Kali ini kita akan
belajar dari dua tokoh yang diantara Tuhan Yesus, yaitu Maria dan Yudas
Iskariot. Jujur saja, tidak akan ada orangtua
yang mau anaknya jadi seperti Yudas Iskariot. Tidak dalam peran drama Jumat
Agung atau Paskah Sekolah Minggu di gereja, apalagi dalam kehidupan nyata.
Yudas memang meninggalkan kesan dan teladan yang amat negatif.
Hari itu adalah kira-kira seminggu
menjelang Tuhan Yesus merayakan Paskah terakhir selama hidup-Nya di dunia.
Beberapa waktu yang lalu orang-orang ramai membicarakan Lazarus yang mati tapi
kemudian dibangkitkan oleh Yesus. Maka mereka mengadakan perjamuan makan untuk
Dia (ay.2). Tiba-tiba, Maria mengambil setengah kati (setengah liter) minyak
narwastu yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan
rambutnya (ay.3). Tentu saja, bau minyak semerbak memenuhi ruangan itu. Anda
dapat membayangkan ruangan yang tadinya penuh dengan perbincangan kini semua
tatapan mata tertuju kepada satu sosok saja, Maria. Yudas juga memperhatikan
Maria, tepatnya apa yang Maria bawa.
Yudas menyayangkan sikap Maria yang
menghambur-hamburkan minyak yang mahal itu. Padahal, menurut Yudas, minyak itu
bisa dijual seharga 300 dinar (upah setahun kerja dalam konteks Yahudi pada
waktu itu) dan uangnya dapat dibagi-bagikan kepada orang miskin (ay.5). Protes
Yudas terdengar sangat penuh perhatian, seolah-olah ia peduli dengan nasib
rakyat miskin. Tapi Alkitab menjelaskan: “Hal itu dikatannya bukan karena ia
memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang
pencuri; ia sering mengambil uang yang ada dalam kas yang dipegangnya” (ay.6).
Hati Yudas melekat pada uang. Ia terbiasa mengambil kesempatan dalam
kesempitan. Awalnya, ia menguasai uang; kemudian, uang menguasai hatinya.
Awalnya, ia mencuri uang; kemudian uang mencuri hatinya. Akhirnya, Ia jadikan
Yesus alat untuk memperkaya dirinya sendiri.
Berbeda sekali dengan Maria yang
datang bersujud dan mempersembahkan minyak yang mahal tanpa merasa rugi atau
kehilangan karena Maria tahu bahwa Yesus adalah segala-galanya dalam hidupnya.
Hati Maria adalah hati yang tulus menyembah dan mengasihi Yesus
sedalam-dalamnya. Dan Tuhan Yesus memuji sikap Maria ini. Ia bahkan mengatakan:
“Sesungguhnya, dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang
dilakukannya ini akan terus disebut juga untuk mengingat dia” (Mat. 26:13).
Sementara Yudas terus diingat karena berbagai kejahatan dan pengkhianatannya,
Maria diingat karena kasih dan penyembahannya. Bagi Yudas, Yesus adalah alat
untuk dimanfaatkan; tetapi bagi Maria, Yesus adalah Allah yang patut disembah.
Tuhan menjauhkan dari kita hati Yudas yang egois dan keras dan memberikan kita
hati Maria yang tulus dan penuh penyembahan. Seberapa besar kasih kita kepada
Tuhan Yesus akan menentukan seberapa aman pengaruh harta terhadap hati dan
hidup kita. seberapa jauh kita memberikan sebagian dari harta dan uang yang
kita miliki untuk Tuhan, untuk Gereja. Cinta akan uang itu membutakan Yudas
dari keindahan perbuatan Maria. Yudas tidak mengerti perbuatan Maria, keindahan
hati Maria, malah me-rebuke Maria. Mungkinkah hati kita itu seperti Yudas
yang merasa bahwa mencintai Tuhan itu adalah suatu pemborosan?
Biarlah kita boleh belajar hari ini
dan mengoreksi hati kita, betulkah kita sungguh-sungguh mengenal akan Kristus
sebagai Tuhan yang berharga lebih dari segala sesuatu? Betulkah kita mencintai
Dia? Betulkah apa yang kita kerjakan dan lakukan, bagaimana kita memakai uang
kita menyatakan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, menempatkan Dia
lebih daripada segala-galanya?Jangan ada di antara kita yang terjebak di dalam
cinta akan uang yang akhirnya menghancurkan diri kita dan membuat kita binasa. Kiranya
hati kita berdoa demikian: Beri
aku hati untuk menyembah-Mu, Beri aku hati untuk mengasihi-Mu, Beri aku hati
memuji-Mu dan mengasihi Engkau, seperti wanita yang datang mengurapi-Mu.
Perbuatan Maria ini
menjadi refleksi yang sangat berharga dalam kehidupan rohani kita, bagaimana
kita mampu menyangkal diri untuk melakukan Firman Tuhan, mampu untuk
mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan yaitu hidup untuk Firman, bagaimana kita mampu memperlihatkan kasih kepada Allah dengan mampu
mengorbankan ego yang selalu mempertahankan kebenaran yang ada pada kita
sehingga kita tidak bisa lagi saling menerima satu dengan yang lain. Perbuatan
Maria ini mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dalam Markus 14:9
dikatakan: “sesungguhnya dimana saja Injil
diberitakan diseluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk
mengingat dia”. Bahwa Tuhan meninggikan Maria yang mau menyangkal
dirinya dihadapan Tuhan, seperti Yesus katakana dalam Lukas 14: 11 “Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan
barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan”.
Mari kita mempersembahkan seluruh diri kita, keluarga kita, masyarakat kita
dalam perlindungan Tuhan. Tuhan mencintai setiap orang yang selalu memberi hati
bagi-Nya. *** Daniel Kuma****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar