pentingnya sikap tulus, taat, dan tanggung jawab. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab tidak hanya menjadi bagian dari tindakan moral yang membawa kebaikan bagi dunia. Sikap tulus, taat, dan tanggung jawab menjadi bagian inti dari sikap iman kita kepada Tuhan. Dengan melakukan sikap tulus, taat, dan tanggung jawab, sebenarnya kta telah menjadi mitra Allah untuk membawa misi keselamatan Allah secara konkrit di tengah dunia. Amin. ***AKD***

 

Selasa, 17 Agustus 2021

Tuhan Memiliki Keadilan-Nya Sendiri

                                                                         Mat 20: 1-16a

 

Pada hakekatnya prinsip keadilan mengakomodir setiap orang untuk mendapatkan hak sesuai dengan kualifikasi atau persyaratan tertentu yang berlaku secara umum. Volume kerja, tingkat kesulitan, besar kecilnya tanggung jawab, durasi atau lamanya waktu kerja, menjadi hal-hal lazim yang sangat mempengaruhi porsi hak yang akan diterima setiap orang. Semakin besar volume kerja, tingkat kesulitan dan waktu yang butuhkan, maka semakin besar pula hak yang akan diterima. Begitu pun sebaliknya, sudah sewajarnya apabila hak yang diterima seseorang semakin kecil karena disesuaikan dengan volume kerja yang kecil, tingkat kesulitan yang tidak seberapa, dan waktu yang singkat. Menjadi sesuatu yang aneh apabila terjadi penyeragaman dalam penerimaan hak. Orang akan mengklaim terjadi ketidakadilan dan penindasan. Karena keadilan itu tidak sama dengan keseragaman. Dan keseragaman belum tentu memenuhi unsur keadilan yang diharapkan. Keadilan akan tercapai dalam hidup apabila setiap orang mendapat haknya secara proporsional.

 

Gambaran tentang keadilan bertolak belakang dengan kisah yang digambarkan oleh bacaan Injil pada hari ini (Mat 20:1-16a). Dalam perumpamaan-Nya tentang orang-orang upahan di kebun anggur, Yesus membeberkan cerita seorang tuan kebun anggur yang membagi hak sebesar satu dinar kepada orang-orang upahan yang bekerja dalam durasi waktu yang berbeda-beda. Ada yang bekerja penuh mulai dari pagi sampai sore. Ada yang bekerja setengah hari yakni dari siang sampai sore. Dan bahkan ada yang baru masuk sore hari. Praktis waktu kerjanya amat singkat. Jadi kalau kita mengamati terjadi penyeragaman hak yang dilakukan oleh tuan kebun anggur kepada para pekerja-Nya. Walaupun masing-masing orang bekerja dengan rentang waktu yang berbeda-beda, mereka semua mendapat hak yang sama sebesar satu dinar. Hal ini memicu persoalan karena orang-orang yang bekerja paling lama melakukan protes. Mereka tidak terima dan merasa diperlakukan tidak adil. Seharusnya mereka mendapat hak lebih banyak. Namun tuan kebun anggur mengklaim bahwa sudah terjadi kesepakatan di antara mereka untuk mendapat satu dinar, tanpa memperhitungkan aspek-aspek penting seperti volume kerja, tingkat kesulitan, dan durasi waktu. Tuan kebun anggur juga menegaskan bahwa ia memiliki otonomi untuk menentukan dan memberi hak sesuai dengan keinginannya.

 

Saya membayangkan akan terjadi chaos atau kekacauan besar pada masa sekarang, apabila ada majikan, pemilik modal atau pengusaha yang membayar hak para pekerjanya tidak sesuai dengan prinsip keadilan. Namun apa yang digambarkan Yesus dalam perumpamaan-Nya hanyalah sebuah kisah simbolik yang mau mengungkapkan logika kerajaan sorga yang sebenarnya. Sang tuan kebun anggur adalah Allah yang sementara menunjukkan kemahakuasaan dan kemurahan hati-Nya kepada umat manusia. Ia datang dan menawarkan keselamatan kepada umat-Nya tanpa memperhitungkan seberapa besar jasa atau kebaikan yang telah diperbuat oleh manusia. Kisah perumpamaan tentang orang-orang upahan di kebun anggur mengelaborasi (menjelaskan) kasih Allah yang sungguh besar dan otonomi atau kapasitas Allah yang tidak bisa diganggu gugat.

 

Kasih Allah itu sungguh dasyat dan tidak terbantahkan. Jauh melampaui semangat kasih yang dimiliki oleh manusia. Allah tidak sedikit pun terpengaruh dengan pelbagai tipe manusia yang di atas dunia. Entah manusia itu baik atau jahat, tetap menjadi kewajiban bagi Allah untuk terus menawarkan keselamatan. Allah memiliki otonomi yang tidak bisa diintervensi oleh manusia. Bagi Allah, semua manusia memiliki hak dan derajat yang sama di mata-Nya. Tidak ada manusia yang merasa diri paling hebat dan benar di hadapan Tuhan. Tidak ada manusia yang mengklaim dirinya secara otomatis masuk sorga. Semuanya tergantung dari kewenangan Allah. Hanya Allah yang bisa menentukan keselamatan akhir bagi manusia. Dan hadiah keselamatan itu hanya dapat terjadi kalau manusia mau membuka diri dan bekerja pada kebun anggur-Nya. Hadiah keselamatan itu terjadi secara merata pada setiap manusia tanpa memperhitungkan seberapa lama ia menjadi orang beragama dan seberapa besar segala kebaikan yang telah ditanamkannya.

 

Era ini, banyak orang beragama yang merasa diri paling benar di hadapan Tuhan dan sesamanya. Tidak jarang orang-orang ini mengutip ayat-ayat suci untuk mendukung pembenaran dirinya. Tetapi sungguh naif karena segala klaim atau pembenaran diri dilakukan untuk memenuhi atau mencapai target dan kepentingan yang berlaku secara duniawi. Ada indikasi atau fenomena yang menguatkan dugaan bahwa orang merasa paling benar dan suci karena ada kepentingan yang ingin digapai secara ekonomi, sosial dan politik. Lebih parah lagi, mereka selalu memandang remeh dan rendah orang lain. Di mulutnya hanya ada kata-kata nyinyir dan bully. Mereka selalu mempermasalahkan apa yang dibuat orang lain. Sebaik apa pun yang dilakukan oleh orang, tidak selalu baik dan benar. Mereka menuntut orang harus mengikuti segala ajaran, kehendak dan keinginan mereka. Kalau tidak sejalan berarti orang dianggap sesat dan tidak mendapat tempat di sorga bersama Allah.

 

Mungkin sebagian dari kita juga seringkali merasa diri paling baik dan benar. Kita merasa bangga dengan identitas iman yang melekat. Kita juga merasa sudah banyak menyenangkan Tuhan dengan hal-hal baik yang telah dilakukan. Timbul kesombongan rohani dalam pribadi. Kita menganggap orang lain lebih rendah dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan diri kita. Dengan gampang kita menghakimi orang lain sebagai pendosa dan melabeli mereka sebagai calon penghuni neraka jahanam. Tidak berlebihan saya mengatakan demikian. Banyak realitas dan fakta yang menunjukkan demikian. Jamak terjadi kita lebih membanggakan prestasi, kebaikan, dan kesuksesan yang kita alami. Di sisi lain, kita sangat mudah untuk mengungkap kekurangan, masalah, dan aib yang dimiliki orang lain. Pernah saya mendengar kata-kata bijak dari seorang ibu. Ia mengatakan: “Kebenaran itu sejatinya hanya milik Tuhan. Di dunia manusia boleh merasa benar dan dibenarkan. Namun belum tentu di mata Tuhan. Karena Ia sungguh menyatakan kebenarannya dengan adil.”

 

Sepenggal kisah tentang orang-orang upahan di kebun anggur mau mengafirmasi dua hal. Pertama, kasih Allah yang tidak terbatas kepada manusia. Dengan kemahakuasaan-Nya Allah bebas menyatakan kasih dan menawarkan keselamatan kepada manusia. Kedua, sifat otonom Allah yang tidak dapat diganggu gugat. Allah leluasa memberi keselamatan kepada manusia dengan tidak melakukan pembedaan. Pada prinsipnya semua manusia memiliki martabat yang sama di mata-Nya. Entah orang benar dan tidak benar, semua memiliki hak yang satu dan sama yakni mendapatkan keselamatan. Bisa saja orang yang berkoar-koar tentang kebenaran di dunia dan merasa diri paling pantas untuk mendapatkan keselamatan ternyata pada akhir, tidak mendapatkannya. Dan orang yang dianggap sesat, kotor dan jahat di dunia, sangat boleh jadi mendapatkan keselamatan itu dari Tuhan. Keadilan yang dimiliki Tuhan tentu tidak sama dengan keadilan yang dianut oleh manusia. Mari kita senantiasa membuka diri kepada-Nya agar kita tetap hidup dalam spirit dan tuntunan-Nya. Semoga kita tidak jatuh dalam dosa kesombongan yang dapat membawa kita kepada ketidakselamatan. Amin. ***AKD*** 

 

Selasa, 03 Agustus 2021

Beriman Dengan Sikap Rasional Yang Baik

 

Mat 15: 21-28

 

Berpikir rasional sama artinya dengan berpikir menurut pikiran dan pertimbangan yang logis dan sehat. Berpikir rasional membantu manusia untuk menganalisis sesuatu hal atau kejadian dengan baik sehingga apa yang menjadi keputusannya dapat berjalan secara baik pula. Misalnya, ketika melihat cuaca mendung, manusia langsung menangkap pesan bahwa akan segera turun hujan. Logika manusia akan bekerja dengan baik sehingga ia bisa mengambil keputusan dengan bijak, seperti mengambil pakaian di tempat jemuran, mengenakan mantel hujan kalau hendak bepergian, menutup pintu dan jendela rumah, dan sebagainya.

 

Berpikir rasional juga dibutuhkan dalam sikap iman kepada Tuhan. Berpikir rasional membentengi diri agar kita tidak memiliki iman secara buta. Contoh praksis iman secara buta misalnya, orang tidak mau bekerja dalam hidupnya. Ia hanya mengandalkan doa sepanjang waktu sambil berharap Tuhan menurunkan makanan dan minuman dari langit. Atau dalam masa pandemi Covid-19, orang lebih mementingkan sikap egonya dengan tidak menaati protokel kesehatan sehingga bisa membayakan diri dan sesamanya untuk terpapar virus Covid-19. Berpikir rasional atau logis dalam iman mendorong kaum beriman untuk mewujudnyatakan imannya secara baik dalam tindakan konkrit, karena ia memahami iman tanpa perbuatan adalah sesuatu yang non sense (tidak masuk akal).

 

Berpikir secara rasional sejatinya dapat menuntun seseorang untuk lebih mendewasakan karakter dan hidup pribadinya. Termasuk dalam mendewasakan sikap imannya kepada Tuhan. Ia lebih paham memahami konsep tentang Tuhan dan segala intervensi-Nya dalam hidup manusia. Orang yang memiliki logika yang tidak lurus dan tidak sehat, cenderung tidak mampu memahami campur tangan Tuhan dalam kehidupannya. Ia lebih berpikir skeptis atau tidak percaya. Apalagi kalau doa dan permohonannya tidak dikabulkan oleh Tuhan. Pasti lebih menambah rasa skeptis dalam diri tentang adanya Tuhan.

 

Berpikir secara rasional haruslah membawa orang pada keutamaan dan kebijaksanaan hidup. Salah satu contoh orang yang hendak digambarkan di sini adalah seorang perempuan dari Kanaan. Menilik asal usulnya, ia berasal dari daerah yang anggota masyarakatnya tidak lagi memiliki darah Yahudi yang murni. Akibat perkawinan campur dengan bangsa asing, komunitas Yahudi di daerah Kanaan diberi label sebagai daerah orang kafir. Imbasnya, orang Kanaan dianggap tidak layak berbicara atau bergaul dengan sesama saudaranya dari Israel, yang tetap memiliki darah yahudi yang pure (asli).

 

Tetapi tidak bagi seorang perempuan Kanaan, yang berani mendatangi Yesus untuk meminta pertolongan karena anak perempuannya sedang dirasuki setan. Perjuangannya ternyata tidak berjalan mulus seperti diharapkan. Malahan ia harus menghadapi sikap apatis, hinaan, dan diskriminasi yang datang dari Yesus dan para murid-Nya. Kita dapat memaklumi karena Yesus dan para murid berasal dari kultur dan tradisi Yahudi yang kental. Sehingga mereka juga mengambil sikap sama seperti saudara sebangsanya. Mereka berbuat demikian untuk memaksa perempuan itu segera berlalu.

 

Namun ketahanan mental dan keyakinan perempuan itu tidak surut. Ia tetap bersikap sabar, rendah hati, dan tekun memohon bantuan dari Yesus. Yesus sungguh mengapresiasi sikap iman yang teguh dari perempuan Kanaan itu. “Hai ibu, besar imanmu, maka jadilah kepadamu seperti yang kaukehendaki” (Mat 15:28). Buah dari iman yang kokoh akhirnya melahirkan keselamatan dan kebaikan hidup bagi sang perempuan Kanaan. Seandainya, ia tidak memiliki iman yang kokoh, sudah pasti ia akan menyerah dan tidak mau mengikuti Yesus lagi. Mungkin saja, ia akan pulang dengan rasa kecewa dan marah yang besar karena sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi.

 

Di sini dibutuhkan iman dan cara berpikir rasional yang matang. Perempuan Kanaan itu sudah mewujudkannya dengan sikap berani, sabar, tekun, dan rendah hati. Sikap iman yang kokoh harus dibarengi dengan sikap rasional yang kokoh pula, sehingga orang tidak terjebak dalam sikap iman yang buta dan dangkal. Sebuah sikap iman yang tidak berakar kuat. Karena orang hanya mendambakan kebaikan dan kemulusan hidup, namun tidak menginginkan tantangan dan kesulitan hidup. Tantangan dan kesulitan hidup ditafsir sebagai ketidakberpihakan Tuhan. Dan hanya kesuksesan, kemenangan, dan kebaikan hidup yang dilihat sebagai keberpihakan Tuhan.

 

Acapkali, kita juga menunjukkan sikap iman yang buta. Kita cepat merasa kecewa dan putus asa manakala permohonan kita tidak segera atau sama sekalih tidak dikabulkan oleh Tuhan. Kita mengklaim Tuhan tidak adil. Atau mungkin juga kita mempertanyakan eksistensi-Nya, kemudian bersikap skeptis. Di tengah masa pandemi Covid-19, banyak orang beriman yang sudah menunjukkan sikap jenuh, marah, dan kecewa. Mereka tidak hanya marah kepada virus Covid-19, tetapi juga seolah-olah marah kepada Tuhan. Hidup orang beriman semakin jauh dari lingkaran Tuhan. Orang tidak mau berdoa di ruang-ruang privat sebagai dampak lanjut dari penutupan tempat ibadah untuk sementara waktu. Dan orang tidak memedulikan diri dan sesamanya dengan tidak menaati protokol kesehatan.

 

Beriman yang matang membutuhkan sikap rasional yang mumpuni. Dalam iman yang terpenting bukan soal intensi dan permonan. Ada nilai dan keutamaan yang menjadi prioritas yakni soal keberanian, ketabahan, ketekunan, dan kerendahan hati dalam menghadapi setiap tantangan, pergumulan, keterpurukan dan pergolakan hidup. Inilah yang dinamakan beriman dengan sikap rasional yang baik. Kita tidak gampang menyerah dan putus asa ketika Tuhan tidak mengabulkan doa dan permohonan. Ada kalanya Tuhan sementara mendidik kita untuk bersikap lebih sabar, berani, tekun, dan rendah hati.

 

St. Yohanes Maria Vianney yang pestanya kita peringati pada hari ini adalah figur orang kudus yang sabar, berani, tekun, dan rendah hati. Walaupun dicap sebagai orang yang paling bodoh secara akademis di masanya, ia tetap menunjukkan kesetiaan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Hikmat dan berkat Tuhan tidak diperolehnya dengan gampang. Ada banyak kesulitan dan pergumulan hidup yang harus dilaluinya. Mari kita beriman dengan sikap rasional yang baik untuk dapat memperoleh hikmat dan berkat Tuhan dalam hidup. Amin. ***AKD***