Yoh 6:22-29
Ada seorang sahabat saya, yang kini sudah menjadi seorang imam (pastor)
dari Serikat Sabda Allah (SVD). Namanya Pater Jimmy M. Hayong, SVD. Beliau
adalah seorang misionaris yang sementara bermisi di negara Mosambique, Afrika.
Lebih tepatnya di Mosambique bagian utara, di Paroki Liupo dan Mogincual,
Keuskupan Niacala, Provinsi Nampula. Dalam sebuah sharingnya kepada kami para
sahabatnya, yang tergabung dalam grup Sesado 1998, beliau membagikan
pengalamannya saat berada di tanah misi. Kurang lebih tujuh tahun ia berkarya
di dua paroki, Liupo dan Mogincual, dengan segala keterbatasan dan kemiskinan
yang ada di wilayah tersebut. Beruntung ia dengan cepat menguasai bahasa
Portugis (bahasa nasional Mosambique) dan bahasa lokal setempat. Sehingga ia
bisa beradaptasi dengan umat dan budaya setempat. Walaupun tentu ada banyak
kesukaran dan hambatan yang ia hadapi. Hal yang patut disyukuri adalah bahwa ia
diterima dengan baik, tidak hanya oleh rekan-rekan imamnya tetapi juga oleh umat
yang ia layani.
Para orang tua, orang dewasa, kaum muda, sampai anak-anak yang kelihatan
begitu sederhana dan polos, tetapi mempunyai hati yang tulus dan ikhlas untuk
menyambutnya sebagai seorang imam Tuhan. Mereka begitu merindukan Tuhan yang
terejawantah dalam dirinya. Dalam postingan foto-foto beliau, terutama dalam
perayaan liturgi, saya melihat bahwa umat begitu antusias, khusyuk berdoa, dan
dengan kerinduan yang besar menyambut tubuh Tuhan dalam rupa roti dan anggur.
Bagi saya, Pater Jimmy telah meninggalkan segala keterikatannya dengan
kehidupan duniawi dan kemudian memilih untuk bersatu dalam kehidupan kekal
dengan memilih Kristus sebagai “pengantin” hidupnya. Dengan kata lain, Pater
Jimy telah memilih Yesus sebagai roti kehidupannya dan kemudian membagi-bagi
roti itu di antara umatnya dengan cinta, perhatian dan kasih mesra. Dan umat
yang dilayaninya, telah menjawab undangan khusus Tuhan untuk bergabung
dengan-Nya, terutama dalam Ekaristi suci yang membawa keselamatan dan kehidupan
kekal.
Hari ini melalui bacaan Injil (Yoh 6:22-29), tergambar dengan jelas situasi
kebatinan orang banyak yang masih terpesona dan terhipnotis dengan aksi Yesus
yang menggandakan roti dan ikan. Hati mereka masih diliputi oleh rasa penasaran
tentang aksi Yesus yang hebat dan memukau tersebut. Maka mereka berusaha untuk
mencari dan menemukan-Nya. Intensi dasar pencarian mereka semata-mata bersifat
artifisial. Mereka mau mencari roti duniawi yang telah dibuat oleh Yesus. Oleh
karena itu, ketika melihat orang banyak datang, Yesus berkata: “Sesungguhnya
kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena
kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Yesus mempertanyakan motivasi
mereka mengikuti Dia. Menurut Yesus, orang banyak itu masih memiliki keterikatan
kuat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Dan Yesus ingin mengubah cara
pandang dan orientasi hidup dari tidak sekedar mencari roti duniawi tetapi yang
lebih penting adalah mencari roti kehidupan. Roti duniawi tidak bersifat kekal
karena manusia tetap akan mati. Sedangkan roti kehidupan bersifat kekal.
Manusia tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.
Roti kehidupan itu adalah Yesus sendiri. Ia yang telah diutus oleh Bapa di
sorga rela turun ke dunia dan menjadi roti kehidupan. Orang-orang yang mencari
dia sepertinya mulai sadar dan menjadi percaya kepada-Nya. Mereka pun bertanya:
“Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang
dikehendaki Allah?” Ini sebuah pertanyaan mendasar yang menggugah nurani untuk mengubah
orientasi hidup mereka. Yesus menjawab mereka: “Inilah pekerjaan yang
dikehendaki Allah, yaitu kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”
Yesus membimbing dan mengarahkan mereka supaya mereka menjadi percaya kepada
Dia, yang telah mengenyangkan mereka dengan roti duniawi. Tetapi lebih penting
adalah Dia sendiri merupakan persembahan roti kehidupan yang akan membawa
kehidupan kekal.
Kita yang hidup di era ini, tentu merasa gembira dan puas dengan segala
kemewahan dan kemegahan yang ditawarkan oleh dunia. Apa yang kita inginkan
pasti dengan mudah akan tercapai. Memiliki pekerjaan yang mapan, penghasilan
yang cukup, memiliki gelimang harta, mobil dan uang, dan berbagai fasilitas
duniawi lainnya telah menjadikan kita manusia modern yang tidak akan pernah
puas dengan apa yang kita miliki. Kita selalu berusaha untuk terus mencari
“roti duniawi” itu dengan berbagai cara baik dengan cara halal maupun tidak
halal. Kita seakan terlempar jauh dari eksistensi kita sebagai seorang makhluk
ciptaan Tuhan. Kita lebih memprioritaskan hidup kita untuk sebuah roti duniawi
dari pada roti kehidupan. Tetapi semua hal duniawi itu hanya memberikan kita
kenikmatan yang instan. Tidak kekal. Akan tiba pada saatnya, semua itu akan
diambil. Dan kita pun menjadi binasa.
Hari ini Yesus menawarkan kepada kita sebuah “roti kehidupan”, yakni
diri-Nya sendiri. Kita semua diundang untuk boleh menikmati roti yang satu dan
kudus ini. Kita semua dihantar untuk masuk dalam ekaristi-Nya. Sebuah tempat
dimana Ia telah memberikan diri-Nya secara total. Di dalam ekaristi itu, Ia
memecah-mecahkan dan membagi-bagikan tubuh-Nya sebagai roti kehidupan yang
membawa keselamatan kekal kepada kita semua.
Yesus juga mau mengajarkan agar sama
seperti diri-Nya, kita juga harus rela membagi-bagikan diri kita sebagai sebuah
roti kehidupan yang bernilai bagi orang lain. Sebagai seorang makhluk ciptaan
Tuhan yang hidup dalam sebuah komunitas sosial, ekaristi kudus Tuhan menghantar
kita untuk rela membagi-bagikan segala bentuk cinta, kasih dan perhatian kita
kepada orang lain. Baiklah dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kita saling
berbagi roti kehidupan untuk saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain
sehingga kita dapat memperoleh keselamatan, kedamaian dan kehidupan kekal.
Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar