Selasa, 29 September 2020

Malaikat-Malaikat Allah

Dan 7:9-10.13-14 & Yoh 1:47-51

Natanael adalah seorang yang sangat tekun dan setia dalam mencari kebijaksanaan hidup. Sebelum dipanggil Filipus untuk bertemu Tuhan, Natanael duduk di bawa pohon Ara. Para ahli menafsirkan, bahwa duduk di bawah pohon Ara adalah tindakan simbolik untuk mencari kebijaksanaan yang membawa pencerahan rohani. Ia mempelajari Sabda Allah dan mencari kebenaran-Nya.

 

Ketika dibawa oleh Filipus untuk bertemu dengan Yesus dan dalam dialog dengan Yesus ia mengetahui bahwa Yesus sungguh mengenalnya, maka terbukalah mata imannya. Ia melihat bahwa Yesus yang sedang berbicara dengannya adalah Kebijaksaan Hidup yang selama ini dicarinya. Ia adalah janji Allah yang telah diramalkan para nabi; Ia adalah Raja Israel yang sejati. Maka dari mulutnya keluarlah pengakuan iman: "Rabi, Engkau Anak Allah, Engkau Raja orang Israel!"

 

Atas pengakuan iman yang terang itu, maka kepada Natanael Yesus memberikan suatu anugerah istimewa: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya engkau akan melihat langit terbuka dan malaikat-malaikat Allah turun naik kepada Anak Manusia” (Yoh 1:51). Sebelumnya Yesus berjanji kepadanya: “Engkau akan melihat hal-hal yang lebih besar dari pada itu”.

 

Bukan hanya suatu penglihatan rohani, melainkan kepada Natanael Yesus menegaskan kebenaran tentang keberadaan dan peran para malaikat Allah yang melayani kepentingan Allah – suatu kebenaran yang sebenarnya sudah hidup dan berkembang dalam keyakinan orang-orang Yahudi. Yesus tidak menyebut identitas masing-masing malaikat. Ia hanya menyebut “malaikat-malaikat Allah”. Artinya ada banyak malaikat Allah yang melayani kepentingan-Nya.

 

Menurut tradisi Yahudi ada tujuh Malaikat Agung, yaitu Uriel, Rafael, Raguel, Mikael, Sariel, Gabriel dan Remiel. Masing-masing malaikat memiliki peran yang spesifik dalam melayani Allah. Yang dikenal dan sering dirayakan dalam gereja Katolik adalah adalah ketiga malaikat agung: Mikael, Gabriel, Rafael. Namun demikian penghormatan kepada ketiganya tidak mengabaikan penghormatan kepada semua malaikat Allah yang diyakini tidak hanya melayani kepentingan Allah, tetapi juga kepentingan manusia.

 

Malaikat Gabriel ditentukan Allah untuk membela dan melindungi manusia dari kekuatan setan dan kuasa jahat. Titik tolaknya adalah kitab Daniel yang menggambarkan Mikhael sebagai seorang yang membantu Israel melawan musuhnya. Sedangkan kitab Wahyu menggambarkannya sebagai kepala pasukan malaikat Allah yang mengalahkan kekuatan Iblis di bawah pimpinan Lucifer.

 

Malaikat Gabriel ditentukan Allah untuk melayani Allah sebagai juru bicara-Nya. Ia memberikan kabar gembira kepada Maria tentang keterpilihannya untuk mengandung dan melahirkan Yesus, Anak Allah, Raja Israel. Dalam kitab Daniel, malaikat yang satu ini memberi kabar tentang tugas malaikat Mikhael bagi Daniel dan Israel dan berita tentang kehadiran Mesias di masa depan – mungkin juga yang telah dikontemplasikan oleh Natanael sebagai seorang pencari kebenaran.

 

Sedangkan malaikat Rafael diberi tugas sebagai malaikat kesembuhan dari Allah. Peran malaikat ini dihubungkan dengan apa yang ditulis oleh Yohanes: “Sebab sewaktu-waktu turun malaikat Tuhan ke kolam itu dan menggoncangkan air itu; barangsiapa yang terdahulu masuk ke dalamnya sesudah goncangan air itu, menjadi sembuh, apa pun juga penyakitnya” (Yoh 5:4).

 

Berkenaan dengan paparan ini, yang hendak kita petik untuk hidup kita adalah: Pertama, Yesus mengundang kita untuk duduk di bawah pohon Ara. Maksudnya adalah mengkontemplasikan Sabda Allah sebagai suatu aktivitas yang dilakukan dengan penuh kecintaan dan kesetiaan (bdk. Mzr 1:2). Kontemplasi membuka pintu berkat Allah dan damai-Nya bagi kita sebagaimana yang disimbolkan dengan pohon Ara. Kesejatian kita sebagai murid Tuhan ditentukan oleh kecintaan dan kesetiaan kita pada mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah. Dan inilah subangan Natanael untuk kita.

 

Kedua, menghormati kedudukan para malaikat agung (Mihkael, Gabriel dan Rafael) pada pesta ketiga malaikat ini merangkum dua sisi yang penting dan tak terpisahkan. Pada aspek ritual, rasa hormat mesti membentuk sikap batin kita. Sikap ini kemudian dinyatakan secara hidup dan dinamis dalam tata lahiriah kita. Kita mengidentifikasikan diri kita dengan peran masing-masing malaikat itu lalu menunjukkan keunggulan mereka dalam sikap, tutur kata dan perilaku hidup.

 

Kontemplasi Sabda Allah dan penghormatan kepada para malaikat menjiwai kita untuk bisa hadir sebagai seorang Mikael yang membela dan melindungi, bukan mengacaukan dan memecah-belah; seorang Gabriel yang membawa kabar sukacita, bukan kabar buruk yang meresahkan; dan Rafael yang memberikan kesejukan hati, ketenangan batin dan menyembuhkan, bukan meyakiti dan melukai.

 

Kita semua diajak untuk bekerja sama dengan para malaikat Allah untuk memajukan Kerajaan Allah dalam hidup kita di tengah dunia ini, sambil kita menantikan anugerah hidup rohani yang sempurna: memandang Allah seperti yang dianugerakan kepada Natanael. ***Apol***


Jumat, 25 September 2020

BERANI BERJALAN DALAM DERITA SALIB YESUS

Lukas 9:19-22

            Sebagai murid-murid Kristus kita pasti memiliki pengalaman pribadi tentang Yesus dalam hidup kita. Pengenalan akan Yesus sebagai Mesias atau Anak Allah mendorong kita untuk berani bersaksi tentang Dia yang diutus Allah. Kesaksian akan Yesus membutuhkan keberanian dari kita untuk siap menanggung konsekuensinya. Konsekuensi itu berupa penolakan, ejekan, penghinaan bahkan nyawa menjadi taruhannya. Meskipun jalan salib itu diwarnai banyak derita, namun di balik derita itu ada rahmat tersembunyi. Tuhan Yesus akan menjadi daya dan kekuatan bagi orang yang menyatukan derita hidupnya dengan derita salib-Nya.

            Setiap manusia pasti memiliki identitas diri untuk menunjukkan jati dirinya kepada orang lain, begitu juga Yesus. Selama berkarya di dunia ini, Ia pun ingin mempertegas identitas-Nya di tengah para pendengar dan para murid-Nya yang selama ini hidup dan berkarya bersama-Nya. Hari ini Yesus bertanya kepada para muridNya, menurut kamu: “Siapakah Aku ini?” Para murid memberikan jawaban standar dari anggapan umum: ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, seorang nabi zaman dulu yang telah bangkit. Pengakuan variatif di atas kemudian dimurnikan ole pengakuan Petrus yang mewakili para murid lain dengan jawaban: Engkaulah Mesias Anak Allah. Jawaban Petrus ini adalah jawaban yang didasarkan pada kebenaran iman, namun Yesus dengan keras melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun. Alasan Yesus melarang para murid memberitakannya karena bisa saja orang lain salah memahami maknanya. Lebih dari itu adalah pertimbangan situasi politik saat itu ketika orang menyebut kata mesias. Yesus bukanlah Mesias seperti yang diharapkan banyak orang saat itu yang memiliki semangat patriotisme nasional untuk mengusir penjajah Romawi dan membangun kembali pemerintahan Daud. Pertanyaan Yesus kepada para muridNya kali ini adalah pertanyaan yang sebenarnya juga ditujukan kepada kita semua. Pertanyaan ini bukan menuntut jawaban tebakan atau sederhana namun pertanyaan ini berkaitan erat dengan iman yang hakiki. Jawaban tentang siapakah Yesus menurut  anda adalah jawaban atas keyakinan. Sebuah kepercayaan dan keyakinan diri akan Yesus dalam kehidupan kita. Jawaban atas pertanyaan ini bukanlah jawaban sederhana yang keluar dari bibir belaka, namun membutuhkan sikap dasar iman yang kokoh dalam kehidupan kita. Ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias sang Juru Selamat, maka harus diikuti dengan kesadaran dan keyakinan bahwa Allah penyelamat tetap merajai kita dan mewarnai seluruh kehidupan praktis kita sehari-hari.

            Pengakuan Petrus menjadi puncak pencarian setiap orang yang ingin mengenal Yesus. Setiap usaha mengenal Yesus akhirnya akan menemukan bahwa Yesus adalah Mesias dan akan sampai pada puncak pengakuan tertinggi bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Mesias adalah tokoh pembawa damai sejati bagi umat manusia. Setiap orang yang menerima Kristus sebagai Mesias akan menemukan pengalaman damai yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Damai sejahtera itu akan mendapat kepenuhannya pada hidup abadi bersama Allah di surga. Sedangkan, hidup riil yang kita alami sepanjang ziarah hidup di dunia ini dalam mengikuti Yesus, kita akan menemukan konsekuensi yang tidak mudah dan mengharuskan kita ikut ambil bagian dalam salib penderitaan Yesus. Yesus dianggap sebagai tokoh kontroversial saat itu, Ia hadir dengan ajaran kasih-Nya yang mampu merangkul semua orang. Karenanya, Ia selalu menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dibunuh dan Allah membangkitkan-Nya pada hari ketiga. Sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita juga harus siap menderita karena Yesus. Setia memikul salib penderitaan hidup kita meskipun berat. Komitmen itulah yang harus dipegang kuat sehingga bisa menghantar kita sampai pada  aspek kesetiaan yang memungkinkan kita berani berjalan di jalan salib Yesus. Dalam keyakinan iman kristiani, kita percaya bahwa derita salib selalu akan membuahkan rahmat kekuatan dan menjadi sarana penebusan bagi dosa-dosa, melalui derita salib dosa-dosa pribadi dan dosa-dosa sesama kita ditebus. Yesus sendirilah yang akan menebus dosa-dosa kita, ketika kita menyatukan derita hidup kita dengan derita Yesus. Dengan demikian, derita salib membuahkan rahmat keselamatan sejati bagi mereka yang percaya dan beriman  kepada Yesus.

            Kadang kala, kita merasa bangga karena kita sudah melaksanakan kewajiban dalam hidup beragama, misalnya pergi ke gereja setiap hari minggu, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di tingkat paroki dan lingkungan, doa di KBG, ziarah ke taman-taman doa yang terkenal dan aneka kegiatan rohani lainnya. Semua kegiatan itu sering kita jadikan sebagai bukti bahwa kita sudah cukup setia menjalankan kewajiban keagamaan kita sebagai murid-murid Kristus. Semua bukti yang kita kumpulkan itu belumlah cukup untuk mengungkapkan kualitas kesetiaan iman kita kepada Allah. Yang paling diharapkan oleh Tuhan adalah mengaktualisasikan iman dalam tindakan nyata sehari-hari yang mencerminkan kasih Tuhan dan menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah. Aneka bentuk praktek peribadatan yang kita laksanakan selama ini baru sebatas ungkapan dan ekspresi keberagamaan kita yang belum tentu menghasilkan kualitas iman yang hakiki kepada Allah. Fakta menunjukkan bahwa orang yang rajin berdoa selama ini pun ketika diperhadapkan pada masalah yang bertubi-tubi, ia lari dari masalah bahkan lari dari Tuhan. Artinya, dalam banyak hal kita masih kurang total berpasrah pada kehendak Allah. Kita kurang konsisten mewujudkan pengakuan iman dan praktek iman yang benar.

            Pengakuan Petrus dalam Injil hari ini menggugah hati dan iman kita sekalian untuk tidak hanya berani melakukan pengakuan verbal atas identitas Yesus tetapi lebih dari itu kita harus berani dan siap menderita karena kesetiaan iman kita kepada-Nya. Pengakuan iman akan Yesus harus hidup dan mengakar dalam hati yang diwujudkan dalam praktik hidup sebagai orang kristiani yang baik. Banyak orang zaman ini yang mengaku diri beriman kepada Yesus, bahkan sejak lahir sudah kristen karena warisan iman nenek moyang mereka. Namun, ketika mereka diperhadapkan pada pertanyaan hakiki: Siapakah Yesus menurut mereka? Jawaban atas pertanyaan ini bisa beragam seperti yang dikemukakan oleh murid-murid Yesus. Meskipun para murid sudah lama tinggal dan hidup bersama Yesus, namun pengenalan mereka yang benar akan identitas Yesus masih kabur dan salah. Untuk itu, kita diajak oleh Yesus untuk mencontohi pengakuan iman Petrus yang benar agar kesaksian iman kita akan Yesus kepada sesama tidak salah. Komunikasi dan hubungan yang intens dengan Allah membantu mengarahkan kita untuk menemukan kebenaran hakiki dalam diri Yesus lewat sabda-Nya. Dengan begitu, kita akan mudah mengenal siapakah Yesus sesungguhnya. Kalau penghayatan iman kita kepada Yesus sudah sangat mendalam, maka dalam kesadaran penuh itu, kita akan sanggup menghadapi konsekuensi paling buruk jika menjadi murid-murid Yesus. Salib penderitaan senantiasa akan selalu mewarnai lembaran hidup kita dan di situlah kita harus berani berjalan dalam derita salib Yesus menuju keselamatan kekal. ***Bernad Wadan***

 

 


Rabu, 23 September 2020

FOKUS PADA PEWARTAAN INJIL

Lukas 9:1-6

            Semangat pewartaan yang tulus dari para murid Yesus di zamannya, sekarang telah mengalami pergeseran yang signifikan. Banyak agen pastoral kita zaman ini yang telah melewati jenjang pendidikan tinggi dan memadai namun semangat dan orientasi pelayanannya abu-abu, tidak lagi murni dalam mengemban misi perutusan. Mereka sibuk memfasilitasi diri bahkan menjadikan barang-barang duniawi sebagai dewa atau allah kecil di dunia. Mereka sering berdalih bahwa umat sekarang beda dengan dulu, kita harus mengikuti perkembangan zaman untuk memenangkan hati mereka. Namun fakta menunjukkan bahwa, semakin lengkap fasilitas pendukung disediakan untuk memudahkan karya pelayanan, malah membuat mentalitas mereka semakin santai: ingin dilayani dan dihormati bahkan kalau didesak untuk melayani, pemberian fulus harus tebal. Ini adalah sebuah tantangan berat yang sedang dan akan kita hadapi ke depan: mampukah kita membuat skala prioritas untuk setia menyerahkan hidup kita pada genggaman Allah untuk dijadikan agen pembawa warta keselamatanNya sebagaimana jiwa dan semangat yang ditunjukkan para murid Yesus dulu?

            Injil yang kita dengar hari ini berbicara tentang sebuah misi dimana Yesus mengutus murid-muridnya dan membekali mereka dengan kekuatan dan kuasa untuk mengusir setan-setan dan menyembukan orang-orang sakit. Misi perutusan ini melekat kuat dalam diri setiap murid Kristus oleh karena mereka telah mendapatkan anugerah dan rahmat khusus. Tugas perutusan yang diemban oleh para murid Kristus itu juga menjadi tugas dan tanggungjawab kita semua yang telah dimeterai oleh sakramen baptis, karena itu, kita diminta ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu. Allah tidak memanggil dan memilih orang cerdik pandai, namun Ia memilih orang-orang sederhana dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk berpartisipasi membawa kabar keselamatan dan mewartakan kerajaan Allah kepada semua orang.

            Yesus memberikan kepercayaan penuh kepada murid-murid-Nya untuk menunaikan tugas sebagai pewarta kerajaan surga dan pewarta kabar keselamatan. Para murid adalah orang-orang biasa dan sederhana yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, namun Yesus tidak memilih mereka yang mampu, melainkan mereka yang memiliki kesediaan untuk melaksanakan perintah-Nya. Sebelum para murid diutus, Yesus memesan mereka agar tidak membawa apa pun dalam perjalanan misi: tongkat atau bekal, roti atau uang atau dua helai baju supaya tidak menjadi beban dalam perjalanan melaksanakan tugas pewartaan karena Allah sendiri akan mencukupinya. Larangan Yesus ini bertujuan agar mereka memberikan fokus pada tugas utama yang dipercayakan kepada mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Untuk memenuhi kebutuhan dasar, mereka harus percaya pada kebaikan hati orang-orang setempat yang menerima mereka atau di tempat mereka akan tinggal. Tuntutan ini tampak terasa berat dan melampaui kemampuan mereka, tetapi justru dengan cara itulah Yesus mengajarkan mereka untuk percaya pada penyelenggaraan Allah. Perutusan para murid bertujuan bukan mengetahui sejauh mana mereka mampu mewartakan Kerajaan Allah, tetapi sejauh mana mereka mampu menyerahkan diri kepada Yesus. Hal ini membutuhkan kedalaman iman yang tangguh agar bisa menerima tanggung jawab besar untuk merealisasikan pesan pengajaran Yesus. Dalam melayani sesama juga dalam mewartakan kerajaan Allah, kita perlu melepaskan diri dari kelekatan duniawi yang membuat kita terbelenggu hingga tidak bebas dan fokus dalam menjalankan tugas perutusan. Sering sekali orang yang menerima tugas perutusan dan pelayanan mengalami kegagalan karena  kepentingan pribadi terlalu mendominasi dirinya untuk mencari kenikmatan duniawi. Kita harus setia dalam karya, memiliki semangat misioner yang tinggi dan cepat mengadaptasi diri dengan keadaan di sekitar agar tujuan misi dapat terwujud.

            Yesus sangat menekankan pentingnya kedisiplinan dan ketangguhan iman dalam melaksankan karya penyelamatan bagi bangsa-bangsa. Karena itu, Yesus memperlengkapi para murid-Nya dengan kuasa dan rahmat, mereka dapat melakukan mujizat besar untuk mempertobatkan mereka yang keras hatinya. Kuasa dan kekuatan dari Yesus ini berfungsi kalau para murid memiliki kedalaman iman untuk mengandalkan kekuatan dariNya. Dengan senjata iman tantangan akan muncul semakin banyak dan disinilah mereka ditantang untuk menghadirkan Sabda Allah, sabda kebenaran, sabda cinta kasih dan keadilan di tengah kegelapan dunia. Lewat pewartaan dan teladan hidup, para murid dan juga kita semua  diharapkan bisa menghadirkan nilai-nilai ini di tengah kegelapan dunia.

            Sebagaimana para murid, dalam menjalankan tugas perutusan, kita perlu melakukan evaluasi dan refleksi diri secara berkalah untuk mengukur tingkat kesetiaan dan kepercayaan kita kepada Yesus. Evaluasi diri itu dapat  berjalan ketika kita membuka diri dan membiarkan Roh Allah berkarya, karena kita adalah makhluk lemah yang penuh kekurangan. Keterbukaan hati itu membawa kita pada perubahan dan pertobatan sehingga tujuan dan kemurnian misi pewartaan yang kita usung benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, menjadi pewarta kabar keselamatan, kita perlu menyingkirkan ego, kesombongan, keangkuhan dan menggantinya dengan sikap rendah hati, berbelas kasih, dan membiarkan Allah berkarya dalam diri kita, agar tutur kata dan perbuatan kita menjadi inspirasi dan teladan hidup bagi sesama.

            Sabda Tuhan hari ini tetap relevan untuk semua zaman dan ditujukan kepada kita semua dalam menjalani hidup panggilan kita masing-masing. Yang diperlukan dalam menjalankan tugas pewartaan  adalah menjaga kemurnian ajaran Yesus dan fokus pada sabda-Nya. Di samping itu, kita perlu mengadopsi semangat Yesus di mana Dia tidak pernah membebani diri-Nya dengan berbagai kekayaan duniawi dan fasilitas mewah dalam karya pelayananNya. Dia menjalani hidupNya dengan penuh kesederhanaan sehingga Ia lepas bebas dari hal-hal duniawi dan fokus mengusung karya keselamatan yang menjadi tujuan dasar perutusan-Nya di dunia. Tantangan terbesar bagi kita sebagai murid-murid Kristus bukan untuk mengetahui siapa Yesus tetapi lebih dari itu secara total menyerahkan diri pada kuasa-Nya. Dengan mengandalkan kemampuan diri kita, maka sangat sulit bagi kita melaksanakan tugas perutusan dengan baik. Karena itu, kita perlu menyerahkan diri kepada Tuhan agar kelemahan kita dapat diatasi sehingga kita layak menjadi pewarta-pewartaNya yang tangguh di zaman ini. Amin ***Bernad Wadan***

Senin, 21 September 2020

MENGIKAT KESETIAAN PADA SABDA ALLAH

Lukas 8:19-21

            Budaya kita sangat menekankan penghormatan terhadap keluarga. Dalam konteks budaya seperti ini, kita mungkin sulit menerima sikap dan kata-kata Yesus dalam Injil hari ini. Terkesan Yesus kurang menghargai usaha ibu dan saudara-saudara-Nya untuk menemui Dia. Namun lewat sikap dan kata-kata Yesus itu, kita mendapat gambaran baru tentang model keluarga yang cakupannya lebih luas yang diharapkan oleh Allah sendiri. Pada tahap tertentu harus kita akui bahwa semua ikatan manusiawi pada akhirnya akan berakhir seiring berakhirnya hidup manusia di dunia ini. Kehidupan kita setelah mati tak seorang pun tahu pasti karena tubuh kita akan diubah secara radikal, maka jalan paling baik saat ini adalah berjuang untuk mengikat kesetiaan pada Sabda Allah untuk menguatkan iman kita.

            Lukas dalam Injilnya hari ini lebih berbicara tentang figur Bunda Maria. Ia mengisahkan keinginan keluarga untuk bertemu dengan Yesus, namun jawaban Yesus cukup mengagetkan: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya”. Yesus tidak bermaksud merendahkan martabat Bunda Maria, melainkan secara terang-terangan memuji keikutsertaan  Maria dalam karya keselamatan. Bagi Yesus, Maria adalah orang pertama yang menjadi Murid Kristus sebelum terpilihnya para murid. Maria adalah orang pertama yang mendengar Sabda Allah dan melaksnakannya. Keputusan Maria dalam menjawab tawaran Allah dan kesediaannya menjadi jembatan untuk menghadirkan Sabda Allah menjadi Manusia adalah bukti kesetiaannya dalam menjawabi panggilan Allah.  Hal ini mau mengatakan kepada kita semua bahwa Maria adalah teladan bagi para murid dalam  mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya. Yesus ingin mendefinisikan ulang paham-Nya tentang keluarga, Ia menekankan kepada para murid-Nya bahwa hubungan yang fundamental dengan Dia tidak didasarkan pada ikatan darah atau hubungan duniawi lainnya, melainkan persekutuan karena iman yang memungkinkan manusia dapat  mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Di sini, relasi karena pertautan darah dinomorduakan dan digantikan dengan pola relasi yang mengutamakan Firman Allah. Melaksanakan kehendak Allah dianggap mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi daripada relasi antar keluarga, karena kriteria untuk dekat dengan Yesus bukan lagi relasi pertalian darah melainkan keputusan bebas seseorang untuk setia atau tidak mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya. Penginjil Lukas ingin memberikan kepada kita arti menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus tidak cukup hanya menerima Sakramen Baptis, namun kita memiliki kewajiban mutlak untuk hidup di dalam persekutuan dengan Gereja untuk mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam berinteraksi dengan sesama.

            Yesus mau memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pendengarnya untuk menjelaskan lingkup keluarga dalam arti baru dan lebih luas dalam kaitannya dengan kehendak Allah. Ia menjelaskan hubungan baru ini terbentuk karena kehadiran-Nya dan hubungan yang baru ini tidak terbentuk karena pertalian darah tetapi dibentuk atas dasar iman yaitu ketaatan mutlak untuk melaksanakan seluruh kehendak Allah.  Dasar pijak untuk masuk dalam persekutuan keluarga karena kehadiran Yesus yakni (Mat 12:50): “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”. Karena itu, setiap orang yang bersedia dan berkehendak baik untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam hidupnya, maka ia harus mengikat kesetiaannya pada Sabda Allah yang menjadi panduan hidup imannya. Melalui kehadiran-Nya, Yesus mengingatkan para murid-Nya tentang hakikat persaudaraan yang diwartakan-Nya. Bagi Yesus, persaudaraan karena pertautan darah tidaklah salah, tetapi dalam penghayatan iman, relasi pada level ini tidak boleh menjadi pegangan. Persaudaraan dalam iman haruslah merujuk kepada persaudaraan model para rasul dimana Kristus menjadi inti dan para murid berorientasi pada-Nya. Maka penghargaan pada ibu-Nya dan saudara-saudarNya tidaklah menggantikan tujuan persaudaraan baru yang sekarang dirintis-Nya, yakni persaudaraan yang dijiwai oleh sabda Allah.

            Yesus diutus Allah ke dunia bukan untuk segelintir orang atau bukan untuk lingkaran keluarga tertentu, melainkan Ia datang untuk semua umat manusia yang percaya akan misi pewartaan-Nya yakni menghimpun dan menyelematkan manusia dari belenggu dosa. Dengan kehadiran-Nya, Ia ingin membentuk satu persekutun hidup baru atas dasar iman untuk memanggil semua orang untuk hidup dalam persaudaraan cinta-Nya, saling mengasihi dan siap diutus menjadi pewarta kabar keselamatan bagi dunia dengan tetap fokus pada apa yang menjadi kehendak Allah. Karena itu, Yesus menghendaki keluarga-keluarga yang dibentuk karena pertalian darah harus membangun relasi cinta untuk mewujudkan nilai-nilai esensial hidup Kristiani yang sesuai dengan kehendak Allah melalui praktik hidup nyata. Praktik hidup benar yang diminta oleh Yesus adalah setia pada ajaran-ajaran-Nya, setia membangun hidup doa yang teratur, setia mendalami warta sabda-Nya dan lebih-lebih menunjukkan pola hidup yang benar dengan tetap merujuk pada nilai-nilai kebajikan hidup Kristiani yang diajarkan Yesus.

            Apabila pemahaman kita sudah sampai pada tingkat keluarga dalam arti luas sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yesus maka kita semua sudah masuk dalam lingkaran keluarga Allah. Kita adalah ibu-Nya dan kita adalah saudara-saudara kandung-Nya dalam satu iman yang sama kepada Allah. Sakramen Baptis yang telah kita terima adalah tanda nyata kita telah dikukuhkan menjadi anak-anak Allah dan anggota keluarga-Nya.

            Praktik dan ungkapan iman kepada Allah sebagai satu keluarga kudus harus dinyatakan secara aktual dalam hidup sehari-hari. Kita tidak bisa hidup mengambang dan fokus memperhatikan hubungan keluarga karena pertalian darah, kita harus keluar dari diri kita sendiri, memberi diri kepada orang lain dan berjuang membagi kasih Allah kepada sesama, kita harus membangun persaudaraan yang dijiwai oleh sabda-Nya untuk membantu sesama yang lain masuk dan hidup dalam persekutuan ikatan keluarga yang didasari oleh cinta kasih Yesus. Untuk mewujudkan keluarga dalam arti sebenarnya sebagaimana diajarkan Yesus, kita harus terus membaharui diri kita, agar komunitas yang dibangun atas dasar Sabda Tuhan tidak berubah menjadi komunitas kepentingan yang dangkal dan berorientasi pada nilai-nilai manusiawi. Komunitas yang dibentuk atas dasar Sabda Tuhan, membantu kita menemukan kehendak Allah untuk membangun persaudaraan hidup sejati. Tanpa dasar pijak Sabda Tuhan kita akan terjebak masuk dalam lingkaran egoisme diri yang sempit, akibatnya, kita menghabiskan waktu dan tenaga lebih banyak untuk berkorban bagi keluarga sendiri dan mengabaikan sesama sebagai orang asing.

            Yesus mengharapkan kualitas pelayanan kita harus maksimal yang didasari oleh penghayatan akan sabda Allah, bukan karena selera suka tidak suka alias terpaksa. Dengan begitu, kita telah masuk bergabung dalam kesatuan keluarga Allah. Sabda Tuhan ini menginspirasi dan membantu kita keluar dari pemikiran sempit dan terbatas kita tentang konsep keluarga dalam arti duniawi dan terbatas pada hubungan darah. Hari ini wawasan kita diperkaya untuk memandang semua orang sebagai satu keluarga dalam ikatan cinta kasih Yesus untuk mewujudkan seluruh kehendak Allah. Yesus mengajak kita semua untuk mengubah pola pikir dan tindakan kita itu agar bisa keluar dari diri kita sendiri dan menjadikan sesama kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dan harus menjadi fokus perhatian dari pelayanan kita yang didasarkan pada iman yang sama kepada Yesus. Yesus mengundang kita untuk menyalurkan kasih Allah sampai menembus batas sekat-sekat primordial yang kaku dan terbatas sehingga kita semua boleh hidup sebagai satu keluarga di dalam Yesus. Setiap kita punya kesempatan untuk dekat dan menjadi keluarga Yesus, dengan cara mendengar Firman Allah dan melakukannya secara sungguh-sungguh. Tentu tidak gampang menjadi anggota keluarga Yesus zaman modern ini, akan tetapi, kalau kita berjuang dan percaya pada rahmat Allah, kita bisa menjadi keluarga besar Yesus yang hidup dalam persekutuan iman yang sama. ***Bernad Wadan***

Kamis, 17 September 2020

PENTINGNYA KESADARAN AKAN DOSA

Luk 6:27-38

Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta, 31 Januari 2020 yang lalu mengemukakan bahwa salah satu kejahatan zaman ini adalah orang kehilangan kesadaran akan dosa. Jauh sebelumnya, Paus Pius XII, pendahulunya telah mengemukakan itu.


Itu berarti bahwa kehilangan kesadaran itu sudah terjadi sejak lama dan terus berlangsung hingga dewasa ini. Bahkan mungkin kehilangan itu menjadi-jadi di tengah situasi dunia dewasa ini yang marak dengan pendewaan terhadap keduniawian, yang disebut paus sebagai kekuatan yang merampas rasa berdosa dan jahat. Orang tinggal dalam zona abu-abu; antara dosa dan tidak dosa, antara yang jahat dan tidak jahat tidak dapat dibedakan lagi. Semuanya dihalalkan dan berlaku lazim.


Simon yang mengundang Yesus makan bersama di rumahnya adalah adalah salah seorang Farisi yang terpandang dalam kalangan Yahudi. Pendidikan yang tinggi dan kewenangan yang diberikan kepadanya, seperti juga pada kaumnya yang lain, untuk mengajar dan membimbing umat untuk hidup sesuai Taurat membuatnya menjadi yang terpandang.

 

Namun keunggulan itu telah menyombongkan dan membuatnya tergelincir ke dalam kesesatan dan dosa yang luput dari kesadaran. Seperti kebanyakan orang Farisi, ia tentu melakukan banyak ketidakadilan tanpa menyadarinya sebagai dosa. Tanda disadari Simon menunjukkan kecondongan itu di depan Yesus. Dengan merasa diri sebagai orang suci, ia memandang perempuan itu dengan sikap mengadili. Malah ia pun mengadili Yesus secara diam-diam: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”.

 

Yesus tahu sikap Simon itu. Maka Ia membuka dialog dengan Simon untuk memberikan pemahaman. Ia menyadarkan Simon tentang dosa dan pengampunan Allah. Baiklah supaya Simon juga sadar bahwa sebagai manusia ia juga tidak luput dari dosa dan membutuhkan Tuhan dan tidak serta merta mengadili orang berdosa tanpa pernah melihat diri sendiri.


Berbeda dengan Simon, perempuan yang dikenal orang banyak sebagai seorang pendosa menyadari bahwa ia adalah pendosa. Dia membutuhkan Tuhan. Karena itu ia berusaha menembusi tembok penilaian orang atas dirinya dan menjumpai Yesus di rumah Simon. Di hadapan Yesus, ia menyesali dan menangisi dosanya sambil ia menunjukkan kasihnya kepada Tuhan: “membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu”.


Perempuan pendosa itu menunjukkan bahwa kesadaran atas dosanya (identifikasi diri sebagai pendosa) telah melahirkan pertobatan yang dalam dan ia mendapatkan buah pertobatan itu: “Dosamu telah diampuni”. Ia pergi sebagai orang bebas, sebagai orang yang telah diselamatkan. Dalam arti yang terbalik, ia menunjukkan bahwa tanpa adanya kesadaran akan dosa dan kesalahan orang merasa tidak perlu pertobatan dan pengampunan dari Tuhan.


Selaras perkataan Paus Fransiskus di atas, banyak perbuatan jahat dan tidak adil dilakukan dalam situasi hidup dewasa ini dipicu oleh kehampaan kesadaran akan dosa. Orang bertindak menurut kemauannya sendiri tanpa memandang bahwa apa yang dilakukan itu berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan.


Akhir-akhir ini Gereja Katolik menghadapi masalah dengan kaum klerus yang melakukan pelecehan seksual. Seorang imam melakukan pelecehan seksual terhadap umatnya, baik awam maupun biarawati, dan bisa terjadi berulang kali, karena ia memandang apa yang dilakukan itu tidak salah. Sering persoalan itu diselesaikan dengan mutasi tempat tugas. Namun kenyataan mutasi ke tempat lain tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan karena masalah dasar tidak pernah diselesaikan. Di tempat tugas yang baru pun masalah yang sama tetap terjadi. Tentu ini hanyalah salah satu masalah yang dihadapi.


Masalah seperti yang disebutkan ini dan juga berbagai masalah yang lain mesti menggugah kesadaran kita. Sebagai Gereja kita mesti menyadari kembali tentang kehilangan khazana spiritual membuat kita tergelincir dalam perbuatan-perbuatan jahat dan dosa tanpa merasa itu jahat dan dosa. Keteladanan hidup perempuan pendosa dalam kisah Injil hari ini kiranya menjiwai kita untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali kekayaan yang hilang itu. Selagi kita tidak bangkit dari kematian ini maka kita akan tetap melakukan berbagai kejahatan dalam hidup kita tanpa merasa itu jahat dan dosa.*** Apol***

Selasa, 15 September 2020

Ibu Yang Menemai Orang Berdukacita

Luk 2:33-35 dan Yoh 19:25-27

Pada hari ini Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Yang ingin ditunjukkan di dalam perayaan wajib ini adalah penderitaan dan dukacita yang dialami Maria di dalam seluruh hidupnya.

 

Sejak menerima kabar kehamilannya (Luk 1:26-38), ketiadaan rumah penginapan sehingga ia harus melahirkan di kandang hewan (Luk 2:7), pelarian ke Mesir untuk menghindari pembunuhan Herodes atas kanak Yesus dan tinggal di sana hingga Herodes mati (Mat 2:13-15), tampilnya Yesus di depan publik dan penolakan atas diri-Nya hingga mencapai puncaknya di atas bukit Golgota, Maria diliputi oleh kedukaan.

 

Menurut tradisi, disebutkan ada tujuh peristiwa dukacita yang meliputi hidup Maria sebagai penggenapan atas ramalan Simeon: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan  - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35).

 

Ketujuh peristiwa dukacita Maria itu adalah: Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan.

 

Ketujuh peristiwa itu menggambarkan ketujuh pedang kedukaan yang menembusi jiwanya. Betapa sakit dan berat rasanya mengalami pedang kedukaan itu. Namun Maria menghadapi semuanya dengan penuh kasih dan penyerahan diri kepada Allah. Ia tegar dan teguh berdiri. Ia setia pada komitmennya, pada fiatnya kepada Tuhan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dalam iman, kasih dan harapan penuh pada Allah, Maria menerima semuanya dan menyatukan dirinya dengan semuanya itu.

 

Yesus memahami ibunya. Dari atas salib Ia memandang kepada ibunya yang dirundung duka yang mendalam itu. Ia tahu, kasih ibunya telah membawanya kepada pengorbanan diri sehabis-habisnya. Maka dalam kasih yang dalam sebagai putra, Yesus berkata kepada ibunya dan Yohanes, murid yang dikasihi-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah ibumu!”.

 

Inilah sumber kekuatan dan penghiburan bagi semua orang yang oleh karena imannya telah mengambil bagian dalam dalam hidup Yesus agar memandang kepada Maria yang telah dengan teguh hati, setia, sabar, dan penuh peyerahan diri kepada Allah ketika menghadapi penderitaan dan dukacita dalam hidupnya. Dialah ibu orang beriman. Ia hadir sebagai kekuatan yang menghibur dan meneguhkan agar semua orang beriman mampu menerima situasi pedang yang menembusi jiwanya dengan kasih dan penuh penyerahan diri kepada Allah.

 

Siapapun manusia itu tidak akan pernah bisa menolak atau lari dari penderitaan dan dukacita. Orang mengalaminya, bahkan berulang kali berhadapan dengan situasi itu. Namun ketika itu dirasakan dalam hidupnya, orang tidak akan merasa sendirian sebab Yesus telah menyerahkan Maria, bunda-Nya, untuk menemani dan menguatkannya.

 

St. Yahanes Paulus II mengingatkan kita bahwa sebagai ibu yang tersuci, Maria senantiasa hadir sebagai penghibur yang penuh kasih bagi kita yang mengalami penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa. Maria itu ibu yang memahami sengsara dan penderitaan semua kita oleh karena ia sendiri menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. Ia  adalah ibu yang baik yang memahami semua kita dan akan menghibur kita.

 

Maka kita semua yang kini dirundung dengan kesedihan dan dukacita bisa mempersembahkan kesedihan dan dukacita kita kepada Tuhan bersama Maria yang telah diberikan kepada kita. Dia bukan hanya menghibur dan menguatkan kita, tetapi Dia yang telah mengalami kemurahan hati putranya dari atas kayu salib itu akan membawa kita kepada-Nya untuk menikmati penghiburan dan buah penebusan-Nya.*** Apol***

Jumat, 11 September 2020

KITA BUTUH KERENDAHAN HATI DALAM BERSIKAP

 Luk 6:39-42

            Kerendahan hati adalah salah satu kebajikan Kristiani yang harus dihidupi dan dimiliki oleh setiap orang Kristiani. Kebajikan itu mutlak dibutuhkan agar dapat menekan egoisme diri dan kesombongan yang menggiring orang kepada kehancuran. Yesus sendiri giat melawan kesombongan dan egoisme diri yang memenjarahkan orang sehingga tidak bebas mengekspresikan imannya secara murni. Pemberian diri yang total kepada Allah dan sesama selalu mengandaikan aspek kerendahan hati dan ketulusan yang memungkinkan kita dapat setia dan taat pada Kehendak Allah.

            Pertanyaan pokok dari Yesus berkenaan dengan perumpamaan yang Ia sampaikan kepada murid-murid-Nya adalah: Dapatkah seorang buta menuntun orang buta? Jawaban atas pertanyaan ini tentu saja tidak bisa, karena keduanya pasti terperosok masuk ke dalam lubang yang sama, pasti mereka mengalami cedera dan patah tulang. Idealnya, yang buta membutuhkan bimbingan orang yang melek, yang lemah membutuhkan yang kuat, yang belum beriman membutuhkan orang yang kuat imannya. Tuhan menciptakan manusia dengan segala kelemahan dan kelebihannya untuk saling menyempurnakan atau mengisi. Karunia ciptaan Tuhan dalam diri setiap orang mendapatkan fungsi sosialnya untuk saling melengkapi. Karena itu, bakat dan kemampuan yang kita miliki harus dimanfaatkan dan dibagi-bagikan kepada orang lain, karena semua karunia yang kita miliki bersumber dan berasal dari kemurahan hati Allah. Hal pokok yang kita butuhkan agar kita dapat menyalurkan kemampuan dan bakat kita kepada sesama yang lain adalah kerendahan hati dan ketulusan dalam bersikap untuk menilai sesama. Berkat ketulusan dan kerendahan hati, kita akan jujur menilai diri kita sendiri sebelum kita menilai diri orang lain. Atau dalam ungkapan klasik orang sering bergumam, “Keluarkan dahulu balok dari matamu sendiri sebelum engkau menolong mengeluarkan selumbar dalam mata saudaramu.”

            Balok yang dimaksudkan Yesus dalam Injil hari ini adalah dosa kemunafikan yang melekat dalam hati manusia. Dosa itu melemahkan dan merusak ketulusan dan kerendahan hati manusia, sehingga kita seolah-olah tidak memandang perlu menerima rahmat istimewa dari Tuhan. Kita sibuk membenahi diri orang lain dan lupa menata hati yang penuh onak duri dan kepalsuan. Kalau sudah demikian dan hampir bisa dipastikan bahwa hati kita sama sekali tidak disiapkan untuk menerima Tuhan sebagai penyelenggara segalanya apalagi menerima tugas ikut mewartakan Injil keselamatan Tuhan. Sedangkan, melihat selumbar di mata saudara adalah proyeksi penyangkalan atas diri sebagai manusia berdosa. Biasanya orang bersalah cenderung bahkan lihai mengalihkan perhatian dengan memojokan atau mencari-cari kesalahan orang lain sebagai biang masalah, meskipun ia sadar benar bahwa sumber masalah datang dari dirinya. Penilaian yang demikian sangat tidak berimbang dan merugikan orang lain, bahkan Yesus sendiri menentang mentalitas macam ini. Karena manusia adalah makhluk sosial maka sah-sah saja apabila kita saling mengoreksi dan menginga tkan, namun jangan lupa bahwa kita tidak boleh sok tahu tentang pribadi orang lain selain dirinya dan Tuhan. Sedangkan, hal  yang paling mendasar bagi kita secara pribadi adalah jujur dengan diri kita sendiri sambil melakukan introspeksi secara berkalah. Hasil permenungan atas diri kita menjadi tolok ukur bagaimana kita menyadari dosa dan kelemahan kita sehingga membantu kita melakukan pembaharuan menuju hidup iman yang matang dengan mendasarkan diri pada ketulusan dan kerendahan hati. Sikap apatis, sombong dan angkuh menutup diri untuk membagikan kekayaan iman kepada orang lain, apalagi bersedia membimbing orang lain menuju pertobatan dan perubahan. Karena itu, menurut Yesus kita harus mengenakan sikap rendah hati dan tulus untuk mengatasi gejolak batin yang berkembang liar dan memilih jalan pertobatan serta mengandalkan rahmat dan kemurahan hati dari Allah.

            St. Paulus dalam bacaan pertama hari ini mensyeringkan pengalaman pewartaannya yang sungguh berkesan. Pertobatan St. Paulus menghantar dia menjadi pewarta yang tangguh dan setia, ia menjalankan kewajibannya sebagai rasul yang bertanggungjawab menyebarkan warta keselamatan Allah. Kesetiaannya kepada Yesus membuatnya tulus membagikan kekayaan imannya kepada orang yang belum mengenal Yesus Kristus dan dalam menjalankan tugasnya, ia tidak mengharapkan penghargaan, tidak mengejar upah: baginya, “upahku adalah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” Niat mulianya adalah ingin menjadi hamba yang siap melayani  semua orang dengan tujuan agar jiwa mereka dapat dimenangkan dan dibawa kepada Yesus untuk diselamatkan. Menurut St. Paulus, memberitakan Injil adalah suatu keharusan yang muncul dari kedalaman hatinya, bukan karena ditugasi atau pun untuk kepentingan prestise tetapi karena panggilan dan ketaatannya kepada Tuhan untuk menyebarkan kabar baik tentang keselamatan kekal. Ia mampu menyesuaikan diri di tengah-tengah orang lain dan hadir sebagai hamba yang setia melayani. Spirit Yesus telah menghidupkan jiwanya untuk membagikan kabar gembira keselematan ke seluruh dunia. Ia tidak pernah merasa malu, putus asa, bahkan memiliki kemampuan besar untuk mengadaptasi diri dalam strata mana pun. Ia tidak pernah tergiur untuk memegahkan dirinya, malah oleh karena Injil ia berjuang memperkenalkan Yesus untuk mendapat mahkota kekal.

            Kesadaran akan dosa sendiri membantu kita berubah dan berbenah diri agar relasi atau hubungan yang sempat terputus dengan Tuhan dan persaudaraan dengan sesama yang rusak dapat dibangun kembali. Hubungan vertikal dengan Tuhan tidak dapat dibangun dengan harmonis apabila hubungan horisontal dengan sesama berantakan, karena sesama adalah representasi pribadi Allah sendiri. Semua ini menjadi sendi-sendi vital yang menunjang perkembangan pribadi seorang Kristiani yang baik. Akhirnya, kita dituntut komunikasi cinta dua arah: dengan Tuhan dalam doa dan refleksi, dengan sesama dalam relasi dan pelayanan cinta. Dengan begitu kita tidak hanya menciptakan karang kokoh bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi sesama yang tak mampu melakukannya sendiri (fungsi sosial mendapat pemenuhannya di sini). Pemberian diri kepada orang lain mutlak dibutuhkan agar mereka yang belum mengenal Allah dan hidup dalam kegelapan mendapat terang dan suka cita. Tugas kita sebagai orang Kristen adalah membawa terang untuk menyinari kegelapan, membagi kemampuan dan skill yang kita miliki untuk kemakmuran orang lain. Semua metode pewartaan seperti yang dipraktekkan oleh Yesus dan Paulus memiliki tujuan yang satu dan sama yakni untuk memenangkan jiwa-jiwa yang berpaling dari Allah.

            Yesus adalah guru kehidupan yang memberi kita teladan kerendahan hati. Ia adala guru Agung yang menuntun kita ke jalan yang benar. Ia memiliki kemampuan untuk merangkul dan mendidik, tanpa berusaha untuk menghakimi orang berdosa. Teladan kerendahan hati Yesus dan teladan hidup St. Paulus mendorong kita untuk menjadi panutan bagi sesama kita dan membawa mereka menuju pertobatan sejati tanpa harus mengkambinghitamkan orang lain untuk kepentingan pribadi kita. Kemampuan dan bakat yang dianugerahkan Tuhan kepada kita harus dibagikan agar semua orang merasakan berkat dan rahmat kasih Allah

            Kita semua disapa dan dipanggil oleh Yesus untuk mengikuti jalan kekudusan yang dirintis-Nya, sehingga kita bebas memberi diri, menyumbangkan kemampuan yang kita miliki tanpa terikat oleh egoisme dan ketamakan yang membelenggu. Apabila kita sudah berada di jalur jalan keselamatan, maka kita berkewajiban mencari dan membawa lebih banyak orang kepada Yesus, karena itulah tujuan perutusan kita sebagai murid-murid-Nya. Semua kebjikan Kristiani dapat kita terapkan dalam misi pewartaan kita, namun pergulatan iman dan kualitas hati harus mendasari segalanya jangan sampai kesetiaan kepada Yesus tidak total. Aspek kerendahan hati adalah senjata andalan kita untuk tetap fokus pada misi pewartaan akan Yesus. Pertanyaan mendasar yang bisa kita ajukan adalah: apakah kita sudah menggunakan mata kita dengan benar untuk melihat kebaikan dan kelebihan sesama kita? Ataukah kita memeterai sesama kita pada masa lalunya yang buruk dan menutup hati untuk melihat kebaikan-kebaikan yang berasal darinya. Jika demikian, maka kita butuh penyembuhan dari Yesus, agar mata batin kita kembali jernih dan berfungsi untuk menerima sesama kita apa adanya bukan ada apanya. Dengan demikian, pewarta tanpa pergulatan iman dapat diumpamakan seorang buta sedang menuntun orang buta.****Bernard Wada*****


Selasa, 08 September 2020

MELALUI MARIA IMAN KITA KEPADA YESUS DITEGUHKAN

                                          Rm 8:28-30; Mat 1:1-16, 18-23

            Gereja Katolik hari ini memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Dalam liturgi Gereja Katolik, peringatan atau pesta orang kudus biasanya dirayakan untuk memperingati hari kematian mereka. Tercatat hanya ada tiga figur pribadi yang penting dan sangat berpengaruh dalam hidup iman kita. Mereka adalah: Pertama, St. Yohanes Pembaptis (24 Juni). Kita mengenang Yohanes pembaptis sebagai figur yang menyiapkan jalan bagi Tuhan. Seruan tobat dan pembaptisan di sungai Yordan merupakan cara Yohanes membawa orang untuk mengenal dan tinggal bersama Yesus sang Anak Domba Allah. Kedua, Sta. Perawan Maria yang dirayakan pada hari ini 8 september. Kita mengenang Bunda Maria sebab dia adalah figur yang selalu ada bersama dengan Yesus puteranya. Ketiga,Yesus Kristus yang kita rayakan setiap tanggal 25 Desember. Kita mengenang kelahiran Yesus Kristus karena Dialah satu-satunya Penebus umat manusia. Semua kenangan ini selalu menunjukkan sukacita istimewa, lebih lagi berkaitan dengan penebusan yang berlimpah dalam diri Yesus Kristus. Mengenai Maria, kita tidak menemukan referensi biblis yang menunjukkan tentang kelahiran Sta. Perawan Maria, namun perayaan ini lahir dari pengakuan atas peran penting Santa Maria dalam sejarah keselamatan. Hari ini jelas bukan tanggal kelahiran Santa Maria, namun tanggal 8 September dipilih karena ada hubungannya dengan perayaan Maria dikandung tanpa noda (8 Desember).

 

            Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria yang kita rayakan hari ini mengajak kita untuk selalu bersukacita di dalam Tuhan. St. Paulus dalam bacaan pertama mengatakan bahwa Allah tetap bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Orang-orang yang mengasihi Dia adalah orang-orang istimewa yang dipanggil Allah secara khusus untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Tuhan sejak semula memilih dan menentukan orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus Putera-Nya. Dengan demikian Yesus Kristus tetaplah menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Konsekuensinya adalah bahwa semua orang yang ditentukan dari semula oleh Tuhan juga mendapatkan panggilan-Nya. Mereka yang mendapatkan panggilan itu akan dibenarkan oleh Tuhan. Mereka yang dibenarkan juga akan dimuliakan oleh Tuhan sendiri. Perkataan Paulus tersebut kita pahami dalam konteks pesta kelahiran Bunda Maria: orang-orang yang ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan pertama-tama adalah orang tua Bunda Maria yakni Anna dan Yoakim. Keduanya adalah orang kudus pilihan Allah yang layak untuk melahirkan Maria sebagai ciptaan teramat mulia, yang kemudia menjadi Ibunda Yesus Kristus. Maria menjadi ciptaan teramat mulia  sebab Maria sendiri dikandung tanpa noda dosa. Santa Perawan Maria mendapat anugerah dan panggilan khusus sebagai Ibunda Yesus. Hati Maria selalu mengagungkan Tuhan dan jiwanya bersorak-sorai hanya kepada Tuhan.

 

            Gereja memberikan penghormatan sangat besar kepada Bunda Maria karena melaluinya, Allah menyatakan rencana keselamatan-Nya dalam diri Yesus Kristus. Penginjil Matius menggambarkan silsilah Yesus dan di sana kita menemukan bahwa tidak semua nenek moyang Yesus hidup sempurna dan saleh, tetapi sekian banyak dari mereka yang tidak taat pada kehendak Allah dan hidup penuh dosa, namun Allah justru menjadikan mereka jembatan dan alat-Nya untuk suatu tugas mulia. Misalnya dalam silsilah Yesus, ada empat nama wanita asing yakni: Tamar (perempuan Kanaan dalam Matius 1:3), Rahab (perempuan Kanaan dalam Matius 1:5), Rut (perempuan dari Moab dalam Matius 1:5) dan Betsyeba (meskipun ia berasal dari Israel, namun ia pernahmenjadi bangsa asing karena menikahi “Uria orang Het itu”, dalam Mat 1:6). Dari keempat nama wanita asing ini, kita tahu bahwa tiga di antaranya memiliki masa lalu yang kelam. Pertama, Tamar: untuk memperoleh keturunan dari Yehuda maka ia rela menyamar menjadi seorang pelacur kuil. Kedua, Rahab: dikenal sebagai mantan perempuan sundal. Ketiga, Batsyeba sewaktu masih menjadi istri Uria, dia berzinah dengan Daud. Selanjutnya karena kematian Uria, ia menjadi istri Daud. Fakta ini mau menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang setia dan penyabar yang senantiasa menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Kehadiran Yosef dan Maria serta keseluruhan hidup mereka secara tidak langsung merupakan buah dari proses pemurnian yang berjalan berabad-abad lamanya. Iman nenek moyang mereka  mengalami pasang naik dan pasang surut itu disempurnakan dalam model penyerahan diri dan ketaatan total Yosef dan Maria yang melahirkan dan membesarkan Yesus sebagai juru selamat bagi umat manusia. Gereja ingin mempertegas peran pembentukan Yosef dan Maria sebagai ayah dan ibu Yesus di dunia ini dalam perkembangan kepribadian Yesus. Ketulusan hati Yosef dan ketaatan Maria menjadi keutamaan yang sungguh mempengaruhi karakter kemanusiaan Yesus.

 

            Allah memilih Bunda Maria sebagai Ibu Yesus, sang Penebus. Pilihan ini sangat tepat karena Allah memperhatikan kerendahan hati Maria sebagai hamba-Nya. Ia melihat hati Maria yang dikandung tanpa noda dosa yang penuh dengan suka cita ilahi. Allah memilih cara yang unik dengan mengingkarnasikan diri-Nya menjadi manusia melalui Maria. Pewahyuan diri Allah itu  menyiratkan pesan bahwa manusia tidak akan sanggup menggapai Tuhan oleh karena kedosaannya, maka Tuhan sendiri memilih jalan lain untuk datang dan menjumpai manusia agar manusia dapat bertobat dan kembali ke akarnya yakni Allah Bapa di Surga. Inkarnasi Allah dalam diri Yesus hadir membawa pesan perubahan bagi umat manusia melalui ajaran kasih-Nya yang sangat revolusioner agar manusia setia mengasihi Allah sehingga memperoleh keselamatan. Iman kita akan Yesus sangat ditentukan oleh relasi baik kita dengan Allah dalam diri sesama. Relasi itu dimungkinkan jika kita bersikap rendah hati seperti Bunda Maria.

 

            Hidup Bunda Maria adalah sebuah kesaksian bagaimana Allah mempercayai manusia menjadi pelaksana karya keselamatan-Nya dan bagaimana Maria melaksanakannya dengan penuh iman dan ketaatan. Maria memasrahkan dirinya pada Kehendak Allah meski berhadapan dengan ketidakpastian dan kebingungan. Bahkan di hadapan penderitaan dan rasa sakit mendalam ketika menyaksikan puteranya wafat di kayu salib bagaikan penjahat. Hidupnya adalah inspirasi bagi hidup umat beriman. Di hadapan aneka ketidakpastian, kebingungan, penderitaan, kesulitan dan rasa sakit sekalipun, Maria tetap memasrahkan hidupnya pada Kehendak Tuhan semata karena, ia yakin bahwa Allah senantiasa menyertainya. Penyerahan diri Bunda Maria pada Kehendak Allah menjadikan hatinya bersinar dan memancar keluar untuk menerangi hati kita semua yang masih dikuasai oleh egoisme dan hedonisme dunia. Kerendahan hati selalu memungkinkan kita siap menjadi hamba dan pelayan serta ikut berpartisipasi secara aktif dalam misi pewartaan Allah menyelamatkan sesama yang menjauhi rahmat dan berkat Allah. Kelemahan dan ketidaklayakan kita karena dosa sering kali menjadi alasan utama kita menjauhi panggilan Allah, namun Allah yang maha pengampun justru memakai orang-orang berdosa dan lemah untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

 

            Kisah Injil hari ini mengingatkan kita, betapa pentingnya membangun pertobatan, meskipun kita adalah orang biasa-biasa, orang berdosa yang sering jatuh dalam kesalahan yang sama. Harapan ini diletakkan di atas keyakinan, bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh menghantar kita menuju keselamatan dan kembali kepada Allah Bapa yang penuh belas kasih. Karena itu, kita dapat mengadopsi iman Maria yang penuh kerendahan hati dan ketaatan St.Yosef sebagai contoh dan teladan hidup kita. Warta Injil hari ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk bersyukur atas seluruh karunia Tuhan bagi keluarga kita masing-masing, karena kita datang dari sebuah keluarga dengan silsilah yang panjang. Seperti Yesus, kita perlu menunjukkan aspek kemanusiaan kita dengan terus berjuang memberi makna kepada hidup ini. Kita juga perlu menunjukkan aspek keilahian kita dengan berusaha menyucikan rencana dan karya pelayanan kita setiap hari dengan tetap menghidupkan aspek doa sebagai jantung hidup kita dan senantiasa bersandar pada kerahiman Yesus sang Mesias Agung yang datang ke dunia menyelamatkan dosa seluruh umat manusia. Pesta kelahiran Bunda Maria hari ini menginspirasi kita untuk memandang kerendahan hati Bunda Maria sebagai model hidup iman kita dan turut memikul salib Kristus yang sudah, sedang dan akan membaharui dunia. Yesus Kristus hadir untuk membaharui dunia dan kita dipanggil ikut ambil bagian di dalamnya menjadi misionaris-misionaris sejati yang memiliki semangat merasul dimana pun kita berada.

 

            Diakhir renungan singkat ini saya ingin meminjam doa harian St. Theresia dari Kalkuta kepada Bunda Maria: “Bunda Maria, berikanlah kepadaku hatimu: yang begitu indah, murni dan tak bernoda; hatimu begitu penuh dengan cinta dan kerendahan hati bahwa saya dapat menerima Yesus di dalam Roh kehidupan dan mencintai-Nya seperti dirimu mencintai dan melayani-Nya di dalam diri orang-orang miskin dan melarat”. Tambahkan kekuatan saya agar saya dapat melayani orang-orang sakit, lemah dan miskin yang saya jumpai. Semoga kerendahan hati Bunda Maria, menjadi semangat bagi saya dalam memberikan pelayana ikhlas yang di dasarkan pada cinta kasih Yesus. Amin. ***Bernad Wadan***

Rabu, 02 September 2020

KONSISTENSI YESUS DALAM MEWARTAKAN INJIL

 

Luk 4:38-44

Konsistensi itu penting biar tidak mudah dipengaruhi apalagi dikendalikan oleh orang lain demi mengejar sebuah kepentingan pribadi.  Orang yang konsisten setia melakukan tugasnya dan tidak pernah terikat dengan siapa dan apa pun bila misi luhurnya belum tuntas. Berbeda dengan manusia, misi tertentu yang dibawa atau diusung bisa gagal manakala ia dipengaruhi oleh hal tertentu yang menguntungkan dia. Prinsip hidup yang demikian tidak pantas dihidupi dan diandalkan manakala hal itu diberlakukan dalam misi pewartaan akan Kerajaan Allah. Ambil contoh sederhana, ada segelintir biarawan biarawati kita yang ketika bertugas di suatu tempat dan pada saatnya dilakukan mutasi dan penyegaran mereka tidak mau untuk dipindahkan karena mereka berdalih sudah sangat menyatu dan dekat dengan umat dan lingkungan sekitar.

 

Injil hari ini melukiskan bahwa Yesus sungguh konsisten dengan misi mewartakan kabar gembira keselamatan Allah. Ia tidak hanya mewartakan kabar sukacita namun lebih dari itu Ia menunjukkan hakikat kebesaran Allah melalui perbuatan kasih yang nyata seperti menyembuhkan ibu mertua Simon yang demam keras bahkan menumpangkan tangan untuk mengalirkan rahmat kesembuhan kepada banyak orang sakit yang dihantar kepada-Nya. Mujizat kasih yang dilakukan-Nya menggerakan hati orang yang menyaksikannya untuk meminta Dia supaya jangan pergi. Dalam kisah Injil ini tidak digambarkan motivasi mereka menahan Dia supaya jangan pergi, apakah mereka benar-benar beriman kepada-Nya atau apakah mereka ingin menahan Dia untuk kepentingan jasmani mereka. Terlepas  dari itu semua, kita mendapatkan satu model pembelajaran baru dari keputusan bijaksana Yesus yakni Ia menolak tawaran mereka karena Ia setia pada amanat perintah Bapa-Nya untuk mewartakan kabar sukacita keselamatan kepada bangsa-bangsa. Yesus tidak pernah tergiur dengan hal-hal duniawi, namun Ia konsisten dengan tugas perutusan-Nya sejak awal mula. Yesus menginginkan agar kabar suka cita keselamatan Allah juga diwartakan di tempat lain untuk diketahui dan dialami. Yesus tidak pernah berbelot dari tugas perutusan-Nya, Ia tetap konsisten meskipun Ia berhadapan dengan banyak penolakan dan cobaan duniawi. Ia menginginkan agar semua orang diselamatkan dan warta keselamatan itu harus disampaikan kepada semua orang, tidak penting apakah mereka menerima atau menolak, semuanya sangat tergantung dari disposisi batin seseorang yang diterangi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan berkarya dalam diri manusia dan menghantar manusia untuk berserah kepada Allah Juru Selamat kita.

 

Hidup yang bermakna di mata Allah juga membutuhkan sikap konsisten dari pihak manusia. Orang yang konsisten adalah orang yang patuh dan taat pada asas-asas yang sudah digariskan. Dalam kerangkah hidup Kristiani, apabila kita telah memilih dan meyakini bahwa Allah adalah kasih maka, kita perlu mengimplementasikan kasih itu secara nyata dan benar dalam hidup kita. Kasih akan kebaikan dan kemurahan hati Allah harus diwartakan dan dibagikan kepada semua orang agar semua orang hidup dalam kasih yang sama. Untuk mewartakan kasih Tuhan tentang kabar suka cita keselamatan, kita harus konsisten seperti Yesus dalam bacaan Injil hari ini, dimana Ia bergegas menuju ke tempat lain untuk menyampaikan kabar suka cita Allah meskipun Ia ditahan di rumah Simon. Kabar suka cita keselamatan Allah bersifat mendesak, karena mendesak dan penting maka kita perlu segera membagikannya untuk dialami oleh orang lain. Dengan begitu keselamatan bersifat universal, artinya keselamatan itu harus diusahakan dan diperjuangkan untuk semua orang tanpa terkecuali. Sebagai pewarta yang baik, kita tidak boleh mencari keselamatan sendiri, kita bertanggungjawab mencari jiwa-jiwa dan membawa lebih banyak orang kepada Allah untuk diselamatkan, inilah tugas perutusan seorang pewarta yang baik dan konsisten yang senantiasa mendahulukan keselamatan kekal ketimbang mencari kehormatan, popularitas dan kedudukan yang sia-sia dan bersifat sementara.

 

            Ketika Yesus menyembuhkan banyak orang di rumah Simon, banyak di antara mereka yang keluar setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Pengakuan setan-setan ini tidak membuat Yesus bangga dan terlena, namun dengan keras Ia melarang mereka berbicara. Sikap Yesus ini sangat berbeda jauh dengan sikap manusia. Ketika kita berbuat baik atau menolong sesama dan mendapat pujian dan sanjungan dari mereka, kita merasa seperti sedang berada di awan-awan karena kita mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari mereka. Kita dipuja puji sebagai pahlawan yang dermawan yang peka melihat kemalangan sesama. Tanpa kita sadari, setan sedang bekerja melemahkan semangat kita untuk merasul. Kita terlena dan lupa tugas perutusan kita yang utama mewartakan Injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, Yesus dengan keras melarang setan berbicara dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Yesus tahu baik kalau setan sedang berjuang menghambat tugas perutusan-Nya mewartakan Injil ke tempat lain. Yesus juga tahu bahwa setan sedang mencari cara lain untuk menghambat keberangkatan-Nya dengan memperdayakan orang-orang yang disembuhkan, karena mereka meminta Yesus untuk tinggal menetap bersama mereka. Berangkat dari konsistensi Yesus akan tugas utama-Nya ini, kita ditantang untuk bersikap sama seperti Yesus dimana kita harus bisa membuat skala prioritas dalam hidup kita. Nilai-nilai keutamaan dan kebajikan Kristiani harus diinternalisasikan secara kuat dalam hidup seorang Kristiani.

 

            Injil hari ini memotivasi kita untuk konsisten dalam tugas perutusan kita mewartakan kabar suka cita keselamatan kepada semua orang. Kita jangan tergiur dan terpengaruh oleh banyak tawaran kenikmatan duniawi, tetapi kita hendaknya konsisten dengan tujuan hidup kita yang mengarahkan kita ke jalan keselamatan. Tawaran dunia akan kenikmatan, kedudukan, kehormatan dan popularitas sama sekali tidak membantu kita untuk menemukan keselamatan kekal, ia bahkan secara pelan-pelan menggiring kita masuk dalam perangkap kesesatan yang membuat kita terlena bahkan tak berdaya. Tugas mewartakan injil menjadi tugas kita semua orang Kristiani tanpa kecuali. Tugas ini melekat kuat ketika kita menerima sakramen batis yang menjadikan kita anak-anak Allah, murid-murid Yesus dan anggota Gereja. Lewat meterai pembaptisan, kita secara otomatis menerima tugas mulia untuk mewartakan Injil. Tugas ini bukan opsi pilihan tetapi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan tanpa paksaan dari pihak mana pun. Ini adalah satu bentuk ungkapan kesetiaan kita kepada Allah yang telah memilih dan menentukan kita sebagai agen pewarta Injii-Nya. Karena itu, kita semua dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi pewartaan Yesus agar kabar baik keselamatan Allah dapat menjangkau dan dirasakan oleh semua umat manusia. Dalam mengemban tugas dan amanah oleh karena meterai pembaptisan yang kita terima, hendaklah kita mengadopsi teladan dan semangat Yesus yang selalu konsisten dalam misi pewartaan-Nya. Kabar baik keselamatan menjadi sangat urgen  untuk dilaksanakan agar semua orang mengetahui kebaikan dan kemurahan hati Allah yang selalu siap untuk menerima pertobatan dari mereka yang sejauh ini menjauh dari jalan keselamatan Allah.

 

            Konsistensi kemudian menjadi penting dan cukup elegan untuk diterapkan pada semua disiplin hidup manusia baik dalam mengurus hal-hal yang profan dan imanen. Hal penting yang bisa kita tarik dari pesan Injil hari ini adalah, Pertama, kita harus selalu siap sedia untuk menolong sesama yang membutuhkan uluran tangan dan kemurahan hati kita. Bantuan yang hendak kita berikan tidak boleh memiliki muatan kepentingan di dalamnya, hendaklah bantuan itu bersifat tulus dan murni. Yesus sendiri telah menunjukan teladan istimewa bagi kita dalam peristiwa penyembuhan ibu mertua Simon yang sakit demam keras. Yesus menunjukkan kesiapsediaan-Nya ketika diminta pergi ke rumah Simon. Ia tidak menolak atau tawar menawar harga, Ia menerima permintaan itu dan melaksanakannya dengan hati karena itulah kesetiaan-Nya pada misi perutusan Allah. Kedua, Yesus tidak mabuk penghargaan dan penghormatan, Ia melarang keras setan yang mengakui-Nya sebagai Mesias. Hal lain, Ia menolak permintaan orang banyak untuk tinggal bersama mereka ketika mereka melihat mujizat penyembuhan yang dilakukan-Nya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kabar sukacita keselamatan kepada orang lain di kota-kota lain dari pada menerima pengakuan semu yang dangkal. Semoga Sabda Tuhan hari ini menggugah kita untuk lebih konsisten dalam menghayati hidup iman kita sebagaimana inspirasi dan teladan yang ditunjukan oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus selalu aktual bagi kita murid-muridNya dan Ia pantas menjadi acuan bagi kemajuan dan perkembangan iman orang Kristiani. Semoga. ***Bernard Wadan***

Selasa, 01 September 2020

Kekaguman; Jalan Menuju Iman

                                                     Luk 4:31-37

 

Kekaguman adalah suatu pengalaman dasar yang menggerakkan orang untuk mencari tahu lebih dalam akan sesuatu yang mengagumkan itu. Ia memicu gerakkan rohani seseorang untuk bertanya tentang apa sesungguhnya yang terjadi; ia membawa orang kepada hal yang lebih hakiki dan tidak ada hal yang lebih istimewa daripada mencintai yang hakiki itu.


Orang-orang Kapernaum kagum, takjub akan kemampuan Yesus dalam berkata-kata. Pengajaran-Nya sangat memikat hati. Terhadap roh jahat pun, kata-kata Yesus itu penuh wibawa dan kuasa sehingga roh jahat itu pun turut kepada-Nya. Luar biasa menakjubkan sehingga mulut mereka sendiri mengakui: “Alangkah hebatnya perkataan ini! Sebab dengan penuh wibawa dan kuasa Ia memberi perintah kepada roh-roh jahat dan mereka pun keluar”.


Namun kekaguman orang-orang Kapernaum itu hanya bersifat temporal karena mereka berhenti pada pengalaman sebagai suatu fenomena yang mereka hadapi. Mereka tidak menjadikan pengalaman kekaguman itu suatu dasar bagi mereka untuk bertanya mengapa Yesus bisa melakukan semuanya seperti yang mereka saksikan. Kekaguman mereka tidak membawa mereka untuk menelisik lebih dalam siapa itu Yesus. Maka Yesus tetap asing bagi mereka. Mereka tidak menerima Dia sebagai Pribadi yang layak diterima dan dicintai sebagai Pribadi yang senantiasa mengagumkan dalam hidup mereka.


Sesungguhnya, maksud dari pengajaran dan perbuatan yang mengagumkan itu bukan supaya orang tinggal dalam kekaguman belaka, melainkan suatu pengalaman yang membawa mereka kepada iman dan pengakuan akan Yesus sebagai Tuhan. Akan tetapi orang-orang Kapernaum, seperti juga kebanyakan orang lainnya, tidak sampai kepada kebenaran yang hakiki ini, yakni Dia yang sesungguhnya memiliki kuasa yang mendatangkan berbagai hal yang mengagumkan di dalam hidup ini.


Dalam kehidupan di dunia ini, terdapat banyak hal yang ditempatkan Tuhan sebagai suatu yang mengagumkan. Masing-masing orang memiliki pengalaman yang menakjubkan dalam hidupnya, entah berkaitan dengan alam ciptaan-Nya, maupun pengalaman-pengalaman yang sangat pribadi dalam hidupnya. Pengalaman-pengalaman itu hanya bermakna apabila ia menarik dan membawa setiap orang yang mengalaminya masuk ke dalam hal yang lebih mendasar, yaitu iman akan Dia yang penuh kuasa dan wibawa; Dia yang membuat semuanya indah dan dikagumi.


Refleksi atas pengalaman-pengalaman hidup membuat setiap orang menemukan Dia yang menakjubkan itu di balik semua pengalaman yang mengagumkan. Refleksi itu jalan jiwa bagi setiap orang untuk masuk lebih dalam ke kedalaman pengalaman, dan pada titik terdalam setiap jiwa mampu menemukan apa yang hakiki dari pengalaman-pengalaman manusiawi yang dialami dari waktu ke waktu. Melalui refleksi, pengalaman-pengalaman itu membawa setiap pribadi kepada iman akan Tuhan. Orang terpanggil untuk menerima dan mencintai Dia sebagai Pribadi yang mengagumkan, dan pasti tetap mengagumkan.


Maka ajakan penting bagi kita adalah bahwa kita jangan membiarkan pengalaman-pengalaman yang mengagumkan dalam hidup kita terlewatkan begitu saja. Jangan berhenti pada pengalaman itu semata. Itu baru separuh perjalanan. Ujung jalan perjalanan belum dicapai. Hanya apabila kita bertemu dengan Dia yang membuat segala sesuatu itu menakjubkan kita mencapai garis akhir dari perjalanan kita.


Untuk itu, maka dalam setiap waktu kita mesti mengambil kesempatan terbaik untuk merefleksikan pengalaman kita, agar pengalaman itu menjadi bermakna bagi iman kita. Kita senantiasa menerima dan mencintai Dia sebagai Tuhan di dalam hidup kita. Dan Dia pasti membuat hidup kita penuh dengan hal-hal yang menakjubkan.*** Apol Wuwur***