Kamis, 17 September 2020

PENTINGNYA KESADARAN AKAN DOSA

Luk 6:27-38

Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa Marta, 31 Januari 2020 yang lalu mengemukakan bahwa salah satu kejahatan zaman ini adalah orang kehilangan kesadaran akan dosa. Jauh sebelumnya, Paus Pius XII, pendahulunya telah mengemukakan itu.


Itu berarti bahwa kehilangan kesadaran itu sudah terjadi sejak lama dan terus berlangsung hingga dewasa ini. Bahkan mungkin kehilangan itu menjadi-jadi di tengah situasi dunia dewasa ini yang marak dengan pendewaan terhadap keduniawian, yang disebut paus sebagai kekuatan yang merampas rasa berdosa dan jahat. Orang tinggal dalam zona abu-abu; antara dosa dan tidak dosa, antara yang jahat dan tidak jahat tidak dapat dibedakan lagi. Semuanya dihalalkan dan berlaku lazim.


Simon yang mengundang Yesus makan bersama di rumahnya adalah adalah salah seorang Farisi yang terpandang dalam kalangan Yahudi. Pendidikan yang tinggi dan kewenangan yang diberikan kepadanya, seperti juga pada kaumnya yang lain, untuk mengajar dan membimbing umat untuk hidup sesuai Taurat membuatnya menjadi yang terpandang.

 

Namun keunggulan itu telah menyombongkan dan membuatnya tergelincir ke dalam kesesatan dan dosa yang luput dari kesadaran. Seperti kebanyakan orang Farisi, ia tentu melakukan banyak ketidakadilan tanpa menyadarinya sebagai dosa. Tanda disadari Simon menunjukkan kecondongan itu di depan Yesus. Dengan merasa diri sebagai orang suci, ia memandang perempuan itu dengan sikap mengadili. Malah ia pun mengadili Yesus secara diam-diam: “Jika Ia ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”.

 

Yesus tahu sikap Simon itu. Maka Ia membuka dialog dengan Simon untuk memberikan pemahaman. Ia menyadarkan Simon tentang dosa dan pengampunan Allah. Baiklah supaya Simon juga sadar bahwa sebagai manusia ia juga tidak luput dari dosa dan membutuhkan Tuhan dan tidak serta merta mengadili orang berdosa tanpa pernah melihat diri sendiri.


Berbeda dengan Simon, perempuan yang dikenal orang banyak sebagai seorang pendosa menyadari bahwa ia adalah pendosa. Dia membutuhkan Tuhan. Karena itu ia berusaha menembusi tembok penilaian orang atas dirinya dan menjumpai Yesus di rumah Simon. Di hadapan Yesus, ia menyesali dan menangisi dosanya sambil ia menunjukkan kasihnya kepada Tuhan: “membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya dengan minyak wangi itu”.


Perempuan pendosa itu menunjukkan bahwa kesadaran atas dosanya (identifikasi diri sebagai pendosa) telah melahirkan pertobatan yang dalam dan ia mendapatkan buah pertobatan itu: “Dosamu telah diampuni”. Ia pergi sebagai orang bebas, sebagai orang yang telah diselamatkan. Dalam arti yang terbalik, ia menunjukkan bahwa tanpa adanya kesadaran akan dosa dan kesalahan orang merasa tidak perlu pertobatan dan pengampunan dari Tuhan.


Selaras perkataan Paus Fransiskus di atas, banyak perbuatan jahat dan tidak adil dilakukan dalam situasi hidup dewasa ini dipicu oleh kehampaan kesadaran akan dosa. Orang bertindak menurut kemauannya sendiri tanpa memandang bahwa apa yang dilakukan itu berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan.


Akhir-akhir ini Gereja Katolik menghadapi masalah dengan kaum klerus yang melakukan pelecehan seksual. Seorang imam melakukan pelecehan seksual terhadap umatnya, baik awam maupun biarawati, dan bisa terjadi berulang kali, karena ia memandang apa yang dilakukan itu tidak salah. Sering persoalan itu diselesaikan dengan mutasi tempat tugas. Namun kenyataan mutasi ke tempat lain tidak pernah bisa menyelesaikan persoalan karena masalah dasar tidak pernah diselesaikan. Di tempat tugas yang baru pun masalah yang sama tetap terjadi. Tentu ini hanyalah salah satu masalah yang dihadapi.


Masalah seperti yang disebutkan ini dan juga berbagai masalah yang lain mesti menggugah kesadaran kita. Sebagai Gereja kita mesti menyadari kembali tentang kehilangan khazana spiritual membuat kita tergelincir dalam perbuatan-perbuatan jahat dan dosa tanpa merasa itu jahat dan dosa. Keteladanan hidup perempuan pendosa dalam kisah Injil hari ini kiranya menjiwai kita untuk membangkitkan dan menghidupkan kembali kekayaan yang hilang itu. Selagi kita tidak bangkit dari kematian ini maka kita akan tetap melakukan berbagai kejahatan dalam hidup kita tanpa merasa itu jahat dan dosa.*** Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar