(Mat 26: 14-42)
Siapakah Yudas Iskariot? Yudas Iskariot adalah murid
yang mengkhianati Yesus. Menurut Kitab Suci, dia memimpin segerombolan pasukan
bersenjata ke Taman Getzemani dimana Yesus sedang berdoa dan memberi satu tanda
yaitu mencium-Nya. Setelah mencoba untuk melawan sesaat, Yesus ditangkap dan
dibawa kepada pemimpin agama Yahudi. Mereka menginterogasi Dia kemudian menyerahkan-Nya
kepada Gubernur Romawi Ponsius Pilatus yang kemudian memerintahkan Dia untuk
disalibkan.
Dalam Kitab Perjanjian Baru ada dua versi mengenai
kematian Yudas. Dalam Injil Matius 26: 3-5, dikatakan bahwa Yudas sangat
menyesal atas perbuatannya dan mengembalikan uang sogokkan tersebut dan
kemudian menggantungkan diri. Dalam Kisah Para Rasul 1:18 tertulis: “Dengan
hadiah yang diperolehnya dengan keji, Yudas membeli sebidang tanah, dan di sana
dia jatuh dengan kepala terbentur dan tubuhnya hancur dengan usus-usus
terburai.” Kelihatan di sini ada perbedaan atau ada ketidakpastian mengenai
bagaimana dia meninggal.
Karena Yudas adalah nama yang umum di Palestina kuno,
maka penulis Injil menambahkan nama
keluarga Iskariot untuk memastikan siapa orang yang dimaksud. Penginjil Yohanes
(Yoh 6: 71) menyebutnya sebagai Yudas Iskariot anak Simon. Dia bertanggung
jawab untuk keuangan para murid, menyimpan uang dalam kotak dan belanja untuk
kepentingan komunitas sesuai kebutuhan. Penginjil Yohanes (Yoh 12:6) mengatakan
bahwa terkadang Yudas mencuri uang dari kotak untuk kepentingan pribadi. Tetapi
banyak ahli agama percaya bahwa Yudas melakukannya atas kehendak bebasnya dan
patut mendapat hukuman karena perbuatannya itu. Dalam Matius 16:24 Yesus
berkata: “Terkutuklah anak manusia yang mengkhianati anak manusia, akan lebih
baik kalau dia tidak pernah dilahirkan.” Penulis Dante Alighieri jelas setuju
karena dalam karyanya “Kobaran Api”, dia mengutuk Yudas sampai ke tingkatan
neraka yang paling bawah dan dihancurkan secara kekal oleh gigi setan.
Siapakah Yudas sebenarnya? Nama asli keluarga
Iskariot tidak pasti. Menurut sebuah teori, nama tersebut menggambarkan
seseorang yang berasal dari Kereoth, sebuah kota tua di daerah Yudea. Jika hal
ini benar maka Yudas berasal dari Palestina Selatan. Sedangkan murid yang lain
dari Galilea, Palestina bagian utara. Menurut teori yang lain lagi, nama
Iskariot berasal dari kata latin “Sicarius”, yang berarti pembuat pedang. Orang
Sicari adalah para pemberontak yang menolak bangsa Roma yang sedang menjajah
mereka pada saat itu. Jadi, Yudas kemungkinan adalah anggota dari kelompok ini.
Gambaran tentang sosok Yudas yang terkenal adalah lukisan karya Leonardo da
Vinci tentang Perjamuan Malam Terakhir. Dalam lukisan tersebut, Yudas digambarkan
sebagai orang yang lebih kecil dan hitam dibandingkan dengan para murid yang
lain. Ia digambarkan juga sementara membawa tas yang kemungkinan berisi uang
sogokan (Rm. John Laba, SDB).
Pengkhianatan Yudas telah menjadi bagian tak
terpisahkan dari kisah sengsara Yesus. Meski demikian, kita tidak boleh
membenarkan pengkhianatan itu. Yesus sendiri berkata: “Anak Manusia memang akan
pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang
yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu
sekiranya ia tidak dilahirkan. “ Dengan kata lain sengsara dan wafat Yesus
tetap akan terjadi dengan atau tanpa perbuatan Yudas Iskariot. Yudas telah
menempuh jalan pengkhianatan. Keputusan yang buruk ini mencoreng namanya untuk
selamanya.
Dihari-hari ini, ketika kita semua sementara dihantui
oleh badai corona atau Covic 19, kita seakan-akan didesak untuk menepi pada
eksistensi dan terlempar pada kesendirian. Kita tentu saja bisa memilih antara
rasa takut atau kecemasan eksistensial. Rasa takut menuntut kita untuk
memperhatikan semua instruksi pemerintah dan tenaga kesehatan agar terhindar
dari paparan Covid 19. Tetapi manusia yang otentik bisa melampaui sekadar rasa
takut menuju kepada kecemasan eksistensial. Suatu keadaan dimana kita menjadi
sadar karena ketidakberdayaan dan kerapuhan diri kita. Dalam situasi demikian,
kita diajak untuk mempertanyakan jati diri kita masing-masing.
Dari mana saya
berasal? Untuk apa saya hidup? Mengapa saya ada? Dan untuk apa saya hidup?
Pertanyaan-pertanyaan refleksi ini penting kita lakukan dalam kerangka
menyadari eksistensi kita yang sesungguhnya sebagai seorang makhluk beriman
yang selalu menyerahkan dan menyandarkan hidup pada Allah sang pencipta. Dengan
menyadari diri demikian, kita sementara memperbaiki kualitas diri kita menjadi
seorang makhluk yang tidak mengkhianati jati dirinya sendiri sebagai seorang
makluk beriman.
Selamat merayakan Tri Hari Suci dalam keheningan dan
kesendirian bersama keluarga. Semoga semangat hari raya Paskah yang sesaat lagi
kita rayakan, memberi kebangkitan dalam diri kita masing-masing agar kita
semakin percaya dan setia mengikuti jalan Tuhan. Amin. Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar