Kamis, 30 April 2020

MAKAN DAGING DAN MINUM DARAH YESUS


Yoh 6:52-59
Seorang ibu mengisahkan hal ihwal kesuksesannya mengongkosi keempat anaknya hingga mencapai gelar sarjana. Suami sang ibu adalah seorang guru PNS. Tetapi, telah meninggal dunia sewaktu anak-anaknya masih mengencam dunia pendidikan. Praktis, dengan gaji yang kurang dari cukup, sang ibu harus memutar otak bagaimana memback up anak-anaknya agar tetap eksis di bangku sekolah. Anak pertama tinggal menunggu ujian skripsi di sebuah perguruan tinggi di Jakarta. Anak kedua baru masuk semester empat di sebuah sekolah tinggi keperawatan di kota Makassar. Anak ketiga sementara menginjakkan kakinya di bangku Sekolah Menengah Atas kelas tiga di kota Lewoleba Kab. Lembata. Sementara si bungsu, masih tertatih-tatih dengan kenakalannya sebagai anak remaja di kelas tiga Sekolah Menengah Pertama di kota yang sama. Berbagai upaya dilakukan oleh sang ibu agar anak-anaknya tetap bersekolah. Mulai dari memanfaatkan sedikit pohon kemiri warisan sang suami di kampung, memelihara ternak dan menjualnya, hingga harus pontang panting meminjam uang di para tengkulak dengan bunga yang mencekik leher. Sang ibu ini mempunyai jiwa seorang fighter (pejuang). Tidak pernah mengenal kata menyerah. Pantang mundur. Walau mendapat begitu banyak tantangan. Tidak hanya tekanan soal keuangan. Tetapi yang paling berat adalah tekanan psikis (mental). Ia harus rela menerima hinaan, cemoohan, dan caci maki dari orang-orang yang tidak menyukai perjuangannya. Bahkan dari kaum keluarganya sendiri. Namun Ia menerimanya dengan sabar. Yang membuat saya kagum adalah kadar religiositasnya sangat tinggi. Mungkin juga karena terlalu banyak menghadapi beban penderitaan dalam hidup jadi satu-satunya sandaran dalam situasi batas tersebut hanyalah Tuhan. Ia menyerahkan seluruh beban hidupnya dalam penyelenggaraan Tuhan. Ia percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkannya. Salib hidup itu harus ia pikul menuju “puncak golgota”. Ia harus rela “makan daging dan minum darah Tuhan” agar kemenangan dan keselamatan bisa ia peroleh. Berkat kesabaran dan ketabahan dalam penderitaan, ia kini boleh berbangga karena keempat anaknya telah selesai mengenyam pendidikan di perguruan tinggi dan menggapai gelar sarjana.

Hari ini Yesus berhasil membuat kebingungan di antara para orang Yahudi. Orang Yahudi menjadi kesal, marah, dan merasa dilecehkan karena Yesus mengungkapkan suatu hal yang tidak masuk akal. Yesus mengatakan bahwa supaya mereka memperoleh hidup yang kekal, mereka harus makan daging dan minum darah-Nya. Tidak hanya hidup yang kekal, tetapi Yesus akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Kejengkelan dan kemarahan orang Yahudi semakin berlipat ganda ketika Yesus menegaskan bahwa Ia adalah roti kehidupan yang telah turun dari sorga. Ia datang ke dunia karena diutus oleh Bapa-Nya sendiri. Ia bukan “manna”, roti yang telah dimakan oleh nenek moyang orang Israel. Ia adalah roti kehidupan yang membawa kehidupan kekal. Bagi siapa yang memakannya tidak akan merasa lapar dan haus lagi. Klaim-klaim Yesus ini yang semakin membakar kemarahan dan kejengkelan di antara orang Yahudi. Mereka menunjukkan sikap demikian karena mereka tidak paham dengan apa yang dikatakan oleh Yesus. Mereka menafsir secara lurus menurut pemahaman dangkal mereka. Padahal kata-kata Yesus adalah ungkapan penuh simbolik. Perlu kerendahan hati dan keterbukaan diri untuk bisa menangkap apa sebenarnya yang dimaksud oleh Yesus. Orang-orang Yahudi sudah “membuat portal” bagi diri mereka dengan sikap angkuh dan tertutup.

Makan daging dan minum darah Yesus adalah sebuah metafor kehidupan. Sebuah ungkapan yang harus digali dan dicerna secara lebih mendalam. Makan daging dan minum darah Yesus berarti sikap percaya dan penyerahan diri secara total kepada Allah. Hanya orang yang mempunyai sikap terbuka dan memiliki kerendahan hati yang mampu mengalami rahasia Allah ini. Melalui peristiwa ekaristi kudus, setiap orang yang percaya dihantar untuk mengalami transubtansi. Suatu keadaan dimana subtansi roti dan anggur itu berubah menjadi tubuh dan darah Kristus. secara riil roti itu tetap roti dan anggur tetaplah anggur. Namun oleh sabda yang suci, dua entitas itu kini telah sungguh-sungguh menjadi makanan jasmani dan rohani yang memberi kekuatan dan kehidupan kekal bagi setiap orang yang menyambutnya.

Dengan makan daging dan minum darah Yesus, setiap orang Katolik juga dihantar dan dibimbing untuk mengalami tantangan dan penderitaan yang dialami oleh Yesus. Tantangan dan masalah itu bukan membuat manusia semakin kendor, layu dan mati. Sebaliknya, membuat orang Katolik semakin dikuatkan dan diteguhkan. Bahwa hanya dengan salib itulah, kemenangan dan keselamatan bisa diraih. Hanya dengan mengalami penderitaan bersama Kristus, setiap orang dapat meraih kebangkitan dalam hidupnya. Oleh karena itu, setiap tantangan, masalah, atau derita dalam kehidupan, haruslah dilihat dalam terang iman bahwa tidak membuat manusia mati binasa. Tetapi ia akan diangkat dan diselamatkan oleh Tuhan oleh kasih-Nya yang tiada batas. Kita pasti akan mendapat keselamatan di akhir nanti. Entah di dunia atau pun di akhirat. Ada rencana besar yang sementara disiapkan oleh Tuhan sendiri bagi setiap orang yang tetap percaya dan setia kepada-Nya.

Hari ini kita memperingati St. Yusuf Pekerja. Seorang ayah, suami yang memiliki spirit hidup yang mumpuni. Terutama dalam mendampingi istrinya, Maria. Ia seorang pria sejati yang setia, pekerja keras, berjiwa tangguh dan tahan banting dalam menghadapi segala cobaan dan rintangan. Semoga teladan hidup St. Yusuf pekerja, memberi inspirasi bagi kita agar kita tidak takut dengan segala tantangan, cobaan dan penderitaan yang kita alami dalam hidup ini. Sebagai orang Katolik sejati, kita harus benar-benar makan daging dan minum darah Yesus. Kita harus terjun dalam kerasnya dunia ini untuk boleh meraih kesuksesan dan kemenangan dalam hidup. Mari kita semakin teguh dan percaya kepada Yesus, yang telah memberi kita daging dan darahnya untuk kita santap. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 28 April 2020

IMAN YANG MENYELAMATKAN


 (Yoh 6: 35 – 40)
Hari ini kita memperingati salah seorang santa besar dalam gereja Katolik. Dia adalah Santa Katarina dari Siena, Italia. Ia lahir pada tahun 1347. Dan wafat di Roma pada tahun 1380 dalam usia yang masih sangat belia, 33 tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. Santa Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa @katakombe.org.
 
Salah satu pengalaman iman yang meneguhkan saya secara pribadi, saya dapatkan ketika berkunjung ke Lapas Lembata dalam rangka memberikan pendampingan dan pembinaan iman kepada warga lapas yang ada di sana. Dalam suatu kesempatan, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk boleh menyampaikan motto hidup mereka secara pribadi. Dari sekian banyak orang yang berbicara, saya terkesan dengan motto salah seorang peserta. Motto hidupnya demikian: “Saya selalu membayangkan hari esok adalah kematianku sehingga membuat saya dekat dengan Tuhan.” Sungguh sebuah motto yang sederhana tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sehabis pertemuan, saya mendekati beliau dan memuji motto yang telah menjadi filosofi hidupnya itu. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa motto itu yang membuat hidupnya semakin beriman kepada Allah.

Dalam bacaan pertama (Kis 8:1b-8), oleh karena iman akan Yesus Kristus, para jemaat di Yerusalem mulai mengalami penganiayaan yang hebat. Mereka ditindas, dianiaya, dan dipaksa untuk menyangkal dan meninggalkan imannya kepada Yesus. Bukannya menyerah, para prajurit Kristus yang militan ini semakin berani menyebar ke berbagai daerah untuk mewartakan kabar gembira tentang Yesus. Semakin ditantang, mereka semakin berani. Darah martir pertama, Stefanus, telah merasuki jiwa mereka untuk tidak takut lagi. Stefanus telah membuka jalan baru bagi mereka untuk terus bergerak maju menunjukkan iman mereka kepada publik, walaupun mereka adalah sekelompok minoritas yang tidak pernah dianggap.
Salah seorang rasul, Filipus, pergi ke Samaria dan memberitakan Mesias di daerah itu. Dengan gagah berani ia menyampaikan warta tentang Kristus sambil membuat banyak tanda heran yang menggugah banyak orang. Tidak sia-sia. Banyak orang di daerah Samaria akhirnya menjadi percaya akan apa yang ia katakan. Bahkan ada seorang tukang sihir hebat, bernama Simon, yang kemudian bertobat dan mengikuti Filipus. Eksistensi Yesus yang mempresentasikan diri-Nya sebagai roti hidup telah menjadikan para murid saat itu begitu yakin dengan apa yang mereka imani. Walaupun iman mereka sempat surut akibat kematian Yesus, namun pasca kebangkitan, kepercayaan diri mereka turut bangkit untuk semakin beriman kepada Yesus.

Hari ini, di rumah ibadat Kapernaum, Yesus menegaskan diri-Nya secara benderang di hadapan publik. Bahwa Ia adalah Roti Hidup. Barangsiapa yang datang kepada-Nya, tidak akan lapar dan haus lagi. Yesus juga mengatakan bahwa Ia datang dari Sorga karena diutus oleh Bapa-Nya di sorga. Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya di Sorga untuk menerima dan menyelamatkan orang yang datang kepada-Nya. Itu dilakukan-Nya karena tidak hanya kasih Allah yang demikian besar kepada umat manusia. Tetapi Yesus ingin semua umat manusia menjadi selamat. Keselamatan itu mulai diperoleh manusia saat manusia berada di bumi dan mengalami kepenuhannya saat manusia mati. Manusia akan mendapatkan keselamatan kekal. Yesus tidak ingin manusia menjadi tidak percaya dan akhirnya menjadi tidak selamat. Karena itu, tanpa henti Yesus terus memberi tawaran dan mengajak orang untuk percaya dan mengikuti kehendak Allah yang telah menyata dalam diri-Nya.

Namun, walaupun Yesus sudah menegaskan diri-Nya sebagai roti hidup yang telah turun dari sorga, rasa pesimis dan skeptis tetap menghantui pikiran banyak orang, terutama para pemimpin agama kala itu. Ketidakpercayaan yang dimiliki dilatari oleh sikap iri hati, sikap congkak dan ekslusivisme diri. Mereka tidak percaya dengan Yesus karena mereka tahu latar kehidupan Yesus dari keluarga Nazaret yang miskin dan sederhana. Dengan demikian, mereka menjadi iri hati dengan keunggulan kata-kata dan kehebatan tanda-tanda yang dilakukan Yesus. Mereka seakan tidak percaya dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Yesus; dan sebaliknya tidak mereka miliki. Mereka adalah kelompok orang yang congkak, yang merasa diri paling hebat dan benar. Mereka tidak mau ada orang yang menyaingi atau melampaui kapasitas diri yang telah mereka miliki. Oleh karena itu, mereka menutup diri terhadap aliran rahmat yang diberikan oleh Allah melalui Yesus.

Mungkin kita juga memiliki pengalaman iman yang setengah-setengah kepada Tuhan. Kita lebih banyak mengandalkan kekuatan dan kehebatan diri sembari melupakan kekuatan Tuhan yang telah mengangkat kita. Pada kesempatan yang berahmat ini, kita semua sungguh diteguhkan untuk tidak ragu-ragu lagi kepada Dia yang telah menjadi roti hidup bagi kehidupan kita. Bersama Santa Katarina dari Siena, kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia agar hidup kita menjadi selamat. Tidak hanya pada kehidupan fana ini. Tetapi pada kehidupan kelak nanti. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Minggu, 26 April 2020

BERBAGI ROTI KEHIDUPAN


Yoh 6:22-29

Ada seorang sahabat saya, yang kini sudah menjadi seorang imam (pastor) dari Serikat Sabda Allah (SVD). Namanya Pater Jimmy M. Hayong, SVD. Beliau adalah seorang misionaris yang sementara bermisi di negara Mosambique, Afrika. Lebih tepatnya di Mosambique bagian utara, di Paroki Liupo dan Mogincual, Keuskupan Niacala, Provinsi Nampula. Dalam sebuah sharingnya kepada kami para sahabatnya, yang tergabung dalam grup Sesado 1998, beliau membagikan pengalamannya saat berada di tanah misi. Kurang lebih tujuh tahun ia berkarya di dua paroki, Liupo dan Mogincual, dengan segala keterbatasan dan kemiskinan yang ada di wilayah tersebut. Beruntung ia dengan cepat menguasai bahasa Portugis (bahasa nasional Mosambique) dan bahasa lokal setempat. Sehingga ia bisa beradaptasi dengan umat dan budaya setempat. Walaupun tentu ada banyak kesukaran dan hambatan yang ia hadapi. Hal yang patut disyukuri adalah bahwa ia diterima dengan baik, tidak hanya oleh rekan-rekan imamnya tetapi juga oleh umat yang ia layani.

Para orang tua, orang dewasa, kaum muda, sampai anak-anak yang kelihatan begitu sederhana dan polos, tetapi mempunyai hati yang tulus dan ikhlas untuk menyambutnya sebagai seorang imam Tuhan. Mereka begitu merindukan Tuhan yang terejawantah dalam dirinya. Dalam postingan foto-foto beliau, terutama dalam perayaan liturgi, saya melihat bahwa umat begitu antusias, khusyuk berdoa, dan dengan kerinduan yang besar menyambut tubuh Tuhan dalam rupa roti dan anggur. Bagi saya, Pater Jimmy telah meninggalkan segala keterikatannya dengan kehidupan duniawi dan kemudian memilih untuk bersatu dalam kehidupan kekal dengan memilih Kristus sebagai “pengantin” hidupnya. Dengan kata lain, Pater Jimy telah memilih Yesus sebagai roti kehidupannya dan kemudian membagi-bagi roti itu di antara umatnya dengan cinta, perhatian dan kasih mesra. Dan umat yang dilayaninya, telah menjawab undangan khusus Tuhan untuk bergabung dengan-Nya, terutama dalam Ekaristi suci yang membawa keselamatan dan kehidupan kekal.

Hari ini melalui bacaan Injil (Yoh 6:22-29), tergambar dengan jelas situasi kebatinan orang banyak yang masih terpesona dan terhipnotis dengan aksi Yesus yang menggandakan roti dan ikan. Hati mereka masih diliputi oleh rasa penasaran tentang aksi Yesus yang hebat dan memukau tersebut. Maka mereka berusaha untuk mencari dan menemukan-Nya. Intensi dasar pencarian mereka semata-mata bersifat artifisial. Mereka mau mencari roti duniawi yang telah dibuat oleh Yesus. Oleh karena itu, ketika melihat orang banyak datang, Yesus berkata: “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Yesus mempertanyakan motivasi mereka mengikuti Dia. Menurut Yesus, orang banyak itu masih memiliki keterikatan kuat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Dan Yesus ingin mengubah cara pandang dan orientasi hidup dari tidak sekedar mencari roti duniawi tetapi yang lebih penting adalah mencari roti kehidupan. Roti duniawi tidak bersifat kekal karena manusia tetap akan mati. Sedangkan roti kehidupan bersifat kekal. Manusia tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Roti kehidupan itu adalah Yesus sendiri. Ia yang telah diutus oleh Bapa di sorga rela turun ke dunia dan menjadi roti kehidupan. Orang-orang yang mencari dia sepertinya mulai sadar dan menjadi percaya kepada-Nya. Mereka pun bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Ini sebuah pertanyaan mendasar yang menggugah nurani untuk mengubah orientasi hidup mereka. Yesus menjawab mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Yesus membimbing dan mengarahkan mereka supaya mereka menjadi percaya kepada Dia, yang telah mengenyangkan mereka dengan roti duniawi. Tetapi lebih penting adalah Dia sendiri merupakan persembahan roti kehidupan yang akan membawa kehidupan kekal.

Kita yang hidup di era ini, tentu merasa gembira dan puas dengan segala kemewahan dan kemegahan yang ditawarkan oleh dunia. Apa yang kita inginkan pasti dengan mudah akan tercapai. Memiliki pekerjaan yang mapan, penghasilan yang cukup, memiliki gelimang harta, mobil dan uang, dan berbagai fasilitas duniawi lainnya telah menjadikan kita manusia modern yang tidak akan pernah puas dengan apa yang kita miliki. Kita selalu berusaha untuk terus mencari “roti duniawi” itu dengan berbagai cara baik dengan cara halal maupun tidak halal. Kita seakan terlempar jauh dari eksistensi kita sebagai seorang makhluk ciptaan Tuhan. Kita lebih memprioritaskan hidup kita untuk sebuah roti duniawi dari pada roti kehidupan. Tetapi semua hal duniawi itu hanya memberikan kita kenikmatan yang instan. Tidak kekal. Akan tiba pada saatnya, semua itu akan diambil. Dan kita pun menjadi binasa.
Hari ini Yesus menawarkan kepada kita sebuah “roti kehidupan”, yakni diri-Nya sendiri. Kita semua diundang untuk boleh menikmati roti yang satu dan kudus ini. Kita semua dihantar untuk masuk dalam ekaristi-Nya. Sebuah tempat dimana Ia telah memberikan diri-Nya secara total. Di dalam ekaristi itu, Ia memecah-mecahkan dan membagi-bagikan tubuh-Nya sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal kepada kita semua.

 Yesus juga mau mengajarkan agar sama seperti diri-Nya, kita juga harus rela membagi-bagikan diri kita sebagai sebuah roti kehidupan yang bernilai bagi orang lain. Sebagai seorang makhluk ciptaan Tuhan yang hidup dalam sebuah komunitas sosial, ekaristi kudus Tuhan menghantar kita untuk rela membagi-bagikan segala bentuk cinta, kasih dan perhatian kita kepada orang lain. Baiklah dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kita saling berbagi roti kehidupan untuk saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain sehingga kita dapat memperoleh keselamatan, kedamaian dan kehidupan kekal. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Jumat, 24 April 2020

BELAJAR DARI DAN MARIA


Kali ini kita akan belajar dari dua tokoh yang diantara Tuhan Yesus, yaitu Maria dan Yudas Iskariot. Jujur saja, tidak akan ada orangtua yang mau anaknya jadi seperti Yudas Iskariot. Tidak dalam peran drama Jumat Agung atau Paskah Sekolah Minggu di gereja, apalagi dalam kehidupan nyata. Yudas memang meninggalkan kesan dan teladan yang amat negatif.
Hari itu adalah kira-kira seminggu menjelang Tuhan Yesus merayakan Paskah terakhir selama hidup-Nya di dunia. Beberapa waktu yang lalu orang-orang ramai membicarakan Lazarus yang mati tapi kemudian dibangkitkan oleh Yesus. Maka mereka mengadakan perjamuan makan untuk Dia (ay.2). Tiba-tiba, Maria mengambil setengah kati (setengah liter) minyak narwastu yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (ay.3). Tentu saja, bau minyak semerbak memenuhi ruangan itu. Anda dapat membayangkan ruangan yang tadinya penuh dengan perbincangan kini semua tatapan mata tertuju kepada satu sosok saja, Maria. Yudas juga memperhatikan Maria, tepatnya apa yang Maria bawa.

Yudas menyayangkan sikap Maria yang menghambur-hamburkan minyak yang mahal itu. Padahal, menurut Yudas, minyak itu bisa dijual seharga 300 dinar (upah setahun kerja dalam konteks Yahudi pada waktu itu) dan uangnya dapat dibagi-bagikan kepada orang miskin (ay.5). Protes Yudas terdengar sangat penuh perhatian, seolah-olah ia peduli dengan nasib rakyat miskin. Tapi Alkitab menjelaskan: “Hal itu dikatannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang ada dalam kas yang dipegangnya” (ay.6). Hati Yudas melekat pada uang. Ia terbiasa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Awalnya, ia menguasai uang; kemudian, uang menguasai hatinya. Awalnya, ia mencuri uang; kemudian uang mencuri hatinya. Akhirnya, Ia jadikan Yesus alat untuk memperkaya dirinya sendiri.

Berbeda sekali dengan Maria yang datang bersujud dan mempersembahkan minyak yang mahal tanpa merasa rugi atau kehilangan karena Maria tahu bahwa Yesus adalah segala-galanya dalam hidupnya. Hati Maria adalah hati yang tulus menyembah dan mengasihi Yesus sedalam-dalamnya. Dan Tuhan Yesus memuji sikap Maria ini. Ia bahkan mengatakan: “Sesungguhnya, dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan terus disebut juga untuk mengingat dia” (Mat. 26:13). Sementara Yudas terus diingat karena berbagai kejahatan dan pengkhianatannya, Maria diingat karena kasih dan penyembahannya. Bagi Yudas, Yesus adalah alat untuk dimanfaatkan; tetapi bagi Maria, Yesus adalah Allah yang patut disembah. Tuhan menjauhkan dari kita hati Yudas yang egois dan keras dan memberikan kita hati Maria yang tulus dan penuh penyembahan. Seberapa besar kasih kita kepada Tuhan Yesus akan menentukan seberapa aman pengaruh harta terhadap hati dan hidup kita. seberapa jauh kita memberikan sebagian dari harta dan uang yang kita miliki untuk Tuhan, untuk Gereja. Cinta akan uang itu membutakan Yudas dari keindahan perbuatan Maria. Yudas tidak mengerti perbuatan Maria, keindahan hati Maria, malah me-rebuke Maria.  Mungkinkah hati kita itu seperti Yudas yang merasa bahwa mencintai Tuhan itu adalah suatu pemborosan?

Biarlah kita boleh belajar hari ini dan mengoreksi hati kita, betulkah kita sungguh-sungguh mengenal akan Kristus sebagai Tuhan yang berharga lebih dari segala sesuatu? Betulkah kita mencintai Dia? Betulkah apa yang kita kerjakan dan lakukan, bagaimana kita memakai uang kita menyatakan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, menempatkan Dia lebih daripada segala-galanya?Jangan ada di antara kita yang terjebak di dalam cinta akan uang yang akhirnya menghancurkan diri kita dan membuat kita binasa. Kiranya hati kita berdoa demikian: Beri aku hati untuk menyembah-Mu, Beri aku hati untuk mengasihi-Mu, Beri aku hati memuji-Mu dan mengasihi Engkau, seperti wanita yang datang mengurapi-Mu.

Perbuatan Maria ini menjadi refleksi yang sangat berharga dalam kehidupan rohani kita, bagaimana kita mampu menyangkal diri untuk melakukan Firman Tuhan, mampu untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan yaitu hidup untuk Firman, bagaimana kita mampu memperlihatkan kasih kepada Allah dengan mampu mengorbankan ego yang selalu mempertahankan kebenaran yang ada pada kita sehingga kita tidak bisa lagi saling menerima satu dengan yang lain. Perbuatan Maria ini mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dalam Markus 14:9 dikatakan: “sesungguhnya dimana saja Injil diberitakan diseluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”. Bahwa Tuhan meninggikan Maria yang mau menyangkal dirinya dihadapan Tuhan, seperti Yesus katakana dalam Lukas 14: 11 “Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan”. Mari kita mempersembahkan seluruh diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dalam perlindungan Tuhan. Tuhan mencintai setiap orang yang selalu memberi hati bagi-Nya.  *** Daniel Kuma****

Rabu, 22 April 2020

KESAKSIAN YANG BAIK


Yoh 3:31-36 
Hari ini di hadapan murid-muridnya, Yohanes memberi kesaksian pribadinya tentang sosok Yesus. Yohanes adalah seorang nabi besar. Suaranya sangat didengar dan dihargai oleh orang-orang pada saat itu. Tidak heran ia mempunyai banyak murid. Adalah hal yang wajar apabila seorang guru membanggakan diri dan kelompoknya. Tetapi yang kita dengar dan baca pada hari ini sangat berada di luar kelaziman. Yohanes justru berbicara dan menyampaikan kesaksiannya tentang Yesus. Figur seorang yang mungkin sangat asing di telinga para muridnya. Tetapi Yohanes sadar, inilah saatnya yang tepat untuk memberi ruang dan kesempatan untuk Yesus. Yohanes menyadari bahwa Yesus adalah Mesias, Putera Allah yang hidup di tengah manusia. Ia yang telah diramalkan oleh para nabi dan tertulis rapi dalam Kitab Suci kini telah menampakkan diri-Nya. Yohanes rela menenggelamkan diri demi kebenaran ilahi yang sudah tampak di depan mata. Dan ia berusaha mengarahkan fokus para murid-Nya kepada sang Mesias. Lebih dari itu, Yohanes ingin para muridnya mulai belajar memahami dan mengimani Yesus.

Melihat rekam jejak perjalanan Yohanes yang memiliki nama besar dan dikagumi oleh banyak orang, sangat mudah bagi dirinya untuk memanfaatkan posisi yang ia miliki untuk meraup banyak keuntungan. Yohanes bisa saja memiliki keuntungan secara ekonomi, sosial dan politik. Tidak sulit bagi dirinya untuk “menjual” keunggulan kata-katanya demi mendapatkan pundi-pundi uang. Secara sosial, Yohanes akan terus membuat dirinya “bernyala” dan semakin diakui oleh publik. Ketenaran Yohanes pasti akan lebih jauh melampaui pribadi Yesus. Secara politik, langkah Yohanes untuk meraih kekuasaan dalam jabatan duniawi tentu mendapat dukungan penuh dari semua orang. Banyak orang yang bersimpati pada jiwa kepemimpinan dan integritas pribadinya.

Tetapi semua itu tidak berlaku untuk Yohanes. Ia menyadari diri-Nya hanya sebagai seorang utusan. Tugas seorang utusan hanya mempersiapkan jalan bagi orang lain yang lebih besar dari dirinya. Tidak lebih dari itu. Dan ketika Sang Fajar itu telah tiba, Yohanes merasa bahwa tugas utamanya akan segera berakhir. Ia akan membuat dirinya semakin kecil. Dan nama Yesus akan semakin besar dan berkibar. Di hadapan para muridnya sendiri, ia pun bersaksi tentang Yesus, Putera Allah yang hidup. Ia menginginkan supaya para muridnya mau mengimani Yesus dan bila perlu menjadi murid Yesus pada suatu saat nanti. Sungguh suatu sikap rendah hati dan jiwa besar yang ditunjukkan oleh Yohanes. Ia rela turun dari panggung dunia demi memberi tempat kepada Yesus.

Bagi kita, kesaksian Yohanes ini semakin menambah iman dan kepercayaan kita akan Yesus, Putera Allah yang hidup. Ia yang datang menebus dan menyelamatkan kita dari kematian kekal. Dan kemudian menghantar kita kepada kehidupan kekal. Yesus yang datang dari sorga adalah Anak Tunggal Bapa yang menjadi manusia demi keselamatan manusia. Ia akan kembali ke sorga dengan membawa orang-orang yang percaya kepada-Nya. Janji keselamatan diberikan oleh Dia yang berasal dari Dia dan adalah sumber keselamatan itu sendiri.

Sebagai seorang manusia, acapkali kita sangat susah dan sulit untuk memberi kesaksian yang baik tentang orang lain. Kita lebih senang melihat orang lain susah dan kita juga susah melihat orang lain senang. Kita akan mudah menghakimi, mencela, menghina dan mencari kesalahan orang lain. Dan lebih mudah bagi kita untuk membanggakan pribadi dan keluarga kita. Sangat jarang kita menceritakan hal kurang baik atau tidak enak yang kita alami. Kita lebih senang menceritakan aib orang lain. Kita lebih suka gosip, rumor, berita yang tidak benar atau berita hoax. Terutama, dalam situasi pandemi Covid-19 ini, media sosial bisa menjadi senjata yang mematikan bagi kita untuk menyebarkan berita bohong dan memberi kesaksian yang tidak benar.

Yohanes telah menunjukkan spirit hidupnya yang luar biasa kepada kita. Keteladanannya dalam memberi kesaksian tentang Yesus sungguh menjadi kebanggaan tersendiri bagi kita sebagai seorang pengikut Kristus di era ini. Kita pun harus mampu menjadi Yohanes-Yohanes kecil yang selalu memberi kesaksian yang baik tentang Allah dan manusia. Dalam konteks situasi saat ini, kita bisa tampil untuk memberikan kesaksian yang baik dan benar sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki tentang Covid-19. Kita juga bisa memberi motivasi yang baik agar situasi batin orang lain menjadi aman, nyaman dan tidak takut berlebihan. Apabila tidak bisa bertemu secara langsung, media sosial bisa menjadi sarana yang baik bagi kita untuk menyampaikan kebaikan-kebaikan dan bukannya menyebarkan berita bohong. Semoga kita saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain untuk terus memberi kesaksian yang baik. Hanya dengan demikian, kita dapat meneladani pribadi Yohanes sebagai seorang utusan Tuhan. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 19 April 2020

DILAHIRKAN KEMBALI


Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:1-8) menampilkan sebuah kisah yang unik. Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi datang malam-malam untuk menemui Yesus. Mungkin saja ia mengambil waktu pada malam hari agar tidak terlihat oleh para koleganya dan orang-orang Yahudi lainnya. Tetapi yang menarik bagi kita adalah mengapa ia datang untuk berinteraksi dengan Yesus? Sebagai seorang pemimpin Yahudi, dengan memiliki segudang ilmu agama, dan sangat disegani oleh umat, tentu ada garis batas yang jelas, ia tidak boleh menemui orang sembarangan. 

Apalagi mau menemui orang sekelas Yesus, yang notabene dicap “miring” oleh para koleganya, sesama pemimpin Yahudi. Tetapi hal itu tidak menghalangi niat Nikodemus untuk menemui Yesus. Ada dua alasan yang bisa kita berikan mengapa Nikodemus mau bertemu dengan Yesus. Pertama, ia seorang yang rendah hati. Walaupun datang dari kelas sosial yang tinggi, memiliki pendidikan yang mumpuni dengan jabatan sebagai seorang ahli dan pemimpin agama, tidak membatasi niat mulianya untuk datang kepada Yesus. Kedua, Nikodemus sebenarnya seorang pengagum rahasia Yesus. Sudah sekian lama ia mengikuti sepak terjang Yesus di tengah publik. Entah itu berupa ajaran atau pun mukjizat, telah membuatnya kagum dan penasaran dengan sosok yang bernama Yesus. Ia ingin mengenal Yesus secara lebih dalam.

Nikodemus datang kepada Yesus dan menyapa Yesus sebagai rabi dan kemudian mengakui Yesus sebagai seorang utusan Allah. Sebuah sapaan yang berasal dari penglihatannya dan pendengarannya tentang figur Yesus. Mendengar pengakuan Nikodemus tersebut, Yesus menjawabnya dengan sebuah ungkapan simbolis, “.....sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Rupanya kata-kata Yesus ini membuat Nikodemus menjadi bingung. Ia menafsirkan kata-kata Yesus secara harafiah saja. Sehingga ia tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Dengan ungkapan demikian, Yesus menarik Nikodemus dalam sebuah lingkaran yang tidak hanya membuatnya mengenal Yesus sebagai rabi dan utusan Allah. Tetapi juga membuat Nikodemus untuk sungguh mengimani Yesus sebagai Putera Allah. Oleh karena itu, Nikodemus dituntut untuk lahir kembali secara baru dari air dan roh.

Yesus tidak menghendaki Nikodemus mengenal-Nya sebatas apa kata orang. Yesus menginginkan agar Nikodemus secara pribadi memiliki iman. Dilahirkan kembali berarti sebuah langkah maju dari sikap melihat, mendengar, dan beriman kepada Yesus. Dengan itu, Nikodemus akan lebih dalam mengenal siapa Yesus dan memahami karya-Nya. Melalui jalan itu pula, Nikodemus dapat melihat kehadiran Kerajaan Allah. Yesus menghendaki agar Nikodemus menjadi sungguh-sungguh percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam penyelenggaraan Allah yang telah ada dalam diri Yesus. Sebagai seorang pemimpin Yahudi yang telah “kenyang” dengan hukum taurat, Nikodemus diharapkan tidak terbelenggu dengan segala macam peraturan agama yang mengikat lalu menjadi seorang legalis-formalis yang kaku. Apalagi menjadikan tameng agama sebagai sarana untuk mencari prestise, menindas orang lain dan mengeruk keuntungan pribadi. Nikodemus harus keluar dari pusaran hidup demikian sehingga ia bisa dilahirkan kembali. Nikodemus boleh berbahagia karena mendapat “kuliah kilat” yang sungguh mencerahkan hidup imannya. Ia sungguh percaya kepada Yesus walaupun tetap menjadi pengikut rahasia sampai dengan kematian Yesus.

Pengalaman hidup Nikodemus menjadi pengalaman hidup kita secara pribadi. Bahwa dalam tataran ilmu pengetahuan, kita sungguh mengetahui sosok Yesus, baik dari Kitab Suci, bacaan-bacaan rohani yang kita baca atau pun dari penjelasan para pemimpin agama, guru, katekis, dan teolog. Tetapi secara personal, kita belum mengalami perjumpaan dan mengenal Yesus secara lebih dalam. Kita lebih banyak menuntut tanda atau mukjizat dari Yesus ketika mengalami pergumulan dan pergulatan dalam hidup kita. Dan ketika tanda atau mukjizat itu tidak ada, kita gampang menjadi putus asa dan mencari kambing hitam atas setiap persoalan hidup yang kita alami. Bahkan terkadang kita menjadi kurang percaya dan menganggap Tuhan tidak adil dalam hidup kita.

Berkaca dari setiap pengalaman dan pergulatan hidup yang kita alami, memang pantas kalau kita juga perlu dilahirkan kembali. Agar kita sungguh-sungguh menjadi beriman dan percaya kepada Yesus dalam segala situasi yang kita alami.  Entah itu situasi keberhasilan atau pun kegagalan, kita selalu melihatnya dalam terang iman. Bahwa Tuhan sungguh memainkan peran vital di dalamnya. Terutama dalam situasi badai Covic-19 yang sementara kita alami. Tuhan sementara mendewasakan iman kita sehingga kita menjadi lebih percaya dan tidak mudah putus asa. Dengan demikian, kita telah dilahirkan kembali dalam air dan roh untuk dapat melihat Kerajaan Allah. Amin.

Atanasius KD Labaona

Sabtu, 18 April 2020

BERBAHAGIALAH YANG TIDAK MELIHAT NAMUN PERCAYA


( Yoh 20 19: 31 )
Berkenan dengan proses Kanonisasi Santa Faustina Kowalska, oleh Paus Yohanes Paulus II, tepatnya tanggal, 30 April 2000. Pada saat itu  diumumkan bahwa Hari Minggu Paskah ke II dalam oktaf Paskah setelah hari ke 7 Paskah dirayakan Hari Raya Dalam Gereja Katolik.  Hari Minggu ini Umat Katolik seluruh dunia merayakan Hari Raya Kerahiman Ilahi dan Gereja Katolik diminta untuk menyelenggarakannya. Pengumuman Paus Yohanes Paulus II kemudian ditindaklanjuti oleh Kongresgasi untuk diminta beribadah dan Sakramen. Melalui Dekrit Misericos et Miserator yang diterbitkan pada tanggal 5 Mei 2000. Santa Faustina Kowalska adalah seorang biarawati yang mendapat penampakan-penampakan Yesus dan menggalakkan devosi kepada Kerahiman Ilahi.

Hari Minggu Paskah ke II disebut Hari Minggu Kerahiman Ilahi, untuk mengenang rahmat-rahmat Bapa yang penuh Kerahiman. Di Indonesia Gereja Katolik melaui KWI mencantumkan hal ini sejak tahun 2001 dalam buku Penanggalan Liturgi. Gerakan kerahiman Ilahi yang didasarkan pada pewahyuhan pribadi Tuhan kepada Santa Fautina Kowalska.  Jadi Perayaan Hari Kerahiman Ilahi dirayakan bukan manasuka namun resmi untuk Gereja Katolik seluruh dunia. Pesta Kerahiman Ilahi juga bukan peringatan untuk Santa Faustina Kowalska, sebab pada Minggu Paskah II itu tidak disebutkan sama sekali nama Santa Faustina Kowalska. Meski devosi Kerahiman Ilahi didasarkan pada wahyu pribadi yang diterima Santa Faustina, tetapi perayaan tersebut tidak harus merujuk pada devosi Kerahiman Ilahi yang digalakkan Santa Faustina.

Keselamatan ini yang perlu diwartakan melalui kata dan tindakan, cara hidup jemaaad perdana adalah contoh. Hidup bersama dalam kasih dan saling mendukung berarti mewujudkan cinta Tuhan yang Maharahim. Namun semua orang tidak menyadari kewajiban tersebut.  Iman yang lemah dapat menghambat. Contohnya adalah Tomas yang kurang percaya, namun Tuhan tetap menunjukan KerahimanNya dengan memberikan kesempatan kepada Tomas. Mengapa Tomas tidak percaya bahwa Kristus telah bangkit ?   Reaksi Tomas atas berita kebangkitan Yesus adalah cermin pola hidup banyak orang yang percaya kepada Kristus sebatas sebagai formalitas.  Untung masih ada kesempatan ke dua bagi Tomas. Penampakan Yesus yang berikutnya memurnikan Iman Tomas. 

Pemurniaan itu membuat Tomas berubah menjadi manusia baru yang siap untuk menerima tugas perutusan. Tomas diperbaharui dan menjadi Rasul yang tangguh, mewartakan cintah kepada Tuhan dan sesama sebagai kebijakan yang penting.  Pada tahun 2016 Paus Fransiskus menganjurkan untuk menghidupi Tahun Kerahiman Tuhan yakni membimbing orang yang bingun atau ragu.  Ajakan itu tidak hanya berlaku selama Tahun Kerahiman yang telah lewat tetapi kapan saja mengingat semakin banyak orang beriman yang mengalami keraguan dan krisis iman seperti Tomas. Ada banyak orang mulai ragu terhadap kebenaran iman dan Kuasa Tuhan sendiri mengalami penderitaan dan kekecewaan. Ha ini diperparah dengan berbagai berita yang tidak pasti di media social tentang kebenaran iman.  Tuhan mengutus kita untuk menghadirkan kepastian di tengah ketidak pastian.
Biarlah Israel berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"   Biarlah kaum Harun berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!"  Biarlah orang yang takut akan TUHAN berkata: "Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!" ( Mzm 118 2-4 )

Apabila sebetulnya bahaya yang dihadapi Tomas yakni Tomas dapat tumbuh dalam keyakinan bahwa kebangkitan Yesus itu tidak benar.  Andaikan itu terjadi, yang terjadi ialah proses pembekuan iman.  Benih iman itu tidak berkembang sehingga tidak menghasilkan buah. Iman yang bertumbuh dalam ketidak percayaan itu laksana makanan yang dibekukan dalam lemari pendidngin.   Makanan itu tidak rusak tetapi juga tidak berguna karena tidak diproses menjadi elemen penting penunjang kehidupan manusia.    Bahaya iman yang beku senantiasa mengancam setiap orang Kristiani.  Iman yang dituntut Yesus adalah Iman yang hidup dan berguna. Iman yang tidak diamalkan justru akan menghancurkan.  Maka iman itu akan tubuh selalu berbelas kasih kepada orang, beri kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memperbaharui diri, serta berbuat baik kepada sesama agar hidup kaum beriman dipenuhi kasih dan kebaikan.

( Yoh 20 :19 – 31 ) Ketika hari sudah malam pada hari pertama minggu itu berkumpullah murid-murid Yesus di suatu tempat dengan pintu-pintu yang terkunci karena mereka takut kepada orang-orang Yahudi. Pada waktu itu datanglah Yesus dan berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"  Dan sesudah berkata demikian, Ia menunjukkan tangan-Nya dan lambung-Nya kepada mereka. Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.  Maka kata Yesus sekali lagi: "Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu."  Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: "Terimalah Roh Kudus. 

Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada."  Tetapi Tomas, seorang dari kedua belas murid itu, yang disebut Didimus, tidak ada bersama-sama mereka, ketika Yesus datang ke situ.  Maka kata murid-murid yang lain itu kepadanya: "Kami telah melihat Tuhan!" Tetapi Tomas berkata kepada mereka: "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."  Delapan hari kemudian murid-murid Yesus berada kembali dalam rumah itu dan Tomas bersama-sama dengan mereka.

Sementara pintu-pintu terkunci, Yesus datang dan Ia berdiri di tengah-tengah mereka dan berkata: "Damai sejahtera bagi kamu!"  Kemudian Ia berkata kepada Tomas: "Taruhlah jarimu di sini dan lihatlah tangan-Ku, ulurkanlah tanganmu dan cucukkan ke dalam lambung-Ku dan jangan engkau tidak percaya lagi, melainkan percayalah."  Tomas menjawab Dia: "Ya Tuhanku dan Allahku!"   Kata Yesus kepadanya: "Karena engkau telah melihat Aku, maka engkau percaya. Berbahagialah mereka yang tidak melihat, namun percaya."  Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini,  tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.
Jk Lejab