Kamis, 02 April 2020

TUHAN SELALU MENYERTAI


Yeremia adalah salah satu nabi perjanjian lama yang berkarya sebelum bangsa Israel  (Kerajaan Yehuda) ditaklukkan dan penduduknya dibuang ke Babel. Yeremia merupakan penulis atau narasumber Kitab Yeremia dalam Alkitab Ibrani dan Alkitab Kristen. Yeremia lahir di Anatot dan hidup sekitar tahun 645 SM, tidak lama setelah pemerintahan raja Manasye berakhir. Ia adalah anak imam Hilkia dari Anatot. Meskipun tidak ada bukti yang secara langsung mendukungnya, Yeremia diduga adalah keturunan Abyatar, imam raja Daud, yang dipecat oleh raja Salomo dari jabatan imamnya di Yerusalem dan diasingkan ke tanah miliknya di kota Anatot. Menurut keterangan Alkitab (Yeremia 1:6), Yeremia dipanggil sebagai nabi ketika ia masih muda dan belum pandai bicara, yaitu pada masa pemerintahan raja Yosia, tahun 627 SM. Yeremia melakukan tugasnya sebagai nabi selama pemerintahan lima raja Yehuda, yaitu pada masa raja Yosia, Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, dan Zedekia <https://id.m.wikipedia.org>

            Dalam bacaan pertama, Yeremia menuangkan isi hatinya kepada Tuhan akibat risiko jabatan yang diembannya sebagai nabi untuk orang Israel. Tidak mudah memang Yeremia menjadi corong Tuhan untuk menguatkan orang Israel sekaligus menegur dan mengingatkan apabila mereka mencoba menyimpang dari jalan Tuhan. Faktanya, kehadiran dan karya Yeremia ditanggapi sebagai bahan tertawaan dan cemohan orang Israel sendiri. Orang Israel tidak mau mendengarkan segala perkataan yang diucapkan oleh Yeremia. Bahkan, ancaman nyawa menjadi taruhan bagi Yeremia. Banyak orang yang merasa kemapanan posisi mereka terancam - terutama bagi kaum elit kerajaan – selalu mencari cela untuk menjegal Yeremia. Mirisnya, diantara orang-orang yang tidak menyukai Yeremia, terdapat juga para sahabatnya sendiri. Orang-orang yang seharusnya memback up, memberi dukungan dan motivasi justru bermain api dalam sekam. Para sahabatnya mengkhianati dia. Mereka justru mengharapkan agar Yeremia bisa dijebak dan jatuh. Hal itu mereka lakukan karena mereka merasa iri dan tidak suka dengan warta kenabian yang dilakukan oleh Yeremia.

            Nabi Yeremia merasa sendiri dan ditinggalkan oleh orang-orang terdekatnya. Di saat situasi demikian, Yeremia akhirnya menemukan kekuatan dan perlindungan dari Tuhan sendiri. Yeremia yakin bahwa Tuhan yang telah memanggil dan mengutusnya pasti akan selalu menyertai perjalanan-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan Yeremia mati binasa. Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, Yeremia selalu yakin akan perlindungan dan kekuatan dari Tuhan. Yeremia menyerahkan segala perkara dalam hidupnya kepada Tuhan. Dan, ia membiarkan Tuhan sendirilah yang akan berhadapan dengan orang-orang yang memusuhinya.

            Hal yang dialami Yeremia dalam bacaan pertama, kembali terulang lagi dalam diri Yesus dalam bacaan Injil. Orang Yahudi merasa Yesus telah melakukan penodaan terhadap agama karena mengklaim diri-Nya sebagai Anak Allah. Yesus juga mengatakan bahwa Dia dan Bapa adalah satu. Dia datang dari Allah untuk membawa misi keselamatan kepada umat manusia. Pernyataan ini yang ditangkap oleh orang Yahudi sebagai sebuah bentuk pembangkangan terhadap agama. Dan pelakunya harus dihukum mati. Sama seperti Yeremia, Yesus juga menghadapi begitu banyak dan beratnya tantangan sebagai utusan Tuhan. Orang-orang sezaman mereka, tidak hanya tidak percaya tetapi mereka membuat konspirasi atau persekongkolan untuk melenyapkan para utusan Allah. Bahkan Allah sendiri yang turun dalam diri Yesus juga tidak dianggap dan dipercaya.

            Kita sebagai murid Tuhan yang telah dilegitimasi melalui sakramen pembaptisan mempunyai tugas untuk melanjutkan karya keselamatan yang telah ditinggalkan oleh nabi Yeremia dan Yesus. Melalui kesaksian hidup yang baik di tengah-tengah masyarakat, kita membawa wajah Tuhan yang sungguh menyelamatkan. Kesaksian hidup yang baik tidak hanya lewat kata-kata tetapi terutama melakui sikap atau perbuatan. Tentu ada banyak tantangan yang kita hadapi. Tantangan yang sungguh menguji iman kita akan Allah dan Yesus. Di tengah badai Covid 19 yang mengancam negeri ini, kehadiran kita sebagai murid Tuhan untuk memberi ketenangan dan kekuatan sungguh amat diperlukan oleh orang lain. Kita dapat memberikan bantuan dengan segenap kekuatan dan potensi yang kita miliki. Tetapi pasti ada juga orang-orang yang tidak memberi respon yang positif atau bersikap apatis dengan apa yang kita lakukan. Belajar dari semangat iman yang ditunjukkan Yeremia, kita tetap melakukan yang terbaik karena kita selalu yakin tangan Tuhan pasti selalu menolong dan menyertai kita. Amin. Tuhan memberkati.

Oleh Atanasius KD Labaona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar