( Yoh 11 : 45-56 )
Sebuah
kisah cinta yang mengharukan bagi pasangan suami istri di sebuah kota kecil di
luar ibu kota kabupatennya. Suami dari Margaretha tewas kecelakaan lalu lintas dua
tahun yang lalu. Patrisius yang yang
berumur 50 tahun sedang mengendarai motornya dalam perjalan pulang ke rumah. Yang menabraknya seorang anak muda akibat
minum minuman beralkohol dan mabuk. Anak
muda itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai dua jam disana ia pun
meninggal dunia.
Yang
menjadi ironis lagi yakni, hari itu hari ulang tahun Margaretha yang ke empat puluh lima, dan Patrisius telah
memebeli dua buah tiket secara diam-diam dan ingin mengajak istrinya berlibur
ke Kelimutu saat ulah tahunnya. Ia ingin memberikan kejutan kepada istrinya.
Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk.
Banyak
kenangan tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini setiap hari, sepanjang
kehidupan perkawinannya. Pada pagi Patrisius meninggal, ia manruh kartu ulang
tahun di dapur lalu pergi diam-diam dengan sepeda motornya. Dan hari ini pada
ulang tahunku yang ke limah puluh, Bapak Patrisius, aku Margaretha, ingin
mentakan bahwa aku mencintaimu. Karena itulah aku bias tabah menghadapi
peristiwa itu. Karena aku tahu bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada
Patrisus adalah “ Aku mencintaimu “
Dalam
renungan ini kali ini bagaimana mukjizat yang dilakukan oleh Yesus di Betania
yang menjadi buah bibir dalam masyarakat Yahudi. Lasarus yang sudah empat hari terbaring
dalam kubur, di bangkitkan oleh Yesus.
Belum pernah ada orang yang dapat membangkitan orang mati. Dengan mijizat ini
Yesus memperlihatkan ke-kuasaan-Nya. Musuh terkuat yang dihantui hidup manusia
adalah kematian. Yesus menunjukan bahwa Dia memiliki kuasa untuk mengalahkan
kematian. Dengan membangkitak Lasarus, Yesus memberi “ pijakan awal “ kepada
para murid-Nya untuk memahami peristiwa Paskah.
Semntara
itu, orang-orang Farisi dan Saduki memandang mujizat itu sebagai ancaman karena
berpotensi melipat gandakan pengikut Yesus. Sedangkan peristiwa yang dialami
ibu Margareta atas kematian suaminya yang tercinta boleh dengan tabah untuk
melangkah dalam menghadapi hidup tantangan hidup ini. Peristiwa yang sangat
menyakitkan namun bukan berarti kita harus putus asa namun dengan kekuatan iman
akan Yesus Kristus bangkit untuk menyambut Paskah Kristus.
Orang-orang
Yahudi berkonspirasi dengan orang-orang Saduki yang mendominasi posisi
imam-imam kepala. Mereka memiliki agenda
yang sama untuk menyingkirkan Yesus. Kelompok Saduki khwatir pengkut Yesus
Kristus akan berkembang menjadi gerakan pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi.
Pada akhirnya pertumpahan darah akan terjadi karena kekuasaan Romawi pasti akan
menumpas gerakan semacam itu dengan keras. Bahkan mungkin saja mereka akan
menghancurkan Bait Suci yang menjadi pusat keagamaan Yahudi. Karena itu Mahkama
Agama mencari jalan untuk memadamkan perkembangan pengikut Yesus.
Kayfas Imam
Besar, menawarkan solusi: Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk
bangsa kita dari pada seluruh kita ini binasa” (Yeh 31 : 10-11) Oleh sebab itu beginilah
firman Tuhan ALLAH: Oleh karena ia tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai
ke langit dan ia menjadi sombong karena ketinggiannya, maka Aku telah
menyerahkan dia ke dalam tangan seorang berkuasa di antara bangsa-bangsa,
supaya ia memperlakukannya selaras dengan kejahatannya; Aku menghalau dia. Dengan
itu mereka mencapai kesepakatan untuk membunu Yesus.
( Yoh 11:45
-56 ) Banyak di antara orang-orang
Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah
dibuat Yesus, percaya kepada-Nya. Tetapi
ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa
yang telah dibuat Yesus itu. Lalu
imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk
berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang
itu membuat banyak mujizat.
Apabila
kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma
akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita." Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas,
Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu
apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati
untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa." Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya
sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus
akan mati untuk bangsa itu, dan bukan
untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan
anak-anak Allah yang tercerai-berai.
Mulai dari
hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia. Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka
umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat
padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal
bersama-sama murid-murid-Nya. Pada waktu
itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu
berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari
Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada
yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?" Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang
Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia
JK
Lejab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar