Rm 8:28-30; Mat 1:1-16, 18-23
Gereja Katolik hari
ini memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Dalam liturgi Gereja
Katolik, peringatan atau pesta orang kudus biasanya dirayakan untuk
memperingati hari kematian mereka. Tercatat hanya ada tiga figur pribadi yang
penting dan sangat berpengaruh dalam hidup iman kita. Mereka adalah: Pertama, St. Yohanes Pembaptis (24
Juni). Kita mengenang Yohanes pembaptis sebagai figur yang menyiapkan jalan
bagi Tuhan. Seruan tobat dan pembaptisan di sungai Yordan merupakan cara
Yohanes membawa orang untuk mengenal dan tinggal bersama Yesus sang Anak Domba
Allah. Kedua, Sta. Perawan Maria yang
dirayakan pada hari ini 8 september. Kita mengenang Bunda Maria sebab dia
adalah figur yang selalu ada bersama dengan Yesus puteranya. Ketiga,Yesus Kristus yang kita rayakan
setiap tanggal 25 Desember. Kita mengenang kelahiran Yesus Kristus karena
Dialah satu-satunya Penebus umat manusia. Semua kenangan ini selalu menunjukkan
sukacita istimewa, lebih lagi berkaitan dengan penebusan yang berlimpah dalam
diri Yesus Kristus. Mengenai Maria, kita tidak menemukan referensi biblis yang
menunjukkan tentang kelahiran Sta. Perawan Maria, namun perayaan ini lahir dari
pengakuan atas peran penting Santa Maria dalam sejarah keselamatan. Hari ini
jelas bukan tanggal kelahiran Santa Maria, namun tanggal 8 September dipilih
karena ada hubungannya dengan perayaan Maria dikandung tanpa noda (8 Desember).
Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Pesta
Kelahiran Santa Perawan Maria yang kita rayakan hari ini mengajak kita untuk
selalu bersukacita di dalam Tuhan. St. Paulus dalam bacaan pertama mengatakan
bahwa Allah tetap bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang
mengasihi Dia. Orang-orang yang mengasihi Dia adalah orang-orang istimewa yang
dipanggil Allah secara khusus untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan
Allah. Tuhan sejak semula memilih dan menentukan orang-orang pilihan-Nya untuk
menjadi serupa dengan Yesus Kristus Putera-Nya. Dengan demikian Yesus Kristus
tetaplah menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Konsekuensinya adalah
bahwa semua orang yang ditentukan dari semula oleh Tuhan juga mendapatkan
panggilan-Nya. Mereka yang mendapatkan panggilan itu akan dibenarkan oleh
Tuhan. Mereka yang dibenarkan juga akan dimuliakan oleh Tuhan sendiri.
Perkataan Paulus tersebut kita pahami dalam konteks pesta kelahiran Bunda
Maria: orang-orang yang ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan
pertama-tama adalah orang tua Bunda Maria yakni Anna dan Yoakim. Keduanya
adalah orang kudus pilihan Allah yang layak untuk melahirkan Maria sebagai
ciptaan teramat mulia, yang kemudia menjadi Ibunda Yesus Kristus. Maria menjadi
ciptaan teramat mulia sebab Maria
sendiri dikandung tanpa noda dosa. Santa Perawan Maria mendapat anugerah dan
panggilan khusus sebagai Ibunda Yesus. Hati Maria selalu mengagungkan Tuhan dan
jiwanya bersorak-sorai hanya kepada Tuhan.
Gereja memberikan penghormatan
sangat besar kepada Bunda Maria karena melaluinya, Allah menyatakan rencana
keselamatan-Nya dalam diri Yesus Kristus. Penginjil Matius menggambarkan
silsilah Yesus dan di sana kita menemukan bahwa tidak semua nenek moyang Yesus
hidup sempurna dan saleh, tetapi sekian banyak dari mereka yang tidak taat pada
kehendak Allah dan hidup penuh dosa, namun Allah justru menjadikan mereka
jembatan dan alat-Nya untuk suatu tugas mulia. Misalnya dalam silsilah Yesus,
ada empat nama wanita asing yakni: Tamar (perempuan Kanaan dalam Matius 1:3),
Rahab (perempuan Kanaan dalam Matius 1:5), Rut (perempuan dari Moab dalam
Matius 1:5) dan Betsyeba (meskipun ia berasal dari Israel, namun ia
pernahmenjadi bangsa asing karena menikahi “Uria orang Het itu”, dalam Mat
1:6). Dari keempat nama wanita asing ini, kita tahu bahwa tiga di antaranya
memiliki masa lalu yang kelam. Pertama, Tamar:
untuk memperoleh keturunan dari Yehuda maka ia rela menyamar menjadi seorang
pelacur kuil. Kedua, Rahab: dikenal
sebagai mantan perempuan sundal. Ketiga,
Batsyeba sewaktu masih menjadi istri Uria, dia berzinah dengan Daud.
Selanjutnya karena kematian Uria, ia menjadi istri Daud. Fakta ini mau
menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang setia dan penyabar yang senantiasa
menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Kehadiran Yosef dan Maria serta
keseluruhan hidup mereka secara tidak langsung merupakan buah dari proses
pemurnian yang berjalan berabad-abad lamanya. Iman nenek moyang mereka mengalami pasang naik dan pasang surut itu
disempurnakan dalam model penyerahan diri dan ketaatan total Yosef dan Maria
yang melahirkan dan membesarkan Yesus sebagai juru selamat bagi umat manusia.
Gereja ingin mempertegas peran pembentukan Yosef dan Maria sebagai ayah dan ibu
Yesus di dunia ini dalam perkembangan kepribadian Yesus. Ketulusan hati Yosef
dan ketaatan Maria menjadi keutamaan yang sungguh mempengaruhi karakter
kemanusiaan Yesus.
Allah memilih Bunda Maria sebagai Ibu
Yesus, sang Penebus. Pilihan ini sangat tepat karena Allah memperhatikan
kerendahan hati Maria sebagai hamba-Nya. Ia melihat hati Maria yang dikandung
tanpa noda dosa yang penuh dengan suka cita ilahi. Allah memilih cara yang unik
dengan mengingkarnasikan diri-Nya menjadi manusia melalui Maria. Pewahyuan diri
Allah itu menyiratkan pesan bahwa
manusia tidak akan sanggup menggapai Tuhan oleh karena kedosaannya, maka Tuhan
sendiri memilih jalan lain untuk datang dan menjumpai manusia agar manusia
dapat bertobat dan kembali ke akarnya yakni Allah Bapa di Surga. Inkarnasi
Allah dalam diri Yesus hadir membawa pesan perubahan bagi umat manusia melalui
ajaran kasih-Nya yang sangat revolusioner agar manusia setia mengasihi Allah
sehingga memperoleh keselamatan. Iman kita akan Yesus sangat ditentukan oleh
relasi baik kita dengan Allah dalam diri sesama. Relasi itu dimungkinkan jika
kita bersikap rendah hati seperti Bunda Maria.
Hidup Bunda Maria adalah sebuah
kesaksian bagaimana Allah mempercayai manusia menjadi pelaksana karya
keselamatan-Nya dan bagaimana Maria melaksanakannya dengan penuh iman dan
ketaatan. Maria memasrahkan dirinya pada Kehendak Allah meski berhadapan dengan
ketidakpastian dan kebingungan. Bahkan di hadapan penderitaan dan rasa sakit
mendalam ketika menyaksikan puteranya wafat di kayu salib bagaikan penjahat.
Hidupnya adalah inspirasi bagi hidup umat beriman. Di hadapan aneka
ketidakpastian, kebingungan, penderitaan, kesulitan dan rasa sakit sekalipun,
Maria tetap memasrahkan hidupnya pada Kehendak Tuhan semata karena, ia yakin
bahwa Allah senantiasa menyertainya. Penyerahan diri Bunda Maria pada Kehendak
Allah menjadikan hatinya bersinar dan memancar keluar untuk menerangi hati kita
semua yang masih dikuasai oleh egoisme dan hedonisme dunia. Kerendahan hati
selalu memungkinkan kita siap menjadi hamba dan pelayan serta ikut
berpartisipasi secara aktif dalam misi pewartaan Allah menyelamatkan sesama
yang menjauhi rahmat dan berkat Allah. Kelemahan dan ketidaklayakan kita karena
dosa sering kali menjadi alasan utama kita menjauhi panggilan Allah, namun
Allah yang maha pengampun justru memakai orang-orang berdosa dan lemah untuk
ikut ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.
Kisah
Injil hari ini mengingatkan kita, betapa pentingnya membangun pertobatan,
meskipun kita adalah orang biasa-biasa, orang berdosa yang sering jatuh dalam
kesalahan yang sama. Harapan ini diletakkan di atas keyakinan, bahwa pertobatan
yang sungguh-sungguh menghantar kita menuju keselamatan dan kembali kepada
Allah Bapa yang penuh belas kasih. Karena itu, kita dapat mengadopsi iman Maria
yang penuh kerendahan hati dan ketaatan St.Yosef sebagai contoh dan teladan
hidup kita. Warta Injil hari ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk
bersyukur atas seluruh karunia Tuhan bagi keluarga kita masing-masing, karena
kita datang dari sebuah keluarga dengan silsilah yang panjang. Seperti Yesus,
kita perlu menunjukkan aspek kemanusiaan kita dengan terus berjuang memberi
makna kepada hidup ini. Kita juga perlu menunjukkan aspek keilahian kita dengan
berusaha menyucikan rencana dan karya pelayanan kita setiap hari dengan tetap
menghidupkan aspek doa sebagai jantung hidup kita dan senantiasa bersandar pada
kerahiman Yesus sang Mesias Agung yang datang ke dunia menyelamatkan dosa
seluruh umat manusia. Pesta kelahiran Bunda Maria hari ini menginspirasi kita
untuk memandang kerendahan hati Bunda Maria sebagai model hidup iman kita dan
turut memikul salib Kristus yang sudah, sedang dan akan membaharui dunia. Yesus
Kristus hadir untuk membaharui dunia dan kita dipanggil ikut ambil bagian di
dalamnya menjadi misionaris-misionaris sejati yang memiliki semangat merasul
dimana pun kita berada.
Diakhir renungan singkat ini saya
ingin meminjam doa harian St. Theresia dari Kalkuta kepada Bunda Maria: “Bunda Maria, berikanlah kepadaku hatimu:
yang begitu indah, murni dan tak bernoda; hatimu begitu penuh dengan cinta dan
kerendahan hati bahwa saya dapat menerima Yesus di dalam Roh kehidupan dan
mencintai-Nya seperti dirimu mencintai dan melayani-Nya di dalam diri
orang-orang miskin dan melarat”. Tambahkan kekuatan saya agar saya dapat
melayani orang-orang sakit, lemah dan miskin yang saya jumpai. Semoga
kerendahan hati Bunda Maria, menjadi semangat bagi saya dalam memberikan
pelayana ikhlas yang di dasarkan pada cinta kasih Yesus. Amin. ***Bernad
Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar