Minggu, 26 April 2020

BERBAGI ROTI KEHIDUPAN


Yoh 6:22-29

Ada seorang sahabat saya, yang kini sudah menjadi seorang imam (pastor) dari Serikat Sabda Allah (SVD). Namanya Pater Jimmy M. Hayong, SVD. Beliau adalah seorang misionaris yang sementara bermisi di negara Mosambique, Afrika. Lebih tepatnya di Mosambique bagian utara, di Paroki Liupo dan Mogincual, Keuskupan Niacala, Provinsi Nampula. Dalam sebuah sharingnya kepada kami para sahabatnya, yang tergabung dalam grup Sesado 1998, beliau membagikan pengalamannya saat berada di tanah misi. Kurang lebih tujuh tahun ia berkarya di dua paroki, Liupo dan Mogincual, dengan segala keterbatasan dan kemiskinan yang ada di wilayah tersebut. Beruntung ia dengan cepat menguasai bahasa Portugis (bahasa nasional Mosambique) dan bahasa lokal setempat. Sehingga ia bisa beradaptasi dengan umat dan budaya setempat. Walaupun tentu ada banyak kesukaran dan hambatan yang ia hadapi. Hal yang patut disyukuri adalah bahwa ia diterima dengan baik, tidak hanya oleh rekan-rekan imamnya tetapi juga oleh umat yang ia layani.

Para orang tua, orang dewasa, kaum muda, sampai anak-anak yang kelihatan begitu sederhana dan polos, tetapi mempunyai hati yang tulus dan ikhlas untuk menyambutnya sebagai seorang imam Tuhan. Mereka begitu merindukan Tuhan yang terejawantah dalam dirinya. Dalam postingan foto-foto beliau, terutama dalam perayaan liturgi, saya melihat bahwa umat begitu antusias, khusyuk berdoa, dan dengan kerinduan yang besar menyambut tubuh Tuhan dalam rupa roti dan anggur. Bagi saya, Pater Jimmy telah meninggalkan segala keterikatannya dengan kehidupan duniawi dan kemudian memilih untuk bersatu dalam kehidupan kekal dengan memilih Kristus sebagai “pengantin” hidupnya. Dengan kata lain, Pater Jimy telah memilih Yesus sebagai roti kehidupannya dan kemudian membagi-bagi roti itu di antara umatnya dengan cinta, perhatian dan kasih mesra. Dan umat yang dilayaninya, telah menjawab undangan khusus Tuhan untuk bergabung dengan-Nya, terutama dalam Ekaristi suci yang membawa keselamatan dan kehidupan kekal.

Hari ini melalui bacaan Injil (Yoh 6:22-29), tergambar dengan jelas situasi kebatinan orang banyak yang masih terpesona dan terhipnotis dengan aksi Yesus yang menggandakan roti dan ikan. Hati mereka masih diliputi oleh rasa penasaran tentang aksi Yesus yang hebat dan memukau tersebut. Maka mereka berusaha untuk mencari dan menemukan-Nya. Intensi dasar pencarian mereka semata-mata bersifat artifisial. Mereka mau mencari roti duniawi yang telah dibuat oleh Yesus. Oleh karena itu, ketika melihat orang banyak datang, Yesus berkata: “Sesungguhnya kamu mencari Aku bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.” Yesus mempertanyakan motivasi mereka mengikuti Dia. Menurut Yesus, orang banyak itu masih memiliki keterikatan kuat dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia. Dan Yesus ingin mengubah cara pandang dan orientasi hidup dari tidak sekedar mencari roti duniawi tetapi yang lebih penting adalah mencari roti kehidupan. Roti duniawi tidak bersifat kekal karena manusia tetap akan mati. Sedangkan roti kehidupan bersifat kekal. Manusia tidak akan binasa melainkan memperoleh hidup yang kekal.

Roti kehidupan itu adalah Yesus sendiri. Ia yang telah diutus oleh Bapa di sorga rela turun ke dunia dan menjadi roti kehidupan. Orang-orang yang mencari dia sepertinya mulai sadar dan menjadi percaya kepada-Nya. Mereka pun bertanya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?” Ini sebuah pertanyaan mendasar yang menggugah nurani untuk mengubah orientasi hidup mereka. Yesus menjawab mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.” Yesus membimbing dan mengarahkan mereka supaya mereka menjadi percaya kepada Dia, yang telah mengenyangkan mereka dengan roti duniawi. Tetapi lebih penting adalah Dia sendiri merupakan persembahan roti kehidupan yang akan membawa kehidupan kekal.

Kita yang hidup di era ini, tentu merasa gembira dan puas dengan segala kemewahan dan kemegahan yang ditawarkan oleh dunia. Apa yang kita inginkan pasti dengan mudah akan tercapai. Memiliki pekerjaan yang mapan, penghasilan yang cukup, memiliki gelimang harta, mobil dan uang, dan berbagai fasilitas duniawi lainnya telah menjadikan kita manusia modern yang tidak akan pernah puas dengan apa yang kita miliki. Kita selalu berusaha untuk terus mencari “roti duniawi” itu dengan berbagai cara baik dengan cara halal maupun tidak halal. Kita seakan terlempar jauh dari eksistensi kita sebagai seorang makhluk ciptaan Tuhan. Kita lebih memprioritaskan hidup kita untuk sebuah roti duniawi dari pada roti kehidupan. Tetapi semua hal duniawi itu hanya memberikan kita kenikmatan yang instan. Tidak kekal. Akan tiba pada saatnya, semua itu akan diambil. Dan kita pun menjadi binasa.
Hari ini Yesus menawarkan kepada kita sebuah “roti kehidupan”, yakni diri-Nya sendiri. Kita semua diundang untuk boleh menikmati roti yang satu dan kudus ini. Kita semua dihantar untuk masuk dalam ekaristi-Nya. Sebuah tempat dimana Ia telah memberikan diri-Nya secara total. Di dalam ekaristi itu, Ia memecah-mecahkan dan membagi-bagikan tubuh-Nya sebagai roti kehidupan yang membawa keselamatan kekal kepada kita semua.

 Yesus juga mau mengajarkan agar sama seperti diri-Nya, kita juga harus rela membagi-bagikan diri kita sebagai sebuah roti kehidupan yang bernilai bagi orang lain. Sebagai seorang makhluk ciptaan Tuhan yang hidup dalam sebuah komunitas sosial, ekaristi kudus Tuhan menghantar kita untuk rela membagi-bagikan segala bentuk cinta, kasih dan perhatian kita kepada orang lain. Baiklah dalam situasi pandemi Covid-19 ini, kita saling berbagi roti kehidupan untuk saling menguatkan dan meneguhkan satu sama lain sehingga kita dapat memperoleh keselamatan, kedamaian dan kehidupan kekal. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar