Jumat, 25 September 2020

BERANI BERJALAN DALAM DERITA SALIB YESUS

Lukas 9:19-22

            Sebagai murid-murid Kristus kita pasti memiliki pengalaman pribadi tentang Yesus dalam hidup kita. Pengenalan akan Yesus sebagai Mesias atau Anak Allah mendorong kita untuk berani bersaksi tentang Dia yang diutus Allah. Kesaksian akan Yesus membutuhkan keberanian dari kita untuk siap menanggung konsekuensinya. Konsekuensi itu berupa penolakan, ejekan, penghinaan bahkan nyawa menjadi taruhannya. Meskipun jalan salib itu diwarnai banyak derita, namun di balik derita itu ada rahmat tersembunyi. Tuhan Yesus akan menjadi daya dan kekuatan bagi orang yang menyatukan derita hidupnya dengan derita salib-Nya.

            Setiap manusia pasti memiliki identitas diri untuk menunjukkan jati dirinya kepada orang lain, begitu juga Yesus. Selama berkarya di dunia ini, Ia pun ingin mempertegas identitas-Nya di tengah para pendengar dan para murid-Nya yang selama ini hidup dan berkarya bersama-Nya. Hari ini Yesus bertanya kepada para muridNya, menurut kamu: “Siapakah Aku ini?” Para murid memberikan jawaban standar dari anggapan umum: ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, seorang nabi zaman dulu yang telah bangkit. Pengakuan variatif di atas kemudian dimurnikan ole pengakuan Petrus yang mewakili para murid lain dengan jawaban: Engkaulah Mesias Anak Allah. Jawaban Petrus ini adalah jawaban yang didasarkan pada kebenaran iman, namun Yesus dengan keras melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun. Alasan Yesus melarang para murid memberitakannya karena bisa saja orang lain salah memahami maknanya. Lebih dari itu adalah pertimbangan situasi politik saat itu ketika orang menyebut kata mesias. Yesus bukanlah Mesias seperti yang diharapkan banyak orang saat itu yang memiliki semangat patriotisme nasional untuk mengusir penjajah Romawi dan membangun kembali pemerintahan Daud. Pertanyaan Yesus kepada para muridNya kali ini adalah pertanyaan yang sebenarnya juga ditujukan kepada kita semua. Pertanyaan ini bukan menuntut jawaban tebakan atau sederhana namun pertanyaan ini berkaitan erat dengan iman yang hakiki. Jawaban tentang siapakah Yesus menurut  anda adalah jawaban atas keyakinan. Sebuah kepercayaan dan keyakinan diri akan Yesus dalam kehidupan kita. Jawaban atas pertanyaan ini bukanlah jawaban sederhana yang keluar dari bibir belaka, namun membutuhkan sikap dasar iman yang kokoh dalam kehidupan kita. Ketika kita percaya bahwa Yesus adalah Mesias sang Juru Selamat, maka harus diikuti dengan kesadaran dan keyakinan bahwa Allah penyelamat tetap merajai kita dan mewarnai seluruh kehidupan praktis kita sehari-hari.

            Pengakuan Petrus menjadi puncak pencarian setiap orang yang ingin mengenal Yesus. Setiap usaha mengenal Yesus akhirnya akan menemukan bahwa Yesus adalah Mesias dan akan sampai pada puncak pengakuan tertinggi bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Mesias adalah tokoh pembawa damai sejati bagi umat manusia. Setiap orang yang menerima Kristus sebagai Mesias akan menemukan pengalaman damai yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Damai sejahtera itu akan mendapat kepenuhannya pada hidup abadi bersama Allah di surga. Sedangkan, hidup riil yang kita alami sepanjang ziarah hidup di dunia ini dalam mengikuti Yesus, kita akan menemukan konsekuensi yang tidak mudah dan mengharuskan kita ikut ambil bagian dalam salib penderitaan Yesus. Yesus dianggap sebagai tokoh kontroversial saat itu, Ia hadir dengan ajaran kasih-Nya yang mampu merangkul semua orang. Karenanya, Ia selalu menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, dibunuh dan Allah membangkitkan-Nya pada hari ketiga. Sebagai pengikut-pengikut Yesus, kita juga harus siap menderita karena Yesus. Setia memikul salib penderitaan hidup kita meskipun berat. Komitmen itulah yang harus dipegang kuat sehingga bisa menghantar kita sampai pada  aspek kesetiaan yang memungkinkan kita berani berjalan di jalan salib Yesus. Dalam keyakinan iman kristiani, kita percaya bahwa derita salib selalu akan membuahkan rahmat kekuatan dan menjadi sarana penebusan bagi dosa-dosa, melalui derita salib dosa-dosa pribadi dan dosa-dosa sesama kita ditebus. Yesus sendirilah yang akan menebus dosa-dosa kita, ketika kita menyatukan derita hidup kita dengan derita Yesus. Dengan demikian, derita salib membuahkan rahmat keselamatan sejati bagi mereka yang percaya dan beriman  kepada Yesus.

            Kadang kala, kita merasa bangga karena kita sudah melaksanakan kewajiban dalam hidup beragama, misalnya pergi ke gereja setiap hari minggu, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di tingkat paroki dan lingkungan, doa di KBG, ziarah ke taman-taman doa yang terkenal dan aneka kegiatan rohani lainnya. Semua kegiatan itu sering kita jadikan sebagai bukti bahwa kita sudah cukup setia menjalankan kewajiban keagamaan kita sebagai murid-murid Kristus. Semua bukti yang kita kumpulkan itu belumlah cukup untuk mengungkapkan kualitas kesetiaan iman kita kepada Allah. Yang paling diharapkan oleh Tuhan adalah mengaktualisasikan iman dalam tindakan nyata sehari-hari yang mencerminkan kasih Tuhan dan menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah. Aneka bentuk praktek peribadatan yang kita laksanakan selama ini baru sebatas ungkapan dan ekspresi keberagamaan kita yang belum tentu menghasilkan kualitas iman yang hakiki kepada Allah. Fakta menunjukkan bahwa orang yang rajin berdoa selama ini pun ketika diperhadapkan pada masalah yang bertubi-tubi, ia lari dari masalah bahkan lari dari Tuhan. Artinya, dalam banyak hal kita masih kurang total berpasrah pada kehendak Allah. Kita kurang konsisten mewujudkan pengakuan iman dan praktek iman yang benar.

            Pengakuan Petrus dalam Injil hari ini menggugah hati dan iman kita sekalian untuk tidak hanya berani melakukan pengakuan verbal atas identitas Yesus tetapi lebih dari itu kita harus berani dan siap menderita karena kesetiaan iman kita kepada-Nya. Pengakuan iman akan Yesus harus hidup dan mengakar dalam hati yang diwujudkan dalam praktik hidup sebagai orang kristiani yang baik. Banyak orang zaman ini yang mengaku diri beriman kepada Yesus, bahkan sejak lahir sudah kristen karena warisan iman nenek moyang mereka. Namun, ketika mereka diperhadapkan pada pertanyaan hakiki: Siapakah Yesus menurut mereka? Jawaban atas pertanyaan ini bisa beragam seperti yang dikemukakan oleh murid-murid Yesus. Meskipun para murid sudah lama tinggal dan hidup bersama Yesus, namun pengenalan mereka yang benar akan identitas Yesus masih kabur dan salah. Untuk itu, kita diajak oleh Yesus untuk mencontohi pengakuan iman Petrus yang benar agar kesaksian iman kita akan Yesus kepada sesama tidak salah. Komunikasi dan hubungan yang intens dengan Allah membantu mengarahkan kita untuk menemukan kebenaran hakiki dalam diri Yesus lewat sabda-Nya. Dengan begitu, kita akan mudah mengenal siapakah Yesus sesungguhnya. Kalau penghayatan iman kita kepada Yesus sudah sangat mendalam, maka dalam kesadaran penuh itu, kita akan sanggup menghadapi konsekuensi paling buruk jika menjadi murid-murid Yesus. Salib penderitaan senantiasa akan selalu mewarnai lembaran hidup kita dan di situlah kita harus berani berjalan dalam derita salib Yesus menuju keselamatan kekal. ***Bernad Wadan***

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar