Rabu, 02 September 2020

KONSISTENSI YESUS DALAM MEWARTAKAN INJIL

 

Luk 4:38-44

Konsistensi itu penting biar tidak mudah dipengaruhi apalagi dikendalikan oleh orang lain demi mengejar sebuah kepentingan pribadi.  Orang yang konsisten setia melakukan tugasnya dan tidak pernah terikat dengan siapa dan apa pun bila misi luhurnya belum tuntas. Berbeda dengan manusia, misi tertentu yang dibawa atau diusung bisa gagal manakala ia dipengaruhi oleh hal tertentu yang menguntungkan dia. Prinsip hidup yang demikian tidak pantas dihidupi dan diandalkan manakala hal itu diberlakukan dalam misi pewartaan akan Kerajaan Allah. Ambil contoh sederhana, ada segelintir biarawan biarawati kita yang ketika bertugas di suatu tempat dan pada saatnya dilakukan mutasi dan penyegaran mereka tidak mau untuk dipindahkan karena mereka berdalih sudah sangat menyatu dan dekat dengan umat dan lingkungan sekitar.

 

Injil hari ini melukiskan bahwa Yesus sungguh konsisten dengan misi mewartakan kabar gembira keselamatan Allah. Ia tidak hanya mewartakan kabar sukacita namun lebih dari itu Ia menunjukkan hakikat kebesaran Allah melalui perbuatan kasih yang nyata seperti menyembuhkan ibu mertua Simon yang demam keras bahkan menumpangkan tangan untuk mengalirkan rahmat kesembuhan kepada banyak orang sakit yang dihantar kepada-Nya. Mujizat kasih yang dilakukan-Nya menggerakan hati orang yang menyaksikannya untuk meminta Dia supaya jangan pergi. Dalam kisah Injil ini tidak digambarkan motivasi mereka menahan Dia supaya jangan pergi, apakah mereka benar-benar beriman kepada-Nya atau apakah mereka ingin menahan Dia untuk kepentingan jasmani mereka. Terlepas  dari itu semua, kita mendapatkan satu model pembelajaran baru dari keputusan bijaksana Yesus yakni Ia menolak tawaran mereka karena Ia setia pada amanat perintah Bapa-Nya untuk mewartakan kabar sukacita keselamatan kepada bangsa-bangsa. Yesus tidak pernah tergiur dengan hal-hal duniawi, namun Ia konsisten dengan tugas perutusan-Nya sejak awal mula. Yesus menginginkan agar kabar suka cita keselamatan Allah juga diwartakan di tempat lain untuk diketahui dan dialami. Yesus tidak pernah berbelot dari tugas perutusan-Nya, Ia tetap konsisten meskipun Ia berhadapan dengan banyak penolakan dan cobaan duniawi. Ia menginginkan agar semua orang diselamatkan dan warta keselamatan itu harus disampaikan kepada semua orang, tidak penting apakah mereka menerima atau menolak, semuanya sangat tergantung dari disposisi batin seseorang yang diterangi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan berkarya dalam diri manusia dan menghantar manusia untuk berserah kepada Allah Juru Selamat kita.

 

Hidup yang bermakna di mata Allah juga membutuhkan sikap konsisten dari pihak manusia. Orang yang konsisten adalah orang yang patuh dan taat pada asas-asas yang sudah digariskan. Dalam kerangkah hidup Kristiani, apabila kita telah memilih dan meyakini bahwa Allah adalah kasih maka, kita perlu mengimplementasikan kasih itu secara nyata dan benar dalam hidup kita. Kasih akan kebaikan dan kemurahan hati Allah harus diwartakan dan dibagikan kepada semua orang agar semua orang hidup dalam kasih yang sama. Untuk mewartakan kasih Tuhan tentang kabar suka cita keselamatan, kita harus konsisten seperti Yesus dalam bacaan Injil hari ini, dimana Ia bergegas menuju ke tempat lain untuk menyampaikan kabar suka cita Allah meskipun Ia ditahan di rumah Simon. Kabar suka cita keselamatan Allah bersifat mendesak, karena mendesak dan penting maka kita perlu segera membagikannya untuk dialami oleh orang lain. Dengan begitu keselamatan bersifat universal, artinya keselamatan itu harus diusahakan dan diperjuangkan untuk semua orang tanpa terkecuali. Sebagai pewarta yang baik, kita tidak boleh mencari keselamatan sendiri, kita bertanggungjawab mencari jiwa-jiwa dan membawa lebih banyak orang kepada Allah untuk diselamatkan, inilah tugas perutusan seorang pewarta yang baik dan konsisten yang senantiasa mendahulukan keselamatan kekal ketimbang mencari kehormatan, popularitas dan kedudukan yang sia-sia dan bersifat sementara.

 

            Ketika Yesus menyembuhkan banyak orang di rumah Simon, banyak di antara mereka yang keluar setan-setan sambil berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Pengakuan setan-setan ini tidak membuat Yesus bangga dan terlena, namun dengan keras Ia melarang mereka berbicara. Sikap Yesus ini sangat berbeda jauh dengan sikap manusia. Ketika kita berbuat baik atau menolong sesama dan mendapat pujian dan sanjungan dari mereka, kita merasa seperti sedang berada di awan-awan karena kita mendapatkan pengakuan dan apresiasi dari mereka. Kita dipuja puji sebagai pahlawan yang dermawan yang peka melihat kemalangan sesama. Tanpa kita sadari, setan sedang bekerja melemahkan semangat kita untuk merasul. Kita terlena dan lupa tugas perutusan kita yang utama mewartakan Injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, Yesus dengan keras melarang setan berbicara dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Yesus tahu baik kalau setan sedang berjuang menghambat tugas perutusan-Nya mewartakan Injil ke tempat lain. Yesus juga tahu bahwa setan sedang mencari cara lain untuk menghambat keberangkatan-Nya dengan memperdayakan orang-orang yang disembuhkan, karena mereka meminta Yesus untuk tinggal menetap bersama mereka. Berangkat dari konsistensi Yesus akan tugas utama-Nya ini, kita ditantang untuk bersikap sama seperti Yesus dimana kita harus bisa membuat skala prioritas dalam hidup kita. Nilai-nilai keutamaan dan kebajikan Kristiani harus diinternalisasikan secara kuat dalam hidup seorang Kristiani.

 

            Injil hari ini memotivasi kita untuk konsisten dalam tugas perutusan kita mewartakan kabar suka cita keselamatan kepada semua orang. Kita jangan tergiur dan terpengaruh oleh banyak tawaran kenikmatan duniawi, tetapi kita hendaknya konsisten dengan tujuan hidup kita yang mengarahkan kita ke jalan keselamatan. Tawaran dunia akan kenikmatan, kedudukan, kehormatan dan popularitas sama sekali tidak membantu kita untuk menemukan keselamatan kekal, ia bahkan secara pelan-pelan menggiring kita masuk dalam perangkap kesesatan yang membuat kita terlena bahkan tak berdaya. Tugas mewartakan injil menjadi tugas kita semua orang Kristiani tanpa kecuali. Tugas ini melekat kuat ketika kita menerima sakramen batis yang menjadikan kita anak-anak Allah, murid-murid Yesus dan anggota Gereja. Lewat meterai pembaptisan, kita secara otomatis menerima tugas mulia untuk mewartakan Injil. Tugas ini bukan opsi pilihan tetapi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan tanpa paksaan dari pihak mana pun. Ini adalah satu bentuk ungkapan kesetiaan kita kepada Allah yang telah memilih dan menentukan kita sebagai agen pewarta Injii-Nya. Karena itu, kita semua dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi pewartaan Yesus agar kabar baik keselamatan Allah dapat menjangkau dan dirasakan oleh semua umat manusia. Dalam mengemban tugas dan amanah oleh karena meterai pembaptisan yang kita terima, hendaklah kita mengadopsi teladan dan semangat Yesus yang selalu konsisten dalam misi pewartaan-Nya. Kabar baik keselamatan menjadi sangat urgen  untuk dilaksanakan agar semua orang mengetahui kebaikan dan kemurahan hati Allah yang selalu siap untuk menerima pertobatan dari mereka yang sejauh ini menjauh dari jalan keselamatan Allah.

 

            Konsistensi kemudian menjadi penting dan cukup elegan untuk diterapkan pada semua disiplin hidup manusia baik dalam mengurus hal-hal yang profan dan imanen. Hal penting yang bisa kita tarik dari pesan Injil hari ini adalah, Pertama, kita harus selalu siap sedia untuk menolong sesama yang membutuhkan uluran tangan dan kemurahan hati kita. Bantuan yang hendak kita berikan tidak boleh memiliki muatan kepentingan di dalamnya, hendaklah bantuan itu bersifat tulus dan murni. Yesus sendiri telah menunjukan teladan istimewa bagi kita dalam peristiwa penyembuhan ibu mertua Simon yang sakit demam keras. Yesus menunjukkan kesiapsediaan-Nya ketika diminta pergi ke rumah Simon. Ia tidak menolak atau tawar menawar harga, Ia menerima permintaan itu dan melaksanakannya dengan hati karena itulah kesetiaan-Nya pada misi perutusan Allah. Kedua, Yesus tidak mabuk penghargaan dan penghormatan, Ia melarang keras setan yang mengakui-Nya sebagai Mesias. Hal lain, Ia menolak permintaan orang banyak untuk tinggal bersama mereka ketika mereka melihat mujizat penyembuhan yang dilakukan-Nya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kabar sukacita keselamatan kepada orang lain di kota-kota lain dari pada menerima pengakuan semu yang dangkal. Semoga Sabda Tuhan hari ini menggugah kita untuk lebih konsisten dalam menghayati hidup iman kita sebagaimana inspirasi dan teladan yang ditunjukan oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus selalu aktual bagi kita murid-muridNya dan Ia pantas menjadi acuan bagi kemajuan dan perkembangan iman orang Kristiani. Semoga. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar