Bacaan Injil hari ini
(Yoh 3:1-8) menampilkan sebuah kisah yang unik. Nikodemus, seorang Farisi dan
pemimpin agama Yahudi datang malam-malam untuk menemui Yesus. Mungkin saja ia
mengambil waktu pada malam hari agar tidak terlihat oleh para koleganya dan orang-orang
Yahudi lainnya. Tetapi yang menarik bagi kita adalah mengapa ia datang untuk
berinteraksi dengan Yesus? Sebagai seorang pemimpin Yahudi, dengan memiliki
segudang ilmu agama, dan sangat disegani oleh umat, tentu ada garis batas yang
jelas, ia tidak boleh menemui orang sembarangan.
Apalagi mau menemui orang
sekelas Yesus, yang notabene dicap “miring” oleh para koleganya, sesama
pemimpin Yahudi. Tetapi hal itu tidak menghalangi niat Nikodemus untuk menemui
Yesus. Ada dua alasan yang bisa kita berikan mengapa Nikodemus mau bertemu
dengan Yesus. Pertama, ia seorang yang rendah hati. Walaupun datang dari kelas
sosial yang tinggi, memiliki pendidikan yang mumpuni dengan jabatan sebagai
seorang ahli dan pemimpin agama, tidak membatasi niat mulianya untuk datang
kepada Yesus. Kedua, Nikodemus sebenarnya seorang pengagum rahasia Yesus. Sudah
sekian lama ia mengikuti sepak terjang Yesus di tengah publik. Entah itu berupa
ajaran atau pun mukjizat, telah membuatnya kagum dan penasaran dengan sosok
yang bernama Yesus. Ia ingin mengenal Yesus secara lebih dalam.
Nikodemus datang kepada Yesus dan menyapa Yesus
sebagai rabi dan kemudian mengakui Yesus sebagai seorang utusan Allah. Sebuah
sapaan yang berasal dari penglihatannya dan pendengarannya tentang figur Yesus.
Mendengar pengakuan Nikodemus tersebut, Yesus menjawabnya dengan sebuah
ungkapan simbolis, “.....sesungguhnya, jika seorang tidak dilahirkan kembali,
ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Rupanya kata-kata Yesus ini membuat
Nikodemus menjadi bingung. Ia menafsirkan kata-kata Yesus secara harafiah saja.
Sehingga ia tidak paham dengan apa yang dimaksudkan oleh Yesus. Dengan ungkapan
demikian, Yesus menarik Nikodemus dalam sebuah lingkaran yang tidak hanya
membuatnya mengenal Yesus sebagai rabi dan utusan Allah. Tetapi juga membuat
Nikodemus untuk sungguh mengimani Yesus sebagai Putera Allah. Oleh karena itu,
Nikodemus dituntut untuk lahir kembali secara baru dari air dan roh.
Yesus tidak menghendaki Nikodemus mengenal-Nya
sebatas apa kata orang. Yesus menginginkan agar Nikodemus secara pribadi
memiliki iman. Dilahirkan kembali berarti sebuah langkah maju dari sikap
melihat, mendengar, dan beriman kepada Yesus. Dengan itu, Nikodemus akan lebih
dalam mengenal siapa Yesus dan memahami karya-Nya. Melalui jalan itu pula,
Nikodemus dapat melihat kehadiran Kerajaan Allah. Yesus menghendaki agar
Nikodemus menjadi sungguh-sungguh percaya dan menyerahkan diri sepenuhnya ke
dalam penyelenggaraan Allah yang telah ada dalam diri Yesus. Sebagai seorang
pemimpin Yahudi yang telah “kenyang” dengan hukum taurat, Nikodemus diharapkan
tidak terbelenggu dengan segala macam peraturan agama yang mengikat lalu
menjadi seorang legalis-formalis yang kaku. Apalagi menjadikan tameng agama
sebagai sarana untuk mencari prestise, menindas orang lain dan mengeruk
keuntungan pribadi. Nikodemus harus keluar dari pusaran hidup demikian sehingga
ia bisa dilahirkan kembali. Nikodemus boleh berbahagia karena mendapat “kuliah
kilat” yang sungguh mencerahkan hidup imannya. Ia sungguh percaya kepada Yesus
walaupun tetap menjadi pengikut rahasia sampai dengan kematian Yesus.
Pengalaman hidup Nikodemus menjadi pengalaman hidup
kita secara pribadi. Bahwa dalam tataran ilmu pengetahuan, kita sungguh
mengetahui sosok Yesus, baik dari Kitab Suci, bacaan-bacaan rohani yang kita
baca atau pun dari penjelasan para pemimpin agama, guru, katekis, dan teolog.
Tetapi secara personal, kita belum mengalami perjumpaan dan mengenal Yesus
secara lebih dalam. Kita lebih banyak menuntut tanda atau mukjizat dari Yesus ketika
mengalami pergumulan dan pergulatan dalam hidup kita. Dan ketika tanda atau
mukjizat itu tidak ada, kita gampang menjadi putus asa dan mencari kambing
hitam atas setiap persoalan hidup yang kita alami. Bahkan terkadang kita
menjadi kurang percaya dan menganggap Tuhan tidak adil dalam hidup kita.
Berkaca dari setiap pengalaman dan pergulatan hidup
yang kita alami, memang pantas kalau kita juga perlu dilahirkan kembali. Agar
kita sungguh-sungguh menjadi beriman dan percaya kepada Yesus dalam segala situasi
yang kita alami. Entah itu situasi
keberhasilan atau pun kegagalan, kita selalu melihatnya dalam terang iman.
Bahwa Tuhan sungguh memainkan peran vital di dalamnya. Terutama dalam situasi
badai Covic-19 yang sementara kita alami. Tuhan sementara mendewasakan iman
kita sehingga kita menjadi lebih percaya dan tidak mudah putus asa. Dengan
demikian, kita telah dilahirkan kembali dalam air dan roh untuk dapat melihat
Kerajaan Allah. Amin.
Atanasius KD Labaona
Tidak ada komentar:
Posting Komentar