Luk 4:38-44
Konsistensi itu penting biar tidak mudah dipengaruhi apalagi
dikendalikan oleh orang lain demi mengejar sebuah kepentingan pribadi. Orang yang konsisten setia melakukan tugasnya
dan tidak pernah terikat dengan siapa dan apa pun bila misi luhurnya belum tuntas.
Berbeda dengan manusia, misi tertentu yang dibawa atau diusung bisa gagal
manakala ia dipengaruhi oleh hal tertentu yang menguntungkan dia. Prinsip hidup
yang demikian tidak pantas dihidupi dan diandalkan manakala hal itu
diberlakukan dalam misi pewartaan akan Kerajaan Allah. Ambil contoh sederhana,
ada segelintir biarawan biarawati kita yang ketika bertugas di suatu tempat dan
pada saatnya dilakukan mutasi dan penyegaran mereka tidak mau untuk dipindahkan
karena mereka berdalih sudah sangat menyatu dan dekat dengan umat dan
lingkungan sekitar.
Injil hari ini melukiskan bahwa Yesus sungguh konsisten dengan
misi mewartakan kabar gembira keselamatan Allah. Ia tidak hanya mewartakan
kabar sukacita namun lebih dari itu Ia menunjukkan hakikat kebesaran Allah
melalui perbuatan kasih yang nyata seperti menyembuhkan ibu mertua Simon yang
demam keras bahkan menumpangkan tangan untuk mengalirkan rahmat kesembuhan
kepada banyak orang sakit yang dihantar kepada-Nya. Mujizat kasih yang
dilakukan-Nya menggerakan hati orang yang menyaksikannya untuk meminta Dia
supaya jangan pergi. Dalam kisah Injil ini tidak digambarkan motivasi mereka
menahan Dia supaya jangan pergi, apakah mereka benar-benar beriman kepada-Nya
atau apakah mereka ingin menahan Dia untuk kepentingan jasmani mereka.
Terlepas dari itu semua, kita
mendapatkan satu model pembelajaran baru dari keputusan bijaksana Yesus yakni
Ia menolak tawaran mereka karena Ia setia pada amanat perintah Bapa-Nya untuk
mewartakan kabar sukacita keselamatan kepada bangsa-bangsa. Yesus tidak pernah
tergiur dengan hal-hal duniawi, namun Ia konsisten dengan tugas perutusan-Nya
sejak awal mula. Yesus menginginkan agar kabar suka cita keselamatan Allah juga
diwartakan di tempat lain untuk diketahui dan dialami. Yesus tidak pernah
berbelot dari tugas perutusan-Nya, Ia tetap konsisten meskipun Ia berhadapan
dengan banyak penolakan dan cobaan duniawi. Ia menginginkan agar semua orang
diselamatkan dan warta keselamatan itu harus disampaikan kepada semua orang,
tidak penting apakah mereka menerima atau menolak, semuanya sangat tergantung
dari disposisi batin seseorang yang diterangi oleh Roh Kudus. Roh Kudus akan
berkarya dalam diri manusia dan menghantar manusia untuk berserah kepada Allah
Juru Selamat kita.
Hidup yang bermakna di mata Allah juga membutuhkan sikap konsisten
dari pihak manusia. Orang yang konsisten adalah orang yang patuh dan taat pada
asas-asas yang sudah digariskan. Dalam kerangkah hidup Kristiani, apabila kita
telah memilih dan meyakini bahwa Allah adalah kasih maka, kita perlu
mengimplementasikan kasih itu secara nyata dan benar dalam hidup kita. Kasih
akan kebaikan dan kemurahan hati Allah harus diwartakan dan dibagikan kepada
semua orang agar semua orang hidup dalam kasih yang sama. Untuk mewartakan
kasih Tuhan tentang kabar suka cita keselamatan, kita harus konsisten seperti
Yesus dalam bacaan Injil hari ini, dimana Ia bergegas menuju ke tempat lain
untuk menyampaikan kabar suka cita Allah meskipun Ia ditahan di rumah Simon.
Kabar suka cita keselamatan Allah bersifat mendesak, karena mendesak dan
penting maka kita perlu segera membagikannya untuk dialami oleh orang lain.
Dengan begitu keselamatan bersifat universal, artinya keselamatan itu harus
diusahakan dan diperjuangkan untuk semua orang tanpa terkecuali. Sebagai
pewarta yang baik, kita tidak boleh mencari keselamatan sendiri, kita
bertanggungjawab mencari jiwa-jiwa dan membawa lebih banyak orang kepada Allah
untuk diselamatkan, inilah tugas perutusan seorang pewarta yang baik dan
konsisten yang senantiasa mendahulukan keselamatan kekal ketimbang mencari
kehormatan, popularitas dan kedudukan yang sia-sia dan bersifat sementara.
Ketika Yesus menyembuhkan banyak
orang di rumah Simon, banyak di antara mereka yang keluar setan-setan sambil
berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Pengakuan setan-setan ini tidak membuat
Yesus bangga dan terlena, namun dengan keras Ia melarang mereka berbicara.
Sikap Yesus ini sangat berbeda jauh dengan sikap manusia. Ketika kita berbuat
baik atau menolong sesama dan mendapat pujian dan sanjungan dari mereka, kita
merasa seperti sedang berada di awan-awan karena kita mendapatkan pengakuan dan
apresiasi dari mereka. Kita dipuja puji sebagai pahlawan yang dermawan yang
peka melihat kemalangan sesama. Tanpa kita sadari, setan sedang bekerja melemahkan
semangat kita untuk merasul. Kita terlena dan lupa tugas perutusan kita yang
utama mewartakan Injil keselamatan kepada semua orang. Karena itu, Yesus dengan
keras melarang setan berbicara dan berteriak, “Engkaulah Anak Allah.” Yesus
tahu baik kalau setan sedang berjuang menghambat tugas perutusan-Nya mewartakan
Injil ke tempat lain. Yesus juga tahu bahwa setan sedang mencari cara lain
untuk menghambat keberangkatan-Nya dengan memperdayakan orang-orang yang
disembuhkan, karena mereka meminta Yesus untuk tinggal menetap bersama mereka.
Berangkat dari konsistensi Yesus akan tugas utama-Nya ini, kita ditantang untuk
bersikap sama seperti Yesus dimana kita harus bisa membuat skala prioritas
dalam hidup kita. Nilai-nilai keutamaan dan kebajikan Kristiani harus
diinternalisasikan secara kuat dalam hidup seorang Kristiani.
Injil hari ini memotivasi kita untuk
konsisten dalam tugas perutusan kita mewartakan kabar suka cita keselamatan
kepada semua orang. Kita jangan tergiur dan terpengaruh oleh banyak tawaran
kenikmatan duniawi, tetapi kita hendaknya konsisten dengan tujuan hidup kita
yang mengarahkan kita ke jalan keselamatan. Tawaran dunia akan kenikmatan,
kedudukan, kehormatan dan popularitas sama sekali tidak membantu kita untuk
menemukan keselamatan kekal, ia bahkan secara pelan-pelan menggiring kita masuk
dalam perangkap kesesatan yang membuat kita terlena bahkan tak berdaya. Tugas
mewartakan injil menjadi tugas kita semua orang Kristiani tanpa kecuali. Tugas
ini melekat kuat ketika kita menerima sakramen batis yang menjadikan kita
anak-anak Allah, murid-murid Yesus dan anggota Gereja. Lewat meterai
pembaptisan, kita secara otomatis menerima tugas mulia untuk mewartakan Injil.
Tugas ini bukan opsi pilihan tetapi sebuah keharusan yang harus dilaksanakan
tanpa paksaan dari pihak mana pun. Ini adalah satu bentuk ungkapan kesetiaan
kita kepada Allah yang telah memilih dan menentukan kita sebagai agen pewarta
Injii-Nya. Karena itu, kita semua dipanggil untuk ikut ambil bagian dalam misi
pewartaan Yesus agar kabar baik keselamatan Allah dapat menjangkau dan
dirasakan oleh semua umat manusia. Dalam mengemban tugas dan amanah oleh karena
meterai pembaptisan yang kita terima, hendaklah kita mengadopsi teladan dan
semangat Yesus yang selalu konsisten dalam misi pewartaan-Nya. Kabar baik
keselamatan menjadi sangat urgen untuk dilaksanakan agar semua orang mengetahui
kebaikan dan kemurahan hati Allah yang selalu siap untuk menerima pertobatan
dari mereka yang sejauh ini menjauh dari jalan keselamatan Allah.
Konsistensi kemudian menjadi penting
dan cukup elegan untuk diterapkan pada semua disiplin hidup manusia baik dalam
mengurus hal-hal yang profan dan imanen. Hal penting yang bisa kita tarik dari
pesan Injil hari ini adalah, Pertama, kita
harus selalu siap sedia untuk menolong sesama yang membutuhkan uluran tangan
dan kemurahan hati kita. Bantuan yang hendak kita berikan tidak boleh memiliki
muatan kepentingan di dalamnya, hendaklah bantuan itu bersifat tulus dan murni.
Yesus sendiri telah menunjukan teladan istimewa bagi kita dalam peristiwa
penyembuhan ibu mertua Simon yang sakit demam keras. Yesus menunjukkan
kesiapsediaan-Nya ketika diminta pergi ke rumah Simon. Ia tidak menolak atau
tawar menawar harga, Ia menerima permintaan itu dan melaksanakannya dengan hati
karena itulah kesetiaan-Nya pada misi perutusan Allah. Kedua, Yesus tidak mabuk penghargaan dan penghormatan, Ia melarang
keras setan yang mengakui-Nya sebagai Mesias. Hal lain, Ia menolak permintaan
orang banyak untuk tinggal bersama mereka ketika mereka melihat mujizat
penyembuhan yang dilakukan-Nya. Ia lebih memilih untuk melanjutkan kabar
sukacita keselamatan kepada orang lain di kota-kota lain dari pada menerima
pengakuan semu yang dangkal. Semoga Sabda Tuhan hari ini menggugah kita untuk
lebih konsisten dalam menghayati hidup iman kita sebagaimana inspirasi dan
teladan yang ditunjukan oleh Yesus. Itulah sebabnya Yesus selalu aktual bagi
kita murid-muridNya dan Ia pantas menjadi acuan bagi kemajuan dan perkembangan
iman orang Kristiani. Semoga. ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar