Senin, 21 September 2020

MENGIKAT KESETIAAN PADA SABDA ALLAH

Lukas 8:19-21

            Budaya kita sangat menekankan penghormatan terhadap keluarga. Dalam konteks budaya seperti ini, kita mungkin sulit menerima sikap dan kata-kata Yesus dalam Injil hari ini. Terkesan Yesus kurang menghargai usaha ibu dan saudara-saudara-Nya untuk menemui Dia. Namun lewat sikap dan kata-kata Yesus itu, kita mendapat gambaran baru tentang model keluarga yang cakupannya lebih luas yang diharapkan oleh Allah sendiri. Pada tahap tertentu harus kita akui bahwa semua ikatan manusiawi pada akhirnya akan berakhir seiring berakhirnya hidup manusia di dunia ini. Kehidupan kita setelah mati tak seorang pun tahu pasti karena tubuh kita akan diubah secara radikal, maka jalan paling baik saat ini adalah berjuang untuk mengikat kesetiaan pada Sabda Allah untuk menguatkan iman kita.

            Lukas dalam Injilnya hari ini lebih berbicara tentang figur Bunda Maria. Ia mengisahkan keinginan keluarga untuk bertemu dengan Yesus, namun jawaban Yesus cukup mengagetkan: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya”. Yesus tidak bermaksud merendahkan martabat Bunda Maria, melainkan secara terang-terangan memuji keikutsertaan  Maria dalam karya keselamatan. Bagi Yesus, Maria adalah orang pertama yang menjadi Murid Kristus sebelum terpilihnya para murid. Maria adalah orang pertama yang mendengar Sabda Allah dan melaksnakannya. Keputusan Maria dalam menjawab tawaran Allah dan kesediaannya menjadi jembatan untuk menghadirkan Sabda Allah menjadi Manusia adalah bukti kesetiaannya dalam menjawabi panggilan Allah.  Hal ini mau mengatakan kepada kita semua bahwa Maria adalah teladan bagi para murid dalam  mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya. Yesus ingin mendefinisikan ulang paham-Nya tentang keluarga, Ia menekankan kepada para murid-Nya bahwa hubungan yang fundamental dengan Dia tidak didasarkan pada ikatan darah atau hubungan duniawi lainnya, melainkan persekutuan karena iman yang memungkinkan manusia dapat  mendengarkan dan melaksanakan sabda Allah. Di sini, relasi karena pertautan darah dinomorduakan dan digantikan dengan pola relasi yang mengutamakan Firman Allah. Melaksanakan kehendak Allah dianggap mempunyai nilai yang jauh lebih tinggi daripada relasi antar keluarga, karena kriteria untuk dekat dengan Yesus bukan lagi relasi pertalian darah melainkan keputusan bebas seseorang untuk setia atau tidak mendengarkan Firman Allah dan melaksanakannya. Penginjil Lukas ingin memberikan kepada kita arti menjadi murid Yesus. Menjadi murid Yesus tidak cukup hanya menerima Sakramen Baptis, namun kita memiliki kewajiban mutlak untuk hidup di dalam persekutuan dengan Gereja untuk mendengarkan Sabda Allah dan melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari terutama dalam berinteraksi dengan sesama.

            Yesus mau memberikan pemahaman yang lebih mendalam kepada para pendengarnya untuk menjelaskan lingkup keluarga dalam arti baru dan lebih luas dalam kaitannya dengan kehendak Allah. Ia menjelaskan hubungan baru ini terbentuk karena kehadiran-Nya dan hubungan yang baru ini tidak terbentuk karena pertalian darah tetapi dibentuk atas dasar iman yaitu ketaatan mutlak untuk melaksanakan seluruh kehendak Allah.  Dasar pijak untuk masuk dalam persekutuan keluarga karena kehadiran Yesus yakni (Mat 12:50): “Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku”. Karena itu, setiap orang yang bersedia dan berkehendak baik untuk melakukan seluruh kehendak Allah dalam hidupnya, maka ia harus mengikat kesetiaannya pada Sabda Allah yang menjadi panduan hidup imannya. Melalui kehadiran-Nya, Yesus mengingatkan para murid-Nya tentang hakikat persaudaraan yang diwartakan-Nya. Bagi Yesus, persaudaraan karena pertautan darah tidaklah salah, tetapi dalam penghayatan iman, relasi pada level ini tidak boleh menjadi pegangan. Persaudaraan dalam iman haruslah merujuk kepada persaudaraan model para rasul dimana Kristus menjadi inti dan para murid berorientasi pada-Nya. Maka penghargaan pada ibu-Nya dan saudara-saudarNya tidaklah menggantikan tujuan persaudaraan baru yang sekarang dirintis-Nya, yakni persaudaraan yang dijiwai oleh sabda Allah.

            Yesus diutus Allah ke dunia bukan untuk segelintir orang atau bukan untuk lingkaran keluarga tertentu, melainkan Ia datang untuk semua umat manusia yang percaya akan misi pewartaan-Nya yakni menghimpun dan menyelematkan manusia dari belenggu dosa. Dengan kehadiran-Nya, Ia ingin membentuk satu persekutun hidup baru atas dasar iman untuk memanggil semua orang untuk hidup dalam persaudaraan cinta-Nya, saling mengasihi dan siap diutus menjadi pewarta kabar keselamatan bagi dunia dengan tetap fokus pada apa yang menjadi kehendak Allah. Karena itu, Yesus menghendaki keluarga-keluarga yang dibentuk karena pertalian darah harus membangun relasi cinta untuk mewujudkan nilai-nilai esensial hidup Kristiani yang sesuai dengan kehendak Allah melalui praktik hidup nyata. Praktik hidup benar yang diminta oleh Yesus adalah setia pada ajaran-ajaran-Nya, setia membangun hidup doa yang teratur, setia mendalami warta sabda-Nya dan lebih-lebih menunjukkan pola hidup yang benar dengan tetap merujuk pada nilai-nilai kebajikan hidup Kristiani yang diajarkan Yesus.

            Apabila pemahaman kita sudah sampai pada tingkat keluarga dalam arti luas sebagaimana yang dimaksudkan oleh Yesus maka kita semua sudah masuk dalam lingkaran keluarga Allah. Kita adalah ibu-Nya dan kita adalah saudara-saudara kandung-Nya dalam satu iman yang sama kepada Allah. Sakramen Baptis yang telah kita terima adalah tanda nyata kita telah dikukuhkan menjadi anak-anak Allah dan anggota keluarga-Nya.

            Praktik dan ungkapan iman kepada Allah sebagai satu keluarga kudus harus dinyatakan secara aktual dalam hidup sehari-hari. Kita tidak bisa hidup mengambang dan fokus memperhatikan hubungan keluarga karena pertalian darah, kita harus keluar dari diri kita sendiri, memberi diri kepada orang lain dan berjuang membagi kasih Allah kepada sesama, kita harus membangun persaudaraan yang dijiwai oleh sabda-Nya untuk membantu sesama yang lain masuk dan hidup dalam persekutuan ikatan keluarga yang didasari oleh cinta kasih Yesus. Untuk mewujudkan keluarga dalam arti sebenarnya sebagaimana diajarkan Yesus, kita harus terus membaharui diri kita, agar komunitas yang dibangun atas dasar Sabda Tuhan tidak berubah menjadi komunitas kepentingan yang dangkal dan berorientasi pada nilai-nilai manusiawi. Komunitas yang dibentuk atas dasar Sabda Tuhan, membantu kita menemukan kehendak Allah untuk membangun persaudaraan hidup sejati. Tanpa dasar pijak Sabda Tuhan kita akan terjebak masuk dalam lingkaran egoisme diri yang sempit, akibatnya, kita menghabiskan waktu dan tenaga lebih banyak untuk berkorban bagi keluarga sendiri dan mengabaikan sesama sebagai orang asing.

            Yesus mengharapkan kualitas pelayanan kita harus maksimal yang didasari oleh penghayatan akan sabda Allah, bukan karena selera suka tidak suka alias terpaksa. Dengan begitu, kita telah masuk bergabung dalam kesatuan keluarga Allah. Sabda Tuhan ini menginspirasi dan membantu kita keluar dari pemikiran sempit dan terbatas kita tentang konsep keluarga dalam arti duniawi dan terbatas pada hubungan darah. Hari ini wawasan kita diperkaya untuk memandang semua orang sebagai satu keluarga dalam ikatan cinta kasih Yesus untuk mewujudkan seluruh kehendak Allah. Yesus mengajak kita semua untuk mengubah pola pikir dan tindakan kita itu agar bisa keluar dari diri kita sendiri dan menjadikan sesama kita sebagai bagian yang tak terpisahkan dan harus menjadi fokus perhatian dari pelayanan kita yang didasarkan pada iman yang sama kepada Yesus. Yesus mengundang kita untuk menyalurkan kasih Allah sampai menembus batas sekat-sekat primordial yang kaku dan terbatas sehingga kita semua boleh hidup sebagai satu keluarga di dalam Yesus. Setiap kita punya kesempatan untuk dekat dan menjadi keluarga Yesus, dengan cara mendengar Firman Allah dan melakukannya secara sungguh-sungguh. Tentu tidak gampang menjadi anggota keluarga Yesus zaman modern ini, akan tetapi, kalau kita berjuang dan percaya pada rahmat Allah, kita bisa menjadi keluarga besar Yesus yang hidup dalam persekutuan iman yang sama. ***Bernad Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar