Jumat, 10 April 2020

YESUS DI HUKUM HINGGA WAFAT DISALIB


Yoh 19 16b – 30.
Penyaliban adalah hukuman bengis dan kejam serta kebodohan bagi orang Yunani dan Yahudi. Kebodohan itu dilakukan oleh orang-orang yang merasa diri suci di hadapat Allah. Bagaimana kejadian itu dapat dibayangkan tangisan  dari mulut seorang ibu Maria dan semua orang yang berada di kaki salib 2020 tahun yang silam ? Kata-kata yang keluar dari mulut,  “ sudah selesai. “ Bisa juga Penderitaan yang hebat yang telah dilalui membuat Maria tidak sanggup menangis lagi. Film Mel Gibson The Passion of the Crist. Realitas ini terlalu menyakitkan bagi manusia. Film ini menampilkan kisah sengsara Tuhan yang penuh berlumuran darah. Yesus didakwa menghujat Allah sehingga Imam-Imam Kepala dan orang-orang Farisi memaksa Pilatus untuk menjatuhi hukuman mati bagi Yesus. Pilatus duduk dikursi pengadilan dengan kuasa penuh.  Ia bisa membebaskan Yesus, dan juga bisa menjatuhi hukuman mati kepadanya.  Jika Pilatus mendengar kebenaran yang mengusik hatinya, ia akan membebaskan Yesus. Tetapi ia tidak melakukannya.  Ia terjebak dalam irama politik yang dimaikan oleh pemuka-pemuka Yahudi.  Suara hatinya berkata lain, tetapi kepentingan politik telah membunuhnya. 

Perbuatan Pilatus yang melawan hati nuraninya,  kadang kitemukan dalam masyarakat dewasaa ini seperti seorang Hakim bertarung melawan suara hatinya sendiri ketika akan menjatuhi vonis bagi seorang janda tua yang mencuri pisang dua sisir untuk memberi makan cucunya yang kelaparan. Nenek tahu bahwa mencuri itu salah, tetapi ia sadar kalau masyarakat sudah tidak berlaku adil karena melalaikan hidup perempuan tua itu. Maka iapun menjatuhi hukuman dengan denda satu juta rupiah. Anehnya siterdakwa langsung bebas karena uang denda itu langsung dibayar oleh hakim itu sendiri. Kisah ini telah tersebar diberbagai media sosial saat ini. Inti pesan ini adalah bahwa orang yang mendengar kebenaran akan melakukannya juga.

“ Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah ”, Kata Yesus kepada Nikodemus,  ( Yoh 3: 3 )  Ternyata kelahiran baru  itu harus melewati salib dan kematian. Maka Ia juga menggenapi sendiri kata-katanya kepada Nikodemus, “ Seperti musa meninggikan ular di padang gurun, demikia anak manusia harus di tinggikan, supaya setia orang yang percaya kepadaNya beroleh hidup yang kekal ”  ( Yoh 3 :14 -15 )  Kita memandang tubuh yang tersalib ini dengan tanda tanya.  Satu kebodohan, atau berkat ? Kedua-duanya benar dari perspektif sendiri-sendiri. Kebodohan bagi yang tak percaya kepada Kristus, rahmat bagi kita yang percaya pada keselamatan yang diwartakan lewat peristiwa penyalipan di Gunung Golgota.

Salib adalah sebuah batu sandung dan kebodohan bagi orang Yunani dan Yahudi tetapi kekuatan dan hikmat Allah untuk orang yang percaya,  demikian kata Santo Paulus ( 1 Kor 1 :23-24 ) Dasar pemikiran Paulus ini mendorong kita untuk melihat salib Kristus sebagai tanda kemuliaan dan kemenangan.  Bagi para musuhNya, penyaliban adalah puncak kekalahan Yesus. Mereka mencibirnya sebagai Mesis palsu. Bagi umat Kristiani kita percaya, salib adalah jalan kemuliaan dan keselamatan. Dengan wafat disalib Yesus mengalirkan rahmat penebusan. Dia rela mengurbankan diriNya demi keselamatan manusia. Yesus memberi teladan sempurna ketaatan kepada kehendak Bapa. 

 Disini penderitaan berubah makna karena buah yang dilahirkan ia keselamatan.  Karena itu memikul salib tidak lagi menjadi suatu lambang penderitaan melainkan berubah menjadi tanda kemenangan dan kemuliaan dalam wujud kasih nan agung. Yesus mati sebagai orang benar. Ia dihukum bukan karena kelalaian atau kebodohan sendiri tetapi karena cintaNya kepada umat manusia. Inilah makna salib Kristus sesungguuhnya.  Mungkin kita hanya mengartikan salib hanya sebatas penderitaan atau nasib sial yang disebabkan oleh kesalahan atau kebodohan kita sendiri. Oleh karena itu Yesus menghendaki agar kita berani berkorban dan menderita demi kebaikan sesama kita, keluarga, sahabat, rekan kerja, gereja, Negara dan termasuk orsng-orang yang memusuhi kita.

( Yoh 19:16b – 30 ) Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota.  Dan di situ Ia disalibkan mereka dan bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah, Yesus di tengah-tengah.  Dan Pilatus menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus, orang Nazaret, Raja orang Yahudi."  Banyak orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa Latin dan bahasa Yunani.  Maka kata imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi."  Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap tertulis."  Sesudah prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya satu tenunan saja.   

Karena itu mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan prajurit-prajurit itu.  Dan dekat salib Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena.  Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: "Ibu, inilah, anakmu!"  Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.  Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --: "Aku haus!"  Di situ ada suatu bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus.  Sesudah Yesus meminum anggur asam itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya dan menyerahkan nyawa-Nya.
JK Lejab

Tidak ada komentar:

Posting Komentar