Sabtu, 04 April 2020

YESUS AKAN MATI DEMI MENYELAMATKAN UMATNYA.




 ( Yoh 11 : 45-56 )
Sebuah kisah cinta yang mengharukan bagi pasangan suami istri di sebuah kota kecil di luar ibu kota kabupatennya. Suami dari Margaretha tewas kecelakaan lalu lintas dua tahun yang lalu.  Patrisius yang yang berumur 50 tahun sedang mengendarai motornya dalam perjalan pulang ke rumah.  Yang menabraknya seorang anak muda akibat minum minuman beralkohol dan mabuk.  Anak muda itu masuk ruang gawat darurat, namun tidak sampai dua jam disana ia pun meninggal dunia.

Yang menjadi ironis lagi yakni, hari itu hari ulang tahun Margaretha  yang ke empat puluh lima, dan Patrisius telah memebeli dua buah tiket secara diam-diam dan ingin mengajak istrinya berlibur ke Kelimutu saat ulah tahunnya. Ia ingin memberikan kejutan kepada istrinya. Tapi ia justru tewas gara-gara seorang pengemudi mabuk. 

Banyak kenangan tentang kebiasaan mengucapkan cinta ini setiap hari, sepanjang kehidupan perkawinannya. Pada pagi Patrisius meninggal, ia manruh kartu ulang tahun di dapur lalu pergi diam-diam dengan sepeda motornya. Dan hari ini pada ulang tahunku yang ke limah puluh, Bapak Patrisius, aku Margaretha, ingin mentakan bahwa aku mencintaimu. Karena itulah aku bias tabah menghadapi peristiwa itu. Karena aku tahu bahwa kata-kata terakhir yang kuucapkan pada Patrisus adalah “ Aku mencintaimu “

Dalam renungan ini kali ini bagaimana mukjizat yang dilakukan oleh Yesus di Betania yang menjadi buah bibir dalam masyarakat Yahudi. Lasarus yang sudah empat hari terbaring dalam kubur,  di bangkitkan oleh Yesus. Belum pernah ada orang yang dapat membangkitan orang mati. Dengan mijizat ini Yesus memperlihatkan ke-kuasaan-Nya. Musuh terkuat yang dihantui hidup manusia adalah kematian. Yesus menunjukan bahwa Dia memiliki kuasa untuk mengalahkan kematian. Dengan membangkitak Lasarus, Yesus memberi “ pijakan awal “ kepada para murid-Nya untuk memahami peristiwa Paskah.

Semntara itu, orang-orang Farisi dan Saduki memandang mujizat itu sebagai ancaman karena berpotensi melipat gandakan pengikut Yesus. Sedangkan peristiwa yang dialami ibu Margareta atas kematian suaminya yang tercinta boleh dengan tabah untuk melangkah dalam menghadapi hidup tantangan hidup ini. Peristiwa yang sangat menyakitkan namun bukan berarti kita harus putus asa namun dengan kekuatan iman akan Yesus Kristus bangkit untuk menyambut Paskah Kristus.

Orang-orang Yahudi berkonspirasi dengan orang-orang Saduki yang mendominasi posisi imam-imam kepala.  Mereka memiliki agenda yang sama untuk menyingkirkan Yesus. Kelompok Saduki khwatir pengkut Yesus Kristus akan berkembang menjadi gerakan pemberontakan terhadap kekuasaan Romawi. Pada akhirnya pertumpahan darah akan terjadi karena kekuasaan Romawi pasti akan menumpas gerakan semacam itu dengan keras. Bahkan mungkin saja mereka akan menghancurkan Bait Suci yang menjadi pusat keagamaan Yahudi. Karena itu Mahkama Agama mencari jalan untuk memadamkan perkembangan pengikut Yesus. 

Kayfas Imam Besar, menawarkan solusi: Lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh kita ini binasa”  (Yeh 31 : 10-11) Oleh sebab itu beginilah firman Tuhan ALLAH: Oleh karena ia tumbuh tinggi dan puncaknya menjulang sampai ke langit dan ia menjadi sombong karena ketinggiannya, maka Aku telah menyerahkan dia ke dalam tangan seorang berkuasa di antara bangsa-bangsa, supaya ia memperlakukannya selaras dengan kejahatannya; Aku menghalau dia. Dengan itu mereka mencapai kesepakatan untuk membunu Yesus.

( Yoh 11:45 -56 )  Banyak di antara orang-orang Yahudi yang datang melawat Maria dan yang menyaksikan sendiri apa yang telah dibuat Yesus, percaya kepada-Nya.  Tetapi ada yang pergi kepada orang-orang Farisi dan menceriterakan kepada mereka, apa yang telah dibuat Yesus itu.  Lalu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi memanggil Mahkamah Agama untuk berkumpul dan mereka berkata: "Apakah yang harus kita buat? Sebab orang itu membuat banyak mujizat.  

Apabila kita biarkan Dia, maka semua orang akan percaya kepada-Nya dan orang-orang Roma akan datang dan akan merampas tempat suci kita serta bangsa kita."  Tetapi seorang di antara mereka, yaitu Kayafas, Imam Besar pada tahun itu, berkata kepada mereka: "Kamu tidak tahu apa-apa, dan kamu tidak insaf, bahwa lebih berguna bagimu, jika satu orang mati untuk bangsa kita dari pada seluruh bangsa kita ini binasa."  Hal itu dikatakannya bukan dari dirinya sendiri, tetapi sebagai Imam Besar pada tahun itu ia bernubuat, bahwa Yesus akan mati untuk bangsa itu,  dan bukan untuk bangsa itu saja, tetapi juga untuk mengumpulkan dan mempersatukan anak-anak Allah yang tercerai-berai.

Mulai dari hari itu mereka sepakat untuk membunuh Dia.  Karena itu Yesus tidak tampil lagi di muka umum di antara orang-orang Yahudi, Ia berangkat dari situ ke daerah dekat padang gurun, ke sebuah kota yang bernama Efraim, dan di situ Ia tinggal bersama-sama murid-murid-Nya.  Pada waktu itu hari raya Paskah orang Yahudi sudah dekat dan banyak orang dari negeri itu berangkat ke Yerusalem untuk menyucikan diri sebelum Paskah itu. Mereka mencari Yesus dan sambil berdiri di dalam Bait Allah, mereka berkata seorang kepada yang lain: "Bagaimana pendapatmu? Akan datang jugakah Ia ke pesta?"  Sementara itu imam-imam kepala dan orang-orang Farisi telah memberikan perintah supaya setiap orang yang tahu di mana Dia

JK Lejab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar