Yoh 19 16b – 30.
Penyaliban adalah hukuman bengis dan kejam serta
kebodohan bagi orang Yunani dan Yahudi. Kebodohan itu dilakukan oleh
orang-orang yang merasa diri suci di hadapat Allah. Bagaimana kejadian itu
dapat dibayangkan tangisan dari mulut
seorang ibu Maria dan semua orang yang berada di kaki salib 2020 tahun yang
silam ? Kata-kata yang keluar dari mulut, “ sudah selesai. “ Bisa juga Penderitaan yang
hebat yang telah dilalui membuat Maria tidak sanggup menangis lagi. Film Mel
Gibson The Passion of the Crist. Realitas ini terlalu menyakitkan bagi manusia.
Film ini menampilkan kisah sengsara Tuhan yang penuh berlumuran darah. Yesus
didakwa menghujat Allah sehingga Imam-Imam Kepala dan orang-orang Farisi
memaksa Pilatus untuk menjatuhi hukuman mati bagi Yesus. Pilatus duduk dikursi pengadilan
dengan kuasa penuh. Ia bisa membebaskan
Yesus, dan juga bisa menjatuhi hukuman mati kepadanya. Jika Pilatus mendengar kebenaran yang mengusik
hatinya, ia akan membebaskan Yesus. Tetapi ia tidak melakukannya. Ia terjebak dalam irama politik yang dimaikan
oleh pemuka-pemuka Yahudi. Suara hatinya
berkata lain, tetapi kepentingan politik telah membunuhnya.
Perbuatan Pilatus yang melawan hati nuraninya, kadang kitemukan dalam masyarakat dewasaa ini seperti seorang Hakim bertarung melawan suara hatinya sendiri ketika akan menjatuhi vonis bagi seorang janda tua yang mencuri pisang dua sisir untuk memberi makan cucunya yang kelaparan. Nenek tahu bahwa mencuri itu salah, tetapi ia sadar kalau masyarakat sudah tidak berlaku adil karena melalaikan hidup perempuan tua itu. Maka iapun menjatuhi hukuman dengan denda satu juta rupiah. Anehnya siterdakwa langsung bebas karena uang denda itu langsung dibayar oleh hakim itu sendiri. Kisah ini telah tersebar diberbagai media sosial saat ini. Inti pesan ini adalah bahwa orang yang mendengar kebenaran akan melakukannya juga.
Perbuatan Pilatus yang melawan hati nuraninya, kadang kitemukan dalam masyarakat dewasaa ini seperti seorang Hakim bertarung melawan suara hatinya sendiri ketika akan menjatuhi vonis bagi seorang janda tua yang mencuri pisang dua sisir untuk memberi makan cucunya yang kelaparan. Nenek tahu bahwa mencuri itu salah, tetapi ia sadar kalau masyarakat sudah tidak berlaku adil karena melalaikan hidup perempuan tua itu. Maka iapun menjatuhi hukuman dengan denda satu juta rupiah. Anehnya siterdakwa langsung bebas karena uang denda itu langsung dibayar oleh hakim itu sendiri. Kisah ini telah tersebar diberbagai media sosial saat ini. Inti pesan ini adalah bahwa orang yang mendengar kebenaran akan melakukannya juga.
“ Jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak
dapat melihat Kerajaan Allah ”, Kata Yesus kepada Nikodemus, ( Yoh 3: 3 )
Ternyata kelahiran baru itu harus
melewati salib dan kematian. Maka Ia juga menggenapi sendiri kata-katanya
kepada Nikodemus, “ Seperti musa meninggikan ular di padang gurun, demikia anak
manusia harus di tinggikan, supaya setia orang yang percaya kepadaNya beroleh
hidup yang kekal ” ( Yoh 3 :14 -15 ) Kita memandang tubuh yang tersalib ini dengan
tanda tanya. Satu kebodohan, atau berkat
? Kedua-duanya benar dari perspektif sendiri-sendiri. Kebodohan bagi yang tak
percaya kepada Kristus, rahmat bagi kita yang percaya pada keselamatan yang
diwartakan lewat peristiwa penyalipan di Gunung Golgota.
Salib adalah sebuah batu sandung dan kebodohan bagi
orang Yunani dan Yahudi tetapi kekuatan dan hikmat Allah untuk orang yang
percaya, demikian kata Santo Paulus ( 1
Kor 1 :23-24 ) Dasar pemikiran Paulus ini mendorong kita untuk melihat salib
Kristus sebagai tanda kemuliaan dan kemenangan. Bagi para musuhNya, penyaliban adalah puncak
kekalahan Yesus. Mereka mencibirnya sebagai Mesis palsu. Bagi umat Kristiani kita
percaya, salib adalah jalan kemuliaan dan keselamatan. Dengan wafat disalib
Yesus mengalirkan rahmat penebusan. Dia rela mengurbankan diriNya demi
keselamatan manusia. Yesus memberi teladan sempurna ketaatan kepada kehendak Bapa.
Disini penderitaan berubah makna karena buah yang
dilahirkan ia keselamatan. Karena itu
memikul salib tidak lagi menjadi suatu lambang penderitaan melainkan berubah
menjadi tanda kemenangan dan kemuliaan dalam wujud kasih nan agung. Yesus mati
sebagai orang benar. Ia dihukum bukan karena kelalaian atau kebodohan sendiri
tetapi karena cintaNya kepada umat manusia. Inilah makna salib Kristus
sesungguuhnya. Mungkin kita hanya
mengartikan salib hanya sebatas penderitaan atau nasib sial yang disebabkan
oleh kesalahan atau kebodohan kita sendiri. Oleh karena itu Yesus menghendaki
agar kita berani berkorban dan menderita demi kebaikan sesama kita, keluarga,
sahabat, rekan kerja, gereja, Negara dan termasuk orsng-orang yang memusuhi
kita.
( Yoh 19:16b
– 30 ) Mereka menerima Yesus. Sambil memikul salib-Nya Ia pergi ke luar ke
tempat yang bernama Tempat Tengkorak, dalam bahasa Ibrani: Golgota. Dan di situ Ia disalibkan mereka dan
bersama-sama dengan Dia disalibkan juga dua orang lain, sebelah-menyebelah,
Yesus di tengah-tengah. Dan Pilatus
menyuruh memasang juga tulisan di atas kayu salib itu, bunyinya: "Yesus,
orang Nazaret, Raja orang Yahudi." Banyak
orang Yahudi yang membaca tulisan itu, sebab tempat di mana Yesus disalibkan
letaknya dekat kota dan kata-kata itu tertulis dalam bahasa Ibrani, bahasa
Latin dan bahasa Yunani. Maka kata
imam-imam kepala orang Yahudi kepada Pilatus: "Jangan engkau menulis: Raja
orang Yahudi, tetapi bahwa Ia mengatakan: Aku adalah Raja orang Yahudi." Jawab Pilatus: "Apa yang kutulis, tetap
tertulis." Sesudah
prajurit-prajurit itu menyalibkan Yesus, mereka mengambil pakaian-Nya lalu
membaginya menjadi empat bagian untuk tiap-tiap prajurit satu bagian dan
jubah-Nya juga mereka ambil. Jubah itu tidak berjahit, dari atas ke bawah hanya
satu tenunan saja.
Karena itu
mereka berkata seorang kepada yang lain: "Janganlah kita membaginya
menjadi beberapa potong, tetapi baiklah kita membuang undi untuk menentukan
siapa yang mendapatnya." Demikianlah hendaknya supaya genaplah yang ada
tertulis dalam Kitab Suci: "Mereka membagi-bagi pakaian-Ku di antara
mereka dan mereka membuang undi atas jubah-Ku." Hal itu telah dilakukan
prajurit-prajurit itu. Dan dekat salib
Yesus berdiri ibu-Nya dan saudara ibu-Nya, Maria, isteri Klopas dan Maria
Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya
dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya:
"Ibu, inilah, anakmu!" Kemudian
kata-Nya kepada murid-murid-Nya: "Inilah ibumu!" Dan sejak saat itu
murid itu menerima dia di dalam rumahnya.
Sesudah itu, karena Yesus tahu, bahwa segala sesuatu telah selesai,
berkatalah Ia -- supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci --:
"Aku haus!" Di situ ada suatu
bekas penuh anggur asam. Maka mereka mencucukkan bunga karang, yang telah
dicelupkan dalam anggur asam, pada sebatang hisop lalu mengunjukkannya ke mulut
Yesus. Sesudah Yesus meminum anggur asam
itu, berkatalah Ia: "Sudah selesai." Lalu Ia menundukkan kepala-Nya
dan menyerahkan nyawa-Nya.
JK Lejab

Tidak ada komentar:
Posting Komentar