Jumat, 24 April 2020

BELAJAR DARI DAN MARIA


Kali ini kita akan belajar dari dua tokoh yang diantara Tuhan Yesus, yaitu Maria dan Yudas Iskariot. Jujur saja, tidak akan ada orangtua yang mau anaknya jadi seperti Yudas Iskariot. Tidak dalam peran drama Jumat Agung atau Paskah Sekolah Minggu di gereja, apalagi dalam kehidupan nyata. Yudas memang meninggalkan kesan dan teladan yang amat negatif.
Hari itu adalah kira-kira seminggu menjelang Tuhan Yesus merayakan Paskah terakhir selama hidup-Nya di dunia. Beberapa waktu yang lalu orang-orang ramai membicarakan Lazarus yang mati tapi kemudian dibangkitkan oleh Yesus. Maka mereka mengadakan perjamuan makan untuk Dia (ay.2). Tiba-tiba, Maria mengambil setengah kati (setengah liter) minyak narwastu yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya (ay.3). Tentu saja, bau minyak semerbak memenuhi ruangan itu. Anda dapat membayangkan ruangan yang tadinya penuh dengan perbincangan kini semua tatapan mata tertuju kepada satu sosok saja, Maria. Yudas juga memperhatikan Maria, tepatnya apa yang Maria bawa.

Yudas menyayangkan sikap Maria yang menghambur-hamburkan minyak yang mahal itu. Padahal, menurut Yudas, minyak itu bisa dijual seharga 300 dinar (upah setahun kerja dalam konteks Yahudi pada waktu itu) dan uangnya dapat dibagi-bagikan kepada orang miskin (ay.5). Protes Yudas terdengar sangat penuh perhatian, seolah-olah ia peduli dengan nasib rakyat miskin. Tapi Alkitab menjelaskan: “Hal itu dikatannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang ada dalam kas yang dipegangnya” (ay.6). Hati Yudas melekat pada uang. Ia terbiasa mengambil kesempatan dalam kesempitan. Awalnya, ia menguasai uang; kemudian, uang menguasai hatinya. Awalnya, ia mencuri uang; kemudian uang mencuri hatinya. Akhirnya, Ia jadikan Yesus alat untuk memperkaya dirinya sendiri.

Berbeda sekali dengan Maria yang datang bersujud dan mempersembahkan minyak yang mahal tanpa merasa rugi atau kehilangan karena Maria tahu bahwa Yesus adalah segala-galanya dalam hidupnya. Hati Maria adalah hati yang tulus menyembah dan mengasihi Yesus sedalam-dalamnya. Dan Tuhan Yesus memuji sikap Maria ini. Ia bahkan mengatakan: “Sesungguhnya, dimana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan terus disebut juga untuk mengingat dia” (Mat. 26:13). Sementara Yudas terus diingat karena berbagai kejahatan dan pengkhianatannya, Maria diingat karena kasih dan penyembahannya. Bagi Yudas, Yesus adalah alat untuk dimanfaatkan; tetapi bagi Maria, Yesus adalah Allah yang patut disembah. Tuhan menjauhkan dari kita hati Yudas yang egois dan keras dan memberikan kita hati Maria yang tulus dan penuh penyembahan. Seberapa besar kasih kita kepada Tuhan Yesus akan menentukan seberapa aman pengaruh harta terhadap hati dan hidup kita. seberapa jauh kita memberikan sebagian dari harta dan uang yang kita miliki untuk Tuhan, untuk Gereja. Cinta akan uang itu membutakan Yudas dari keindahan perbuatan Maria. Yudas tidak mengerti perbuatan Maria, keindahan hati Maria, malah me-rebuke Maria.  Mungkinkah hati kita itu seperti Yudas yang merasa bahwa mencintai Tuhan itu adalah suatu pemborosan?

Biarlah kita boleh belajar hari ini dan mengoreksi hati kita, betulkah kita sungguh-sungguh mengenal akan Kristus sebagai Tuhan yang berharga lebih dari segala sesuatu? Betulkah kita mencintai Dia? Betulkah apa yang kita kerjakan dan lakukan, bagaimana kita memakai uang kita menyatakan bahwa kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, menempatkan Dia lebih daripada segala-galanya?Jangan ada di antara kita yang terjebak di dalam cinta akan uang yang akhirnya menghancurkan diri kita dan membuat kita binasa. Kiranya hati kita berdoa demikian: Beri aku hati untuk menyembah-Mu, Beri aku hati untuk mengasihi-Mu, Beri aku hati memuji-Mu dan mengasihi Engkau, seperti wanita yang datang mengurapi-Mu.

Perbuatan Maria ini menjadi refleksi yang sangat berharga dalam kehidupan rohani kita, bagaimana kita mampu menyangkal diri untuk melakukan Firman Tuhan, mampu untuk mempersembahkan yang terbaik untuk Tuhan yaitu hidup untuk Firman, bagaimana kita mampu memperlihatkan kasih kepada Allah dengan mampu mengorbankan ego yang selalu mempertahankan kebenaran yang ada pada kita sehingga kita tidak bisa lagi saling menerima satu dengan yang lain. Perbuatan Maria ini mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dalam Markus 14:9 dikatakan: “sesungguhnya dimana saja Injil diberitakan diseluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia”. Bahwa Tuhan meninggikan Maria yang mau menyangkal dirinya dihadapan Tuhan, seperti Yesus katakana dalam Lukas 14: 11 “Siapa yang meninggikan diri akan direndahkan dan barangsiapa yang merendahkan diri akan ditinggikan”. Mari kita mempersembahkan seluruh diri kita, keluarga kita, masyarakat kita dalam perlindungan Tuhan. Tuhan mencintai setiap orang yang selalu memberi hati bagi-Nya.  *** Daniel Kuma****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar