Minggu, 19 April 2020

DILAHIRKAN KEMBALI


Bacaan Injil hari ini (Yoh 3:1-8) menampilkan sebuah kisah yang unik. Nikodemus, seorang Farisi dan pemimpin agama Yahudi datang malam-malam untuk menemui Yesus. Mungkin saja ia mengambil waktu pada malam hari agar tidak terlihat oleh para koleganya dan orang-orang Yahudi lainnya. Tetapi yang menarik bagi kita adalah mengapa ia datang untuk berinteraksi dengan Yesus? Sebagai seorang pemimpin Yahudi, dengan memiliki segudang ilmu agama, dan sangat disegani oleh umat, tentu ada garis batas yang jelas, ia tidak boleh menemui orang sembarangan. 

Apalagi mau menemui orang sekelas Yesus, yang notabene dicap “miring” oleh para koleganya, sesama pemimpin Yahudi. Tetapi hal itu tidak menghalangi niat Nikodemus untuk menemui Yesus. Ada dua alasan yang bisa kita berikan mengapa Nikodemus mau bertemu dengan Yesus. Pertama, ia seorang yang rendah hati. Walaupun datang dari kelas sosial yang tinggi, memiliki pendidikan yang mumpuni dengan jabatan sebagai seorang ahli dan pemimpin agama, tidak membatasi niat mulianya untuk datang kepada Yesus. Kedua, Nikodemus sebenarnya seorang pengagum rahasia Yesus. Sudah sekian lama ia mengikuti sepak terjang Yesus di tengah publik. Entah itu berupa ajaran atau pun mukjizat, telah membuatnya kagum dan penasaran dengan sosok yang bernama Yesus. Ia ingin mengenal Yesus secara lebih dalam.

Nikodemus datang kepada Yesus dan menyapa Yesus sebagai rabi dan kemudian mengakui Yesus sebagai seorang utusan Allah. Sebuah sapaan yang berasal dari penglihatannya dan pendengarannya tentang figur Yesus. Mendengar pengakuan Nikodemus tersebut, Yesus menjawabnya dengan sebuah ungkapan simbolis, “.....sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Rupanya kata-kata Yesus ini membuat Nikodemus menjadi bingung. Ia menafsirkan kata-kata Yesus secara harafiah saja. Sehingga ia tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Dengan ungkapan demikian, Yesus menarik Nikodemus dalam sebuah lingkaran yang tidak hanya membuatnya mengenal Yesus sebagai rabi dan utusan Allah. Tetapi juga membuat Nikodemus untuk sungguh mengimani Yesus sebagai Putera Allah. Oleh karena itu, Nikodemus dituntut untuk lahir kembali secara baru dari air dan roh.

Yesus tidak menghendaki Nikodemus mengenal-Nya sebatas apa kata orang. Yesus menginginkan agar Nikodemus secara pribadi memiliki iman. Dilahirkan kembali berarti sebuah langkah maju dari sikap melihat, mendengar, dan beriman kepada Yesus. Dengan itu, Nikodemus akan lebih dalam mengenal siapa Yesus dan memahami karya-Nya. Melalui jalan itu pula, Nikodemus dapat melihat kehadiran Kerajaan Allah. Yesus menghendaki agar Nikodemus menjadi sungguh-sungguh percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam penyelenggaraan Allah yang telah ada dalam diri Yesus. Sebagai seorang pemimpin Yahudi yang telah “kenyang” dengan hukum taurat, Nikodemus diharapkan tidak terbelenggu dengan segala macam peraturan agama yang mengikat lalu menjadi seorang legalis-formalis yang kaku. Apalagi menjadikan tameng agama sebagai sarana untuk mencari prestise, menindas orang lain dan mengeruk keuntungan pribadi. Nikodemus harus keluar dari pusaran hidup demikian sehingga ia bisa dilahirkan kembali. Nikodemus boleh berbahagia karena mendapat “kuliah kilat” yang sungguh mencerahkan hidup imannya. Ia sungguh percaya kepada Yesus walaupun tetap menjadi pengikut rahasia sampai dengan kematian Yesus.

Pengalaman hidup Nikodemus menjadi pengalaman hidup kita secara pribadi. Bahwa dalam tataran ilmu pengetahuan, kita sungguh mengetahui sosok Yesus, baik dari Kitab Suci, bacaan-bacaan rohani yang kita baca atau pun dari penjelasan para pemimpin agama, guru, katekis, dan teolog. Tetapi secara personal, kita belum mengalami perjumpaan dan mengenal Yesus secara lebih dalam. Kita lebih banyak menuntut tanda atau mukjizat dari Yesus ketika mengalami pergumulan dan pergulatan dalam hidup kita. Dan ketika tanda atau mukjizat itu tidak ada, kita gampang menjadi putus asa dan mencari kambing hitam atas setiap persoalan hidup yang kita alami. Bahkan terkadang kita menjadi kurang percaya dan menganggap Tuhan tidak adil dalam hidup kita.

Berkaca dari setiap pengalaman dan pergulatan hidup yang kita alami, memang pantas kalau kita juga perlu dilahirkan kembali. Agar kita sungguh-sungguh menjadi beriman dan percaya kepada Yesus dalam segala situasi yang kita alami.  Entah itu situasi keberhasilan atau pun kegagalan, kita selalu melihatnya dalam terang iman. Bahwa Tuhan sungguh memainkan peran vital di dalamnya. Terutama dalam situasi badai Covic-19 yang sementara kita alami. Tuhan sementara mendewasakan iman kita sehingga kita menjadi lebih percaya dan tidak mudah putus asa. Dengan demikian, kita telah dilahirkan kembali dalam air dan roh untuk dapat melihat Kerajaan Allah. Amin.

Atanasius KD Labaona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar