Selasa, 08 September 2020

MELALUI MARIA IMAN KITA KEPADA YESUS DITEGUHKAN

                                          Rm 8:28-30; Mat 1:1-16, 18-23

            Gereja Katolik hari ini memperingati Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria. Dalam liturgi Gereja Katolik, peringatan atau pesta orang kudus biasanya dirayakan untuk memperingati hari kematian mereka. Tercatat hanya ada tiga figur pribadi yang penting dan sangat berpengaruh dalam hidup iman kita. Mereka adalah: Pertama, St. Yohanes Pembaptis (24 Juni). Kita mengenang Yohanes pembaptis sebagai figur yang menyiapkan jalan bagi Tuhan. Seruan tobat dan pembaptisan di sungai Yordan merupakan cara Yohanes membawa orang untuk mengenal dan tinggal bersama Yesus sang Anak Domba Allah. Kedua, Sta. Perawan Maria yang dirayakan pada hari ini 8 september. Kita mengenang Bunda Maria sebab dia adalah figur yang selalu ada bersama dengan Yesus puteranya. Ketiga,Yesus Kristus yang kita rayakan setiap tanggal 25 Desember. Kita mengenang kelahiran Yesus Kristus karena Dialah satu-satunya Penebus umat manusia. Semua kenangan ini selalu menunjukkan sukacita istimewa, lebih lagi berkaitan dengan penebusan yang berlimpah dalam diri Yesus Kristus. Mengenai Maria, kita tidak menemukan referensi biblis yang menunjukkan tentang kelahiran Sta. Perawan Maria, namun perayaan ini lahir dari pengakuan atas peran penting Santa Maria dalam sejarah keselamatan. Hari ini jelas bukan tanggal kelahiran Santa Maria, namun tanggal 8 September dipilih karena ada hubungannya dengan perayaan Maria dikandung tanpa noda (8 Desember).

 

            Bacaan-bacaan Kitab Suci pada Pesta Kelahiran Santa Perawan Maria yang kita rayakan hari ini mengajak kita untuk selalu bersukacita di dalam Tuhan. St. Paulus dalam bacaan pertama mengatakan bahwa Allah tetap bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia. Orang-orang yang mengasihi Dia adalah orang-orang istimewa yang dipanggil Allah secara khusus untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Tuhan sejak semula memilih dan menentukan orang-orang pilihan-Nya untuk menjadi serupa dengan Yesus Kristus Putera-Nya. Dengan demikian Yesus Kristus tetaplah menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Konsekuensinya adalah bahwa semua orang yang ditentukan dari semula oleh Tuhan juga mendapatkan panggilan-Nya. Mereka yang mendapatkan panggilan itu akan dibenarkan oleh Tuhan. Mereka yang dibenarkan juga akan dimuliakan oleh Tuhan sendiri. Perkataan Paulus tersebut kita pahami dalam konteks pesta kelahiran Bunda Maria: orang-orang yang ditentukan, dipanggil, dibenarkan dan dimuliakan pertama-tama adalah orang tua Bunda Maria yakni Anna dan Yoakim. Keduanya adalah orang kudus pilihan Allah yang layak untuk melahirkan Maria sebagai ciptaan teramat mulia, yang kemudia menjadi Ibunda Yesus Kristus. Maria menjadi ciptaan teramat mulia  sebab Maria sendiri dikandung tanpa noda dosa. Santa Perawan Maria mendapat anugerah dan panggilan khusus sebagai Ibunda Yesus. Hati Maria selalu mengagungkan Tuhan dan jiwanya bersorak-sorai hanya kepada Tuhan.

 

            Gereja memberikan penghormatan sangat besar kepada Bunda Maria karena melaluinya, Allah menyatakan rencana keselamatan-Nya dalam diri Yesus Kristus. Penginjil Matius menggambarkan silsilah Yesus dan di sana kita menemukan bahwa tidak semua nenek moyang Yesus hidup sempurna dan saleh, tetapi sekian banyak dari mereka yang tidak taat pada kehendak Allah dan hidup penuh dosa, namun Allah justru menjadikan mereka jembatan dan alat-Nya untuk suatu tugas mulia. Misalnya dalam silsilah Yesus, ada empat nama wanita asing yakni: Tamar (perempuan Kanaan dalam Matius 1:3), Rahab (perempuan Kanaan dalam Matius 1:5), Rut (perempuan dari Moab dalam Matius 1:5) dan Betsyeba (meskipun ia berasal dari Israel, namun ia pernahmenjadi bangsa asing karena menikahi “Uria orang Het itu”, dalam Mat 1:6). Dari keempat nama wanita asing ini, kita tahu bahwa tiga di antaranya memiliki masa lalu yang kelam. Pertama, Tamar: untuk memperoleh keturunan dari Yehuda maka ia rela menyamar menjadi seorang pelacur kuil. Kedua, Rahab: dikenal sebagai mantan perempuan sundal. Ketiga, Batsyeba sewaktu masih menjadi istri Uria, dia berzinah dengan Daud. Selanjutnya karena kematian Uria, ia menjadi istri Daud. Fakta ini mau menunjukkan bahwa Allah adalah pribadi yang setia dan penyabar yang senantiasa menyelamatkan semua orang tanpa kecuali. Kehadiran Yosef dan Maria serta keseluruhan hidup mereka secara tidak langsung merupakan buah dari proses pemurnian yang berjalan berabad-abad lamanya. Iman nenek moyang mereka  mengalami pasang naik dan pasang surut itu disempurnakan dalam model penyerahan diri dan ketaatan total Yosef dan Maria yang melahirkan dan membesarkan Yesus sebagai juru selamat bagi umat manusia. Gereja ingin mempertegas peran pembentukan Yosef dan Maria sebagai ayah dan ibu Yesus di dunia ini dalam perkembangan kepribadian Yesus. Ketulusan hati Yosef dan ketaatan Maria menjadi keutamaan yang sungguh mempengaruhi karakter kemanusiaan Yesus.

 

            Allah memilih Bunda Maria sebagai Ibu Yesus, sang Penebus. Pilihan ini sangat tepat karena Allah memperhatikan kerendahan hati Maria sebagai hamba-Nya. Ia melihat hati Maria yang dikandung tanpa noda dosa yang penuh dengan suka cita ilahi. Allah memilih cara yang unik dengan mengingkarnasikan diri-Nya menjadi manusia melalui Maria. Pewahyuan diri Allah itu  menyiratkan pesan bahwa manusia tidak akan sanggup menggapai Tuhan oleh karena kedosaannya, maka Tuhan sendiri memilih jalan lain untuk datang dan menjumpai manusia agar manusia dapat bertobat dan kembali ke akarnya yakni Allah Bapa di Surga. Inkarnasi Allah dalam diri Yesus hadir membawa pesan perubahan bagi umat manusia melalui ajaran kasih-Nya yang sangat revolusioner agar manusia setia mengasihi Allah sehingga memperoleh keselamatan. Iman kita akan Yesus sangat ditentukan oleh relasi baik kita dengan Allah dalam diri sesama. Relasi itu dimungkinkan jika kita bersikap rendah hati seperti Bunda Maria.

 

            Hidup Bunda Maria adalah sebuah kesaksian bagaimana Allah mempercayai manusia menjadi pelaksana karya keselamatan-Nya dan bagaimana Maria melaksanakannya dengan penuh iman dan ketaatan. Maria memasrahkan dirinya pada Kehendak Allah meski berhadapan dengan ketidakpastian dan kebingungan. Bahkan di hadapan penderitaan dan rasa sakit mendalam ketika menyaksikan puteranya wafat di kayu salib bagaikan penjahat. Hidupnya adalah inspirasi bagi hidup umat beriman. Di hadapan aneka ketidakpastian, kebingungan, penderitaan, kesulitan dan rasa sakit sekalipun, Maria tetap memasrahkan hidupnya pada Kehendak Tuhan semata karena, ia yakin bahwa Allah senantiasa menyertainya. Penyerahan diri Bunda Maria pada Kehendak Allah menjadikan hatinya bersinar dan memancar keluar untuk menerangi hati kita semua yang masih dikuasai oleh egoisme dan hedonisme dunia. Kerendahan hati selalu memungkinkan kita siap menjadi hamba dan pelayan serta ikut berpartisipasi secara aktif dalam misi pewartaan Allah menyelamatkan sesama yang menjauhi rahmat dan berkat Allah. Kelemahan dan ketidaklayakan kita karena dosa sering kali menjadi alasan utama kita menjauhi panggilan Allah, namun Allah yang maha pengampun justru memakai orang-orang berdosa dan lemah untuk ikut ambil bagian dalam karya keselamatan-Nya.

 

            Kisah Injil hari ini mengingatkan kita, betapa pentingnya membangun pertobatan, meskipun kita adalah orang biasa-biasa, orang berdosa yang sering jatuh dalam kesalahan yang sama. Harapan ini diletakkan di atas keyakinan, bahwa pertobatan yang sungguh-sungguh menghantar kita menuju keselamatan dan kembali kepada Allah Bapa yang penuh belas kasih. Karena itu, kita dapat mengadopsi iman Maria yang penuh kerendahan hati dan ketaatan St.Yosef sebagai contoh dan teladan hidup kita. Warta Injil hari ini juga mengajarkan kepada kita semua untuk bersyukur atas seluruh karunia Tuhan bagi keluarga kita masing-masing, karena kita datang dari sebuah keluarga dengan silsilah yang panjang. Seperti Yesus, kita perlu menunjukkan aspek kemanusiaan kita dengan terus berjuang memberi makna kepada hidup ini. Kita juga perlu menunjukkan aspek keilahian kita dengan berusaha menyucikan rencana dan karya pelayanan kita setiap hari dengan tetap menghidupkan aspek doa sebagai jantung hidup kita dan senantiasa bersandar pada kerahiman Yesus sang Mesias Agung yang datang ke dunia menyelamatkan dosa seluruh umat manusia. Pesta kelahiran Bunda Maria hari ini menginspirasi kita untuk memandang kerendahan hati Bunda Maria sebagai model hidup iman kita dan turut memikul salib Kristus yang sudah, sedang dan akan membaharui dunia. Yesus Kristus hadir untuk membaharui dunia dan kita dipanggil ikut ambil bagian di dalamnya menjadi misionaris-misionaris sejati yang memiliki semangat merasul dimana pun kita berada.

 

            Diakhir renungan singkat ini saya ingin meminjam doa harian St. Theresia dari Kalkuta kepada Bunda Maria: “Bunda Maria, berikanlah kepadaku hatimu: yang begitu indah, murni dan tak bernoda; hatimu begitu penuh dengan cinta dan kerendahan hati bahwa saya dapat menerima Yesus di dalam Roh kehidupan dan mencintai-Nya seperti dirimu mencintai dan melayani-Nya di dalam diri orang-orang miskin dan melarat”. Tambahkan kekuatan saya agar saya dapat melayani orang-orang sakit, lemah dan miskin yang saya jumpai. Semoga kerendahan hati Bunda Maria, menjadi semangat bagi saya dalam memberikan pelayana ikhlas yang di dasarkan pada cinta kasih Yesus. Amin. ***Bernad Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar