Dalam bacaan pertama pada hari ini Allah mengadakan
perjanjian dengan Abraham. Ada beberapa poin perjanjian yang dinyatakan Allah
kepada Abraham. Pertama, Allah akan menjadikan Abraham sebagai bapa sejumlah
besar bangsa. Kedua, Allah akan membuat keturunan Abraham sangat banyak.
Ketiga, Allah akan memberikan seluruh tanah Kanaan menjadi milik Abraham dan
semua keturunannya. Kemudian Allah meminta supaya Abraham dan seluruh
keturunannya memegang perjanjian yang telah diucapkan Allah sendiri.
Allah
telah menunjukkan kasih-Nya yang luar biasa kepada Abraham. Siapa sebenarnya
Abraham? Abraham adalah leluhur bangsa Yahudi, diakui dalam iman kristiani
sebagai Bapa Bangsa, Bapa para beriman dan tokoh teladan iman kepercayaan
kepada Allah. Abraham adalah putera Terah dan lahir di Ur Kasdim. Menurut Kitab
Kejadian 25:7, ia meninggal dunia pada umur 175 tahun dan dimakamkan oleh
anaknya Ishak dan Ismael. Mulanya ia bernama Abram yang berarti Bapa yang
Agung. Kemudian Allah mengubah namanya menjadi Abraham yang berarti Bapa banyak
orang atau bapa sejumlah besar bangsa. Dalam surat Roma bab 4, Paulus
menunjukkan bahwa Abraham adalah bapa semua orang beriman, “bukan hanya mereka
yang bersunat, tetapi juga yang mengikuti jejak iman Abraham”, (Rom 4:12) (https://www.imankatolik.or.id).
Allah
telah menganurahkan kasih-Nya kepada Abraham karena Abraham juga telah
menunjukkan kesetiaannya kepada Allah. Abraham memiliki iman yang kokoh kepada
Allah. Ia tidak hanya mendengarkan perintah Allah tetapi menjalankannya dengan
penuh keyakinan. Bagi Abraham, tidak ada yang mustahil untuk tidak percaya
kepada Allah. Iman Abraham yang ditunjukkan dalam bentuk kesetiaannya kepada
Allah mendapat apresiasi dari Allah. Allah akhirnya mengganjari iman Abraham
dengan menurunkan berkat khusus. Berkat khusus itu dalam bentuk perjanjian yang
telah disampaikan oleh Allah sendiri. Abraham akan dijadikan bapa segala
bangsa. Abraham akan mempunyai keturunan yang banyak. Dan Abraham akan akan
memiliki tanah terjanji yakni tanah Kanaan. Tetapi Allah juga mensyaratkan satu
hal bahwa Abraham beserta keturunannya harus konsisten dengan tetap berlaku
setia dan tidak mengingkari janji yang telah mereka ucapkan kepada Allah.
Dalam
bacaan Injil Yesus berkata kepada orang-orang Yahudi: “Aku berkata kepadamu:
Sungguh, barangsiapa menuruti firman-Ku, ia tidak akan mengalami maut sampai
selama-lamanya.” Tetapi orang-orang Yahudi menafsir secara berbeda perkataan
Yesus bahwa Ia kerasukan setan. Orang-orang Yahudi bersikap underestimate (meremehkan) terhadap
Yesus karena hati mereka telah tertutup melihat kehadiran Allah dalam diri
Yesus. Dengan demikian, mereka tidak yakin dan tidak percaya dengan Yesus. Apa
yang dikatakan oleh Yesus dianggap sebuah kebohongan besar. Bahkan Ia dikatakan
kerasukan setan. Orang-orang Yahudi telah menyia-nyiakan kesempatan istimewa
untuk mendapat berkat khusus dari Allah melalui Yesus.
Acapkali
kita seperti orang Yahudi yang kurang/tidak percaya kepada Allah. Kita lebih
banyak mengandalkan diri kita dan mengesampingkan peran Allah dalam hidup kita.
Padahal Allah melalui diri Yesus telah menunjukkan belas kasih-Nya kepada kita
bahkan dengan wafat di kayu salib. Belajar dari pengalaman iman Abraham yang
tetap teguh kepada Allah, kita juga harus menunjukkan sikap iman yang sama
kepada Allah. Karena Allah sebenarnya tidak pernah menutup mata dengan segala
kesetiaan yang kita tunjukkan kepada-Nya. Allah akan memberikan berkat seperti
yang telah Ia berikan kepada Abraham. Kasih Allah itu tidak pernah terbatas dan
tidak akan luntur sepanjang masa walaupun kita berlaku tidak setia kepada-Nya.
Semoga dengan pengalaman badai covid 19 yang sementara kita alami ini, semakin
menguatkan iman kita untuk tetap percaya dan setia kepada Allah. Hanya dengan
iman demikian, kita dapat melihat bahwa Allah sementara menguatkan kita untuk
menghadapi bencana ini. Dan yang pasti, Ia tidak pernah meninggalkan kita
sendirian. Ia akan menyelamatkan kita dari badai corona ini. Mari kita saling
menguatkan dalam iman kepada Allah.
(Atanasius KD Labaona)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar