Selasa, 15 September 2020

Ibu Yang Menemai Orang Berdukacita

Luk 2:33-35 dan Yoh 19:25-27

Pada hari ini Gereja Katolik memperingati Santa Perawan Maria Berdukacita. Yang ingin ditunjukkan di dalam perayaan wajib ini adalah penderitaan dan dukacita yang dialami Maria di dalam seluruh hidupnya.

 

Sejak menerima kabar kehamilannya (Luk 1:26-38), ketiadaan rumah penginapan sehingga ia harus melahirkan di kandang hewan (Luk 2:7), pelarian ke Mesir untuk menghindari pembunuhan Herodes atas kanak Yesus dan tinggal di sana hingga Herodes mati (Mat 2:13-15), tampilnya Yesus di depan publik dan penolakan atas diri-Nya hingga mencapai puncaknya di atas bukit Golgota, Maria diliputi oleh kedukaan.

 

Menurut tradisi, disebutkan ada tujuh peristiwa dukacita yang meliputi hidup Maria sebagai penggenapan atas ramalan Simeon: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan  - dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri -, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.” (Luk 2:34-35).

 

Ketujuh peristiwa dukacita Maria itu adalah: Nubuat Simeon, Pengungsian Keluarga Kudus ke Mesir; Kanak-kanak Yesus Hilang dan Diketemukan di Bait Allah; Bunda Maria Berjumpa dengan Yesus dalam Perjalanan-Nya ke Kalvari; Bunda Maria berdiri di kaki Salib ketika Yesus Disalibkan; Bunda Maria Memangku Jenasah Yesus setelah Ia Diturunkan dari Salib; dan kemudian Yesus Dimakamkan.

 

Ketujuh peristiwa itu menggambarkan ketujuh pedang kedukaan yang menembusi jiwanya. Betapa sakit dan berat rasanya mengalami pedang kedukaan itu. Namun Maria menghadapi semuanya dengan penuh kasih dan penyerahan diri kepada Allah. Ia tegar dan teguh berdiri. Ia setia pada komitmennya, pada fiatnya kepada Tuhan: "Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Dalam iman, kasih dan harapan penuh pada Allah, Maria menerima semuanya dan menyatukan dirinya dengan semuanya itu.

 

Yesus memahami ibunya. Dari atas salib Ia memandang kepada ibunya yang dirundung duka yang mendalam itu. Ia tahu, kasih ibunya telah membawanya kepada pengorbanan diri sehabis-habisnya. Maka dalam kasih yang dalam sebagai putra, Yesus berkata kepada ibunya dan Yohanes, murid yang dikasihi-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” dan “Inilah ibumu!”.

 

Inilah sumber kekuatan dan penghiburan bagi semua orang yang oleh karena imannya telah mengambil bagian dalam dalam hidup Yesus agar memandang kepada Maria yang telah dengan teguh hati, setia, sabar, dan penuh peyerahan diri kepada Allah ketika menghadapi penderitaan dan dukacita dalam hidupnya. Dialah ibu orang beriman. Ia hadir sebagai kekuatan yang menghibur dan meneguhkan agar semua orang beriman mampu menerima situasi pedang yang menembusi jiwanya dengan kasih dan penuh penyerahan diri kepada Allah.

 

Siapapun manusia itu tidak akan pernah bisa menolak atau lari dari penderitaan dan dukacita. Orang mengalaminya, bahkan berulang kali berhadapan dengan situasi itu. Namun ketika itu dirasakan dalam hidupnya, orang tidak akan merasa sendirian sebab Yesus telah menyerahkan Maria, bunda-Nya, untuk menemani dan menguatkannya.

 

St. Yahanes Paulus II mengingatkan kita bahwa sebagai ibu yang tersuci, Maria senantiasa hadir sebagai penghibur yang penuh kasih bagi kita yang mengalami penderitaan, baik fisik maupun moral, yang menyengsarakan serta menyiksa. Maria itu ibu yang memahami sengsara dan penderitaan semua kita oleh karena ia sendiri menderita, dari Betlehem hingga Kalvari. Ia  adalah ibu yang baik yang memahami semua kita dan akan menghibur kita.

 

Maka kita semua yang kini dirundung dengan kesedihan dan dukacita bisa mempersembahkan kesedihan dan dukacita kita kepada Tuhan bersama Maria yang telah diberikan kepada kita. Dia bukan hanya menghibur dan menguatkan kita, tetapi Dia yang telah mengalami kemurahan hati putranya dari atas kayu salib itu akan membawa kita kepada-Nya untuk menikmati penghiburan dan buah penebusan-Nya.*** Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar