Luk 6:27-38
Paus Fransiskus dalam Misa di Casa Santa
Marta, 31 Januari 2020 yang lalu mengemukakan bahwa salah satu kejahatan zaman
ini adalah orang kehilangan kesadaran akan dosa. Jauh sebelumnya, Paus Pius
XII, pendahulunya telah mengemukakan itu.
Itu berarti bahwa kehilangan kesadaran itu sudah terjadi sejak lama dan terus
berlangsung hingga dewasa ini. Bahkan mungkin kehilangan itu menjadi-jadi di
tengah situasi dunia dewasa ini yang marak dengan pendewaan terhadap
keduniawian, yang disebut paus sebagai kekuatan yang merampas rasa berdosa dan
jahat. Orang tinggal dalam zona abu-abu; antara dosa dan tidak dosa, antara
yang jahat dan tidak jahat tidak dapat dibedakan lagi. Semuanya dihalalkan dan
berlaku lazim.
Simon yang mengundang Yesus makan bersama di rumahnya adalah adalah salah
seorang Farisi yang terpandang dalam kalangan Yahudi. Pendidikan yang tinggi
dan kewenangan yang diberikan kepadanya, seperti juga pada kaumnya yang lain,
untuk mengajar dan membimbing umat untuk hidup sesuai Taurat membuatnya menjadi
yang terpandang.
Namun keunggulan itu telah menyombongkan dan
membuatnya tergelincir ke dalam kesesatan dan dosa yang luput dari kesadaran.
Seperti kebanyakan orang Farisi, ia tentu melakukan banyak ketidakadilan tanpa
menyadarinya sebagai dosa. Tanda disadari Simon menunjukkan kecondongan itu di
depan Yesus. Dengan merasa diri sebagai orang suci, ia memandang perempuan itu
dengan sikap mengadili. Malah ia pun mengadili Yesus secara diam-diam: “Jika Ia
ini nabi, tentu Ia tahu, siapakah dan orang apakah perempuan yang menjamah-Nya
ini; tentu Ia tahu, bahwa perempuan itu adalah seorang berdosa”.
Yesus tahu sikap Simon itu. Maka Ia membuka
dialog dengan Simon untuk memberikan pemahaman. Ia menyadarkan Simon tentang
dosa dan pengampunan Allah. Baiklah supaya Simon juga sadar bahwa sebagai
manusia ia juga tidak luput dari dosa dan membutuhkan Tuhan dan tidak serta
merta mengadili orang berdosa tanpa pernah melihat diri sendiri.
Berbeda dengan Simon, perempuan yang dikenal orang banyak sebagai seorang
pendosa menyadari bahwa ia adalah pendosa. Dia membutuhkan Tuhan. Karena itu ia
berusaha menembusi tembok penilaian orang atas dirinya dan menjumpai Yesus di
rumah Simon. Di hadapan Yesus, ia menyesali dan menangisi dosanya sambil ia
menunjukkan kasihnya kepada Tuhan: “membasahi kaki-Nya itu dengan air matanya
dan menyekanya dengan rambutnya, kemudian ia mencium kaki-Nya dan meminyakinya
dengan minyak wangi itu”.
Perempuan pendosa itu menunjukkan bahwa kesadaran atas dosanya (identifikasi
diri sebagai pendosa) telah melahirkan pertobatan yang dalam dan ia mendapatkan
buah pertobatan itu: “Dosamu telah diampuni”. Ia pergi sebagai orang bebas,
sebagai orang yang telah diselamatkan. Dalam arti yang terbalik, ia menunjukkan
bahwa tanpa adanya kesadaran akan dosa dan kesalahan orang merasa tidak perlu
pertobatan dan pengampunan dari Tuhan.
Selaras perkataan Paus Fransiskus di atas, banyak perbuatan jahat dan tidak
adil dilakukan dalam situasi hidup dewasa ini dipicu oleh kehampaan kesadaran
akan dosa. Orang bertindak menurut kemauannya sendiri tanpa memandang bahwa apa
yang dilakukan itu berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan.
Akhir-akhir ini Gereja Katolik menghadapi masalah dengan kaum klerus yang
melakukan pelecehan seksual. Seorang imam melakukan pelecehan seksual terhadap
umatnya, baik awam maupun biarawati, dan bisa terjadi berulang kali, karena ia
memandang apa yang dilakukan itu tidak salah. Sering persoalan itu diselesaikan
dengan mutasi tempat tugas. Namun kenyataan mutasi ke tempat lain tidak pernah
bisa menyelesaikan persoalan karena masalah dasar tidak pernah diselesaikan. Di
tempat tugas yang baru pun masalah yang sama tetap terjadi. Tentu ini hanyalah
salah satu masalah yang dihadapi.
Masalah seperti yang disebutkan ini dan juga berbagai masalah yang lain mesti
menggugah kesadaran kita. Sebagai Gereja kita mesti menyadari kembali tentang
kehilangan khazana spiritual membuat kita tergelincir dalam perbuatan-perbuatan
jahat dan dosa tanpa merasa itu jahat dan dosa. Keteladanan hidup perempuan
pendosa dalam kisah Injil hari ini kiranya menjiwai kita untuk membangkitkan
dan menghidupkan kembali kekayaan yang hilang itu. Selagi kita tidak bangkit
dari kematian ini maka kita akan tetap melakukan berbagai kejahatan dalam hidup
kita tanpa merasa itu jahat dan dosa.*** Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar