(Yoh 6: 35 – 40)
Hari ini kita memperingati salah seorang santa besar dalam gereja Katolik.
Dia adalah Santa Katarina dari Siena, Italia. Ia lahir pada tahun 1347. Dan
wafat di Roma pada tahun 1380 dalam usia yang masih sangat belia, 33 tahun. Ia
dinyatakan kudus oleh Paus Pius II pada tahun 1461. Pada tahun 1970, Paus
Paulus VI mengangkatnya sebagai Pujangga Gereja. Santa Katarina menerima
kehormatan besar ini karena ia melayani Gereja Kristus dengan gagah berani
sepanjang masa @katakombe.org.
Salah satu pengalaman iman yang meneguhkan saya secara pribadi, saya
dapatkan ketika berkunjung ke Lapas Lembata dalam rangka memberikan
pendampingan dan pembinaan iman kepada warga lapas yang ada di sana. Dalam
suatu kesempatan, saya memberikan kesempatan kepada mereka untuk boleh
menyampaikan motto hidup mereka secara pribadi. Dari sekian banyak orang yang
berbicara, saya terkesan dengan motto salah seorang peserta. Motto hidupnya
demikian: “Saya selalu membayangkan hari esok adalah kematianku sehingga
membuat saya dekat dengan Tuhan.” Sungguh sebuah motto yang sederhana tetapi
memiliki kandungan makna yang sangat dalam. Sehabis pertemuan, saya mendekati
beliau dan memuji motto yang telah menjadi filosofi hidupnya itu. Dia hanya
tersenyum dan mengatakan bahwa motto itu yang membuat hidupnya semakin beriman
kepada Allah.
Dalam bacaan pertama (Kis 8:1b-8), oleh karena iman akan Yesus Kristus,
para jemaat di Yerusalem mulai mengalami penganiayaan yang hebat. Mereka
ditindas, dianiaya, dan dipaksa untuk menyangkal dan meninggalkan imannya
kepada Yesus. Bukannya menyerah, para prajurit Kristus yang militan ini semakin
berani menyebar ke berbagai daerah untuk mewartakan kabar gembira tentang Yesus.
Semakin ditantang, mereka semakin berani. Darah martir pertama, Stefanus, telah
merasuki jiwa mereka untuk tidak takut lagi. Stefanus telah membuka jalan baru
bagi mereka untuk terus bergerak maju menunjukkan iman mereka kepada publik,
walaupun mereka adalah sekelompok minoritas yang tidak pernah dianggap.
Salah seorang rasul, Filipus, pergi ke Samaria dan memberitakan Mesias di
daerah itu. Dengan gagah berani ia menyampaikan warta tentang Kristus sambil
membuat banyak tanda heran yang menggugah banyak orang. Tidak sia-sia. Banyak
orang di daerah Samaria akhirnya menjadi percaya akan apa yang ia katakan.
Bahkan ada seorang tukang sihir hebat, bernama Simon, yang kemudian bertobat
dan mengikuti Filipus. Eksistensi Yesus yang mempresentasikan diri-Nya sebagai
roti hidup telah menjadikan para murid saat itu begitu yakin dengan apa yang
mereka imani. Walaupun iman mereka sempat surut akibat kematian Yesus, namun
pasca kebangkitan, kepercayaan diri mereka turut bangkit untuk semakin beriman
kepada Yesus.
Hari ini, di rumah ibadat Kapernaum, Yesus menegaskan diri-Nya secara
benderang di hadapan publik. Bahwa Ia adalah Roti Hidup. Barangsiapa yang
datang kepada-Nya, tidak akan lapar dan haus lagi. Yesus juga mengatakan bahwa
Ia datang dari Sorga karena diutus oleh Bapa-Nya di sorga. Ia datang untuk
melakukan kehendak Bapa-Nya di Sorga untuk menerima dan menyelamatkan orang
yang datang kepada-Nya. Itu dilakukan-Nya karena tidak hanya kasih Allah yang
demikian besar kepada umat manusia. Tetapi Yesus ingin semua umat manusia
menjadi selamat. Keselamatan itu mulai diperoleh manusia saat manusia berada di
bumi dan mengalami kepenuhannya saat manusia mati. Manusia akan mendapatkan
keselamatan kekal. Yesus tidak ingin manusia menjadi tidak percaya dan akhirnya
menjadi tidak selamat. Karena itu, tanpa henti Yesus terus memberi tawaran dan
mengajak orang untuk percaya dan mengikuti kehendak Allah yang telah menyata
dalam diri-Nya.
Namun, walaupun Yesus sudah menegaskan diri-Nya sebagai roti hidup yang
telah turun dari sorga, rasa pesimis dan skeptis tetap menghantui pikiran
banyak orang, terutama para pemimpin agama kala itu. Ketidakpercayaan yang
dimiliki dilatari oleh sikap iri hati, sikap congkak dan ekslusivisme diri.
Mereka tidak percaya dengan Yesus karena mereka tahu latar kehidupan Yesus dari
keluarga Nazaret yang miskin dan sederhana. Dengan demikian, mereka menjadi iri
hati dengan keunggulan kata-kata dan kehebatan tanda-tanda yang dilakukan
Yesus. Mereka seakan tidak percaya dengan kemampuan luar biasa yang dimiliki
oleh Yesus; dan sebaliknya tidak mereka miliki. Mereka adalah kelompok orang
yang congkak, yang merasa diri paling hebat dan benar. Mereka tidak mau ada
orang yang menyaingi atau melampaui kapasitas diri yang telah mereka miliki.
Oleh karena itu, mereka menutup diri terhadap aliran rahmat yang diberikan oleh
Allah melalui Yesus.
Mungkin kita juga memiliki pengalaman iman yang setengah-setengah kepada
Tuhan. Kita lebih banyak mengandalkan kekuatan dan kehebatan diri sembari
melupakan kekuatan Tuhan yang telah mengangkat kita. Pada kesempatan yang
berahmat ini, kita semua sungguh diteguhkan untuk tidak ragu-ragu lagi kepada
Dia yang telah menjadi roti hidup bagi kehidupan kita. Bersama Santa Katarina
dari Siena, kita menyerahkan diri kita sepenuhnya kepada Dia agar hidup kita
menjadi selamat. Tidak hanya pada kehidupan fana ini. Tetapi pada kehidupan
kelak nanti. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar