Luk 6:39-42
Kerendahan hati adalah salah satu
kebajikan Kristiani yang harus dihidupi dan dimiliki oleh setiap orang
Kristiani. Kebajikan itu mutlak dibutuhkan agar dapat menekan egoisme diri dan
kesombongan yang menggiring orang kepada kehancuran. Yesus sendiri giat melawan
kesombongan dan egoisme diri yang memenjarahkan orang sehingga tidak bebas
mengekspresikan imannya secara murni. Pemberian diri yang total kepada Allah
dan sesama selalu mengandaikan aspek kerendahan hati dan ketulusan yang
memungkinkan kita dapat setia dan taat pada Kehendak Allah.
Pertanyaan pokok dari Yesus
berkenaan dengan perumpamaan yang Ia sampaikan kepada murid-murid-Nya adalah:
Dapatkah seorang buta menuntun orang buta? Jawaban atas pertanyaan ini tentu
saja tidak bisa, karena keduanya pasti terperosok masuk ke dalam lubang yang
sama, pasti mereka mengalami cedera dan patah tulang. Idealnya, yang buta
membutuhkan bimbingan orang yang melek, yang lemah membutuhkan yang kuat, yang
belum beriman membutuhkan orang yang kuat imannya. Tuhan menciptakan manusia
dengan segala kelemahan dan kelebihannya untuk saling menyempurnakan atau
mengisi. Karunia ciptaan Tuhan dalam diri setiap orang mendapatkan fungsi
sosialnya untuk saling melengkapi. Karena itu, bakat dan kemampuan yang kita
miliki harus dimanfaatkan dan dibagi-bagikan kepada orang lain, karena semua
karunia yang kita miliki bersumber dan berasal dari kemurahan hati Allah. Hal
pokok yang kita butuhkan agar kita dapat menyalurkan kemampuan dan bakat kita
kepada sesama yang lain adalah kerendahan hati dan ketulusan dalam bersikap
untuk menilai sesama. Berkat ketulusan dan kerendahan hati, kita akan jujur
menilai diri kita sendiri sebelum kita menilai diri orang lain. Atau dalam
ungkapan klasik orang sering bergumam, “Keluarkan dahulu balok dari matamu
sendiri sebelum engkau menolong mengeluarkan selumbar dalam mata saudaramu.”
Balok yang dimaksudkan Yesus dalam
Injil hari ini adalah dosa kemunafikan yang melekat dalam hati manusia. Dosa
itu melemahkan dan merusak ketulusan dan kerendahan hati manusia, sehingga kita
seolah-olah tidak memandang perlu menerima rahmat istimewa dari Tuhan. Kita
sibuk membenahi diri orang lain dan lupa menata hati yang penuh onak duri dan
kepalsuan. Kalau sudah demikian dan hampir bisa dipastikan bahwa hati kita sama
sekali tidak disiapkan untuk menerima Tuhan sebagai penyelenggara segalanya
apalagi menerima tugas ikut mewartakan Injil keselamatan Tuhan. Sedangkan,
melihat selumbar di mata saudara adalah proyeksi penyangkalan atas diri sebagai
manusia berdosa. Biasanya orang bersalah cenderung bahkan lihai mengalihkan
perhatian dengan memojokan atau mencari-cari kesalahan orang lain sebagai biang
masalah, meskipun ia sadar benar bahwa sumber masalah datang dari dirinya.
Penilaian yang demikian sangat tidak berimbang dan merugikan orang lain, bahkan
Yesus sendiri menentang mentalitas macam ini. Karena manusia adalah makhluk
sosial maka sah-sah saja apabila kita saling mengoreksi dan menginga tkan,
namun jangan lupa bahwa kita tidak boleh sok tahu tentang pribadi orang lain
selain dirinya dan Tuhan. Sedangkan, hal
yang paling mendasar bagi kita secara pribadi adalah jujur dengan diri
kita sendiri sambil melakukan introspeksi secara berkalah. Hasil permenungan
atas diri kita menjadi tolok ukur bagaimana kita menyadari dosa dan kelemahan
kita sehingga membantu kita melakukan pembaharuan menuju hidup iman yang matang
dengan mendasarkan diri pada ketulusan dan kerendahan hati. Sikap apatis,
sombong dan angkuh menutup diri untuk membagikan kekayaan iman kepada orang
lain, apalagi bersedia membimbing orang lain menuju pertobatan dan perubahan.
Karena itu, menurut Yesus kita harus mengenakan sikap rendah hati dan tulus
untuk mengatasi gejolak batin yang berkembang liar dan memilih jalan pertobatan
serta mengandalkan rahmat dan kemurahan hati dari Allah.
St. Paulus dalam bacaan pertama hari
ini mensyeringkan pengalaman pewartaannya yang sungguh berkesan. Pertobatan St.
Paulus menghantar dia menjadi pewarta yang tangguh dan setia, ia menjalankan
kewajibannya sebagai rasul yang bertanggungjawab menyebarkan warta keselamatan
Allah. Kesetiaannya kepada Yesus membuatnya tulus membagikan kekayaan imannya
kepada orang yang belum mengenal Yesus Kristus dan dalam menjalankan tugasnya,
ia tidak mengharapkan penghargaan, tidak mengejar upah: baginya, “upahku adalah
bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak
mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil.” Niat mulianya adalah ingin
menjadi hamba yang siap melayani semua
orang dengan tujuan agar jiwa mereka dapat dimenangkan dan dibawa kepada Yesus
untuk diselamatkan. Menurut St. Paulus, memberitakan Injil adalah suatu
keharusan yang muncul dari kedalaman hatinya, bukan karena ditugasi atau pun
untuk kepentingan prestise tetapi karena panggilan dan ketaatannya kepada Tuhan
untuk menyebarkan kabar baik tentang keselamatan kekal. Ia mampu menyesuaikan
diri di tengah-tengah orang lain dan hadir sebagai hamba yang setia melayani.
Spirit Yesus telah menghidupkan jiwanya untuk membagikan kabar gembira
keselematan ke seluruh dunia. Ia tidak pernah merasa malu, putus asa, bahkan
memiliki kemampuan besar untuk mengadaptasi diri dalam strata mana pun. Ia
tidak pernah tergiur untuk memegahkan dirinya, malah oleh karena Injil ia
berjuang memperkenalkan Yesus untuk mendapat mahkota kekal.
Kesadaran akan dosa sendiri membantu
kita berubah dan berbenah diri agar relasi atau hubungan yang sempat terputus
dengan Tuhan dan persaudaraan dengan sesama yang rusak dapat dibangun kembali.
Hubungan vertikal dengan Tuhan tidak dapat dibangun dengan harmonis apabila
hubungan horisontal dengan sesama berantakan, karena sesama adalah representasi
pribadi Allah sendiri. Semua ini menjadi sendi-sendi vital yang menunjang
perkembangan pribadi seorang Kristiani yang baik. Akhirnya, kita dituntut
komunikasi cinta dua arah: dengan Tuhan dalam doa dan refleksi, dengan sesama
dalam relasi dan pelayanan cinta. Dengan begitu kita tidak hanya menciptakan
karang kokoh bagi diri kita sendiri tetapi juga bagi sesama yang tak mampu
melakukannya sendiri (fungsi sosial mendapat pemenuhannya di sini). Pemberian
diri kepada orang lain mutlak dibutuhkan agar mereka yang belum mengenal Allah
dan hidup dalam kegelapan mendapat terang dan suka cita. Tugas kita sebagai
orang Kristen adalah membawa terang untuk menyinari kegelapan, membagi
kemampuan dan skill yang kita miliki
untuk kemakmuran orang lain. Semua metode pewartaan seperti yang dipraktekkan
oleh Yesus dan Paulus memiliki tujuan yang satu dan sama yakni untuk
memenangkan jiwa-jiwa yang berpaling dari Allah.
Yesus adalah guru kehidupan yang
memberi kita teladan kerendahan hati. Ia adala guru Agung yang menuntun kita ke
jalan yang benar. Ia memiliki kemampuan untuk merangkul dan mendidik, tanpa
berusaha untuk menghakimi orang berdosa. Teladan kerendahan hati Yesus dan teladan
hidup St. Paulus mendorong kita untuk menjadi panutan bagi sesama kita dan
membawa mereka menuju pertobatan sejati tanpa harus mengkambinghitamkan orang
lain untuk kepentingan pribadi kita. Kemampuan dan bakat yang dianugerahkan
Tuhan kepada kita harus dibagikan agar semua orang merasakan berkat dan rahmat
kasih Allah
Kita semua disapa dan dipanggil oleh
Yesus untuk mengikuti jalan kekudusan yang dirintis-Nya, sehingga kita bebas
memberi diri, menyumbangkan kemampuan yang kita miliki tanpa terikat oleh egoisme
dan ketamakan yang membelenggu. Apabila kita sudah berada di jalur jalan
keselamatan, maka kita berkewajiban mencari dan membawa lebih banyak orang
kepada Yesus, karena itulah tujuan perutusan kita sebagai murid-murid-Nya.
Semua kebjikan Kristiani dapat kita terapkan dalam misi pewartaan kita, namun
pergulatan iman dan kualitas hati harus mendasari segalanya jangan sampai
kesetiaan kepada Yesus tidak total. Aspek kerendahan hati adalah senjata
andalan kita untuk tetap fokus pada misi pewartaan akan Yesus. Pertanyaan
mendasar yang bisa kita ajukan adalah: apakah kita sudah menggunakan mata kita
dengan benar untuk melihat kebaikan dan kelebihan sesama kita? Ataukah kita
memeterai sesama kita pada masa lalunya yang buruk dan menutup hati untuk
melihat kebaikan-kebaikan yang berasal darinya. Jika demikian, maka kita butuh
penyembuhan dari Yesus, agar mata batin kita kembali jernih dan berfungsi untuk
menerima sesama kita apa adanya bukan ada apanya. Dengan demikian, pewarta
tanpa pergulatan iman dapat diumpamakan seorang buta sedang menuntun orang
buta.****Bernard Wada*****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar