Lukas 9:1-6
Semangat pewartaan yang tulus dari
para murid Yesus di zamannya, sekarang telah mengalami pergeseran yang signifikan. Banyak agen pastoral kita
zaman ini yang telah melewati jenjang pendidikan tinggi dan memadai namun
semangat dan orientasi pelayanannya abu-abu, tidak lagi murni dalam mengemban
misi perutusan. Mereka sibuk memfasilitasi diri bahkan menjadikan barang-barang
duniawi sebagai dewa atau allah kecil di dunia. Mereka sering berdalih bahwa
umat sekarang beda dengan dulu, kita harus mengikuti perkembangan zaman untuk
memenangkan hati mereka. Namun fakta menunjukkan bahwa, semakin lengkap
fasilitas pendukung disediakan untuk memudahkan karya pelayanan, malah membuat
mentalitas mereka semakin santai: ingin dilayani dan dihormati bahkan kalau
didesak untuk melayani, pemberian fulus
harus tebal. Ini adalah sebuah tantangan berat yang sedang dan akan kita hadapi
ke depan: mampukah kita membuat skala prioritas untuk setia menyerahkan hidup
kita pada genggaman Allah untuk dijadikan agen pembawa warta keselamatanNya
sebagaimana jiwa dan semangat yang ditunjukkan para murid Yesus dulu?
Injil yang kita dengar
hari ini berbicara tentang sebuah misi dimana Yesus mengutus murid-muridnya dan
membekali mereka dengan kekuatan dan kuasa untuk mengusir setan-setan dan
menyembukan orang-orang sakit. Misi perutusan ini melekat kuat dalam diri
setiap murid Kristus oleh karena mereka telah mendapatkan anugerah dan rahmat
khusus. Tugas perutusan yang diemban oleh para murid Kristus itu juga menjadi
tugas dan tanggungjawab kita semua yang telah dimeterai oleh sakramen baptis, karena
itu, kita diminta ikut ambil bagian dalam karya keselamatan itu. Allah tidak
memanggil dan memilih orang cerdik pandai, namun Ia memilih orang-orang
sederhana dengan segala kelebihan dan kekurangannya untuk berpartisipasi
membawa kabar keselamatan dan mewartakan kerajaan Allah kepada semua orang.
Yesus memberikan kepercayaan penuh
kepada murid-murid-Nya untuk menunaikan tugas sebagai pewarta kerajaan surga
dan pewarta kabar keselamatan. Para murid adalah orang-orang biasa dan
sederhana yang memiliki latar belakang pendidikan yang rendah, namun Yesus
tidak memilih mereka yang mampu, melainkan mereka yang memiliki kesediaan untuk
melaksanakan perintah-Nya. Sebelum para murid diutus, Yesus memesan mereka agar
tidak membawa apa pun dalam perjalanan misi: tongkat atau bekal, roti atau uang
atau dua helai baju supaya tidak menjadi beban dalam perjalanan melaksanakan
tugas pewartaan karena Allah sendiri akan mencukupinya. Larangan Yesus ini
bertujuan agar mereka memberikan fokus pada tugas utama yang dipercayakan
kepada mereka untuk mewartakan Kerajaan Allah. Untuk memenuhi kebutuhan dasar,
mereka harus percaya pada kebaikan hati orang-orang setempat yang menerima
mereka atau di tempat mereka akan tinggal. Tuntutan ini tampak terasa berat dan
melampaui kemampuan mereka, tetapi justru dengan cara itulah Yesus mengajarkan
mereka untuk percaya pada penyelenggaraan Allah. Perutusan para murid bertujuan
bukan mengetahui sejauh mana mereka mampu mewartakan Kerajaan Allah, tetapi
sejauh mana mereka mampu menyerahkan diri kepada Yesus. Hal ini membutuhkan
kedalaman iman yang tangguh agar bisa menerima tanggung jawab besar untuk
merealisasikan pesan pengajaran Yesus. Dalam melayani sesama juga dalam
mewartakan kerajaan Allah, kita perlu melepaskan diri dari kelekatan duniawi
yang membuat kita terbelenggu hingga tidak bebas dan fokus dalam menjalankan
tugas perutusan. Sering sekali orang yang menerima tugas perutusan dan
pelayanan mengalami kegagalan karena
kepentingan pribadi terlalu mendominasi dirinya untuk mencari kenikmatan
duniawi. Kita harus setia dalam karya, memiliki semangat misioner yang tinggi
dan cepat mengadaptasi diri dengan keadaan di sekitar agar tujuan misi dapat
terwujud.
Yesus sangat menekankan pentingnya
kedisiplinan dan ketangguhan iman dalam melaksankan karya penyelamatan bagi
bangsa-bangsa. Karena itu, Yesus memperlengkapi para murid-Nya dengan kuasa dan
rahmat, mereka dapat melakukan mujizat besar untuk mempertobatkan mereka yang
keras hatinya. Kuasa dan kekuatan dari Yesus ini berfungsi kalau para murid
memiliki kedalaman iman untuk mengandalkan kekuatan dariNya. Dengan senjata
iman tantangan akan muncul semakin banyak dan disinilah mereka ditantang untuk
menghadirkan Sabda Allah, sabda kebenaran, sabda cinta kasih dan keadilan di
tengah kegelapan dunia. Lewat pewartaan dan teladan hidup, para murid dan juga
kita semua diharapkan bisa menghadirkan
nilai-nilai ini di tengah kegelapan dunia.
Sebagaimana para murid, dalam
menjalankan tugas perutusan, kita perlu melakukan evaluasi dan refleksi diri
secara berkalah untuk mengukur tingkat kesetiaan dan kepercayaan kita kepada
Yesus. Evaluasi diri itu dapat berjalan
ketika kita membuka diri dan membiarkan Roh Allah berkarya, karena kita adalah
makhluk lemah yang penuh kekurangan. Keterbukaan hati itu membawa kita pada
perubahan dan pertobatan sehingga tujuan dan kemurnian misi pewartaan yang kita
usung benar-benar sesuai dengan kehendak Allah. Karena itu, menjadi pewarta
kabar keselamatan, kita perlu menyingkirkan ego, kesombongan, keangkuhan dan
menggantinya dengan sikap rendah hati, berbelas kasih, dan membiarkan Allah
berkarya dalam diri kita, agar tutur kata dan perbuatan kita menjadi inspirasi
dan teladan hidup bagi sesama.
Sabda Tuhan hari ini tetap relevan
untuk semua zaman dan ditujukan kepada kita semua dalam menjalani hidup
panggilan kita masing-masing. Yang diperlukan dalam menjalankan tugas
pewartaan adalah menjaga kemurnian
ajaran Yesus dan fokus pada sabda-Nya. Di samping itu, kita perlu mengadopsi
semangat Yesus di mana Dia tidak pernah membebani diri-Nya dengan berbagai
kekayaan duniawi dan fasilitas mewah dalam karya pelayananNya. Dia menjalani
hidupNya dengan penuh kesederhanaan sehingga Ia lepas bebas dari hal-hal
duniawi dan fokus mengusung karya keselamatan yang menjadi tujuan dasar
perutusan-Nya di dunia. Tantangan terbesar bagi kita sebagai murid-murid
Kristus bukan untuk mengetahui siapa Yesus tetapi lebih dari itu secara total
menyerahkan diri pada kuasa-Nya. Dengan mengandalkan kemampuan diri kita, maka
sangat sulit bagi kita melaksanakan tugas perutusan dengan baik. Karena itu,
kita perlu menyerahkan diri kepada Tuhan agar kelemahan kita dapat diatasi
sehingga kita layak menjadi pewarta-pewartaNya yang tangguh di zaman ini. Amin
***Bernad Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar