Selasa, 28 April 2020

IMAN YANG MENYELAMATKAN


 (Yoh 6: 35 – 40)
Hari ini kita memperingati salah seorang santa besar dalam gereja Katolik. Dia adalah Santa Katarina dari Siena, Italia. Ia lahir pada tahun 1347. Dan wafat di Roma pada tahun 1380 dalam usia yang masih sangat belia, 33 tahun. Ia dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. Santa Katarina menerima kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani sepanjang masa @katakombe.org.
 
Salah satu pengalaman iman yang meneguhkan saya secara pribadi, saya dapatkan ketika berkunjung ke Lapas Lembata dalam rangka memberikan pendampingan dan pembinaan iman kepada warga lapas yang ada di sana. Dalam suatu kesempatan, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk boleh menyampaikan motto hidup mereka secara pribadi. Dari sekian banyak orang yang berbicara, saya terkesan dengan motto salah seorang peserta. Motto hidupnya demikian: “Saya selalu membayangkan hari esok adalah kematianku sehingga membuat saya dekat dengan Tuhan.” Sungguh sebuah motto yang sederhana tetapi memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sehabis pertemuan, saya mendekati beliau dan memuji motto yang telah menjadi filosofi hidupnya itu. Dia hanya tersenyum dan mengatakan bahwa motto itu yang membuat hidupnya semakin beriman kepada Allah.

Dalam bacaan pertama (Kis 8:1b-8), oleh karena iman akan Yesus Kristus, para jemaat di Yerusalem mulai mengalami penganiayaan yang hebat. Mereka ditindas, dianiaya, dan dipaksa untuk menyangkal dan meninggalkan imannya kepada Yesus. Bukannya menyerah, para prajurit Kristus yang militan ini semakin berani menyebar ke berbagai daerah untuk mewartakan kabar gembira tentang Yesus. Semakin ditantang, mereka semakin berani. Darah martir pertama, Stefanus, telah merasuki jiwa mereka untuk tidak takut lagi. Stefanus telah membuka jalan baru bagi mereka untuk terus bergerak maju menunjukkan iman mereka kepada publik, walaupun mereka adalah sekelompok minoritas yang tidak pernah dianggap.
Salah seorang rasul, Filipus, pergi ke Samaria dan memberitakan Mesias di daerah itu. Dengan gagah berani ia menyampaikan warta tentang Kristus sambil membuat banyak tanda heran yang menggugah banyak orang. Tidak sia-sia. Banyak orang di daerah Samaria akhirnya menjadi percaya akan apa yang ia katakan. Bahkan ada seorang tukang sihir hebat, bernama Simon, yang kemudian bertobat dan mengikuti Filipus. Eksistensi Yesus yang mempresentasikan diri-Nya sebagai roti hidup telah menjadikan para murid saat itu begitu yakin dengan apa yang mereka imani. Walaupun iman mereka sempat surut akibat kematian Yesus, namun pasca kebangkitan, kepercayaan diri mereka turut bangkit untuk semakin beriman kepada Yesus.

Hari ini, di rumah ibadat Kapernaum, Yesus menegaskan diri-Nya secara benderang di hadapan publik. Bahwa Ia adalah Roti Hidup. Barangsiapa yang datang kepada-Nya, tidak akan lapar dan haus lagi. Yesus juga mengatakan bahwa Ia datang dari Sorga karena diutus oleh Bapa-Nya di sorga. Ia datang untuk melakukan kehendak Bapa-Nya di Sorga untuk menerima dan menyelamatkan orang yang datang kepada-Nya. Itu dilakukan-Nya karena tidak hanya kasih Allah yang demikian besar kepada umat manusia. Tetapi Yesus ingin semua umat manusia menjadi selamat. Keselamatan itu mulai diperoleh manusia saat manusia berada di bumi dan mengalami kepenuhannya saat manusia mati. Manusia akan mendapatkan keselamatan kekal. Yesus tidak ingin manusia menjadi tidak percaya dan akhirnya menjadi tidak selamat. Karena itu, tanpa henti Yesus terus memberi tawaran dan mengajak orang untuk percaya dan mengikuti kehendak Allah yang telah menyata dalam diri-Nya.

Namun, walaupun Yesus sudah menegaskan diri-Nya sebagai roti hidup yang telah turun dari sorga, rasa pesimis dan skeptis tetap menghantui pikiran banyak orang, terutama para pemimpin agama kala itu. Ketidakpercayaan yang dimiliki dilatari oleh sikap iri hati, sikap congkak dan ekslusivisme diri. Mereka tidak percaya dengan Yesus karena mereka tahu latar kehidupan Yesus dari keluarga Nazaret yang miskin dan sederhana. Dengan demikian, mereka menjadi iri hati dengan keunggulan kata-kata dan kehebatan tanda-tanda yang dilakukan Yesus. Mereka seakan tidak percaya dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki oleh Yesus; dan sebaliknya tidak mereka miliki. Mereka adalah kelompok orang yang congkak, yang merasa diri paling hebat dan benar. Mereka tidak mau ada orang yang menyaingi atau melampaui kapasitas diri yang telah mereka miliki. Oleh karena itu, mereka menutup diri terhadap aliran rahmat yang diberikan oleh Allah melalui Yesus.

Mungkin kita juga memiliki pengalaman iman yang setengah-setengah kepada Tuhan. Kita lebih banyak mengandalkan kekuatan dan kehebatan diri sembari melupakan kekuatan Tuhan yang telah mengangkat kita. Pada kesempatan yang berahmat ini, kita semua sungguh diteguhkan untuk tidak ragu-ragu lagi kepada Dia yang telah menjadi roti hidup bagi kehidupan kita. Bersama Santa Katarina dari Siena, kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia agar hidup kita menjadi selamat. Tidak hanya pada kehidupan fana ini. Tetapi pada kehidupan kelak nanti. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar