Luk 2:33-35 dan
Yoh 19:25-27
Pada hari ini
Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Yang ingin
ditunjukkan di dalam perayaan wajib ini adalah penderitaan dan dukacita yang
dialami Maria di dalam seluruh hidupnya.
Sejak menerima
kabar kehamilannya (Luk 1:26-38), ketiadaan rumah penginapan sehingga ia harus
melahirkan di kandang hewan (Luk 2:7), pelarian ke Mesir untuk menghindari
pembunuhan Herodes atas kanak Yesus dan tinggal di sana hingga Herodes mati (Mat
2:13-15), tampilnya Yesus di depan publik dan penolakan atas diri-Nya hingga
mencapai puncaknya di atas bukit Golgota, Maria diliputi oleh kedukaan.
Menurut tradisi, disebutkan
ada tujuh peristiwa dukacita yang meliputi hidup Maria sebagai penggenapan atas
ramalan Simeon: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan
atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang
menimbulkan perbantahan - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri
-, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35).
Ketujuh peristiwa dukacita Maria itu adalah: Nubuat
Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan
Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam
Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus
Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari
Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan.
Ketujuh peristiwa
itu menggambarkan ketujuh pedang kedukaan yang menembusi jiwanya. Betapa sakit
dan berat rasanya mengalami pedang kedukaan itu. Namun Maria menghadapi semuanya
dengan penuh kasih dan penyerahan diri kepada Allah. Ia tegar dan teguh berdiri.
Ia setia pada komitmennya, pada fiatnya kepada Tuhan: "Sesungguhnya aku
ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).
Dalam iman, kasih dan harapan penuh pada Allah, Maria menerima semuanya dan
menyatukan dirinya dengan semuanya itu.
Yesus memahami
ibunya. Dari atas salib Ia memandang kepada ibunya yang dirundung duka yang
mendalam itu. Ia tahu, kasih ibunya telah membawanya kepada pengorbanan diri
sehabis-habisnya. Maka dalam kasih yang dalam sebagai putra, Yesus berkata kepada
ibunya dan Yohanes, murid yang dikasihi-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah
ibumu!”.
Inilah sumber
kekuatan dan penghiburan bagi semua orang yang oleh karena imannya telah
mengambil bagian dalam dalam hidup Yesus agar memandang kepada Maria yang telah
dengan teguh hati, setia, sabar, dan penuh peyerahan diri kepada Allah ketika
menghadapi penderitaan dan dukacita dalam hidupnya. Dialah ibu orang beriman.
Ia hadir sebagai kekuatan yang menghibur dan meneguhkan agar semua orang
beriman mampu menerima situasi pedang yang menembusi jiwanya dengan kasih dan
penuh penyerahan diri kepada Allah.
Siapapun manusia
itu tidak akan pernah bisa menolak atau lari dari penderitaan dan dukacita. Orang
mengalaminya, bahkan berulang kali berhadapan dengan situasi itu. Namun ketika
itu dirasakan dalam hidupnya, orang tidak akan merasa sendirian sebab Yesus
telah menyerahkan Maria, bunda-Nya, untuk menemani dan menguatkannya.
St. Yahanes
Paulus II mengingatkan kita bahwa sebagai ibu yang tersuci, Maria senantiasa
hadir sebagai penghibur yang penuh kasih bagi kita yang mengalami penderitaan,
baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa. Maria itu ibu yang
memahami sengsara dan penderitaan semua kita oleh karena ia sendiri menderita,
dari Betlehem hingga Kalvari. Ia adalah ibu
yang baik yang memahami semua kita dan akan menghibur kita.
Maka kita semua
yang kini dirundung dengan kesedihan dan dukacita bisa mempersembahkan
kesedihan dan dukacita kita kepada Tuhan bersama Maria yang telah diberikan
kepada kita. Dia bukan hanya menghibur dan menguatkan kita, tetapi Dia yang
telah mengalami kemurahan hati putranya dari atas kayu salib itu akan membawa
kita kepada-Nya untuk menikmati penghiburan dan buah penebusan-Nya.*** Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar