Lukas 9:19-22
Sebagai murid-murid Kristus kita
pasti memiliki pengalaman pribadi tentang Yesus dalam hidup kita. Pengenalan
akan Yesus sebagai Mesias atau Anak Allah mendorong kita untuk berani bersaksi
tentang Dia yang diutus Allah. Kesaksian akan Yesus membutuhkan keberanian dari
kita untuk siap menanggung konsekuensinya. Konsekuensi itu berupa penolakan,
ejekan, penghinaan bahkan nyawa menjadi taruhannya. Meskipun jalan salib itu
diwarnai banyak derita, namun di balik derita itu ada rahmat tersembunyi. Tuhan
Yesus akan menjadi daya dan kekuatan bagi orang yang menyatukan derita hidupnya
dengan derita salib-Nya.
Setiap manusia pasti memiliki
identitas diri untuk menunjukkan jati dirinya kepada orang lain, begitu juga
Yesus. Selama berkarya di dunia ini, Ia pun ingin mempertegas identitas-Nya di
tengah para pendengar dan para murid-Nya yang selama ini hidup dan berkarya
bersama-Nya. Hari ini Yesus bertanya kepada para muridNya, menurut kamu:
“Siapakah Aku ini?” Para murid memberikan jawaban standar dari anggapan umum:
ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, Elia, seorang nabi zaman dulu yang telah
bangkit. Pengakuan variatif di atas kemudian dimurnikan ole pengakuan Petrus yang
mewakili para murid lain dengan jawaban: Engkaulah Mesias Anak Allah. Jawaban
Petrus ini adalah jawaban yang didasarkan pada kebenaran iman, namun Yesus
dengan keras melarang mereka memberitakan hal itu kepada siapa pun. Alasan
Yesus melarang para murid memberitakannya karena bisa saja orang lain salah
memahami maknanya. Lebih dari itu adalah pertimbangan situasi politik saat itu
ketika orang menyebut kata mesias. Yesus bukanlah Mesias seperti yang
diharapkan banyak orang saat itu yang memiliki semangat patriotisme nasional
untuk mengusir penjajah Romawi dan membangun kembali pemerintahan Daud.
Pertanyaan Yesus kepada para muridNya kali ini adalah pertanyaan yang
sebenarnya juga ditujukan kepada kita semua. Pertanyaan ini bukan menuntut
jawaban tebakan atau sederhana namun pertanyaan ini berkaitan erat dengan iman
yang hakiki. Jawaban tentang siapakah Yesus menurut anda adalah jawaban atas keyakinan. Sebuah
kepercayaan dan keyakinan diri akan Yesus dalam kehidupan kita. Jawaban atas
pertanyaan ini bukanlah jawaban sederhana yang keluar dari bibir belaka, namun
membutuhkan sikap dasar iman yang kokoh dalam kehidupan kita. Ketika kita
percaya bahwa Yesus adalah Mesias sang Juru Selamat, maka harus diikuti dengan
kesadaran dan keyakinan bahwa Allah penyelamat tetap merajai kita dan mewarnai
seluruh kehidupan praktis kita sehari-hari.
Pengakuan Petrus menjadi puncak
pencarian setiap orang yang ingin mengenal Yesus. Setiap usaha mengenal Yesus
akhirnya akan menemukan bahwa Yesus adalah Mesias dan akan sampai pada puncak
pengakuan tertinggi bahwa Yesus adalah Allah itu sendiri. Mesias adalah tokoh
pembawa damai sejati bagi umat manusia. Setiap orang yang menerima Kristus
sebagai Mesias akan menemukan pengalaman damai yang belum pernah dirasakan
sebelumnya. Damai sejahtera itu akan mendapat kepenuhannya pada hidup abadi
bersama Allah di surga. Sedangkan, hidup riil yang kita alami sepanjang ziarah hidup
di dunia ini dalam mengikuti Yesus, kita akan menemukan konsekuensi yang tidak
mudah dan mengharuskan kita ikut ambil bagian dalam salib penderitaan Yesus. Yesus
dianggap sebagai tokoh kontroversial saat itu, Ia hadir dengan ajaran kasih-Nya
yang mampu merangkul semua orang. Karenanya, Ia selalu menanggung banyak
penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat,
dibunuh dan Allah membangkitkan-Nya pada hari ketiga. Sebagai pengikut-pengikut
Yesus, kita juga harus siap menderita karena Yesus. Setia memikul salib
penderitaan hidup kita meskipun berat. Komitmen itulah yang harus dipegang kuat
sehingga bisa menghantar kita sampai pada
aspek kesetiaan yang memungkinkan kita berani berjalan di jalan salib
Yesus. Dalam keyakinan iman kristiani, kita percaya bahwa derita salib selalu akan
membuahkan rahmat kekuatan dan menjadi sarana penebusan bagi dosa-dosa, melalui
derita salib dosa-dosa pribadi dan dosa-dosa sesama kita ditebus. Yesus
sendirilah yang akan menebus dosa-dosa kita, ketika kita menyatukan derita
hidup kita dengan derita Yesus. Dengan demikian, derita salib membuahkan rahmat
keselamatan sejati bagi mereka yang percaya dan beriman kepada Yesus.
Kadang kala, kita merasa bangga
karena kita sudah melaksanakan kewajiban dalam hidup beragama, misalnya pergi
ke gereja setiap hari minggu, berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan di tingkat
paroki dan lingkungan, doa di KBG, ziarah ke taman-taman doa yang terkenal dan
aneka kegiatan rohani lainnya. Semua kegiatan itu sering kita jadikan sebagai
bukti bahwa kita sudah cukup setia menjalankan kewajiban keagamaan kita sebagai
murid-murid Kristus. Semua bukti yang kita kumpulkan itu belumlah cukup untuk
mengungkapkan kualitas kesetiaan iman kita kepada Allah. Yang paling diharapkan
oleh Tuhan adalah mengaktualisasikan iman dalam tindakan nyata sehari-hari yang
mencerminkan kasih Tuhan dan menyerahkan diri secara total pada kehendak Allah.
Aneka bentuk praktek peribadatan yang kita laksanakan selama ini baru sebatas
ungkapan dan ekspresi keberagamaan kita yang belum tentu menghasilkan kualitas
iman yang hakiki kepada Allah. Fakta menunjukkan bahwa orang yang rajin berdoa
selama ini pun ketika diperhadapkan pada masalah yang bertubi-tubi, ia lari
dari masalah bahkan lari dari Tuhan. Artinya, dalam banyak hal kita masih
kurang total berpasrah pada kehendak Allah. Kita kurang konsisten mewujudkan
pengakuan iman dan praktek iman yang benar.
Pengakuan Petrus dalam Injil hari
ini menggugah hati dan iman kita sekalian untuk tidak hanya berani melakukan
pengakuan verbal atas identitas Yesus tetapi lebih dari itu kita harus berani
dan siap menderita karena kesetiaan iman kita kepada-Nya. Pengakuan iman akan
Yesus harus hidup dan mengakar dalam hati yang diwujudkan dalam praktik hidup
sebagai orang kristiani yang baik. Banyak orang zaman ini yang mengaku diri
beriman kepada Yesus, bahkan sejak lahir sudah kristen karena warisan iman
nenek moyang mereka. Namun, ketika mereka diperhadapkan pada pertanyaan hakiki:
Siapakah Yesus menurut mereka? Jawaban atas pertanyaan ini bisa beragam seperti
yang dikemukakan oleh murid-murid Yesus. Meskipun para murid sudah lama tinggal
dan hidup bersama Yesus, namun pengenalan mereka yang benar akan identitas
Yesus masih kabur dan salah. Untuk itu, kita diajak oleh Yesus untuk mencontohi
pengakuan iman Petrus yang benar agar kesaksian iman kita akan Yesus kepada
sesama tidak salah. Komunikasi dan hubungan yang intens dengan Allah membantu
mengarahkan kita untuk menemukan kebenaran hakiki dalam diri Yesus lewat
sabda-Nya. Dengan begitu, kita akan mudah mengenal siapakah Yesus sesungguhnya.
Kalau penghayatan iman kita kepada Yesus sudah sangat mendalam, maka dalam
kesadaran penuh itu, kita akan sanggup menghadapi konsekuensi paling buruk jika
menjadi murid-murid Yesus. Salib penderitaan senantiasa akan selalu mewarnai
lembaran hidup kita dan di situlah kita harus berani berjalan dalam derita
salib Yesus menuju keselamatan kekal. ***Bernad Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar