Rabu, 08 April 2020

EKSISTENSI SEBAGAI MAKHLUK BERIMAN


(Mat  26: 14-42)
         Siapakah Yudas Iskariot? Yudas Iskariot adalah murid yang mengkhianati Yesus. Menurut Kitab Suci, dia memimpin segerombolan pasukan bersenjata ke Taman Getzemani dimana Yesus sedang berdoa dan memberi satu tanda yaitu mencium-Nya. Setelah mencoba untuk melawan sesaat, Yesus ditangkap dan dibawa kepada pemimpin agama Yahudi. Mereka menginterogasi Dia kemudian menyerahkan-Nya kepada Gubernur Romawi Ponsius Pilatus yang kemudian memerintahkan Dia untuk disalibkan.

        Dalam Kitab Perjanjian Baru ada dua versi mengenai kematian Yudas. Dalam Injil Matius 26: 3-5, dikatakan bahwa Yudas sangat menyesal atas perbuatannya dan mengembalikan uang sogokkan tersebut dan kemudian menggantungkan diri. Dalam Kisah Para Rasul 1:18 tertulis: “Dengan hadiah yang diperolehnya dengan keji, Yudas membeli sebidang tanah, dan di sana dia jatuh dengan kepala terbentur dan tubuhnya hancur dengan usus-usus terburai.” Kelihatan di sini ada perbedaan atau ada ketidakpastian mengenai bagaimana dia meninggal.

         Karena Yudas adalah nama yang umum di Palestina kuno, maka penulis Injil  menambahkan nama keluarga Iskariot untuk memastikan siapa orang yang dimaksud. Penginjil Yohanes (Yoh 6: 71) menyebutnya sebagai Yudas Iskariot anak Simon. Dia bertanggung jawab untuk keuangan para murid, menyimpan uang dalam kotak dan belanja untuk kepentingan komunitas sesuai kebutuhan. Penginjil Yohanes (Yoh 12:6) mengatakan bahwa terkadang Yudas mencuri uang dari kotak untuk kepentingan pribadi. Tetapi banyak ahli agama percaya bahwa Yudas melakukannya atas kehendak bebasnya dan patut mendapat hukuman karena perbuatannya itu. Dalam Matius 16:24 Yesus berkata: “Terkutuklah anak manusia yang mengkhianati anak manusia, akan lebih baik kalau dia tidak pernah dilahirkan.” Penulis Dante Alighieri jelas setuju karena dalam karyanya “Kobaran Api”, dia mengutuk Yudas sampai ke tingkatan neraka yang paling bawah dan dihancurkan secara kekal oleh gigi setan.

        Siapakah Yudas sebenarnya? Nama asli keluarga Iskariot tidak pasti. Menurut sebuah teori, nama tersebut menggambarkan seseorang yang berasal dari Kereoth, sebuah kota tua di daerah Yudea. Jika hal ini benar maka Yudas berasal dari Palestina Selatan. Sedangkan murid yang lain dari Galilea, Palestina bagian utara. Menurut teori yang lain lagi, nama Iskariot berasal dari kata latin “Sicarius”, yang berarti pembuat pedang. Orang Sicari adalah para pemberontak yang menolak bangsa Roma yang sedang menjajah mereka pada saat itu. Jadi, Yudas kemungkinan adalah anggota dari kelompok ini. Gambaran tentang sosok Yudas yang terkenal adalah lukisan karya Leonardo da Vinci tentang Perjamuan Malam Terakhir. Dalam lukisan tersebut, Yudas digambarkan sebagai orang yang lebih kecil dan hitam dibandingkan dengan para murid yang lain. Ia digambarkan juga sementara membawa tas yang kemungkinan berisi uang sogokan (Rm. John Laba, SDB).

         Pengkhianatan Yudas telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kisah sengsara Yesus. Meski demikian, kita tidak boleh membenarkan pengkhianatan itu. Yesus sendiri berkata: “Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan. “ Dengan kata lain sengsara dan wafat Yesus tetap akan terjadi dengan atau tanpa perbuatan Yudas Iskariot. Yudas telah menempuh jalan pengkhianatan. Keputusan yang buruk ini mencoreng namanya untuk selamanya.

        Dihari-hari ini, ketika kita semua sementara dihantui oleh badai corona atau Covic 19, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada eksistensi dan terlempar pada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar dari paparan Covid 19. Tetapi manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa takut menuju kepada kecemasan eksistensial. Suatu keadaan dimana kita menjadi sadar karena ketidakberdayaan dan kerapuhan diri kita. Dalam situasi demikian, kita diajak untuk mempertanyakan jati diri kita masing-masing. 

          Dari mana saya berasal? Untuk apa saya hidup? Mengapa saya ada? Dan untuk apa saya hidup? Pertanyaan-pertanyaan refleksi ini penting kita lakukan dalam kerangka menyadari eksistensi kita yang sesungguhnya sebagai seorang makhluk beriman yang selalu menyerahkan dan menyandarkan hidup pada Allah sang pencipta. Dengan menyadari diri demikian, kita sementara memperbaiki kualitas diri kita menjadi seorang makhluk yang tidak mengkhianati jati dirinya sendiri sebagai seorang makluk beriman. 

          Selamat merayakan Tri Hari Suci dalam keheningan dan kesendirian bersama keluarga. Semoga semangat hari raya Paskah yang sesaat lagi kita rayakan, memberi kebangkitan dalam diri kita masing-masing agar kita semakin percaya dan setia mengikuti jalan Tuhan. Amin. Tuhan memberkati.  

                                                                                                                                  Atanasius KD Labaona

Tidak ada komentar:

Posting Komentar