Yeremia adalah salah satu nabi perjanjian lama yang
berkarya sebelum bangsa Israel (Kerajaan
Yehuda) ditaklukkan dan penduduknya dibuang ke Babel. Yeremia merupakan penulis
atau narasumber Kitab Yeremia dalam Alkitab Ibrani dan Alkitab Kristen. Yeremia
lahir di Anatot dan hidup sekitar tahun 645 SM, tidak lama setelah pemerintahan
raja Manasye berakhir. Ia adalah anak imam Hilkia dari Anatot. Meskipun tidak
ada bukti yang secara langsung mendukungnya, Yeremia diduga adalah keturunan
Abyatar, imam raja Daud, yang dipecat oleh raja Salomo dari jabatan imamnya di
Yerusalem dan diasingkan ke tanah miliknya di kota Anatot. Menurut keterangan
Alkitab (Yeremia 1:6), Yeremia dipanggil sebagai nabi ketika ia masih muda dan
belum pandai bicara, yaitu pada masa pemerintahan raja Yosia, tahun 627 SM.
Yeremia melakukan tugasnya sebagai nabi selama pemerintahan lima raja Yehuda,
yaitu pada masa raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia <https://id.m.wikipedia.org>
Dalam
bacaan pertama, Yeremia menuangkan isi hatinya kepada Tuhan akibat risiko
jabatan yang diembannya sebagai nabi untuk orang Israel. Tidak mudah memang
Yeremia menjadi corong Tuhan untuk menguatkan orang Israel sekaligus menegur
dan mengingatkan apabila mereka mencoba menyimpang dari jalan Tuhan. Faktanya,
kehadiran dan karya Yeremia ditanggapi sebagai bahan tertawaan dan cemohan
orang Israel sendiri. Orang Israel tidak mau mendengarkan segala perkataan yang
diucapkan oleh Yeremia. Bahkan, ancaman nyawa menjadi taruhan bagi Yeremia.
Banyak orang yang merasa kemapanan posisi mereka terancam - terutama bagi kaum
elit kerajaan – selalu mencari cela untuk menjegal Yeremia. Mirisnya, diantara
orang-orang yang tidak menyukai Yeremia, terdapat juga para sahabatnya sendiri.
Orang-orang yang seharusnya memback up,
memberi dukungan dan motivasi justru bermain api dalam sekam. Para sahabatnya
mengkhianati dia. Mereka justru mengharapkan agar Yeremia bisa dijebak dan
jatuh. Hal itu mereka lakukan karena mereka merasa iri dan tidak suka dengan
warta kenabian yang dilakukan oleh Yeremia.
Nabi
Yeremia merasa sendiri dan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Di saat
situasi demikian, Yeremia akhirnya menemukan kekuatan dan perlindungan dari
Tuhan sendiri. Yeremia yakin bahwa Tuhan yang telah memanggil dan mengutusnya
pasti akan selalu menyertai perjalanan-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan Yeremia
mati binasa. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, Yeremia selalu yakin akan
perlindungan dan kekuatan dari Tuhan. Yeremia menyerahkan segala perkara dalam
hidupnya kepada Tuhan. Dan, ia membiarkan Tuhan sendirilah yang akan berhadapan
dengan orang-orang yang memusuhinya.
Hal yang
dialami Yeremia dalam bacaan pertama, kembali terulang lagi dalam diri Yesus
dalam bacaan Injil. Orang Yahudi merasa Yesus telah melakukan penodaan terhadap
agama karena mengklaim diri-Nya sebagai Anak Allah. Yesus juga mengatakan bahwa
Dia dan Bapa adalah satu. Dia datang dari Allah untuk membawa misi keselamatan
kepada umat manusia. Pernyataan ini yang ditangkap oleh orang Yahudi sebagai
sebuah bentuk pembangkangan terhadap agama. Dan pelakunya harus dihukum mati.
Sama seperti Yeremia, Yesus juga menghadapi begitu banyak dan beratnya
tantangan sebagai utusan Tuhan. Orang-orang sezaman mereka, tidak hanya tidak
percaya tetapi mereka membuat konspirasi atau persekongkolan untuk melenyapkan
para utusan Allah. Bahkan Allah sendiri yang turun dalam diri Yesus juga tidak
dianggap dan dipercaya.
Kita
sebagai murid Tuhan yang telah dilegitimasi melalui sakramen pembaptisan
mempunyai tugas untuk melanjutkan karya keselamatan yang telah ditinggalkan
oleh nabi Yeremia dan Yesus. Melalui kesaksian hidup yang baik di tengah-tengah
masyarakat, kita membawa wajah Tuhan yang sungguh menyelamatkan. Kesaksian
hidup yang baik tidak hanya lewat kata-kata tetapi terutama melakui sikap atau
perbuatan. Tentu ada banyak tantangan yang kita hadapi. Tantangan yang sungguh
menguji iman kita akan Allah dan Yesus. Di tengah badai Covid 19 yang mengancam
negeri ini, kehadiran kita sebagai murid Tuhan untuk memberi ketenangan dan
kekuatan sungguh amat diperlukan oleh orang lain. Kita dapat memberikan bantuan
dengan segenap kekuatan dan potensi yang kita miliki. Tetapi pasti ada juga
orang-orang yang tidak memberi respon yang positif atau bersikap apatis dengan
apa yang kita lakukan. Belajar dari semangat iman yang ditunjukkan Yeremia,
kita tetap melakukan yang terbaik karena kita selalu yakin tangan Tuhan pasti
selalu menolong dan menyertai kita. Amin. Tuhan memberkati.
Oleh
Atanasius KD Labaona
Tidak ada komentar:
Posting Komentar